Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Bau Tidak Enak


__ADS_3

“A-ayah tau kalau Renata sering datang menemuiku?”


Ayah Arga berdecak, “Apa kamu masih menyukainya?”


“Tidak, aku malah terganggu dengan ulah Renata termasuk juga Devan yang sering menghubungi Karin.”


“Ayah rasa setelah Renata bercerai dia akan mengejarmu lagi. Wanita dengan karakter seperti itu tidak akan bisa hidup susah. Persiapkan hati dan pendirian kamu, pasti tidak akan mudah menghindari dari wanita itu.”


Arga tetap berpikir positif dan mensugesti dirinya tidak akan terpengaruh apalagi tergoda untuk kembali menerima Renata. Arga dan Ayahnya sudah kembali ke kamar setelah menyelesaikan sarapannya. Menunggu waktu untuk melanjutkan aktivitasnya, Arga pun menghubungi Karin.


“Ha …”


“Pak Arga,” ucap Karin di ujung telepon sambil terisak.


“Karin, kamu menangis?”


Hanya terdengar isakan di ujung telepon, membuat Arga panik.


“Karin, sayang. Hei, jawab aku,” ujar Arga.


“Pak Arga,” ujar Karin lagi di tengah isakannya.


“Iya, bicaralah sayang. Kenapa kamu menangis.”


“Aku juga nggak ngerti, hati aku tiba-tiba sedih dan kesal. Aku kangen Pak Arga, kapan pulang sih?”


Arga terkekeh mendengar penjelasan Karin.


“Kenapa malah tertawa, Pak Arga nyebelin.”


“Okay, maaf sayang. Besok malam aku sudah kembali ke Jakarta, kamu sabar ya.”

__ADS_1


Terdengar decakan Karin. “Pak Arga nggak kangen aku?”


Arga kembali terkekeh, tidak percaya kalau dia baru saja mendengar Karin merajuk.


“Pak Arga tertawakan aku?  Ya sudah nggak usah pulang sekalian.”


“Jangan begitu sayang, aku hanya tidak percaya kalau sedang bicara dengan Karin Amanda. Nggak biasanya kamu merajuk dan lebay begini?”


Panggilan telepon itu berujung drama karena Karin merajuk, panggilan telepon yang berlanjut dengan video call tidak cukup bagi keduanya menyalurkan rasa rindu. Arga berjanji akan berusaha pulang lebih cepat.


Sedangkan di rumah, setelah mengakhiri komunikasi dengan Arga kembali merebahkan tubuhnya. Menghapus jejak air mata yang masih ada di wajahnya.


“Aku kenapa mellow begini sih,” gumam Karin tidak ingin beranjak dari posisinya.  “Padahal harus ke kampus tapi malas banget, nanti mah kalau Pak Arga mau pergi kayaknya aku harus ikut,” gumama Karin.


Memikirkan Karin yang merajuk, Arga akhirnya benar-benar pulang lebih awal. Malam itu dia menggunakan pesawat dengan jadwal penerbangan terakhir, akhirnya tiba di Jakarta. Menggunakan taksi karena sudah cukup malam untuk minta jemput supir, ayahnya juga terlihat sudah cukup lelah.


Arga perlahan memasuki kamarnya, menghampiri ranjang dimana sang pemilik hati lagi-lagi sudah terlelap.


...***...


“Pak Arga,” ujarnya melihat Arga terlelap di sampingnya. “Ini beneran Pak Arga, atau aku mimpi sih.”


Karin pun menepuk pipi Arga membuat pria itu perlahan membuka matanya dan tersenyum.


“Pagi, sayang. Gimana, masih kangen aku nggak?” tanya Arga. Karin langsung cemberut dan memukul lengan Arga.


“Memang Pak Arga nggak kangen aku ya, yaudah sana pergi lagi nggak usah pulang sekalian.”


“Eh eh, kok ngambek lagi,” ujar Arga sambil menahan tubuh Karin agar tidak turun dari ranjang. Memeluk dari belakang pinggang Karin dan membenamkan wajahnya pada punggung Karin.


“Kayaknya aku yang lebih kangen kamu, kamu pakai pelet apa sih sampai aku rasanya nggak bisa lepas dari kamu.”

__ADS_1


Plak.


“Pelet? Nggak usah percaya begituan aku sudah bisa buat Pak Arga bertekuk lutut.”


Arga terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya.


“Tapi aku bingung,” ujar Karin. Arga pun memutar tubuh Karin agar duduk berhadapan dengannya.


“Bingung kenapa?” Tangan Arga memperbaiki helaian rambut Karin yang terlihat berantakan.


“Akhir-akhir ini aku mudah bete, mendadak mellow pokoknya mood aku nggak jelas banget deh. Aku kenapa ya?”


“Mungkin karena efek berjauhan denganku, kita sudah tidak bisa terpisahkan,” sahut Arga lalu mendekatkan wajahnya untuk menuntaskan kerinduannya pada Karin. Karin yang awalnya diam dengan maksud dari gerak tubuh Arga, perlahan menjauh dengan dahi berkerut.


“Kenapa?” tanya Arga bingung.


“Pak Arga semalam mandi nggak sih?”


“Mandi kok. Memang kenapa?”


“Masih bau asem atau bau apa ya, pokoknya bau badannya Pak Arga nggak enak deh,” sahut Karin semakin menjauh dari Arga.


“Bau badan? Aku nggak pernah bau badan, malah ini wangi loh,” ujar Arga sambil mengangkat kedua tangan dan menempelkan hidungnya ke arah ketiak memastikan kalau tubuhnya tidak seperti yang dikeluhkan Karin.


“Kalau nggak percaya, buktikan aja sendiri. Nih!”


“Ih, kesana. Nggak enak baunya,” keluh Karin sambil menutup hidung.


Arga hanya bisa menggaruk kepalanya masih tidak mengerti dengan bau yang dimaksud Karin.


 

__ADS_1


 ≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



__ADS_2