Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Mengawasi Arga


__ADS_3

Arga tidak menyangka jika Karin mengatakan ingin ikut ke luar kota. Di satu sisi Arga senang karena dia tidak akan merindukan Karin tapi di sisi lain Arga khawatir karena Karin sedang mengandung dan belum tahu apakah kehamilannya aman untuk melakukan perjalanan.


“Boleh, ya? Please,” pinta Karin.


Arga menghampiri Karin dan duduk di dekatnya. “Sayang, kamu yakin akan ikut?”


“Hm.”


“Kita harus naik pesawat dan … morning sickness kamu gimana? Aku sih senang kalau kamu ikut, tapi aku khawatir kondisi kamu,” seru Arga dengan hati-hati khawatir Karin malah menafsirkan beda dengan ucapannya.


“Tapi aku khawatir juga kalau di sana ada yang ….” Karin tidak meneruskan kalimatnya.


“Ada yang apa?” tanya Arga bingung.


Karin terdiam, membuat Arga semakin serba salah. Bukan hanya stok sabar untuk mengikuti keluhan istrinya yang sedang hamil, Arga juga harus menyiapkan stok sabar untuk lebih memahami perasaan istrinya.


Bagaimana tidak bingung, jelas-jelas Karin tadi menyampaikan ingin ikut keluar kota, tapi alasannya ikut sungguh aneh bahkan Karin enggan menjelaskan.


“Sayang ….”


“Ya sudah, berangkatlah. Aku nggak masalah kok, aku harap kamu nggak akan tergoda atau terjebak dengan orang-orang jahat di sekitarmu,” ujar Karin.


Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya karena semakin bingung dengan sikap istrinya.


“Kita bicarakan lagi nanti ya, aku harus segera ke kantor,” pamit Arga kembali mendaratkan bibirnya pada kening Karin.  Agak berat untuk meninggalkan kamar dimana istrinya bersikap acuh bahkan tanpa menatap dan mengulas senyum saat Arga benar-benar pamit untuk berangkat.


“Alamat bakalan di cuekin terus deh,” gumam Arga sudah keluar dari kamarnya.


...***...


Sampai di kantor, Arga langsung berdiskusi dengan Dio tentu saja urusan pekerjaan. Di sela pembicaraan, Arga membuka kunci layar ponselnya hendak mengirim pesan pada Karin. terkejut karena ada pesan dari Naina, Arga tidak  mengerti kenapa wanita itu tidak mengerti juga mengenai hubungan mereka yang seharusnya sebatas urusan kerja.

__ADS_1


Pesan dari Naina membuat yang baca menafsirkan seakan Arga dan Naina memang akan bertemu di Jogja dengan sengaja. Arga hanya bisa berdecak setelah membaca pesan Naina tanpa berniat membalas pesan tersebut.


“Dio, apa Maxton tetap menghadirkan Naina saat kita berkunjung untuk memantau sejauh mana kegiatan terlaksana?”


“Harusnya tidak Pak, Ibu Naina urusan kerjasama kalau operasional kegiatan seharusnya tidak terlibat.”


“Apa ini ya, yang buat Karin gusar,” gumam Arga.


“Apa ada masalah, Pak?” tanya Dio menduga ada yang tidak beres. Arga hanya menghela pelan kemudian mengajak Dio kembali fokus dengan diskusinya.


“Untuk draft yang ini apa akan kita teruskan Pak?”


Arga mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Dio. Kenapa juga tawaran kerja sama yang sedang mereka bicarakan harus diragukan.  


“Apa alasan kita tidak melanjutkan kerjasama?” tanya Arga balik.


“Hm, perusahaan ini miliki keluarga Pak Devan,” jawab Dio. Arga menganggukan kepalanya paham dengan keraguan Dio yang khawatir karena masa lalu Arga dengan Devan.


“Aku lihat perusahaan itu masuk kualifikasi jadi tidak ada alasan pribadi yang menghambat kerjasama kita. Lagi pula Devan itu cukup mengusik karena dia mendekati Karin, kalau urusan dia adalah mantan suami Renata itu bukan urusanku.”


Berbeda dengan Arga yang sibuk, Karin di rumah lebih banyak diam dan melamun. Sesekali dia bermain dengan Alea, kemudian akan membiarkan Alea bersama pengasuhnya. Bukan hanya karena alasan kondisinya yang tidak konsisten tapi juga sedang memikirkan apa yang terjadi saat Arga di luar kota. Apalagi keong racun jelas-jelas mengatakan besok akan bertemu di sana.


“Ih, benar-benar bikin senewen.” Karin berniat konsultasi dengan dokter kandung terkait niatnya ingin ikut dengan suaminya ke luar kota. Berkonsultasi secara online, akhirnya dapat jawaban kalau Karin bisa melakukan perjalanan selama tidak ada keluhan yang mengkhawatirkan.


Karin membuka kontak yang ada di ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Halo.”


.....


...***...

__ADS_1


Esok pagi.


Kediaman Arga Sadewa disibukkan dengan Alea yang rewel tidak ingin lepas dari gendongan Papinya.  Karin yang sudah menyiapkan pakaian dan kebutuhan lainnya untuk Arga selama di luar kota, merasa aneh dengan sikap Alea yang benar-benar tidak ingin lepas dari Arga.


Arga merasa tenang karena Karin tidak kembali mempersoalkan keinginannya untuk ikut pergi. Tanpa Arga ketahui kalau Karin sudah memiliki rencana sendiri. Rencana yang harus dilakukan untuk mengurai kecurigaan dan kesedihannya.


“Aku berangkat ya, baik-baik kamu di rumah,” nasihat Arga saat akan meninggalkan Karin dan putri mereka Alea.


Arga juga memberikan arahan untuk para pekerja di rumahnya yang harus lebih waspada da hati-hati, apalagi  Arga tidak ada di rumah. Setelah memeluk dan mencium wajah Karin, Arga pamit menyeret kopernya. Karin hanya bisa melambaikan tangannya saat mobil yang membawa Arga sudah melaju.


Setelah mobil Arga meninggalkan gerbang dan mungkin sudah bergabung di jalan besar, ada mobil lain yang masuk ke pekarangan rumah Arga.


“Bunda,” panggil Karin.


Bunda Marisa keluar dari mobil dan Karin Mengajaknya masuk.  Sepertinya Karin memang sudah bersekongkol dengan Ibu mertuanya.


“Jadi, kapan kamu berangkat?”


“Hm, kalau lihat jadwalnya paling nggak besok aku harus sudah tiba di Jogja.”


Berbekal dengan informasi jadwal pertemuan Arga yang dibuat oleh Dio, akhirnya Karin menyusul Arga tanpa memberi tahu. Mengawasi Arga dari kejauhan dan yang paling penting misinya adalah mengusir keong racun.


Tidak ada yang aneh dengan aktivitas Arga, dia menemani Ayahnya mengurus usaha baru yang pada akhirnya akan menjadi milik Arga juga. Sampai pada hari ketiga, Arga menuju lokasi dimana kerjasama dengan maxton.


Cukup lama berada di lokasi tersebut dan benar ada Naina di sana. Melihat Arga tidak didampingi Dio membuat Naina merencanakan sesuatu. Pihak Maxton mengadakan makan malam kebetulan restoran hotel tempat Arga menginap dan tentu saja mengundang Arga.


“Oh tidak bisa, besok saya akan kembali ke Jakarta dan sepertinya untuk besok fokus saya untuk kegiatan yang lain,” ujar Arga.


Maxton berniat mengajak diskusi untuk membicarakan kemungkinan kerja sama lainnya, tapi Arga sepertinya tidak tertarik. Di tengah acara makan malam , Arga sempat pamit ke toilet. Mempercepat menikmati makan malamnya untuk segera kembali ke kamar, karena risih dengan kehadiran Naina.


Tiba-tiba Arga merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Rasa yang tidak nyaman dan cukup mengganggu, sedikit melonggarkan ikatan dasinya bahkan Arga merasa agak panas entah suhu tubuhnya atau memang kondisi udara di sekitar.

__ADS_1


“Arga, setelah ini kami akan ke club. Kamu ikut ya?” ajak Naina sambil menyentuh tangan Arga yang langsung membuat tubuh Arga meremang dahsyat.


Sial, sepertinya ada yang menjahiliku. Ini reaksi obat, batin Arga 


__ADS_2