
Sepasang mata mengerjap pelan dan menatap sekeliling memusatkan pikirannya. Menyadari dia berada di kamarnya, kamar hotel yang beberapa hari ini ditempati. Arga sudah terjaga dan mencoba mengingat kejadian semalam karena saat ini tubuhnya terasa begitu lelah.
“Naina,” ucapnya. “Karin,” pekik Arga langsung beranjak duduk dan menyadari tubuhnya masih dalam keadaan polos lalu menoleh ke samping dimana Karin masih terpejam.
“Karin, aku pasti menyakitimu. Karin, sayang.”
Arga menepuk pipi Karin dan terkejut karena tubuh Karin terasa hangat, bibirnya bergumam tidak jelas. Arga mere_mas rambutnya mengingat bagaimana dia dengan kasar dan liar berada di atas tubu Karin apalagi Karin sedang mengandung.
Memandang tubuh Karin dengan banyak tanda cinta lalu menyibak selimut yang tadi menutupi tubuh istrinya.
“Astaga,” pekik Arga. melihat ada noda darah mengering di pangkal kedua paha Karin bahkan sampai mengotori sprei.
“Ka-karin.” Arga mengusap kasar wajahnya. “Rumah sakit, kita harus ke rumah sakit.” Arga mengambil pakaian dari lemari lalu mengenakan dengan cepat, menghubungi hotel karena dia butuh ambulance.
“Karin, bertahan sayang.” Arga memakaikan kembali dress yang semalam Karin kenakan.
Beberapa waktu sebelum kejadian Karin melabrak Naina.
Karin menghubungi Dio dan minta seseorang yang bekerja bersama Arga menemuinya juga meminta pihak hotel memberikan kunci duplikat kamar Arga. Memberikan bukti bahwa Karin adalah istri Arga tentu saja tidak sulit baginya mendapatkan kunci tersebut.
Karin sudah berada di restoran mengawasi Arga yang berada di tengah orang-orang Maxton bahkan ada Naina di sana.
__ADS_1
“Dasar keong racun,” gumam Karin melihat Naina yang menggoda Arga.
“Permisi Bu,” sapa seseorang yang sudah berada di depan Karin. “Saya diminta Pak Dio temui Ibu,” ujarnya.
“Ah, iya. Duduklah!” titah Karin lalu menunjuk ke arah meja di mana Arga berada.
Bertanya tentang kegiatan pertemuan dengan pihak Maxton dimana pria itu juga berada di dalam pertemuan bersama Arga.
“Tidak ada yang aneh Bu, semua bersikap profesional dengan tujuan kegiatan. Memang Ibu Naina menurut saya ya bu bukan mendorong Ibu untuk berpendapat yang sama, Ibu Naina selalu mengikuti Pak Arga.”
Terlihat Arga yang berdiri, Karin menduga Arga pamit ke toilet. Tidak lama kemudian Arga sudah kembali dan dengan raut wajah tersiksa.
“Ada yang tidak beres,” ujar Karin.
Karin memandang kepergian Arga dimana diikuti oleh Naina. “Ikut saya,” titah Karin. Setelah membayar tagihan pesanan yang sama sekali belum di sentuh Karin. Arga sudah naik ke atas bersama Naina.
“Panggil salah satu petugas hotel,” titah Karin sambil menghubungi Arga tapi tidak ada jawaban, padahal terdengar nada panggil.
Didampingi oleh bawahan Arga dan salah satu petugas hotel, Karin menuju kamar Arga dan membuka pintu.
“Kalian tunggu di sini,” titah Karin sebelum masuk ke dalam Arga.
__ADS_1
...***...
Karin berada dalam gendongan Arga, dimana ambulance sudah menunggu di lobby hotel.
“Dimana ambulance?” teriak Arga pada petugas hotel
“Sebelah sini, Pak."
Arga membaringkan Karin di atas brankar yang langsung menuju ambulance dan meninggalkan hotel. Selama perjalanan tangan Karin berada dalam genggaman Arga, menyesal dengan apa yang terjadi dan seharusnya Arga menerima permintaan Karin ikut. Mungkin ceritanya tidak akan seperti saat ini.
Arga membantu mendorong brankar menuju UGD. Salah satu perawat sempat menanyakan sebab Karin tidak sadarkan diri. Arga menjawab sekilas kegiatan mereka semalam dan menyampaikan kalau Karin sedang hamil.
Duduk di salah satu kursi stainless untuk keluarga pasien menunggu, Arga terlihat tidak sabar. Dia menghubungi Ayahnya untuk dibantu menyelesaikan urusan di hotel termasuk juga dengan Maxton.
Dio bertolak dari Jakarta menggunakan jadwal paling pagi setelah semalam mendapatkan kabar dari bawahannya yang menemui Karin.
Ponsel Arga sejak tadi bergetar karena dihubungi oleh pihak Maxton. Jelas saja mereka gusar karena ulah Naina bisa-bisa perusahaan Arga dan perusahaan Sadewa akan menghentikan kerja sama. Apalagi urusan Naina berurusan dengan pihak yang berwajib.
“Keluarga Ibu Karin.”
Arga bergegas ke arah suara. “Saya suami Karin.”
__ADS_1
“Ikut saya temui Dokter,” titah perawat itu.