
“Maksud Bunda apa? Kenapa aku harus pisah dengan Pak Arga?”
Ayah Arga pun sama bingungnya dengan Karin tapi memilih menenangkan keduanya dan mengajak pindah ke ruang observasi pasca tindakan.
“Bunda dan Karin baiknya pulang dan istirahat, biar Ayah yang tunggu di sini.”
“Nggak bisa, Bunda mau tunggu Arga.”
“A-aku juga mau disini,” jawab Karin dengan terbata.
Ayah Arga hanya bisa menghela nafasnya karena kedua wanita dihadapannya benar-benar keras kepala. Memilih meminta istri dan menantunya untuk duduk sambil menunggu Arga yang dipindahkan ke ruangan tersebut.
Meski tidak boleh ditemui, paling tidak keluarga bisa melihat melalui jendela kaca kondisi pasien. Seperti saat ini, Karin meraba kaca dihadapannya seakan mengusap wajah Arga yang tubuhnya masih terhubung ke beberapa alat medis.
Sikap Bunda membuat Karin bingung dan dia butuh Arga saat ini, apalagi mood yang dia rasakan saat ini membuat Karin mudah menangis.
Beruntung Karin membawa cardigan dan mengenakan setelan celana panjang. Jadi selama menunggu di rumah sakit dia tidak terlalu kedinginan. Saat mulai pagi, Karin merasakan perutnya bergejolak. Dia bergegas ke toilet yang tidak jauh dari tempatnya dan memuntahkan isi perut yang hanya keluar air.
Kepalanya kembali terasa berdenyut, bahkan sempat berputar. Kedua tangan Karin berpegang pada wastafel sebagai tumpuan.
“Ya Tuhan, ada apa denganku. Aku nggak boleh sakit, Pak Arga sedang butuh aku.”
Karin kembali memuntahkan isi perutnya, yang belum terisi apapun. Ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari bilik toilet. Setelah mencuci tangan dia memperhatikan Karin dan membantu memijat tengkuk Karin dan mengoleskan minyak angin di leher dan dahi Karin.
__ADS_1
“Sedang hamil ya?” tanya Ibu itu.
Karin yang sedang melap wajahnya menggelengkan kepalanya.
“Hm, coba diperiksa aja. Ini seperti gejala hamil muda, apalagi wajah Mbaknya pucat banget. Mirip seperti saya waktu dulu kalau sedang hamil.”
Setelah Karin menyampaikan terima kasih, dia memikirkan ucapan Ibu tadi. Membuka ponselnya dan mengakses aplikasi kalender. Dahinya berkerut menyadari kalau tanggal periodenya sudah terlewat jauh.
“Masa sih? Tapi ....”
Ponselnya bergetar ternyata Ayah Arga yang menghubunginya.
“Ada apa Yah?” tanya Karin.
Sempat mengisi perutnya dengan bubur ayam, walaupun terasa mual dan tidak nyaman tapi dia paksakan untuk menelan. Sampai di rumah Arga, Karin membersihkan diri dan berganti piyama lalu berbaring di ranjang.
Merasakan tubuhnya benar-benar tidak nyaman dan tidak sehat, kembali mengingat apa yang dikatakan oleh seorang Ibu yang membantunya di toilet Rumah Sakit.
“Apa iya aku sedang hamil? Sepertinya aku harus segera pastikan,” gumam Karin. Tidak lama Karin pun akhirnya terlelap.
Entah sudah berapa lama Karin tertidur, dia terjaga dan mengerjapkan kedua matanya. Mengucek kedua matanya dan menatap jam dinding dan ternyata sudah lewat dari jam makan siang. Karin pun beranjak keluar dari kamarnya, berniat menuju dapur. Sampai di bawah, ternyata ada Bunda Marisa.
“Bunda sudah pulang, Pak Arga kondisinya bagaimana Bun? Lalu siapa yang sekarang menema?”
__ADS_1
“Belum sadarkan diri. Ada Ayah, kamu nggak usah ke Rumah sakit biar bunda dan Ayah saja yang menunggu Arga.
“Tapi Bun ....”
“Nggak usah tapi-tapi. Jangan datang sampai Arga sendiri yang memutuskan akan dibawa kemana pernikahan kalian.”
“Memang kenapa dengan pernikahan kami?” tanya Karin benar-benar tidak mengerti dengan maksud Bunda Arga.
“Tidak usah banyak tanya. Ikuti saja apa yang aku bilang. Bik, sudah siap belum?”
Karin hanya bisa menyaksikan kesibukan Bunda dan asisten rumah tangga yang mempersiapkan kebutuhan Ayah dan Bunda selama menunggu di Rumah Sakit. Setelah kepergian Marisa, Karin duduk di kursi beranda memikirkan lagi apa yang dia lakukan hingga membuat Bunda marah.
“Sebenarnya Bunda kenapa?”
Karin memilih menuju minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggal Arga, untuk membeli test pack dengan beberapa merek kemudian membawanya ke kamar. Karin berada di toilet memandang beberapa stik setelah dicelupkan pada urinenya sendiri.
Tidak lama kemudian muncul garis pada tiga buah stik yang diletakan di wastafel. Dua garis yang muncul pada tiap stik. Karin membaca kembali petunjuk dari salah satu kemasan testpack.
“A-aku hamil,” ujar Karin.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1