
Karin memutuskan tidak langsung pulang, dia mengunjungi Mamanya, sempat mengirimkan pesan pada Arga untuk memberitahunya walaupun lagi-lagi tidak dibalas. Karin tidak ingin ambil pusing yang akhirnya menduga macam-macam tentang Arga.
Mama Karin senang dengan kedatangan putrinya dan antusias menanyakan kabar calon cucunya juga kabar Arga. Karin menjawab seperlunya saja dan tidak menceritakan apa yang menjadi kegundahan hatinya.
“Kamu sudah makan?”
Karin hanya menggelengkan kepalanya.
“Mama tidak tahu kamu mau datang, jadi nggak ada masak.”
“Aku ke kamar ya Mah, kayaknya perlu berbaring,” ujar Karin agar Mamanya tidak bertanya hal lain atau menduga ada sesuatu.
“Owh, ya sudah. Istirahatlah.”
Niatnya hanya berbaring saja tapi Karin malah tertidur dan bangun hampir pukul enam sore. Beranjak pelan dari ranjang kamar tidurnya walaupun dia terkejut ternyata sudah terlelap cukup lama.
“Mah, aku pulang ya.”
“Loh, kenapa nggak tunggu Arga jemput kamu saja.”
Karin pun segera mengeluarkan ponselnya, khawatir jika apa yang disampaikan Mamanya benar kalau Arga sedang dalam perjalanan. Tapi kecewa, jangankan untuk menjemput Karin sedangkan pesan yang dikirimkan tadi bahkan belum dibaca.
“Hm, Pak Arga kayaknya nggak bisa jemput. Dia sedang ada pekerjaan urgent.”
Mama Karin akhirnya melepaskan kepulangan Karin yang pulang menggunakan taksi. Taksi Karin terjebak macet dan sampai di rumah mertuanya hampir pukul tujuh malam.
“Dari mana kamu jam segini baru pulang?” tanya Marisa saat Karin baru saja tiba dan akan menuju kamarnya.
“Aku ….”
“Ah, kebetulan sekali Arga pulang. Arga … lihat istrimu ini, pergi dari siang jam segini baru datang. Benar-benar mencurigakan.”
Karin menunggu jawaban Arga agar membelanya. Sedangkan Arga malah menatap Karin. “Kamu dari mana?” tanya Arga sambil memperhatikan penampilan Karin.
“Dia pergi dari siang dan kamu tidak tahu?” tanya Marisa lagi.
Dahi Arga berkerut dan menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah hubungi Pak Arga berkali-kali dan mengirimkan pesan, kalau hari ini ….”
“Ah, ponselku tertinggal. Sejak tadi siang aku ada pertemuan dengan klien,” jawab Arga. “Memang kamu dari mana?” tanya Arga.
“Bunda curiga kamu bertemu dengan pria yang kemarin itu.”
“Aku dari rumah sakit setelah itu mengunjungi Mama,” sahut Karin. Sebenarnya dia enggan menjelaskan karena sudah memberitahu Arga.
“Ke rumah sakit? Kamu ada keluhan atau ….”
__ADS_1
“Tidak ada masalah, aku permisi ke kamar,” pamit Karin lalu meninggalkan Bunda dan suaminya.
Arga akan menyusul Karin tapi dicegah oleh Bunda, “Kamu harus awasi Karin, Bunda nggak mau punya menantu kurang ajar apalagi sampai mengkhianati kamu.”
“Karin tidak seperti itu Bun, kemarin itu Arga yakin mereka bertemu tidak sengaja. Lagi pula Karin benci dengan mantan suaminya Renata.”
“Hah, mantan suami Renata. Jadi pria itu mantannya Renata?”
“Hm.”
“Astaga, benar-benar aneh hubungan kalian. Renata mendekati kamu dan mantan suaminya mendekati Karin.”
“Sudahlah Bu, aku dan Karin tidak ingin mempersoalkan hal ini. Mereka akan menyerah, karena aku dan Karin saling mencintai. Aku ke kamar dulu Bun.”
Arga belum ingat kalau hari ini adalah jadwal kontrol kehamilan Karin bahkan dia janji menemani Karin, jadi bergegas ke kamar untuk menanyakan kembali mengapa Karin ke Rumah sakit.
“Sayang,” panggil Arga yang tidak menemukan Karin di ranjang. Bahkan pintu toiletnya tidak tertutup rapat. Artinya karin tidak ada di dalam toilet. Perhatiannya langsung tertuju pada walk in closet dan benar saja, Karin duduk dilantai dengan memeluk kedua kakinya. Sepertinya Karin baru saja mandi dan mengganti pakaiannya.
Tapi yang membuat Arga khawatir adalah Karin sedang terisak.
“Sayang, hei ada apa?” tanya Arga ikut duduk di samping Karin dan merangkulnya.
Karin tidak menjawab, masih terdengar isak tangisnya. “Karin, aku tahu kamu pasti kesal dengan ucapan Bunda. Dia hanya khawatir kalau sesuatu terjadi dengan hubungan kita.”
Karin mengangkat wajahnya yang terlihat matanya yang sembab.
“Bukan, dia hanya takut kalau aku mengkhinati putranya.”
Karin beranjak berdiri lalu meninggalkan Arga. “Karin,” panggil Arga dan mengekor langkah Karin yang ternyata berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya.
“Karin!”
“Aku lelah.”
Arga hanya menghela nafasnya dan membiarkan Karin beristirahat.
...***...
Esok pagi. Karin masih terlihat murung, Arga pun tidak ingin membicarakan hal yang terjadi kemarin karena hanya menambah kekesalan Karin. Setelah menyiapkan kebutuhan Arga, Karin pun bersiap untuk ke kampus.
Arga mengajak Karin sarapan sebelum berangkat. Karin mengunyah tanpa minat karena berada di bawah tatapan Ibu mertuanya.
“Ayah kemana Bun?”
“Ke luar kota lagi, masalah kantor cabang.”
“Hm.”
__ADS_1
“Kamu benar mau ke kampus?” tanya Marisa. Tentu saja Karin langsung menatap Marisa mendengar pertanyaan konyol itu. Jelas-jelas aktivitas Karin selama ini hanya ke kampus dan menjalani tugas sebagai istri Arga.
“Bunda ini gimana, ya pasti Karin ke kampus. Aku yang biasa antar Karin.”
Akhirnya Arga pun mengajak Karin berangkat, sesuai janjinya mengantarkan Karin ke kampus. Selama perjalanan Karin hanya diam memandang keluar jendela.
“Kamu jangan capek-capek ya, setelah selesai langsung pulang,” titah Arga. Karin hanya mengangguk pelan lalu melepas seatbelt-nya. Arga sempat mencium Karin sebelum keluar dari mobil.
Mood Karin pagi ini benar-benar buruk, dia hanya diam walaupun kedua sahabatnya Lola dan Gibran asyik berceloteh.
“Kamu kenapa sih?” tanya Lola.
“Nggak apa, bete aja nunggu dosen. Pengen cepat selesai,” jawab Karin. Akhirnya dosen yang ditunggu Karin pun selesai dengan kelasnya, bergegas dia menemui untuk kembali konsultasi mengenai skripsinya.
Kedua teman Karin menunggu dengan setia, berbeda dengan Karin yang antusias agar cepat selesai dengan skripsi kedua rekan Karin terlihat lebih santai.
“Sudah beres, acc belum?”
Karin mengangguk pelan, “Sudah ada paraf ACC tapi masih ada revisi nih.”
“Cie, yang udah kelar. Mau kemana sih buru-buru amat,” ejek Gibran.
“Target aku sebelum melahirkan harus sudah beres, daripada nanti malah ditunda terus.”
“Eh, ngemall yuk!”
Karin ingin menolak tapi dia butuh membeli maternity dress yang lebih banyak karena pakaian yang ada sudah mulai tidak nyaman dipakai. Akhirnya mengiyakan ajakan kedua sahabatnya.
Sudah berada di salah satu mall, ketiganya berjalan menuju store yang Karin sebutkan. “Eh bentar-bentar, aku mau ke toilet,” ujar Lola.
“Ya udah kita tunggu di sini,” sahut Karin. Dia berdiri sambil menunggu, membuka ponselnya ingin mengabari Arga kalau dia mampir ke mall untuk berbelanja. Gibran pun melakukan hal yang sama dengan Karin, sibuk dengan ponselnya.
“Cewek kemana-mana pasti harus ke toilet,”keluh Gibran. Karin hanya tersenyum mendengar keluhan Gibran.
“Karin!”
Mendengar namanya dipanggil, Karin pun menoleh begitupun dengan Gibran.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Marisa yang sudah berada di hadapannya. Bukan ibu mertua nya saja, tapi beberapa temannya yang terlihat berbisik menatap Karin.
“Aku ….”
“Bilang ke kampus padahal di mall dengan laki-laki pula,” ujar Marisa menyela ucapan Karin.
“Nggak begitu Bun, aku ….”
“Nggak begitu gimana, buktinya kamu ada di sini dengan laki-laki. Ingat Karin, kamu sudah menikah dan akan punya anak.”
__ADS_1
Karin dan Gibran saling tatap mendengar tuduhan untuk keduanya.