
“Arga Sadewa, korban kecelakaan lalu lintas. Bagaimana keadaannya?” tanya Marisa saat tiba di UGD Rumah sakit sesuai dengan informasi yang masuk lewat panggilan telepon. Ayah Arga sama khawatirnya dengan Marisa, keduanya mencoba saling menguatkan.
“Masih dalam pemeriksaan, ditunggu saja. Nanti akan dipanggil untuk penjelasan dokter.”
Ayah Arga mengajak istrinya untuk duduk sambil menunggu informasi keadaan Arga.
“Bunda takut sesuatu terjadi dengan Arga.”
“Tenanglah, kita serahkan semuanya pada Tuhan. Apa Karin sudah dihubungi?”
Marisa menghela nafasnya, mengingat saat dia menghubungi Arga untuk segera pulang karena ada kaitannya dengan Karin. Ada perasaan bersalah jika ternyata Arga kecelakaan karena ada hubungannya dengan permintaan dia untuk segera pulang.
“Jangan, kita tunggu kabar keadaan Arga,”sahut Marisa.
Cukup lama kedua orang tua paruh baya itu menunggu, akhirnya dokter menyampaikan kondisi Arga.
“Pasien harus segera mendapatkan tindakan operasi, tolong tanda tangani berkas yang dibutuhkan.”
Meski terkejut mendengar kondisi Arga, mereka segera memberikan persetujuan tindakan yang terbaik untuk Arga. Bahkan Marisa mengusulkan untuk membawa Arga pengobatan ke Singapura jika memang dibutuhkan.
“Kita tunggu saja tindakan yang dilakukan, tidak baik memindahkan pasien dalam keadaan gawat seperti ini,” tutur Ayah Arga menenangkan istrinya. “Ini sudah sore, segera hubungi Karin. Dia pasti khawatir Arga tidak bisa dihubungi.”
Sedangkan di tempat berbeda, tepatnya di kantor. Karin sejak siang saat tidak sengaja memecahkan mug dan Arga yang belum kembali bahkan tidak bisa dihubungi menunggu dengan resah.
“Pak Arga, kemana sih,” gumam Karin, bahkan matanya sudah memanas dan mengembun. Fisiknya sendiri sudah tidak bisa diajak kompromi, belum mengkonsumsi apapun karena khawatir dengan Arga membuat tubuhnya sendiri menjadi lemah.
__ADS_1
Memutuskan untuk pulang, yakin kalau Arga akan langsung pulang setelah urusannya selesai. Selama perjalanan pulang menggunakan taksi, Karin hanya menatap ke arah jendela. Dengan banyak praduga di benaknya.
“Sudah sampai, Mbak,” ujar supir taksi menyadarkan Karin dari lamunannya. Setelah membayar sesuai argo, Karin pun turun dan bergegas masuk ke dalam kediaman orangtua Arga.
“Pada kemana Bik?” tanya Karin yang melihat rumah tersebut sepi dan tidak menemukan orang tua Arga, dia berada di dapur membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral.
“Non Karin sudah pulang? Nggak tunggu di rumah sakit?”
“Rumah sakit, memang siapa yang sakit?” tanya Karin setelah berhasil meneguk hampir setengah dari isi botol.
Asisten rumah tangga yang sedang bicara dengan Karin bingung menjelaskannya, karena majikannya pergi ke rumah sakit terkait kabar Arga kecelakaan. Sedangkan Karin selaku istri Arga malah tidak tahu tentang hal ini.
“Aduh gimana ya, apa Non Karin benar-benar nggak tahu?”
“Tuan dan Nyonya ke rumah sakit karena Tuan Arga kecelakaan.”
Brak.
Botol air mineral yang dipegang Karin terjatuh. Tanpa berkata apapun Karin bergegas meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
“Ayah, Bunda gimana kondisi Arga?” tanya Karin yang baru saja datang. Bahkan nafasnya masih terengah karena berjalan cepat dari lobby menuju ruang tindakan. Sempat menghubungi Ayah mertuanya menanyakan lokasi Rumah sakit.
“Masih tindakan operasi, kita tunggu saja dulu,” jawab Ayah Arga bahkan meminta Karin untuk tenang dan duduk selama menunggu.
Bunda sendiri terlihat acuh dan sinis pada Karin. Meskipun bingung Karin maklum dengan sikap Bunda Marisa, mengingat putranya sedang berada dimeja operasi.
__ADS_1
Karin duduk terpisah dari Ayah dan Ibu mertuanya, menunggu dengan cemas sambil memilin jari tangannya. Sesekali air matanya menetes dan langsung dia seka dengan jari tangannya.
Sudah beberapa jam menunggu, akhirnya tindakan operasi itu selesai. Lampu yang menandakan proses operasi berlangsung pun sudah padam, seorang dokter yang bertanggung jawab dengan tindakan tersebut menjelaskan hasil operasi dan kondisi pasien.
“Tindakan operasi berjalan lancar, saat ini pasien masih belum sadar dan sengaja kami buat untuk tidak sadar lebih lama agar tidak banyak gerak yang akan memperlambat recovery. Tolong sabar menunggu, pasien akan dibawa ke ruang observasi belum bisa masuk kamar rawat.”
“Tapi anak saya tidak akan mengalami hilang ingatan setelah dia sadar ‘kan?”
Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Marisa.
“Tidak bu, tindakan operasi tadi untuk tangan dan bagian dada pasien bukan kepalanya, mungkin karena benturan dan terjepit rangka mobil.”
Karin menghela nafas lega mendengar penjelasan Dokter, setidaknya kondisi Arga tidak seberat yang dia duga. Kembali mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
“Kamu pasti senang ‘kan lihat Arga menderita seperti ini,” pekik Bunda pada Karin.
Karin terkejut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya, bibirnya tidak bisa berkata apapun.
“Kalian bisa pisah tanpa harus menunggu satu tahun,” tutur Marisa lagi.
“Sayang, apa maksudmu?” tanya Ayah Arga.
“Maksud Bunda apa, kenapa aku harus pisah dengan Pak Arga?”
__ADS_1