Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Panggil Dia Alea


__ADS_3

Mobil yang membawa Arga dan Karin sudah berhenti di depan UGD. Arga keluar lalu berteriak, “Suster, istri saya mau melahirkan.” Sontak membuat petugas yang ada di sana, mendorong brankar mendekat ke arah mobil Arga.


Karin dibantu Arga keluar dari mobil dengan perlahan, kemudian naik ke atas brankas sambil memegang perutnya. Arga ikut kemana brankar didorong, sambil tangannya menggenggam tangan Karin seakan menyampaikan bahkan semua akan baik-baik saja.


“Dicek dulu ya, Pak. Kita lihat sudah pembukaan berapa,” ujar perawat. Karin sendiri sudah berada di ruang tindakan, sepertinya ruang tindakan melahirkan. Arga masih setia menemani.


Sepatu Karin sudah dilepas, kedua kakinya ditekuk, lalu ada dokter yang melakukan pemeriksaan dalam. Karin hanya meringis tidak nyaman, Arga mengernyitkan dahinya karena Karin mencengkram erat tangan Arga. Menurut Arga, berbeda sekali respon Karin kalau dia yang bermain di sana.


“Masih pembukaan empat, kita tunggu dulu ya. Biar nyaman nunggunya di kamar rawat saja.”


Arga pun segera mengurus seluruh keperluan terkait pelayanan rumah sakit, tidak lupa menghubungi Mama Karin dan orang tuanya juga.


“Sakit … hubby ini sakit banget,” keluh Karin.


Saat ini Karin sudah dipindah ke kamar rawat, menunggu hingga pembukaan lengkap. Walaupun Arga tidak mengerti pembukaan lengkap seperti apa dan kapan akan terbuka.


“Sabar, sayang.”


Arga mengusap bagian tubuh yang diminta Karin. Awalnya pinggang, punggung dan perut yang mana selalu saja salah. Karin sendiri sudah berganti dengan kostum khusus pasien.


“Sabar … sabar, yang merasakan sakit aku. Kamu enak aja bilang sabar,” hardik Karin.


“Eh, nggak boleh marah-marah. Nanti tensinya tinggi, ayo sini aku usap lagi. Mana … pinggang ya, katanya pegal.” Arga dengan sabar menemani dan menerima rengekan Karin. Bagaimanapun Karin benar-benar berjuang untuk kebahagiaan keluarga kecilnya. Teringat jelas saat Karin di awal kehamilan malah mengurus Arga yang kecelakaan, bahkan sempat ada salah paham dengan Bundanya.


Harus rela gerak tubuhnya tidak lincah seperti biasa karena perut yang semakin besar dan sekarang anak mereka akan lahir, yang mana beberapa kali pemeriksaan diketahui jenis kelaminnya perempuan. Arga tersenyum membayangkan setiap pulang kerja akan disambut oleh Karin dan putrinya yang cantik dan lucu.


“Hubby, pake melamun segala,” pekik Karin.


“Eh, iya sayang. Kenapa?” Arga bergegas berdiri menatap wajah Karin yang sudah cemberut.


“Aku bilang aku haus, kenapa malah senyam senyum gak jelas.”


Arga tidak menjawab, segera mengambil gelas yang sudah disiapkan dan mengisi dengan air mineral dari kemasan botol. Karin benar-benar menghabiskan hampir satu gelas, sepertinya dia memang haus.

__ADS_1


“Kamu makan ya, kata suster tadi saat melahirkan butuh banyak tenaga.”


Karin hanya menggelengkan kepalanya sambil mendesis pelan, ketika kontraksi datang dia akan meringis dan mencengkram tangan Arga atau pinggiran ranjang dimana dia berada sambil mengatur nafasnya.


Pintu kamar dibuka, masuklah Mama Karin dengan tergopoh-gopoh. “Gimana Arga, sudah pembukaan berapa?”


Arga berdiri dan mempersilahkan Mama Karin duduk di samping ranjang Karin.


“Tadi masih pembukaan empat.”


“Mah, rasanya sakit … sakit sekali.  Apa nggak ada cara yang bisa buat rasa sakitnya hilang,” rengek Karin.


“Tidak ada sayang, memang begini prosesnya. Spesialnya seorang wanita ya merasakan apa yang saat ini kamu rasakan,” jelas Mama Karin.


“Sabar ya, atur saja tarikan nafas kamu. Jangan banyak marah atau mengeluh.” Mama Karin menghapus titik-titik peluh di dahi putrinya. Arga sendiri terus mengusap pinggang Karin yang saat ini berbaring miring.


Orangtua Arga sedang berada di luar kota, mereka sudah mendapatkan kabar kalau Karin akan melahirkan. Paling cepat besok baru sampai di Jakarta. Arga beruntung ditemani Mama Karin, karena dia tidak terlalu paham dengan proses melahirkan. Walaupun ada perawat dan dokter, tapi menyikapi keluhan dan rengekan Karin butuh effort dan kesabaran tinggi.


“Mah, aku kok kayaknya buang air ya ….”


 “Ini pecah ketuban, sepertinya sudah dekat.”


Perawat langsung memeriksa Karin lagi, “Dokter sudah pembukaan lengkap.”


Dokter pun memposisikan diri duduk menghadap bagian inti Karin. Memberikan arahan pada Karin kapan harus mengejan. Mama Karin yang berada di samping putrinya mengusap lengan Karin sambil memberikan semangat. Arga sendiri berdiri di samping kepala Karin sambil terus mengelus pelan dan membisikan kata semangat penuh cinta.


Sudah dua kali mengejan tapi bayi Karin belum keluar.


“Ayo Bu, tarik nafas dan dorong ….”


“Aaaaaaa,” Karin berusaha mendorong sekuat tenaganya … dan keluarlah seorang bayi diiringi tangisan merdunya. Mama Karin terlihat lega, Karin sendiri masih terengah mengatur deru nafasnya. Arga memeluk Karin dan mendaratkan bibirnya di kening wanita yang sudah melengkapi hidupnya.


“Terima kasih sayang,” bisik Arga.

__ADS_1


“Bayinya normal, perempuan, tinggi … berat …” Perawat sudah membersihkan bayi Karin dan Arga, lalu menyerahkan pada Arga untuk diazankan sebagaimana kepercayaan agamanya. Setelah itu diletakan di pelukan Karin.


“Cantik, sepertinya Maminya,” ujar Arga. Karin tersenyum, tidak menyangka dia benar-benar sudah menjadi seorang Ibu. Perawat kembali mengambil bayi mereka untuk dilakukan perawatan bayi pasca kelahiran.


Menjelang pagi, Karin sudah berada di kamar rawat. Tas kebutuhan Karin dan bayi mereka sudah diantar oleh supir Arga. Mama Karin sedang berbaring di bed penunggu pasien. Arga masih setia duduk menemani Karin yang terlihat kelelahan dan mengantuk.


“Tidurlah sayang.”


“Bayiku dimana, kok belum diantar,” ujar Karin.


“Mungkin agak siangan, kamu tidur saja dulu. Pulihkan tenagamu.”


...***...


“Sini, biar Oma yang gendong.” Bunda Marisa meraih bayi mungil dalam pelukan Karin lalu menggendongnya.


Karin baru saja tiba di rumah, di sambut oleh Mama dan Ibu mertuanya. Para pekerja di rumah pun antusias menyambut kehadiran majikan kecil mereka. Bayi perempuan anggota keluarga baru keluarga Sadewa, benar-benar menjadi perhatian setiap orang.


“Bibirnya mirip Karin, tapi sisanya plek tiplek Arga semua,” seru Marisa sambil memandang wajah cucunya. Mama Karin hanya tersenyum, membenarkan apa disampaikan oleh besannya.


“Arga, siapa namanya cucu Oma?”


“Oh iya, sudah disiapkan namanya?” tanya Mama Karin.


Arga dan Karin saling tatap. Kalau Karin sendiri memang belum kepikiran bahkan mereka belum membicarakannya.


“Ada Bun,” jawab Arga. Karin masih menatap suaminya menunggu nama putrinya disebut. Siapapun nama yang disiapkan Arga, Karin akan menerimanya karena tidak mungkin Arga menyiapkan nama yang mengandung arti buruk.


“Alea Putri Sadewa.” Arga menatap Karin, khawatir jika istrinya tidak menyukai nama yang disiapkan. “Bagaimana menurutmu?”


Karin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Panggil dia Alea.”

__ADS_1


__ADS_2