Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Bukan Bocah


__ADS_3

Karin duduk dengan raut wajah kesal, dihadapannya Bunda Marisa mengoceh menyinggung dan menyindir Karin. Keduanya berada di private room salah satu restoran di mall tempat mereka bertemu, menunggu kedatangan Arga.


Setelah menghardik Karin dan Gibran yang sedang menunggu Lola ke toilet, Marisa mengajak Karin untuk bicara tepatnya menarik tangan Karin.


“Kenapa diam, menyadari kesalahanmu hah?”


Karin tidak menjawab, walaupun mulutnya gatal untuk balas menghardik ibu mertuanya. Memilih menunggu kedatangan Arga dan melihat sendiri bagaimana pembelaan sang suami.


Brak. Pintu ruangan dibuka dengan tergesa.


“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Arga yang baru saja datang.


“Ini istrimu, makin kesini makin tidak jelas. Okelah kemarin Bunda tidak menyaksikan sendiri, tapi kali ini Bunda lihat sendiri istrimu dengan laki-laki. Tadi pagi dia bilang mau ke kampus taunya kelayapan.”


Arga menatap Karin, walaupun telinganya mendengarkan apa yang Bunda Marisa ucapkan.


“Karin, aku percaya kamu tidak seperti itu. Baiknya jelaskan ….”


“Apa yang mau dijelaskan, Arga. Bunda lihat sendiri.” Marisa menyela ucapan Arga.


“Bunda, tenanglah. Kita bicarakan baik-baik.”


Akhirnya Arga dan Marisa duduk bersisian berhadapan dengan Karin yang merasa seakan sedang menjadi tertuduh. Sejak tadi Karin terus mengusap lembut perutnya, meredakan emosi.


“Karin ….”


“Aku memang ke sini langsung dari kampus.”


“Kenapa tidak menghubungiku untuk izin kalau kamu tidak langsung pulang.”


“Waktu Bunda melihatku dan langsung marah-marah, aku sedang mengetik pesan untuk kirim ke Pak Arga,” jawab Karin.


“Alasan saja, seharusnya kamu izin sebelum berangkat. Ini ke gap baru bilang sedang ketik pesan. Sekalian Lah kamu akui kalau pergi dengan teman laki-laki kamu.”


Arga masih menatap Karin, menunggu penjelasan darinya.

__ADS_1


“Aku memang datang bersama Gibran dan Lola, kami berdiri di sana karena menunggu Lola ke toilet. Sebenarnya semua bisa clear dan Bunda bisa lihat sendiri kalau aku tidak datang hanya berdua. Karena Bunda langsung ngomel-ngomel dan tarik aku ke sini, bahkan tidak memberikan aku kesempatan aku menjelaskan jadi ya seperti ini. Aku seperti tertuduh,” tutur Karin.


Arga mengusap kasar wajahnya, bingung bagaimana harus bersikap. Yang satu istrinya dan yang satu lagi ibunya. Keduanya memberikan pernyataan yang sama-sama kuat dan masuk akal.


“Karin, kamu sedang hamil kenapa malah main. Kalau kamu butuh untuk membeli sesuatu kamu bisa hubungi aku nanti kita pergi bersama.”


“Tidak usah berjanji kalau tidak bisa menepati, seperti kemarin Pak Arga mengabaikanku dan mengingkari janji.”


“Aku tidak mengabaikanmu, aku benar-benar lupa dan ponselku tertinggal di kantor.”


“Sudahlah Arga, Bunda pusing dan malu punya menantu jadi omongan orang. Kemarin ada yang melihat Karin dengan mantannya sekarang pun sama, Bunda dan teman-teman Bunda lihat langsung Karin dengan seorang laki-laki.”


Karin menghela pelan kemudian berdiri. “Maaf, aku lelah dan ingin pulang.”


“Kita belum selesai bicara. Arga, kamu mau diam saja dengan kelakuan istrimu ini?”


“Karin, duduklah!”


“Aku ingin pulang, ke rumah orangtuaku,” ujar Karin lalu meninggalkan Arga dan Ibunya.


“Selesaikan bagaimana?” tanya Karin. Dia berdiri menatap Arga. “Aku sudah jelaskan kondisi sebenarnya, Pak Arga ingin aku selesaikan seperti apa?”


“Salah paham ini tidak akan terjadi kalau kamu nggak aneh-aneh dan langsung pulang.”


Karin terkekeh mendengar pernyataan Arga.


“Pak Arga salah, ini semua tidak akan terjadi kalau Bunda tanya baik-baik dan dengarkan penjelasan aku. Solusinya mudah, Pak Arga tinggal cek CCTV. Akan jelas aku datang bersama siapa, tapi ya sudahlah.”


Karin kembali berjalan meninggalkan Arga.


“Karin, ikut aku pulang!” pekik Arga.


Karin kembali menghentikan langkahnya lalu berbalik. “Maaf, untuk kali ini aku ingin egois. Sejak kemarin aku dituduh yang tidak-tidak bahkan Pak Arga tidak ada pembelaan untukku ditambah kejadian hari ini. Aku butuh waktu untuk sendiri,” ungkap Karin lalu kembali berjalan.


Arga hendak mengejar Karin tapi ditahan oleh Marisa.

__ADS_1


“Sudahlah Arga, istrimu itu benar-benar kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Jangan-jangan apa yang disampaikan Renata ada benarnya kalau kalian memang hanya menikah dengan perjanjian.”


“Bun, cukup. Karin sekarang pergi dan Bunda mempersoalkan ucapn Renata, Karin sedang hamil artinya kami benar-benar  serius berumah tangga.”


...***...


Karin berbaring di ranjang kamarnya. Mama Karin tidak banyak tanya tapi menyadari ada sesuatu dengan Karin dan Arga, terlihat dari wajah Karin yang murung.


“Karin, makan dulu nak. Ini sudah sore,” ajak Mama Karin sambil berdiri di pintu kamar.


“Nanti aja Mah. Aku belum lapar.”


Mama Karin hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban Karin. Tidak ingin bertanya langsung masalah yang dihadapi oleh Karin, menunggu dijelaskan langsung oleh Karin. Entah jam berapa Karin akhirnya tertidur. Tidur dalam kondisi kecewa pada suaminya. Selain tidak menyusul kepergiannya bahkan tidak menanyakan keberadaan Karin baik itu lewat pesan atau panggilan telepon.


 Sedangkan di kediaman Arga. Ternyata Ayah Arga pulang lebih awal. Kini mereka berada di meja makan untuk menikmati makan malam. Tidak melihat Karin tentu saja jadi bahan pertanyaan Ayah Arga.


“Kemana istrimu?” tanya Ayah Arga.


“Hm.”


“Kabur, mungkin malu karena kepergok oleh Bunda main dengan laki-laki lain di mall,” tutur Bunda.


“Benar begitu?” tanya Ayah Arga lagi.


“Ayah pikir Bunda berbohong?”


“Aku tidak bilang kamu berbohong, tapi apa yang kamu lakukan di mall? Jangan bilang pergi dengan teman-teman kamu yang sok sosialita itu?”


“Memang kami geng sosialita,” jawab Bunda.


“Jadi Karin pergi karena masalah bertemu dengan Geng tidak jelas Bunda kamu?”


“Hm, sepertinya begitu," jawab Arga.


“Kamu yang benar saja, masa karena hal begini kamu biarka istri kamu pergi mana sedang hamil pula. Kamu bukan bocah lagi Arga."

__ADS_1


 


__ADS_2