
Sejak mengetahui Karin hamil anak kedua mereka, Arga semakin posesif dan protektif. Memang kehamilan Karin kali ini lebih rewel dari sebelumnya, membuat Arga khawatir dan kewalahan sendiri karena ulah Karin yang super manja.
Karin benar-benar diperlakukan seperti ratu, bahkan beberapa hal yang biasa Karin lakukan dilarang oleh Arga. Fokus utama Karin menurut Arga hanya menjaga kesehatan dan kehamilannya.
Saat ini Karin dan Alea berada di ranjang, sedangkan Arga masih berada di toilet membersihkan diri.
Sambil menggendong Alea, Karin sudah menyiapkan kebutuhan Arga untuk ke kantor walaupun sudah dilarang oleh Arga karena bisa menyiapkan sendiri.
Drt drt
Ponsel Arga yang diletakan di atas nakas bergetar, sepertinya ada pesan masuk. Karin sempat menoleh sekilas tapi kembali abai, melanjutkan kembali candanya bersama Alea.
“Mana Alea?” Karin menghalangi wajahnya dengan bantal, Alea memukul bantal itu lalu tergelak saat Karin mengejutkannya.
Terdengar lagi getaran ponsel Arga, Karin pun beranjak meraih ponsel Arga. Ternyata pesan dari Naina, Karin bisa lihat dari pop up pesan.
[Sampai bertemu besok di Jogja ya]
“Bertemu di Jogja? Ini maksudnya mereka janjian atau bagaimana sih,” gumam Karin lalu meletakan kembali ponsel Arga pada tempat semula.
__ADS_1
Besok memang jadwal Arga ke luar kota, tepatnya ke Jogya. Selain untuk menemani Ayahnya, Arga juga akan mampir memantau bidang usaha baru yang sedang berjalan di sana. Tapi Karin tidak tahu kalau ada urusan dengan Naina.
Terdengar bunyi pintu toilet lalu tercium aroma sabun. Sepertinya Arga sudah selesai dengan aktivitas mandinya. Karin menoleh ke arah Arga yang berjalan menuju walk in closet.
“Sayang, kamu yang siapkan ini?” terdengar suara Arga.
“Iya.”
“Aku sudah bilang tidak usah, aku bisa siapkan sendiri.” Tidak lama kemudian Arga keluar dari walk in closet sudah mengenakan kemeja dan celana panjangnya. Jas serta dasi, Arga letakan di kursi meja rias lalu berjalan mendekat ke ranjang.
“Kamu kenapa sih nggak dengar apa yang aku bilang, jangan siapkan apapun. Aku bisa siapkan pakaianku sendiri. Lebih baik kamu istirahat dan ….”
“Jaga kesehatan aku dan bayiku,” ujar Karin menyela ucapan Arga.
“Pa pa pa pa,” ucap Alea.
“Papi,” ujar Arga lalu meraih Alea ke dalam gendongannya. Menciumi kedua pipi bocah itu, membuat Alea terkekeh. “Jangan nakal ya, kasihan Mami kalau kamu nakal nanti lelah dan adik bayinya juga ikut lelah.”
“Belum paham juga kali,” tegur Karin.
__ADS_1
“Nggak apa, nanti dia akan paham.”
Karin menatap Arga yang asyik bercanda dengan Alea. Rasanya enggan untuk mengusir Arga supaya tidak terlambat tiba di kantor. Memikirkan pesan yang dikirimkan Naina rasanya tidak mungkin Arga memiliki janji dengan perempuan itu. Karin dilanda penasaran tapi ragu untuk bertanya.
“Aku antar Alea ke suster, biar kamu bisa rehat dengan nyaman.”
Arga sudah kembali lagi ke kamar, mengenakan dasinya serta pernak pernik lainnya. Setelah mematut dirinya di cermin memastikan penampilannya sudah sempurna, Arga berjalan ke arah Karin yang sedang menatapnya. Duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Karin, mengelus pelan perut yang masih rata.
“Baik-baik di sini, jangan buat Mamimu tersiksa.”
“Besok, jadi ke Jogja?” tanya Karin.
“Jadi, aku berangkat bareng Ayah nanti Dio urus kantor. Bunda tidak ikut, dia akan temani kamu di sini. Kalau kamu mau, hubungi Mama juga untuk ikut menginap.”
“Hm, lihat nanti ya,” sahut Karin.
Arga mendekatkan wajahnya, untuk apalagi kalau bukan melummat bibir Karin. Rasanya Arga tidak akan pernah puas untuk tidak meninggalkan jejak di bibir itu atau area lainnya. Arga mengurai pagutannya lalu memandang Karin dengan dahi berkerut. Merasa aneh karena Karin tidak merespon, hanya diam saat merasakan bibir mereka bertemu.
“Are you okay?”
__ADS_1
Karin menganggukkan kepalanya. Arga beranjak berdiri, kemudian pamit untuk berangkat. Melarang Karin untuk mengantarnya. Arga sudah hampir sampai pintu saat Karin memanggil pria itu.
“Apa aku boleh ikut kamu ke Jogja?”