Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Arga Yang Aneh


__ADS_3

Terdengar ketukan pintu.


“Arga ... Karin,” panggil Bunda.


Arga pun mengurai pelukannya dan mendengus kesal. Karin tersenyum melihat suaminya yang tampak gagal ingin memulai sesuatu.


“Buka dulu pintunya, takutnya penting,” titah Karin. Arga pun membuka pintu dan Bunda masih berdiri di sana.


“Mana Karin,” ujarnya sambil menggeser tubuh Arga lalu masuk ke kamar.


“Karin mau tidur, Bun.”


“Nggak tuh. Karin, Bunda bawa salad. Kamu habiskan ya, segar kok nggak akan buat kamu mual.”


Arga menerima salad yang dibawakan Bundanya, “Iya, aku akan pastikan Karin menghabiskan ini. Bunda bukannya mau nyusul Ayah.”


“Iya tapi ....”


Karin hanya tersenyum menyaksikan Arga yang berusaha mengusir Bundanya secara halus.  Arga meletakan salad di atas nakas kemudian merangkul bahu Marisa dan mengajaknya keluar kamar.


“Bunda tahu ‘kan Ayah tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu. Lebih baik cepat berangkat,” pinta Arga.


“Karin, kamu habiskan saladnya ya.”


“Iya, Bun.”


“Kamu juga jangan aneh-aneh, ingah tuh luka bekas operasi belum kering dan Karin juga harus istirahat,” nasihat Bunda pada Arga. Arga hanya melambaikan tangannya saat mobil yang membawa Marisa mulai meninggalkan kediamannya.


Arga kembali ke kamarnya sambil bersiul, sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan Karin. Namun, Arga harus lebih bersabar menahan hasraatnya karena saat masuk ke kamar Karin tidak ada di ranjang. Terdengar suara di toilet, Karin kembali memuntahkan isi perutnya.


“Sayang, kamu muntah lagi?” Arga memijat tengkuk Karin yang menunduk di wastafel. Arga membantu mengelap wajah Karin lalu memapahnya kembali ke ranjang.


“Aku ambilkan air hangat dulu,” ucap Arga setelah membaringkan Karin.


Arga meletakan gelas yang sudah kosong di atas nakas, menatap Karin yang saat ini sudah kembali berbaring.


“Pak Arga, nggak jijik lihat aku muntah?”


“Kenapa harus jijik, sedangkan kamu mual dan muntah karena perbuatanku. Kamu mengandung anakku jadi wajar kalau aku harus ikut merawat atau merasakan keluhan kehamilanmu.”


Karin meraih tangan Arga dan menempelkan telapak tangan itu ke pipinya. “Terima kasih.”


“Tapi masih ada yang mengusikku.”


“Apa?” tanya Karin.

__ADS_1


“Bisa nggak kamu jangan panggil aku Pak  atau Bapak, kita ini suami dan istri bukan anak dan ayah. Panggilan yang mesra dan enak didengar dong.”


Karin terkekeh mendengar keluhan Arga. “Hm. Gimana kalau Mas?”


“Tidak, nanti sama seperti kamu panggil mantannya Renata.”


“Idih, tapi ‘kan beda rasa.”


“Yang lain?”


“Hm, abang gak keren. Bebeb kayak ABG atau ... hubby aja ya.”


“Hubby? Boleh dan aku akan panggil kamu sayang, bear, hunny ....”


 


***


Arga sudah mulai beraktivitas normal, walaupun jam kerjanya masih tidak beraturan bahkan terkadang dia harus berbaring ketika merasa lelah mengingat luka yang dia dapatkan saat kecelakaan.


Sesuai dengan permintaan Karin sebelumnya, sekretaris Arga kali ini adalah laki-laki. Tidak ingin ada ulat bulu yang menggoda suaminya atau menjadi perantara ulat bulu seperti sebelumnya. Karin sendiri sudah mulai bisa beraktivitas lagi, mual muntahnya tidak separah seperti sebelumnya. Kehamilannya sudah masuk empat bulan, perutnya sudah terlihat agak buncit. Teman-teman kuliah Karin terkejut saat mengetahui Karin sudah menikah dan saat ini sedang hamil.


“Gimana, ada revisi lagi?”


Karin mengangguk pelan, banyak sekali masukan dari dosen untuk skripsinya. Sempat ada keinginan untuk menunda skripsi dan melanjutkan nanti saja setelah melahirkan. Tapi Arga menyemangati untuk terus lanjut, menurutnya setelah ada bayi aktivitas Karin akan semakin sibuk belum tentu akan sempat sambil mengerjakan skripsi.


“Aku langsung pulang deh, keburu di jemput suamiku nanti,” jawab Karin sambil memakai lagi tasnya.


“Hati-hati, ya.”


Karin melambaikan tangannya lalu meninggalkan area kampus. Dia sudah memesan taksi online dan sudah menunggu tidak jauh dari parkiran. Taksi yang mengantarkan Karin sudah berhenti di depan gerbang, setelah membayar Karin pun turun. Agak heran karena ada dua mobil lain selain mobil Bunda Marisa yang terparkir di carport yang agak luas.


“Sepertinya sedang ada tamu,” gumam Karin.


Melangkah pelan melewati beranda dan sampai di pintu depan. Karin mengucapkan salam, ternyata benar ada beberapa orang yang dia lihat asing.


“Kamu sudah pulang, sayang. Kemarilah!” Bunda Marisa mengenalkan Karin pada beberapa tamunya, Karin menyapa dan tersenyum.


“Wah, cantik ya istrinya Arga.”


“Iya dong, lagi hamil nih. Aku sebentar lagi jadi nenek,” ucap Bunda.


“Tapi masih muda banget deh.”


“Karin masih kuliah,” ujar Bunda lagi. “Kamu masuk nak, istirahat ya. Pasti capek ‘kan?”

__ADS_1


“Iya Bun.” Karin belum melangkah jauh tapi masih mendengar pembicaraan Ibu mertua dengan teman-temannya.


“Kalau sama Arga kayak sugar baby nggak jeng?”


“Ah, nggak kok mereka cocok. Tidak terlihat seperti itu.”


“Sekarang ‘kan lagi rame tuh, sugar baby dan sugar daddy. Makanya kita harus hati-hati jaga suami takut diambil perempuan muda. Rata-rata masih mahasiswa kayak menantu kamu gitu.”


Karin hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dibicarakan para tamu dan nyonya rumah. “Sudah pada tua malah gibahin orang, nggak semua mahasiswa memilih jalan begitu juga kali,” gumam Karin.


Setelah berganti pakaian, Karin kembali membuka laptopnya. Dia tidak ingin menunda nanti untuk memperbaiki skripsinya, khawatir apa yang dijelaskan oleh dosen pembimbing malah dia lupa dan akhirnya lagi-lagi harus diperbaiki. Bahkan Karin menikmati makan siangnya di depan laptop.


Karin masih fokus di depan layar saat pintu kamar dibuka, antensinya pun berpindah ke arah pintu.


“Loh, hubby sudah pulang?” tanya Karin. Arga menutup kembali pintu kamar, Karin menghampiri Arga karena keadaannya terlihat tidak baik.


“Hubby kenapa? Ada yang sakit?”


Arga yang menggelengkan kepalanya. Karin membantu melepaskan jas, dasi termasuk kemeja yang Arga kenakan.  Memperhatikan bekas luka di tubuh Arga, khawatir kalau ada yang terbuka atau aneh tapi semua terlihat baik-baik saja.


Bergegas menuju walk in closet untuk mengambil pakaian ganti Arga dan membantu memakaikannya.


“Sayang jangan tergesa-gesa begini, kasihan bayi kita,” ujar Arga yang sudah duduk di tepi ranjang sambil mengusap perut Karin lalu mengarahkan Karin untuk duduk di sampingnya.


“Hubby kenapa pulang lebih cepat? Apa ada nyeri atau sakit ...”


Arga menggelengkan kepalanya. Karin memeriksa lengan Arga yang masih menyisakan luka jahitan karena sobek saat kecelakaan.


“Apa ini sakit?” tanya Karin sambil menggerakan lengan Arga.


“Nggak sakit sayang. Tidak ada yang sakit.”


“Lalu ....”


Arga lalu membaringkan tubuhnya membuat Karin semakin bingung dan ikut berbaring menghadap Arga yang menatap langit-langit kamarnya bahkan saat ini memejamkan matanya


“Hubby ... jangan buat aku bingung. Kamu kenapa?”


“Di kantor aku tiba-tiba merasa tidak nyaman. Kepalaku pusing dan tidak suka dengan wangi parfum siapapun yang ada di dekatku bahkan sampai merasakan mual. Ada yang mengatakan padaku ini kehamilan simpatik, aku merasakan gejala kehamilan yang pernah kamu rasakan. Sekarang aku rasanya ingin makan buah yang masam.”


“Hahhh.”


 


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1



__ADS_2