Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Mami Sayang Kamu


__ADS_3

“Habiskan ya!” titah Karin sambil meletakan makanan pesanan Arga di atas meja. Arga menghentikan pekerjaannya, berjalan menuju sofa dan duduk di samping istrinya.


“Hm, aromanya benar-benar buat aku lapar.” Arga pun mulai menikmati makanannya.


“Hubby, kamu benar-benar mengidam ya?”


Arga menggelengkan kepalanya sambil tetap makan. “Ini bukan mengidam, ya pengen aja.”


“Sama saja, itu namanya mengidam.”


“Mana ada laki-laki mengidam,” sahut Arga di sela suapannya.


Karin hanya menghela nafas sabar daripada berdebat dengan suaminya. Bukan hanya ingin makan yang aneh-aneh dan tidak tahu waktu, Arga juga tidak suka di debat. Menyebalkan seperti saat Karin masih menjadi karyawan magang.


“Hubby,” ujar Karin dia ingin menyampaikan pertemuannya dengan Devan saat berada di cafe tapi khawatir kalau Arga akan salah paham dan menuduhnya macam-macam, Karin pun urung bercerita.


“Hm. Kenapa?”


“Besok jadwal aku ke dokter, bisa antar?”


“Tentu saja sayang,” jawab Arga sambil mengusap perut Karin.


Karin akhirnya menunggu Arga hingga sore dan pulang bersama.


...***...


“Habiskan!” titah Arga menunjuk gelas berisi su su khusus ibu hamil. Karin hanya mengangguk pelan karena masih berusaha menelan sarapannya.


Ayah sudah berangkat lebih pagi, sedangkan Bunda sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan interaksi Arga dan Karin.


“Jangan lupa vitaminnya, hari ini kamu tidak ke kampus ‘kan?”


“Tidak, tapi kita mau ....”


“Karin, Arga ... Bunda ingin bicara.”


Arga dan Karin pun mengalihkan perhatian pada Bunda dengan keinginannya untuk bicara, walaupun tanpa izin Arga pasti mempersilahkan Marisa bicara.


“Bunda sudah yakin dengan kalian kalau hubungan kalian benar-benar karena cinta. Bahkan Bunda juga mengelak membayangkan Karin macam-macam.”

__ADS_1


“Maksud Bunda?” tanya Arga, Karin sendiri tidak mengerti apa yang dibicarakan Marisa tentang dirinya.


“Karin, kenapa kamu bisa bertemu dengan pria lain tanpa di dampingi suamimu. Kamu mengizinkan istri kamu menemui pria lain?” tanya Bunda pada Arga.


“Tunggu, ini maksudnya apa. Aku belum mengerti.”


Bunda membuka ponselnya dan menunjukkan foto Karin berada di cafe bersama seorang pria. Arga mengerutkan dahinya melihat foto tersebut.


“Karin, cobalah menghargai dan menjaga nama baik keluarga ini. Suami kamu CEO dan mertuamu pun sama, bayangkan jika foto ini sampai tersebar. Bisa-bisa berpengaruh terhadap kondisi bisnis.”


Arga menyodorkan ponsel Marisa kepada Karin. Karin menggelengkan kepalanya melihat foto dimana dia bersama Devan di sebuah cafe. Karin ingat sekali kalau itu kemarin saat menunggu pesanan untuk Arga.


“Tapi aku tidak macam-macam, aku sadar dengan statusku sekarang. Foto itu tidak seperti yang kalian duga. Aku memang bertemu dengan Mas Devan tapi kami tidak sengaja bertemu dan dia yang duduk didekatku tanpa permisi.”


Arga tahu kalau Karin tidak mungkin janji bertemu dengan Devan, justru sangat menghindari pria itu. Tapi melihat foto tersebut Arga emosi dan cemburu. Dari pada dia malah meluapkan amarahnya pada Karin atau Bunda, dia memilih segera menuju kantor.


“Aku berangkat dulu.”


“Aku antar, ke depan” ujar Karin.


“Tidak usah, kamu habiskan dulu sarapanmu.”


Entah mengapa Karin tidak suka mendengar penolakan Arga walaupun dibarengi dengan titah lain. Seakan Arga memang mengakui kebenaran foto tadi. Karin akhirnya kembali duduk dan membiarkan begitu saja Arga yang melewatinya.


“Ingat baik-baik, jaga diri dan martabatmu. Aku tidak ingin diejek punya menantu perempuan murahan,” ejek Bunda pada Karin lalu meninggalkan meja makan.


Karin mengeratkan pegangannya pada sendok dan garpu yang dia pegang. Nafsu makannya sudah menguap entah kemana, akhirnya memilih untuk kembali ke kamar.


Arga yang sampai kantor langsung disibukkan dengan urusan pekerjaan karena jadwal rapat juga pertemuan dengan kliennya, tidak sempat mengabari Karin bahkan ponselnya tertinggal di meja kerjanya sedangkan Arga sendiri tidak ada di tempat.


Lupa bahwa hari ini dia akan menemani Karin ke dokter. Karin sebenarnya menghubungi Arga tapi karena ponsel yang tertinggal maka tidak ada jawaban.


“Aku berangkat sendiri saja deh,” ujar Karin. Sempat berpikir kalau Arga masih marah karena foto yang ditunjukan oleh bundanya.


“Mau kemana kamu?” tanya Bunda ketika melihat Karin sudah rapi.


“Rumah sakit Bun, ini sudah waktunya aku kontrol.”


“Kenapa Arga tidak temani? Jangan-jangan hanya akal-akalan kamu saja ya, cuma ingin keluar dari rumah,” tuduh Marisa pada Karin.

__ADS_1


“Tidak Bun, ini memang jadwal aku. Pak Arga sebenarnya sudah tahu dan janji antar tapi tadi aku hubungi tidak dijawab, sepertinya beliau sedang sibuk.”


“Sibuk atau memang kesal sama kamu yang pergi dengan pria lain,” ejek Marisa lagi. “Aku sudah membela kamu di depan teman-temanku tapi nyatanya kamu main dengan pria lain di belakang Arga.”


“Ceritanya tidak begitu Bun, aku di cafe itu tidak sengaja bertemu Mas Devan dan dia sendiri yang duduk dekat aku. Lagi pula aku di cafe itu permintaan Pak Arga yang ingin makan lasagna khusus dari cafe itu.”


“Halah, kamu alasan saja. Dimana-mana mana ada maling ngaku.”


“Tapi aku bukan maling, aku sudah bicara jujur. Sekarang terserah Ibu mau percaya atau tidak,” seru Karin yang meninggalkan mertuanya.


“Dasar menantu kurang ajar.”


Seperti biasanya Karin menggunakan taksi online, bukan karena Arga tidak mampu memberikannya mobil tapi Karin yang tidak bisa mengemudi.


Mobil sudah berhenti di lobby rumah sakit, Karin pun turun setelah membayar. Berjalan menyusuri koridor menuju poli kandungan dan melakukan proses pendaftaran. Sudah ada beberapa ibu hamil yang datang lebih dulu dan yang membuat Karin iri adalah mereka didampingi suaminya.


Karin dengan sabar menunggu gilirannya saat satu per satu pasien mulai dipanggil. Hingga akhirnya namanya pun disebut dan Karin masuk ke ruang pemeriksaan. Berat badan Karin juga tekanan darah dicek oleh perawat dan dokter juga menyampaikan berat badan dan tekanan darah ideal untuk Ibu hamil.


“Naik ke ranjang dulu ya, kita USG,” titah dokter.


Karin menaiki ranjang di bantu perawat, bawah perutnya diolesi oleh gel dan dokter mulai menggerakkan alat tersebut. Dalam layar mulai tampil kondisi kandungan Karin, dijelaskan mengenai berat bayi juga tinggi bayi. Usia kandungannya sudah memasuki enam belas minggu, dokter menjelaskan jenis kelamin bayi Karin.


“Perempuan ya, air ketubannya bagus dan tali pusatnya juga bagus.”


Karin kembali duduk di depan meja dokter mendengarkan penjelasan tentang kehamilannya dan menanyakan apa yang dia tidak ketahui dan menjadi keraguan.


“Kontrol berikutnya tolong didampingi dengan suaminya ya Bu. Di jaga juga asupan makannya, karena tekanan darahnya agak tinggi, kalau bulan depan masih begini akan ada pemeriksaan protein urine ya.”


Setelah membayar biaya pemeriksaan dan mengambil vitamin resep dari dokter, Karin pun pulang. Selama perjalanan dia memandang hasil USG yang menampakan foto bayinya.


“Sehat-sehat ya cantik, Mami sayang kamu,” gumam Karin lirih sambil mengusap perutnya.


 


\=\=\=\=\=



 

__ADS_1


__ADS_2