
"Itu bukan urusanku," sahut Arga. Dia benar-benar sudah tidak peduli dengan Renata. Berharap ketegasannya ini bisa membuat Renata sadar, sadar jiwa dan raganya sudah tidak mungkin mendapatkan Arga kembali.
"Lebih baik kamu konsentrasi mengurus perusahaan Ayahmu. Aku dengar perusahaan itu sedang goyang akibat perpisahanmu dengan Devan."
Renata menghela nafasnya, apa yang dikatakan oleh Arga memang benar. Perusahaan Ayahnya sedang bermasalah karena pengaruh dari gugatan cerainya. Tapi mendekati Arga adalah rencananya untuk kembali menguatkan perusahaan juga hatinya.
Sepertinya aku harus cari cara lain, hati Arga benar-benar tertutup. Mungkin saja lewat Bunda atau Karin aku akan ada peluang lain, batin Renata.
"Oke, Arga. Aku pamit, semoga kamu tidak menyesal dengan keputusan kamu."
...***...
Karin memaksakan diri beranjak dari ranjangnya, padahal dia merasa semakin tidak nyaman dengan tubuhnya. Perintah untuk segera menemui Dosen Pembimbing saat dia membuka ponsel, mau tidak mau membuatnya bergerak dari atas ranjang
Kepalanya agak pening dan mulutnya terasa pahit, bahkan mandi pun rasanya enggan kalau bukan karena dia harus beraktifitas.
"Aku kenapa sih, kok malah sakit."
Setelah bersiap, Karin menggunakan taksi online untuk menuju kampusnya tentu saja setelah berpamitan dengan Bunda Marisa.
Rasanya Karin sulit untuk fokus karena apa yang dia rasakan, arahan dosen tidak dapat dia cerna dengan mudah. Untung saja dia merekam apa yang disampaikan dan akan didengarkan saat daam kondisi lebih baik.
"Karin, kamu kenapa sih?" tanya teman Karin saat dosen mereka sudah beranjak pergi. Karin sendiri memilih menelungkupkan wajahnya pada kedua tangan yang dilipat di atas meja.
__ADS_1
"Kepalaku pening," jawab Karin.
"Wajah lo juga pucat sih," seru teman Karin lainnya.
"Ke perpus yuk, mau ikut nggak?"
"Nggak deh, aku mau langsung pulang."
Karin yang berencana pulang malah menyusul Arga. Sejak tadi Arga menghubungi tapi ponsel Karin ternyapa mode senyap. Khawatir Srga berpikiran macam-macam maka Karin memilih menemui Arga.
Karin hanya mengangguk dan tersenyum sekilas saat sekretaris Arga menyapa.
"Pak Arga," panggil Karin saat membuka pintu.
"Aku dari kampus terus langsung ke sini," ujarnya memeluk tubuh Arga dan menghirup dalam-dalam wangi tubuh Arga.
"Katanya mager tapi berangkat juga, nggak ngabarin pula ke aku," seru Arga setelah mengurai pelukannya dan mengarahkan Karin duduk di sofa.
"Aku lagi malas buka hp."
"Hm." Arga membiarkan Karin yang bermanja dengan menyenderkan kepalanya dibahu Arga, meskipun merasa aneh dengan sikap istrinya.
"Pak Arga, kita jalan-jalan yuk," usul Karin ketika beranjak duduk.
__ADS_1
"Jalan kemana?"
"Kemana kek, Pak Arga hampir seminggu kemarin ninggalin aku. Memang nggak kangen gitu?"
"Kangen, kangen banget malah tapi kamu pucat loh. Sepertinya kurang sehat, sayang, Bagaimana kalau kita ke dokter saja."
"Aku tuh butuh waktu berdua dengan Pak Arga, bukan lagi sakit jadi nggak perlu ke dokter."
Arga hanya bisa menghela nafasnya menanggapi Karin yang menurutnya agak aneh.
"Oke, aku selesaikan dulu berkas itu," tunjuk Arga ke arah mejanya. Karin berbaring di sofa dan tidak lama malah terlelap. Arga menyelimuti kaki Karin dengan jasnya, menunggu Karin bangun dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Arga menghubungi meja sekretarisnya tapi tidak dijawab. Membutuhkan sebuah dokumen yang berhubungan dengan acc yang akan dia lakukan.
Berjalan ke arah pintu dan membukanya, bermaksud ingin memberikan intruksi langsung. Mendengar pembicaran panggilan telepon antara sekretarisnya entah dengan siapa.
"Iya, ada istrinya nih di dalam. Harusnya tadi jangan pulang, dia pasti berpikir kalau suaminya masih ada hubungan dengan mantannya. Nanti aku kabari lagi deh kalau ada informasi lain, jangan lupa tranferannya."
Panggilan tersebut berakhir, Arga sudah berdiri di samping meja sekretarisnya menatap garang. Tidak menduga jika semua kebetulan antara Renata dan dirinya.
"Kamu ...."
"Pak Arga."
__ADS_1