Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Rencana Karin


__ADS_3

“Ayah pesan agar kalian tinggal dengan kami.”


Arga menghela nafasnya, “Bun, kami ingin mandiri. Jadi biarkanlah kami tinggal di sini.”


“Bunda senang kalau kamu dan Karin bisa hidup mandiri tapi tidak di apartemen, yang tidak jelas keamanannya. Kalian bisa tinggal di pemukiman atau perumahan, jika belum ada tempat yang cocok, kalian tinggal dengan kami dulu.”


“Bun ….”


“Tidak ada alasan. Bagaimana bisa kamu biarkan Karin pulang pergi ke kampus sendiri bahkan naik ojek. Kamu ini sebenarnya peduli dengan istri kamu atau tidak?”


“Maaf Bun, tapi itu keinginan Karin. Biar lebih cepat sampai.”


Arga bergeming, percuma melawan kehendak ayahnya. Artinya Adam Sadewa selama ini masih mengawasi Arga dan Karin.


“Bunda tunggu kepindahan kalian secepatnya,” ujar Marisa pada Karin dan Arga. 


Karin mengantarkan Marisa sampai pintu. Membayangkan bagaimana nanti situasi selama tinggal di kediaman mertuanya. Jelas mereka tidak bisa tidur di kamar terpisah. 


"Bereskan kembali barang-barang kamu. Kita pindah besok," ujar Arga. 


Karin hanya diam dan berlalu melewati Arga, dia masih kesal karena ulah Arga menghinanya karena masalah kedatangan Devan yang memaksa menemui Karin.


“Hei, aku bicara denganmu. Kamu semakin hari semakin kurang ajar, apa ini yang orangtuamu ajarkan,” pekik Arga.


Karin pun menghentikan langkahnya dan menoleh. “Jangan bawa orang tuaku, seharusnya Pak Arga berpikir kenapa aku acuh. Mungkin Pak Arga memang tidak biasa berpikir, makanya nggak paham-paham.”


“Kamu ….”


“Kenapa? Mau ancam aku lagi atau mau memaksa menyentuh aku?” teriak Karin.


Arga terkekeh menanggapi teriakan Karin.


“Sepertinya bukan aku yang berharap tapi kamu yang mengharapkan sentuhanku. Maaf, kamu bukan perempuan idamanku jadi aku nggak tertarik. Sebaiknya kamu jaga hati agar tidak jatuh cinta dan bertepuk sebelah tangan,” tutur Arga lalu meninggalkan Karin menuju kamarnya, saat melewati Karin dia sempat berdecak pelan.

__ADS_1


“Oh, Tuhan. Harus aku apakan manusia macam Pak Arga.”


Karin memilih menuju dapur, memasak untuk sarapan hanya membuat satu porsi untuk dirinya saja. Arga yang sudah rapi dengan setelan kerjanya dan akan berangkat, tergoda dengan harumnya masakan yang Karin buat.


Bahkan Karin dengan sengaja makan dengan duduk di sofa sambil menonton TV. Tentu saja Arga melihat dengan jelas Karin dengan lahap menikmati sarapannya.


“Aku peringatkan jangan lagi kamu mengundang Devan ke sini ataupun pria lain, kecuali kamu ingin aku akan sampaikan pada Mama-mu bagaimana kelakukan putrinya,” ancam Arga.


Karin tidak memperdulikan apa yang Arga ucapkan, percuma menanggapi pria yang selalu berkata dan melakukan sesuatu tanpa berpikir.


“Hei, aku bicara denganmu.”


“Bodo amat,” jawab Karin sambil membawa bekas makannya ke dapur.


“Kamu memang bodoh, bisa-bisanya mencintai pria yang sudah bersuami.”


“Pak Arga sendiri ngapain nanggapi mantan yang jelas-jelas istri orang. Nggak bisa move on? Kasian banget.”


...***...


Karin sudah selesai dengan urusan kampusnya. Berada di tingkat akhir perkuliahan, menyisakan sedikit mata kuliah dan segera fokus untuk pengajuan judul skripsinya. Berharap satu tahun ke depan kuliahnya akan lancar dan setelah lulus, urusannya dengan Arga juga selesai.


Awalnya dia berusaha untuk menjalani pernikahan bersama Arga dengan baik dan mencoba mencintai suaminya. Tapi sikap Arga selalu memicu mereka untuk berdebat dan bertengkar.


“Aku duluan ya,” pamit Karin pada rekan-rekannya.


“Eh, nanti dulu. Kita mau jalan loh, masa lo nggak ikut?” tanya salah satu teman kuliah Karin.


“Tau, nggak asyik nih.”


“Emang mau kemana?” tanya Karin.


“Mau nonton, makan ya pokoknya kita ngumpul lagi. ‘kan baru pada ketemu nih setelah beres magang. Ikut ya?”

__ADS_1


“Hm, boleh,” jawab Karin. Hari masih siang, lagipula Arga akan pulang malam jadi tidak masalah dia menikmati waktunya.


Tiba di salah satu Mall, mereka langsung menuju bioskop. Sempat berdebat menentukan judul film yang akan mereka tonton. Hampir dua jam film baru berakhir dan hari sudah sore.


“Kita makan dulu yuk.”


“Gasss.”.


“Eh, kayaknya aku duluan deh,” ujar Karin, khawatir dia akan pulang terlambat.


“Halahh, ayo ikut,” ucap salah satu teman Karin.


Karin kembali pasrah mengikuti langkah teman-temannya. Sesekali mereka tertawa karena ada saja celotehan lucu yang cukup menghibur setelah beberapa hari ini murung karena ulah suaminya.


Saat menuju foodcourt, pandangan Karin terpusat pada sosok yang sangat dia kenali. Awalnya dia maklum mungkin Arga sedang bertemu klien. Menyadari wanita yang berjalan bersama Arga juga dia kenal, Karin hanya bisa mendengus kesal.


Marah dan mengancam aku kalau sampai aku dengan pria lain dia sendiri nggak tahu malu ditempat umum jalan sama mantan.


Arga dan Renata berjalan jauh di depan Karin. Renata terlihat memeluk lengan Arga, meskipun Arga sempat melepaskan tangannya dari pelukan Renata dan sedikit menjauh tapi Renata kembali memeluk lengan Arga.


“Eh, aku ke sini dulu ya. Nanti aku nyusul,” ujar Karin lalu bergegas mengikuti langkah Arga dan Renata. Mengeluarkan ponselnya dan beberapa kali mengabadikan momen dimana Renata memeluk lengan Arga.


“Memang kamu doang yang bisa ngancam aku. Aku juga bisa lakukan hal yang sama,” gumam Karin sambil tersenyum.


 


\=\=\=\=\=


Haii, sambil tunggu lanjutannya Karin dan Arga, mampir yuk ke karya teman aku



 

__ADS_1


__ADS_2