Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Kemarahan Arga (2)


__ADS_3

"Mas Devan mau apa ke sini?"


Karin masih menatap layar yang menampilkan situasi dengan Devan berdiri di depan pintu. Bel berbunyi karena Devan terus menekannya.


"Aku buka nggak ya?"


Tapi sudah lima menit berlalu Devan belum beranjak pergi. Tidak ingin terjadi keributan apalagi Devan mulai menggedor pintu apartemen Arga.


"Aku tahu kamu ada di dalam," ujar Devan saat pintu terbuka dan Karin muncul dari balik pintu.


"Mas Devan sebaiknya pergi," titah Karin.


"Izinkan aku masuk, kita bicara." Devan meraih tangan Karin yang masih berdiri menahan pintu.


"Kita tidak ada urusan lagi dan Pak Arga ada di dalam."


"Arga sudah pergi, aku lihat dia tadi keluar. Mau aku yang masuk atau kamu yang keluar," ancam Devan.


"Aku akan panggil security, ada tombol darurat di sini." Karin menghentakan tangan Devan, membuat keduanya saling dorong.


Karin berusaha menutup pintu sedangkan Devan sengaja menyelipkan kakinya membuat pintu tidak bisa tertutup.


"Pergi!" teriak Karin sambil menghentikan usahanya menutup pintu.


"Ikut aku, kita bicara."


Karin menghela nafasnya, lalu berhenti menahan pintu. Devan terlihat tersenyum penuh kemenangan. Melihat Devan sudah lengah dan menggeser kakinya, Karin tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Bugh.

__ADS_1


"Aaaa," teriak Devan sambil menunduk dan memegangi sel@ngkangannya, karena tendangan Karin. Perlahan mundur menjauh dari pintu.


Karin segera menutup pintu dan memperhatikan layar memastikan Devan pergi, berniat menghubungi keamanan jika Devan tidak juga beranjak.


"Foto-foto itu sudah menjelaskan semuanya," ujar Arga menyadarkan lamunan Karin yang mengingat kejadian saat Devan menyambanginya kemarin.


"Pak Arga memaki dan menghinaku karena masalah ini?" tanya Karin.


"Lalu aku harus diam saja atau bahagia dengan foto-foto itu. Bagaimana jika Ayah dan Bunda menerima foto itu, apa yang ingin kamu jelaskan pada mereka?"


Karin meremass lembaran foto di tangannya, wajahnya sudah berubah garang menatap Arga.


"Aku pikir Pak Arga cerdas, ternyata aku salah. Entah bagaimana nasib perusahaan kalau pimpinannya tidak punya cara untuk mengatasi masalah."


"Jangan menghinaku dan ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan."


"Foto ini jelas memprovokasi kita berdua, seharusnya Pak Arga bisa menganalisa hal ini mulai dari pengirimnya juga mencari tau adegan sebenarnya secara lengkap."


"Karena nyatanya Pak Arga sudah berhasil dibodohi."


"Karin," pekik Arga dengan tangan sudah berada di depan wajah Karin.


"Mau pukul aku? Pukul saja," ujar Karin sambil menyodorkan wajahnya.


Arga mengepalkan tangannya lalu meraih tubuh Karin dan menggendongnya.


"Pak Arga turunkan aku," teriak Karin sambil meronta.


"Diam atau kamu akan jatuh."

__ADS_1


Ternyata Arga membawa Karin ke kamar yang biasa Karin tempati dan menghempaskan ke ranjang.


Saat hendak beranjak bangun, Arga menahannya dengan mengungkung tubuh Karin.


"Minggir," pekik Karin.


"Kamu mulai lancang dan berani, sepertinya aku harus memberi pelajaran," ancam Arga.


"Pak Arga jangan macam-macam atau aku akan teriak."


Arga terbahak mendengar ancaman Karin.


"Kamu pikir ini di daerah pemukiman padat penduduk. Teriakanmu percuma, tidak akan ada yang mendengar."


"Jangan salahkan aku kalau aku berlaku kasar dan ...."


"Kamu memang terlalu banyak bicara," sela Arga.


Arga menyambar bibir Karin membuat gadis itu membelalakan mata terkejut. Saat kedua tangannya akan mendorong tubuh Arga, tubuhnya malah sengaja ditindiih oleh Arga agar tidak mudah bergerak.


"Pak Arga lancang," jerit Karin saat suaminya melepaskan silaturahmi bibir mereka.


"Lancang? Aku ini suami kamu, semua dari tubuhmu sudah menjadi milikku dan halal bagiku."


"Tapi kita tidak saling mencintai."


"Itu bukan dasar untuk aku mendapatkan hak sebagai seorang suami dan kepuasan menikmati tubuhmu."


\=\=\=\= Haiii, mampir yukk ke karya teman aku, ceritanya oke lohhh

__ADS_1



__ADS_2