
“Ayah nggak mau tahu gimana caranya kamu bujuk Karin, yang jelas besok kalian harus sudah damai. Kalaupun dia tidak ingin tinggal di sini lagi, itu terserah kalian. Tapi jangan sampai terucap pisah hanya dengan masalah sepele begini.”
Arga pun tidak ingin harus pisah dengan Karin karena hanya kesalahpahaman. Karin perlu waktu sendiri, dia pun sama. Percaya dengan Karin bukan perempuan yang asal mengobral perasaan dan tidak setia.
Tapi melihat foto Karin bersama Devan juga cerita Bunda Karin bersama dengan teman laki-lakinya walaupun pengakuan Karin mereka sebenarnya bertiga, tetap saja Arga cemburu.
“Akhir-akhir ini ayah akan sering ke luar kota, kamu nggak usah ikut. Biar ini jadi urusan Ayah, fokus dengan istri dan calon bayi kalian,” titah Ayah pada Arga.
“Lebih baik Bunda yang ikut Ayah, dari pada kurang kerjaan ke sana ke sini bareng Ibu-ibu ghibah semua.”
“Nggak ah, Bunda nggak mau ikut ke luar kota. Nanti Ayah sibuk, Bunda sendiri di hotel.”
“Lebih baik ikut Ayah dapat pahala karena temani suami, berbakti dengan suami daripada dengan mereka. Pokoknya ini peringatan untuk Bunda, nggak ada Ayah dengar Bunda izin ke sana ke sini dengan komunitas tidak jelas itu. Kalau arisan silahkan tapi nggak tiap hari kocok arisan ‘kan?”
“Ayah, kok gitu?”
Makan malam kali ini jadi ajang Ayah untuk menasehati Arga dan Marisa tapi yang paling banyak mendapatkan teguran tentu saja Marisa.
Arga berbaring menatap langit-langit kamarnya. Setelah makan malam dia segera menghubungi Karin tapi tidak ada jawaban. Ingin langsung menyusul khawatir Karin malah marah, sepertinya Karin memang butuh waktu sendiri.
“Selamat tidur sayang, besok aku akan jemput kamu.”
Sedangkan di tempat berbeda, tepatnya di kediaman orang tua Karin. Mama Karin akhirnya bertanya apa yang menjadi pokok masalah sampai Karin harus pergi dan Arga tidak menyusulnya. Dia hanya khawatir masalah Karin akan menjadi semakin pelik kalau putrinya menghindari seperti ini.
Tidak ingin pernikahan Karin dan Arga malah berantakan apalagi sampai pisah. Tapi Karin masih enggan bicarakan hal itu dan masih bungkam.
“Habiskan makanannya, kamu bukan makan untuk diri sendiri tapi untuk anakmu juga.”
Karin hanya menganggukkan kepalanya mendengar nasihat Mama. Berusaha menelan makanan yang sedang dia kunyah dan menghabiskan sedikit demi sedikit, walaupun rasanya seperti tercekik dan sulit untuk menelan.
“Mah, aku sudah selesai.”
Mama Karin menoleh ke piring Karin yang masih tersisa makanan.
“Ya sudah, tapi jangan langsung berbaring. Tidak baik untuk kesehatanmu.” Karin beranjak menuju ruang keluarga, duduk di sofa depan TV.
Tidak lama Mama Karin membawakan segelas juice dan menyerahkan pada Karin. “Kalau makan sedang tidak berselera. Ganti asupan makanan kamu dengan yang lain. Mau Mama buatkan sesuatu untuk cemilan?”
“Nggak usah Mah, ini saja cukup.”
__ADS_1
“Arga kenapa belum jemput? Apa dia tahu kamu mau menginap?”
“Entahlah, biarkan saja Mah. Pak Arga lebih memilih dengar apa kata Bundanya dibandingkan mencari tahu kebenaran,” jelas Karin.
Ah, jadi masalah orang ketiga. Walaupun bukan wanita idaman lain tapi ternyata orangtua, batin Mama Karin.
“Untuk hari ini boleh saja kamu marah dan kecewa, tapi besok selesaikan masalah kalian. Jangan sampai berlarut-larut.”
Setelah menghabiskan juice yang dibuatkan Mama, Karin pun pamit ke kamar. membuka ponselnya ada beberapa kali panggilan dari Arga tapi Karin enggan untuk menghubungi lagi. Memilih untuk berbaring dan menyelesaikan masalahnya besok.
...***...
Pagi sekali Arga sudah bertolak dari kediaman Ayahnya untuk menyusul Karin. Tepat pukul enam, dia sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah orangtua Karin.
“Loh, Arga.” Mama Karin membuka pintu rumah untuk Arga.
“Pagi Mah, Karinnya ada?”
“Sepertinya masih tidur, kamu temui di kamarnya saja.”
Arga mengangguk pelan lalu menuju kamar Karin. Hari ini dia berniat tidak ke kantor dan akan menebus kesalahannya pada Karin. Menekan handle pintu kamar Karin yang ternyata tidak dikunci, perlahan melangkah dan menutupnya kembali bahkan mengunci pintu tersebut.
Duduk di tepi ranjang dimana Karin masih terlelap, Arga menatap wajah Karin lalu ikut berbaring dan memeluknya. Gerakan Arga membuat Karin terjaga dan perlahan mengerjapkan kedua matanya.
“Sttt, biarkan begini dulu. Aku kangen kamu Karin, nggak bisa tidur kalau nggak sama kamu.” Arga semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah di dada Karin, tangannya meraba punggung Karin. Gaun tidur yang Karin kenakan sangat tipis membuatnya merasakan kulit tubuh Karin dan mengakibatkan bi rahinya muncul.
“Aish,” pekik Arga lalu mengurai pelukannya. Tidak mungkin dia langsung menerkam Karin, tentu saja akan ditolak oleh Karin karena urusan mereka belum selesai.
“Sayang, maafkan aku,” ujar Arga sambil berbaring miring menghadap Karin begitupun dengan Karin. Karin bergeming hanya menatap wajah Arga, sedangkan Arga memilih menyelipkan helaian rambut yang menutupi dahi dan wajah Karin.
“Aku percaya kamu kok, hanya aku rasanya cemburu sangat cemburu membayangkan kamu hanya pergi berdua dengan laki-laki itu, termasuk waktu Devan menemuimu di café.”
“Tapi kami bertiga.”
“Aku tahu, sayang. Pokoknya aku tidak bisa membayangkan kamu dengan yang lain.”
“Pak Arga tuh lebay deh.”
“Ck, jangan panggil aku Bapak lagi, gatal rasanya telingaku. Panggil aku hubby seperti biasanya.”
__ADS_1
“Enggak, aku masih marah.”
Arga kembali memeluk Karin yang menghindari tatapan dari Arga. “Sayang, please maafkan aku. Aku yang salah karena membiarkan kamu pergi.”
“Aku nggak mau pulang.”
“Oke, tidak masalah. Kita bisa kembali ke apartemen atau ….”
“Cari rumah sendiri,” usul Karin.
“Boleh sayang. Apa yang nggak untuk kamu,” sahut Arga. “Tapi maafkan aku ya?”
Karin menganggukkan kepalanya, tidak ingin berlama dengan emosinya sendiri. Apalagi dia melihat tatapan Arga penuh penyesalan dan kesungguhan.
“Sekarang, kamu mau bantu aku ‘kan?”
“Bantu apa?” tanya Karin sambil mengernyitkan dahinya.
Arga hanya mengerlingkan kedua matanya, sembari menunjuk bagian tubuhnya yang sudah meronta ingin di keluarkan.
“Hahh. Tapi ….”
“Ayolah sayang,” Arga kemudian beranjak duduk dan melepaskan sendiri penutup tubuhnya. Tatapan matanya sendu dan diliputi gai*rah. Karin hanya bisa pasrah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Setelah olahraga pagi yang membuat keduanya berkeringat, Arga akhirnya merebah dan memejamkan mata sambil mengatur nafas yang masih menderu. Karin yang masih berbaring menghadap Arga, jemari tangannya menyentuh tubuh Arga dimana masih jelas luka bekas operasi pasca kecelakaan.
Arga meraih jemari Karin. “Jangan lakukan itu, kamu bisa membangunkannya lagi.”
“Apa itu masih sakit?” Karin menunjuk bekas luka-luka tersebut.
“Tidak. Yang sakit di sini.” Arga meletakan tangan Karin di dada kirinya. “Apalagi kalau kamu ngambek kayak kemarin.”
“Hm, gombal.”
Keduanya terdiam membuat suasana menjadi hening.
“Hm, kalau kita cari rumah sendiri, Bunda dan Ayah akan marah nggak?”
“Aku yang akan sampaikan ke mereka. Lagi pula memang sebaiknya begitu dan Bunda sudah dilarang Ayah untuk bergaul dengan teman-temannya yang tidak jelas.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Hm.”