Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Ada Yang Lebih Penting


__ADS_3

Arga terkekeh lalu mengacak rambut Karin, membuat gadis itu cemberut.


“Kamu tuh benar-benar merusak suasana banget. Kita lagi dalam suasana romantis langsung berubah jadi komedi gara-gara perut kamu,” tutur Arga.


“Ya mau gimana lagi, orang bener lapar."


“Biar aku yang pesan makanan. Kamu mau makan apa?” tanya Arga yang berjalan menuju nakas dimana pesawat telepon berada.


“Terserah Pak Arga.”


Arga menoleh ke arah Karin yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Entah mengapa dia merasa horor ketika Karin mengatakan terserah.


“Kayaknya kamu pilih dulu deh, karena terserah nggak ada dalam menu.” Arga menyerahkan buku menu pada Karin.


...***...


“Oke, aku langsung ke lobby,” ujar Arga lalu mengakhiri panggilan telepon.


“Sudah mau berangkat?” tanya Karin. Padahal mereka saat ini sedang menikmati makan siang yang diantar ke kamar.


“Hm.” Arga tampak memperbaiki pakaiannya lalu mengenakan jas yang tadi sudah dilepas. “Kamu nggak apa aku tinggal ya?”


Karin mengangguk pelan.


“Nanti aku hubungi kalau memang tidak bisa makan malam bareng kamu. Jadi kamu bisa ke bawah atau pesan begini lagi.”


“Iya, gampang. Pak Arga hati-hati.”

__ADS_1


Cup!


Arga mencium kening Karin sebelum dia beranjak meninggalkan kamar yang akan ditempati selama beberapa hari ke depan. Sedangkan Karin kembali memegang dadanya, sambil memejamkan mata.


“Ya ampun, Pak Arga. Lama-lama aku bisa sakit jantung deh. Apa ini yang dimaksud jatuh cinta beneran ya, kalau waktu sama Mas Devan rasanya nggak pernah nih jantung kocar-kacir macam begini.”


Setelah menghabiskan makan siangnya, Karin membuka laptop yang sengaja dia bawa untuk mengerjakan kembali skripsinya. Karena tahu kalau dia akan banyak berada di kamar hotel dibandingkan berkeliling.


Lumayan lama Karin fokus dengan laptopnya, bahkan langit sudah gelap. Karin menggerakan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot yang terasa kencang karena sejak tadi, dia duduk di ranjang bersandar pada headboard dengan laptop berada di pangkuannya.


“Eh, ternyata sudah malam,” cetus Karin. “Pak Arga nggak ada hubungi aku,” gumamnya sambil mengaktifkan layar ponsel berharap ada pesan atau panggilan dari Arga.


“Perasaan tadi dia sendiri yang bilang akan mengabari kalau nggak bisa makan malam bareng aku.”


Karin tidak mungkin mengirimkan pesan lebih dulu untuk menanyakan apa Arga akan cepat pulang, khawatir akan mengganggu.


Sedangkan di tempat Arga berada. Dia sedang melakukan pertemuan dengan pihak rekanan yang menjelaskan mengenai hasil pembangunan, dimana menurut Arga tidak sesuai dengan surat perjanjian.


“Shittt,” pekik Arga merasakan di bawah sana sudah menegang. Pekikan Arga membuat para peserta rapat menoleh ke arahnya.


“Silahkan dilanjutkan,” ujar Arga.


Sepertinya harus aku segera jadikan Karin benar-benar milikku. Selain karena aku memang membutuhkan, juga sebagai bukti kepemilikan atas Karin.


Rapat berlangsung cukup alot, bahkan pertemuan di lanjutkan besok bertempat di lokasi pembangunan.


Saat sudah berada di lobby, Arga menghubungi Karin untuk turun dan makan malam di resto hotel. Tidak lama kemudian, Karin pun sudah berdiri dihadapan Arga.

__ADS_1


“Pak Arga,” panggil Karin.


Arga yang sedang fokus pada ponselnya duduk di sofa yang ada di area lobby menoleh lalu tersenyum.


“Ayo kita makan malam dulu, setelah itu baru makan kamu.” Arga merangkul bahu Karin yang sedang mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Arga.


...***...


“Aku mau mandi, kamu jangan tidur dulu ya,” titah Arga saat mereka sudah kembali ke kamar.


“Hm,” jawab Karin yang belum sadar maksud dari perintah Arga.


Karin kembali fokus dengan laptopnya saat Arga keluar dari toilet hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Tercium aroma sabun yang dikenakan Arga, karena pria itu saat ini sudah berdiri tepat di samping ranjang.


“Mengerjakan apa?”


“Skripsi aku.”


“Hm, masih lama?”


“Nggak, mau lanjut besok … eh kok diambil,” pekik Karin karena laptop sudah direbut oleh Arga yang menutup semua file yang sedang terbuka lalu men-shutdown dan meletakan laptop tersebut di atas sofa.


“Besok lagi ‘kan, sekarang ada yang lebih penting.”


“A-apa?” tanya Karin sambil menelan saliva karena Arga sudah merangkak menaiki ranjang.


 \=\=\=\=

__ADS_1


Yuhuuu, sambil tunggu Arga dan Karin up, mampir yuk ke karya teman aku. Nggak kalah menarik loh....



__ADS_2