
"Ada apa ini?" tanya Arga yang baru saja tiba di kamar dan melihat ada keributan. Tentu saja dia mengkhawatirkan kondisi Karin.
"Aku tidak mau bertemu dia," pekik Karin.
Arga langsung menatap pria yang sedang berdebat dengan seorang perawat. Mencengkram kerah kemeja pria tersebut lalu menyeretnya ke luar.
"Hei, hentikan kamu bisa saya tuntut karena perbuatan kamu ini," ancam pria tersebut.
"Pasien tidak menerima visit selain suaminya tentu saja anda yang bersalah di sini," ujar perawat.
"Anda siapa?" tanya Arga dengan nada suara penuh emosi.
"Ah, apa anda suami Ibu Karin? Kenalkan saya Alex," pria itu kembali mengulurkan telapak tangannya.
Arga hanya diam dengan kedua tangan dilipat di dada menunggu penjelasan pria itu, karena sudah membuat keributan di kamar istrinya bahkan Karin sampai berteriak.
"Hm, jadi saya datang untuk menjelaskan sesuatu. Kebetulan saya adalah pengacara keluarga Naina dan ...."
"Oh, jadi anda membela Naina dan ke sini karena urusan Naina?"
"Betul, tolong anda pahami dulu kasus ini. Pertama, bukti tidak kuat untuk membuktikan Naina bersalah dan perusahaan Pak Arga dengan perusahaan dimana Naina bekerja adalah partner. Bisa dibayangkan jika masalah sepele seperti ini bisa merusak hubungan baik dan memperkeruh suasana," jelas pengacara Naina.
"Apa kamu bilang, masalah sepele?" Arga kembali mencengkram kerah kemeja pria tersebut.
"Aku dijebak Naina dengan memberikan obat perangs*ng bahkan Naina mengakui hal itu. Dia sengaja melakukan itu karena ingin tidur denganku. Ini kamu bilang sepele? Kamu pikir aku sudi disentuh olehnya?"
"Bukan begitu, ayolah Pak Arga jangan terlalu dibesarkan. Kita laki-laki normal pasti pernah sekedar nakal."
"Kalau bagi kamu itu normal tapi tidak bagiku. Aku tidak segila itu," jelas Arga. "Suster, sampaikan pada keamanan kami tidak terima tamu dan pastikan pria ini diusir." Arga melepaskan cengkramannya lalu kembali ke kamar Karin.
“Tunggu Pak Arga.”
Arga menutup pintu kamar Karin dan bergegas mendekat ke arah ranjang. “Sayang, maafkan aku terlalu lama di luar,” ujar Arga sambil memeluk Karin yang masih berbaring.
“Aku kesal, bisa-bisanya orang itu tidak menghargai kita sebagai korban. Dengan percaya diri dia minta waktu untuk menjelaskan dan menganggap masalah ini terlalu sederhana.”
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Kamu ingin sesuatu? Minum atau ingin buang air?” tanya Arga.
Karin hanya menggelengkan kepalanya. Berikutnya, Arga dan Karin masih berinteraksi sampai Karin akhirnya tertidur dan Arga memastikan kondisi Karin aman dan nyaman kemudian dia sendiri mencoba terlelap.
__ADS_1
Sudah hampir tiga hari mendapatkan pengawasan langsung dari dokter, kehamilan Karin dinyatakan aman. Akhirnya mereka diperbolehkan untuk pulang dengan segala macam wejangan untuk Arga dan Karin.
Arga kembali membawa Karin ke hotel dimana Arga menginap sebelumnya. Karin belum boleh melakukan perjalanan dengan pesawat jadi mereka masih harus berada di Jogya. Dio sudah kembali ke Jakarta karena harus menggantikan Arga mengurus perusahaan.
...***...
“Hm, untuk sementara saya hanya fokus dengan kesehatan istri saya. Urusan Maxton akan di handle langsung oleh Ayah saya dan Dio asisten saya,” ujar Arga melalui panggilan telepon.
Berada di sofa dengan laptop di pangkuannya, sesekali menoleh kearah Karin yang bersandar di headboard sedang menonton televisi.
Setelah panggilan berakhir, Arga kembali fokus dengan laptopnya.
“Hubby,” panggil Karin membuat Arga menoleh lalu meletakan laptop di atas meja sedangkan dia sendiri memilih menghampiri Karin.
“Iya, sayang. Ada yang kamu butuhkan?” tanya Arga sudah duduk di samping Karin.
“Aku jenuh dan kangen Alea. Kita pulang ke Jakarta yuk,” ajak Karin.
Sudah dua hari sejak Karin diperbolehkan keluar dari rumah sakit, tapi mereka masih berada di Yogya menunggu kondisi Karin lebih stabil untuk bisa menaiki kendaraan umum.
“Tapi kamu ....”
Sebenarnya Arga pun tidak kalah rindu pada putrinya tapi saat ini keselamatan Karin adalah prioritasnya. Tidak tega juga melihat Karin hanya berkutat di dalam kamar hotel.
“Tapi kamu belum boleh naik pesawat, guncangannya akan beresiko dengan kondisi kandungan kamu, sayang.”
“Kalau begitu kita pulangnya naik kereta saja, lebih aman ‘kan?”
Tiga bulan kemudian.
“Alea, kemari dulu Nak. Ayo makan dulu,” ujar Karin sambil membawa mangkuk kecil berisi nasi dan sup ayam. Alea yang dituntun oleh pengasuhnya mendekat pada Karin yang sudah duduk di sofa.
Kehamilan Karin sudah hampir enam bulan tentu saja perutnya sudah lumayan besar, aktivitasnya pun sudah mulai terbatas. Setelah kejadian di Jogja terkait ulah Naina, membua Arga semakin menyayangi Karin dan menganggap Karin bak Ratu di rumahnya. Bahkan Arga memastikan istrinya tidak boleh kelelahan dengan urusan rumah tangga. Hanya diminta konsen untuk urusan Alea itu pun dibantu pengasuhnya juga urusan Arga hanya sebatas di kamar saja.
Masalah dengan Naina, sudah selesai. Awalnya memang menempuh jalur hukum, Arga sudah memberikan kesaksian dan Karin juga di diminta hadir untuk memberikan pernyataan tentu saja tidak bisa hadir karena mereka berada di Jakarta.
Setelah berembuk dengan keluarga akhirnya Arga sepakat untuk damai dengan dua syarat dari pihak Arga. Naina tidak boleh dengan sengaja bertemu dengan Arga dan Karin, walaupun bertemu secara tidak sengaja harus segera menghindar. Pihak Maxton harus memecat Naina agar kerjasama tetap berjalan dan menutup akses Naina bertemu Arga.
Dua point tersebut sudah pasti memberatkan Naina tapi akhirnya kedua pihak sepakat dan menjadi pelajaran untuk tidak main-main dengan mengganggu rumah tangga orang lain apalagi yang dilakukan Naina termasuk kejahatan.
__ADS_1
Setelah menyuapi Alea, Karin kembali ke kamar. Sedangkan Alea sedang dimandikan oleh pengasuhnya karena hari sudah sore.
“Wah, putri Mami sudah wangi nih,” ujar Karin saat Alea sudah berada di kamarnya. Keduanya bermain di ranjang sambil menunggu Arga pulang. Benar saja, tidak lama kemudian pria itu akhirnya tiba.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Arga langsung mengangkat tubuh Alea tinggi-tinggi membuat bocah itu tergelak.
“Kamu lucu banget sih,” ujar Arga kemudian menciumi wajah Alea.
“Yang disapa Alea doang?”
“Eh, Mami Alea ngambek deh,” goda Arga kemudian duduk di samping Karin yang bersandar pada headboard. Mengusap perut yang sudah sangat membola juga mendaratkan bibir pada kening dan bibir Karin.
“Gimana di kantor?”
“Hm, aman sayang. Cukup dengan satu burung merak yang menguasai hidupku, tidak perlu ada drama ulat bulu, keong racun dan tikus got lainnya,” ungkap Arga sambil memangku Alea.
Karin tersenyum mendengar ucapan Arga. Siapa sangka pria yang saat ini sudah memberikan kebahagian rumah tangga dengan kehadiran Alea dan bayi mereka yang masih berada dalam kandungan Karin, adalah pria yang sebelumnya sangat acuh bahkan jutek ketika Karin masih menjadi karyawan magang.
Saat ini baik Karin ataupun Arga sudah saling menyerah dengan pencarian cinta mereka dan jatuh cinta berkali-kali hanya pada pasangannya sekarang. Cobaan rumah tangga yang Karin dan Arga lewati tentu saja tidak mudah, tidak sekali dua kali Karin harus menangis ketika hati dan perasaannya terusik.
“I love you, Karin Amanda,” ujar Arga.
“Love you more, Arga Sadewa.”
Wajah Arga dan Karis sudah sangat dekat dan .... “Ma ma ... Pa pa,” pekik Alea. Membuat Karin dan Arga tertawa.
...~ TAMAT ~...
Hai, akhirnya tamat yess kisah Karin dan Arga. Terima kasih yang sudah baca sampai akhir dan memberikan banyak jejak cinta serta masukannya. Tidak berbeda dengan karya yang lain, silahkan tinggalkan hal negatif yang tersirat dan ambil pesan positifnya.
Special thanks untuk : Cahaya, Bluemoon007, semua akun hearty (banyak banget kak, thanks ya), Es cendol, Nisriana annisa, Khalisa, Sutiara Hayati, Ayu Maghfiroh, Fanthaliya (Thanks banget sudah ikuti dari karya aku yang pertama), Nurhidayah, Reader, Andrikana, Ika wahyuni, Dian asmi, Irma, Bundo R2, Sri Ayudesriya46, Nur Adam, Dian Santhy, Arie, Firni, Briant Ibrahim, Diah paramita, Xezon, Dian Asmi, Nur Adam dan semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu,
Terus baca kisah-kisah berikutnya yess dan sehat2 untuk kalian semua. Kissess ....
__ADS_1