
“Pak Arga, ada Ibu Renata di dalam,” ujar sekretaris Arga.
Arga menghela nafasnya. “Lain kali, jangan biarkan siapapun masuk kalau belum aku izinkan. Kecuali istri dan orang tuaku,” seru Arga.
“Hai,” sapa Renata. Duduk di salah satu sofa dengan menyilangkan kakinya. Arga menahan tawa mengingat dia dan Karin baru saja memakai sofa itu untuk hal yang mungkin tidak terbayangkan oleh Renata.
“Ada apa?” tanya Arga menuju meja kerjanya.
Renata berjalan menghampiri Arga lalu berdiri di samping pria itu. Pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya dan berharap akan menjadi masa depannya.
“Aku sih ingin mengatakan, bisakah kita bicarakan masalah kita. Tapi pasti kamu menolak, jadi urusan kontrak kerja yang aku pakai sebagai alasan untuk kita bertemu.”
“Renata, berhentilah bersikap seperti ini. Sangat tidak elegan dan sangat murahan,” ejek Arga.
Renata yang berada di samping Arga hanya terkekeh mendengar ucapan pria itu.
“Ayolah Arga, aku tau kamu begitu sulit untuk melupakan aku. bahkan sampai saat ini kamu masih berharap tentang kita, dalam hatimu masih tentang aku dan kamu.” Renata mulai menggoda Arga dengan duduk di pangkuannya.
“Astaga, Renata bangun atau aku akan ….”
Cup!
Renata mencium bibir Arga membuat si pemilik bibir terkejut dan tidak dapat menghindar karena gerakan yang sangat cepat.
“Kamu benar-benar gila, bangun dan pergilah. Jangan sampai aku menyakitimu,” pekik Arga. Renata membalas dengan senyuman dan mengalungkan tangan pada leher Arga sengaja menggoyangkan tubuhnya.
“Shittt,” maki Arga karena ulah Renata kembali membangkitkan gairahnya.
Renata tersenyum karena ulahnya berhasil memancing Arga, memiliki rencana yang konsisten yaitu mendapatkan Arga bahkan berani bersikap murahan seperti yang dilakukan saat ini.
__ADS_1
“Arga, aku bisa ...”
Bruk
“Auww, Arga apa kamu sudah gila?” Renata terjerembab di lantai karena Arga mendorong tubuhnya saat berdiri.
“Pergilah, atau aku akan panggil security untuk mengusirmu. Ruangan ini terekam CCTV, jadi jangan gunakan ide tadi untuk mengancamku atau menjebakku.”
Renata beranjak berdiri lalu meninggalkan ruangan Arga dengan rasa kecewa karena rencananya masih belum mendapatkan sambutan hangat dari Arga.
“Hei, dapatkan lagi informasi yang berguna kalau masih ingin uang dariku,” tutur Renata pada sekretaris Arga.
“Tenang saja, aku akan kabari kalau ada informasi penting lainnya.”
Arga yang tidak bisa konsentrasi karena ulah Renata, akhirnya memilih pulang. Memacu laju mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bunda yang melihat kedatangan Arga di waktu yang tidak biasa menatap heran.
“Tumben jam segini sudah pulang?”
Arga bergegas menuju kamarnya. Karin yang baru saja keluar dari kamar mandi bahkan masih memakai bathrobe dengan rambut yang digulung dengan handuk kecil, heran karena Arga sudah ada di kamarnya.
“Kalau tau mau pulang cepat ya aku tungguin,” seru Karin.
Arga langsung mendekap tubuh Karin. “Sayang, sepertinya aku harus melakukan reka ulang adegan tadi.”
Karin mendorong tubuh Arga agar sedikit menjauh. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya dan tujuannya pulang cepat hanya untuk aktivitas suami istri. Apakah kepala Arga saat ini dipenuhi dengan pikiran mesum.
“Nggak usah mikir yang aneh-aneh, tolong penuhi saja permintaanku,” tutur Arga.
Karin hendak bertanya tapi urung melihat Arga yang sudah sangat bersemangat merebahkan tubuhnya di ranjang dan kembali saling menuntaskan has rat.
__ADS_1
***
Karin sedang menemani Bunda Marisa berbelanja kebutuhan rumah di sebuah supermarket. Mendorong troli yang sudah hampir penuh, kemudian berhenti karena Bunda sedang menatap isi rak yang berisi berbagai macam produk sabun cuci atau detergen.
“Bunda,” panggil seseorang. “Aku pikir aku salah orang, ternyata ini benar Bunda.”
Karin yang posisinya memunggungi orang yang tadi bicara dan sangat meyakini kalau suara itu adalah suara perempuan dan Karin hafal dengan suara tersebut.
Renata, batin Karin.
“Jangan panggil aku Bunda, kita tidak ada hubungan sedekat itu sampai harus memanggilku Bunda.”
Renata hanya tersenyum mendengar celetukan Ibu dari Arga. wajar saja jika wanita itu marah dan kecewa pada Renata, karena sudah meninggalkan putranya bahkan sudah mencaci keluarga Arga.
Karin mendengus kesal saat berbalik dan menemukan Renata yang berdiri tidak jauh dari Bunda.
Apa dia akan benar-benar menunggu Pak Arga, batin
“Hai, Karin,” sapa Renata sambil tersenyum.
“Karin, ayo kita ke kasir,” ajak Marisa.
“Bunda, bisa kita bicara sebentar,” pinta Renata.
Marisa pun menghentikan langkahnya dan menoleh. “Aku tidak tertarik dengan isi pembicaraan yang kamu maksud. Karin, ayo,” ajak Bunda pada Karin.
“Bagaimana kalau ternyata Arga tidak seperti yang terlihat saat ini, ada sesuatu yang disembunyikannya? dan ternyata dia membohongi anda."
__ADS_1