
Arga harus mengalah dengan tidur di sofa, karena Karin merengek tidak ingin dekat Arga yang menurutnya bau. Bukan hanya merengek, Karin sempat terisak waktu Arga menolak tidur di sofa.
Entah jam berapa Arga terjaga karena merasa ada yang memeluknya.
"Karin." Arga menatap ranjang yang kosong lalu menatap wajah Karin yang terlelap sedang memeluk tubuhnya. Mereka bersempit ria berbaring di sofa.
"Ada apa denganmu sayang, tadi minta aku pergi jangan dekat-dekat sekarang malah disini. Sayang," panggil Arga sambil mengusap pipi Karin.
Karin tidak menjawab, dia hanya mengusapkan wajahnya pada dada bidang Arga. Tidak ingin mengganggu tidur Karin, Arga pun membiarkan dengan posisinya lalu kembali memejamkan mata menunggu Karin benar-benar terlelap lalu pindah ke ranjang.
"Pak Arga," panggil Karin sambil mengucek matanya. Dia baru saja terjaga dan sudah berada di ranjang, melihat Arga yang sudah berpakaian lengkap bahkan saat ini sedang memasang kancing lengan kemejanya.
"Hm. Kamu ke kampus hari ini?"
Karin menggelengkan kepalanya pelan. "Aku lagi mager kemana-mana." Kembali berbaring miring menghadap Arga.
"Pak Arga."
"Hm."
"Pak Arga kenapa ganteng pake banget sih?"
Arga yang sedang mengenakan dasi menoleh. "Kalau aku nggak ganteng manalah kamu terima tawaran aku. Masih lumayan 'kan untuk dikenalin ke teman-teman kamu atau diajak undangan."
"Bukan cuma lumayan, pantas aja Renata termehek-mehek sampai ngejar terus."
"Kamu sudah tahu kalau mereka sedang proses cerai."
"Masa, terus nanti makin intens dong ngejar Pak Arga. Aku malas deh dengan urusan begini, capek."
"Bukan itu masalahnya, tapi kamu."
__ADS_1
"Aku?"
"Aku khawatir Devan masih penasaran dengan kamu."
"Tapi aku khawatir dengan Renata dan Pak Arga." Arga berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepi dekat dengan Karin.
"Percaya aku sayang, kita bisa lewati ini semua. Sepertinya kita harus segera adakan resepsi dan segera buat kamu hamil biar mereka nggak aneh-aneh lagi."
"Hamil?"
"Hm."
Hamil, aku siap hamil nggak ya? Batin Karin.
"Mau ikut sarapan ke bawah?"
Karin menggelengkan kepalanya. "Aku langsung berangkat ya," pamit Arga. Sebelumnya dia mencium kening dan bibir Karin sekilas. Karin menatap punggung Arga yang menjauh dan menghilang di balik pintu.
“Hamil,” ucap Karin lagi sambil mengusap perutnya. “Lucu kali ya kalau aku hamil.”
“Masih rebahan, sepertinya dia kurang sehat.”
“Istri kurang sehat kamu malah mau berangkat,” ejek Ayah Arga.
“Di kantor banyak yang harus aku urus Yah.”
“Bukan karena menunggu kehadiran Renata, ‘kan?”
Uhuk uhuk, Arga yang sedang menyesap tehnya terbatuk mendengar sindiran dari Bunda. Arga tidak percaya, Bunda bisa mengetahui masalah Renata sama seperti ayahnya.
“Bunda bicara apa sih, mana mungkin aku menunggu Renata.”
__ADS_1
“Tapi dia sering menemui kamu ‘kan?” tanya Bunda sambil menuangkan air putih ke dalam gelas Ayah Arga.
“Kami ada kerja sama bisnis, tapi itu tidak menjadikan aku harus selalu bertemu. Sebenarnya bukan aku langsung yang mengurus hal ini.”
“Ingat Arga, dia pernah buat kamu terpuruk dan membuat Bunda sedih atas keadaan kamu. Sekarang kamu ada Karin, tolong pikirkan baik-baik apapun yang ingin kamu lakukan,” tutur Bunda.
Arga paham dengan kekhawatiran Bundanya, termasuk juga kekhawatiran Karin terkait Renata. Tapi dia sudah berjanji tidak akan membuka hatinya untuk perempuan itu, karena saat ini hanya ada Karin.
“Bunda jangan khawatir, Karin sudah menjadi bagian dari hidupku," aku Arga.
...***...
Kehadiran Arga di kantor setelah beberapa hari ini di luar kota ternyata sampai pada Renata. Wanita itu benar-benar menemui Arga di kantor, bahkan dengan sengaja masuk ke dalam ruangan Arga tanpa izin.
“Maaf Pak, saya sudah larang tapi Bu Renatanya memaksa,” ujar sekretaris Arga saat keduanya berebut masuk ke dalam ruangan.
Arga menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan menatap kedua wanita yang berdiri di hadapannya.
“Kamu apa kabar Arga? Sekarang lebih sering ke luar kota ya?” tanya Renata sambil menghempaskan tangan sekretaris Arga yang mencoba mengajaknya keluar. Hanya sekedar sandiwara karena mereka sebenarnya bekerja sama.
“Dari mana kamu tahu aku ke luar kota?” tanya Arga sambil mengernyitkan dahinya.
Renata dan sekretaris Arga sempat saling tatap mendengar pertanyaan Arga. Salah-salah, ulah mereka bisa dengan mudah diketahui oleh Arga.
“Kamu tahu aku ‘kan, hal seperti itu dapat dengan mudah aku dapatkan,” seru Renata dengan bangga.
“Kamu boleh keluar,” titah Arga pada sekretarisnya.
"Arga, aku sedang mengurus proses perceraian dengan Devan."
"Itu bukan urusanku."
__ADS_1
\=\=\=\=\=