
“Astaga ini ulat bulu, penasaran banget sih. Bunda bilang nggak mau, masih saja ngoceh. Udahlah nyerah aja, mau bicara apapun kalau Pak Arga sudah nggak mau ya nggak mau aja. Rese deh,” sahut Karin.
“Sudah Karin, biarkan saja dia," ujar Marisa dan mengabaikan Renata.
“Bunda, Arga dan Karin tidak ….”
“Sekali lagi masih bicara, kita panggil security dan bilang kamu mengganggu dan niat jahat sama kita,” ancam Karin. “Heran deh ngebet banget sih sama Pak Arga, kayak nggak ada laki-laki lain,” gumam Karin sambil mendorong trolly meninggalkan Renata.
"Kamu sudah kenal dengan Renata?"
“Kenal dekat sih nggak tapi aku tahu aja. Dia sering temui Pak Arga,” sahut Karin.
“Arga sering bertemu dengan perempuan itu?” tanya Bunda dan menghentikan langkahnya.
Karin ikut berhenti dan menoleh, entah Marisa merasakan apa mendengar Arga masih bertemu dengan Renata yang jelas dia terlihat marah dan kecewa.
Karin menganggukan wajahnya mendengar pertanyaan Marisa.
“Kamu ada ketika mereka bertemu?”
“Hm, beberapa kali pertemuan kebetulan saat aku dan Pak Arga bersama. Di café, di pesawat, di kantor sih udah sering,” jawab Karin lagi.
__ADS_1
Karin dan Bunda sudah tiba di rumah dan sejak bertemu dengan Renata Marisa terlihat banyak diam. Karin tidak berani bertanya khawatir tambah mengusik perasaan Ibu mertuanya. Barang belanjaan diturunkan oleh asisten rumah tangga, Marisa sendiri terlihat langsung masuk ke kamarnya.
“Bunda pasti kesel sama ulat bulu itu, apalagi aku yang sering banget liat perempuan itu kegatelan. Lagian aneh ya, percaya diri banget sih bertemu dengan Bunda. Jelas-jelas dosa masa lalunya nggak termaafkan,” keluh Karin saat sudah berada di kamarnya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Karin memilih duduk di kursi kerja Arga dan membuka laptopnya.
Hari sudah cukup malam, saat Arga masuk ke kamar dan menemukan Karin sudah terlelap. Dia sudah mengabari sejak sore kalau akan pulang terlambat. Ada pekerjaan yang harus diurus bersama Ayahnya dan mungkin akan berlanjut beberapa waktu ke depan.
Arga hanya tersenyum melihat wajah Karin yang terlelap dengan gaya tidurnya yang lucu. Mendekat ke arah ranjang dan duduk di tepinya.
“Kamu menggemaskan sekali. Mau aku terkam tapi kasihan lagi pulas sekali tidurmu,” gumam Arga.
Akhirnya Arga memutuskan membersihkan diri, mengenakan piyama dan ikut bergabung dengan Karin di ranjang yang sama. Setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat, Arga merasa lebih segar dan malah tidak mengantuk sama sekali.
“Mau apa lagi sih, heran aku dengan Renata.”
[Arga, aku bertemu dengan Bunda. Hm, bagaimana reaksinya kalau aku tahu perjanjian kamu dengan Karin?]
“Perjanjian dengan Karin? Maksudnya apa sih.”
Arga mengabaikan pesan dari Renata dan menoleh ke arah nakas di samping Karin. Terdengar getaran ponsel milik Karin. Arga pun berusaha meraih ponsel Karin agar tidak mengganggu tidur istrinya.
__ADS_1
“Malam-malam begini telepon dari siapa sih?”
Dahi Arga berkerut melihat beberapa kali panggilan tidak terjawab yang ternyata Devan yang menghubungi Karin. Arga menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika Renata dan Devan masih sangat kompak untuk mendekatinya juga Karin. Memilih untuk memblokir kontak Devan dari ponsel Karin.
...***...
Hari-hari berlalu.
Marisa tidak membahas dengan Arga pertemuannya dengan Renata, termasuk tidak menanyakan mengapa Arga masih menemui Renata. Berusaha percaya pada putranya kalau tidak ada hubungan lagi dengan wanita bernama Renata.
Karin dan Arga pun larut dalam aktivitasnya masing-masing. Karin yang benar-benar meluangkan waktu untuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Arga banyak disibukkan dengan pembukaan cabang perusahaan baru milik Ayahnya di luar kota.
Arga pun tenang karena Renata belakangan tidak ada menampakkan wajahnya. Sampai dia mendengar kalau hubungan bisnis keluarga Devan dan Renata bergejolak karena proses perceraian yang terjadi diantara mereka.
“Arga, kamu sudah dengar tentang perusahaan keluarga Renata yang sedang goyang karena pembatalan kerjasama dengan perusahaan suaminya?” tanya Ayah Arga.
“Hm,” jawab Arga sambil menikmati sarapannya. Ayah dan anak itu sedang berada di hotel luar kota dan terpisah dari istrinya masing-masing.
“Apa dia masih menemuimu?”
Arga mengangkat wajahnya menatap Ayahnya dan menghentikan kunyahnya. Tidak menduga kalau Ayahnya tahu Renata sering menemuinya. Berusaha menelan makanan yang sedang dia kunyah untuk menjawab pertanyaan Ayahnya.
__ADS_1
“A-ayah tau kalau Renata sering datang?”