Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Bertemu Devan


__ADS_3

Karin mengambil mangkuk kosong yang tadinya berisi salad permintaan Arga. Pria itu sedang berada di ruang kerja Ayahnya, mengecek file-file terkait urusan perusahaan. Cukup lama absen saat kecelakaan dan setelahnya, menumpuk pekerjaan dan tugas yang harus dikerjakan. Walaupun ada asisten, bahkan Ayahnya ikut mem back-up saat Arga benar-benar tidak sadar dan harus memulihkan diri.


“Habis makan apalagi dia?” tanya Bunda pada Karin yang baru saja dari dapur meletakan alat makan bekas Arga.


“Salad, Bun.”


“Aneh, kamu yang hamil nggak ada pengen makan yang macam-macam. Ini malah dia yang sibuk pengen ini itu.”


Karin hanya terkekeh mengingat Arga yang meminta macam-macam makanan yang biasanya tidak dia suka atau sengaja dia makan. Sejak kemarin siang dia pulang lebih awal, asisten rumah tangga disibukkan menyiapkan keinginan Arga bahkan Karin juga sempat memesan via online. Mulai dari asinan, seblak, Es doger bahkan tadi malam Arga menginginkan Bakso isi keju yang baru terealisasi hari ini kemudian ingin salad setelahnya.


“Bunda mau kemana?” tanya Karin melihat Ibu mertuanya sudah rapi. Akhir-akhir ini memang perempuan paruh baya itu terlihat sangat sibuk dengan urusan pribadinya, tentu saja bersama teman sosialitanya.


“Bunda ada undangan.”


"Pergi dengan Ayah?"


“Nggak, Ayah masih di kantor. Lagi pula dia nggak akan mau ikut cara beginian.”


Karin hanya mengangguk pelan lalu kembali menyusul Arga di ruang kerja setelah kepergian Ibu mertuanya.


“Hubby,” panggil Karin ketika sudah mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa.


“Hm,” jawab Arga yang masih fokus pada layar laptop.


“Bunda akhir-akhir ini sering pergi ya.”


“Dari dulu dia memang sibuk sama teman-temannya.”


“Masa? Aku baru tahu.” Karin ingin menyampaikan ketidaksukaannya dengan teman Bunda Arga yang mengatakan dirinya seperti sugar baby kepada Arga tapi urung. Khawatir jika Arga malah mempersoalkan hal ini langsung pada Bundanya.


“Kalau nanti kita sudah tua, anak-anak sudah mulai dewasa dan kamu kesepian jangan bergaul dengan yang seperti itu. Apa namanya ... ah sosialita. Aku tidak suka,” ungkap Arga.

__ADS_1


“Lalu aku harus bagaimana?”


Pertanyaan Karin berhasil menyita perhatian Arga yang langsung menoleh.


“Ada aku, lagi pula kamu nggak akan kesepian. Kita akan punya anak dan cucu yang banyak bahkan setelah anak-anak kita dewasa kamu hanya akan fokus pada hubungan kita. Kita bisa berlibur atau bahkan keliling dunia.”


Karin tertawa mendengar keinginan dan nasihat Arga.


“Aku serius, sayang. Perbedaan umur kita cukup jauh, hampir sembilan tahun. Artinya saat aku umur lima puluh tahun kamu masih terlihat menggoda.”


“Bukannya laki-laki makin tua makin jadi?” kelakar Karin.


“Ah betul itu. Jangankan tua, sekarang pun aku makin jadi. Tiba-tiba aku ingin mengunjungi anakku, ayo,” ajak Arga yang sudah beranjak dari kursinya.


“Ehh. Itu belum selesai,” ujar Karin sambil menunjuk laptop yang ditinggalkan Arga dan malah menarik tangan Karin dan mengajaknya ke kamar.


“Masih bisa menunggu, kalau aku tidak sabar menunggu.”


Karin baru saja keluar dari ruangan dosen pembimbingnya, bergantian dengan mahasiswa lain. Paling tidak dia merasa lebih lega karena tidak banyak revisi yang diberikan dan juga diminta untuk lanjut ke bab berikutnya.


Tahapan untuk menjadi sarjana segera terwujud dan Karin berharap itu terjadi sebelum dia melahirkan. Saat hendak memesan taksi online untuk mengantarnya pulang, ponsel Karin bergetar ternyata pesan dari Arga yang meminta Karin membawakan makanan dari salah satu cafe yang biasa mereka kunjungi.


“Hm, ini yang ngidam permintaannya aneh-aneh.” Karin pun menuju cafe dimana menyajikan makanan yang diinginkan Arga. Mereka memang biasa memesan menu itu ketika datang ke lokasi.


Suasana cafe tidak seramai biasanya, mungkin karena sudah lewat jam makan siang. Setelah memesan dua porsi ditambah minuman, Karin duduk menunggu pesanan selesai. Dia akan langsung membawakan ke kantor untuk suaminya.


“Wah, kebetulan sekali. Mimpi apa aku semalam, bertemu dengan kamu Karin.”


Karin pun menoleh, walaupun dia masih hafal dengan suara itu. Tapi dia ingin memastikan kalau orang yang baru saja menyapanya adalah Devan.


“Apa kabar Karin?”

__ADS_1


“Baik,” jawab Karin tanpa semangat.


Tanpa diduga, Devan malah ikut duduk di salah satu kursi satu meja dengan Karin. Walaupun sudah bisa terbaca kalau Devan akan melakukan hal itu, tapi Karin berusaha untuk biasa saja.


Devan memandang aneh pada Karin, “Kamu ... kamu hamil ya?”


“Ck, memang kenapa kalau aku hamil.”


“Aku masih menunggu jandamu, Karin.”


“Ya Tuhan, Mas Devan kalimatmu seakan menyumpahi agar pernikahanku segera berakhir.” Karin menyahut dengan suara tidak terlalu kencang tapi bisa didengar oleh Devan.


“Aku memang berharap seperti itu.”


“Kalau pernikahan Mas Devan dengan Renata bisa berakhir, bukan berarti pernikahanku akan berlaku sama. Kami bahagia dan tidak main di belakang seperti yang kalian berdua lakukan.”


Devan hanya tertawa mendengar ucapan Karin.


“Apa Renata sudah berhasil mendekati Arga?”


“Tidak akan pernah berhasil. Kami saling percaya dan menguatkan, apalagi sudah tahu bagaimana sifat Renata jadi tidak mungkin dia terjatuh ke lubang yang sama.”


Pesanan Karin ternyata sudah siap, membuatnya tidak perlu terlalu lama berhadapan dengan pria menyebalkan di depannya. Karin pamit mendahului pada Devan sebagai sopan santun, kemudian ke kasir untuk membayar pesanannya.


Ternyata interaksi Karin dan Devan disaksikan oleh seseorang bahkan sempat diabadikan beberapa kali. “Apa kubilang, dia terlihat seperti sugar baby. Pria itu bukan suaminya, atau jangan-jangan dia ayam kampus.”


 


\=\=\=\=\=\=


 

__ADS_1



__ADS_2