Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Drama Pernikahan


__ADS_3

“Morning, baby girl,” sapa Arga sambil tersenyum. Karin yang baru saja mengerjapkan matanya menoleh ke arah Arga yang berbaring miring tepat di sampingnya dengan tangan menopang kepala.


Karin mengingat apa yang mereka lalui semalam lalu memalingkan wajahnya.


“Masih sakit?”


“Nggak,” jawab Karin asal tanpa menoleh pada Arga. "Pake nanya, Pak Arga nggak ngerasain aku yang merasakan," ujar Naya sambil beranjak bangun dengan tangan menahan selimutnya agar tidak terjatuh.


“Tapi enak 'kan? Eh, mau kemana?”


“Mandi, tubuh aku benar-benar nggak nyaman.”


“Hm, aku bantu ya?”


“Nggak usah, aku bisa sendiri.” Karin menolak bantuan Arga, jelas dia malu mengingat bagaimana dirinya merespon dan menikmati apa yang Arga lakukan. Karin meringis saat akan berdiri, merasakan sakit di area inti tubuhnya.


“Ehh,” pekik Karin tiba-tiba tubuhnya melayang. Ternyata Arga menggendongnya,  Karin yang malu karena tubuhnya masih polos tanpa sehelai benangpun membenamkan wajahnya pada dada bidang Arga dan mengalungkan tangan di leher pria yang saat ini sedang membawanya menuju toilet.


“Nggak usah malu gitu, toh aku sudah lihat dan menjelajahi semua. Tanpa terkecuali,” seru Arga. Menurunkan tubuh Karin pada kloset yang tertutup.


“Mau pakai bathup?”


Karin menggelengkan kepalanya. Arga memutar kran shower dan mengatur suhu air. “Oke, sudah aman. Silahkan sayang atau mau aku mandikan?”


“Pak Arga keluar dulu deh,” pekik Karin.


“Kenapa?”


“Aku malu,” ujar Karin mulai kesal karena Arga masih saja tidak peka.


Arga terkekeh, kemudian menuntun Karin agar berada di bawah shower dan memeluknya dari belakang. Karin ingin kembali mengusir Arga, tapi suaminya malah ikut berada di bawah shower bahkan membantu Karin menggosok punggung dan mengusapkan sabun.


“Kenapa?” tanya Arga.


Karin bergeming, dia hanya khawatir Arga akan kembali menyentuhnya seperti semalam karena posisi mereka saat ini. Sedangkan tubuhnya masih belum nyaman.


“Kamu takut aku akan bergerak lagi? Aku tidak setega itu.”


Arga serius dengan ucapannya, mereka hanya saling membersihkan diri. Saat ini Arga sudah mengenakan setelan kerjanya, tanpa jas. Dia ingin tampil lebih santai walaupun masalah yang dikerjakannya bukan hal sederhana.


“Kita sarapan di bawah, setelah itu aku langsung berangkat. Kamu nggak apa, aku tinggal lagi?”


“Nggak maalah Pak, sebelumnya ‘kan kita sudah bahas masalah ini.”

__ADS_1


“Tapi aku yang masalah, sebenarnya aku nggak mau tinggalkan kamu.” Arga memeluk Karin dari belakang dan menjadikan bahu wanita tumpuan dagunya. Karin harus menelan salivanya saat Arga menempelkan tubuhnya sangat erat.


“P-pak Arga, aku mau pakai baju,” sahut Karin karena saat ini dia hanya memakai bathrobe setelah menyiapkan setelan untuk Arga.


“Pakailah!” titah Arga melepas pelukannya dengan netra menatapnya lekat. “Di sini saja, lagipula aku sudah melihat semuanya.”


Karin mengambil pakaian gantinya lalu menuju toilet dan di sambut dengan decakan dari mulut Arga.


...***...


Karin menggeser pelan tubuhnya setelah memindahkan tangan Arga yang awalnya berada di atas perutnya. Saat hendak beranjak duduk, salah satu tangan Arga menyentuh pinggang Karin dan menariknya ke dalam pelukan.


“Ehh,” pekik Karin.


“Mau kemana, hm?” tanya Arga tanpa membuka matanya, hanya tubuhnya membuat mereka dalam posisi sangat dekat.


“Ini sudah pagi, aku ….”


“Biarkan dulu, siang nanti kita harus kembali ke Jakarta. Jadi kita manfaatkan dulu waktu yang ada.” Sudah lima hari mereka berada di Surabaya, urusan perusahaan Arga sudah selesai. Sesuai dengan yang pernah dia bahas dengan Karin, Arga akan sibuk. Tapi itu terjadi hanya siang hari, karena saat malam Karin yang dibuat sibuk oleh Arga.


Setelah keduanya berbagi kehangatan untuk pertama kali, Arga tidak melewatkan lagi kesempatan berikutnya. Kembali memimpin pergerakan untuk menyatukan diri, termasuk semalam. Entah berapa kali Karin mendapatkan pelepasannya atas ulah Arga.


“Tapi aku harus ke toilet,” rengek Karin.


“Cepat kembali,” titah Arga mengendurkan pelukannya. Setelah selesai dengan urusannya di toilet, Karin memilih merapikan bawaannya karena siang ini mereka akan pulang. Arga yang merasa Karin terlalu lama pun membuka matanya dan mendapati Karin yang tengah sibuk dengan koper-kopernya.


“Hm.”


“Ck, aku bilang cepat kembali.”


“Tapi ini belum selesai, siang ini kita akan kembali ke Jakarta. Pak Arga lebih baik cepat mandi, kita juga belum sarapan.”


“Karin, kemari dulu aku masih mau ….”


“Ck, yang ada aku semaput. Belum sarapan sudah digempur, apalagi pagi ini pasti Pak Arga semangat empat lima.”


Arga terkekeh, “Bagus dong, artinya kamu beruntung dapat suami yang bisa memu_askan kamu.”


Setelah drama pagi hari, akhirnya Arga dan Karin keluar dari hotel menyesuaikan dengan keberangkatan pesawat kembali ke Jakarta. Sampai di rumah Marisa menyambut kepulangan Arga dan Karin, sangat berharap ada kabar baik setelah kepergian anak dan menantunya. Karin hanya tersenyum menanggapi Ibu mertunya.


Malam harinya, Arga dan Karin benar-benar hanya tidur. Sesuai dengan permintaan Karin dia ingin istirahat, apalagi besok dia akan ke kampus menyerahkan kemajuan skripsinya.


...***...

__ADS_1


“Kira-kira kita lulus tepat waktu nggak ya?” tanya teman Karin.


Saat ini Karin dan kedua sahabatnya di kampus berada di kantin setelah bertemu dengan dosen pembimbing masing-masing.


“Ya pasti tepat waktulah, kecuali kamu nggak kerjakan, nggak bakal selesai dan sudah pasti kita nggak akan lulus bareng,” jawab Karin.


“Aku pesimis, banyak banget yang harus direvisi.”


Karin hanya tersenyum mendengar keluhan sahabatnya. Ponsel yang berada di atas meja bergetar ternyata ada pesan masuk dari Arga.


[Kalau sudah selesai, ke kantor ya!]


Karin tersenyum, berniat menjahili Arga.


[Nggak bisa, aku sibuk] balas Karin.


Benar saja, tidak lama Arga sudah membalas pesannya.


[Kamu yang kesini atau aku yang susul kamu ke sana]


“Eh, aku duluan ya,” pamit Karin sambil membereskan tasnya.


Tidak ingin Arga benar-benar datang  ke kampus yang hanya akan menjadi pusat perhatian para mahasiswi.


“Kemana sih, masih siang juga.”


Karin hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya saat meninggalkan dua sahabat yang masih saling curhat masalah skripsi mereka. Satu jam kemudian Karin sudah berada di perusahaan Arga. Membuka pintu ruangan Arga, terlihat sedang serius menatap layar komputernya.


“Pak Arga,” panggil Karin.


Arga menoleh. “Sudah datang, kemarilah!” titah Arga kembali menatap layar dihadapannya. Karin berjalan menghampiri Arga, dia pikir ada hal yang akan dibicarakan ternyata Arga menarik tangan dan mendudukan tubuh Karin di atas pangkuannya.


“Pak Arga ….”


“Sttt,” Arga membenamkan wajahnya di dada Karin.


“Pak Arga, takut dilihat orang,” seru Karin.


“Mereka nggak akan berani masuk kalau aku belum izinkan.”


“Tapi, mmh pppp ….”


Arga memilih membungkam bibir Karin daripada mendengarkan istrinya mengoceh. Sesekali Karin memekik karena tangan Arga iseng menjelajah pada tubuhnya.

__ADS_1


“Rasanya aku tidak percaya kalau kita akhirnya benar-benar menjalankan hubungan ini sebagaimana mestinya dan ternyata kita pernah melakukan kesepakatan konyol tentang pernikahan ini,” ungkap Arga.


Karin tersenyum. “Sepakat tidak akan saling mengurusi urusan masing-masing dan bercerai setelah satu tahun. Drama banget deh, macam cerita novel,” tutur Karin. Tanpa mereka sadari, pintu ruangan belum tertutup sempurna dan ada seseorang dibalik pintu mendengarkan apa yang pasangan itu ucapkan.


__ADS_2