
“Pak Arga mau cobain nggak?”
Arga bergeming, masih menatap dua orang yang begitu dia kenal. Terlihat raut kekesalan di wajahnya, bahkan tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Karin. Merasa diabaikan Karin pun ikut menoleh ke arah yang ditatap Arga.
“Oh, ulat bulu sama keong racun.”
“Karin, mau kemana?” tanya Arga lalu mengikuti langkah istrinya.
“Mereka harus dikasih pelajaran.”
“Hei, jangan. Kita pergi saja, aku malas bertemu mereka.”
“Stt, Pak Arga tenang saja. Aku yang urus, urusan ini memang lebih baik perempuan yang handle,” seru Karin dengan berani, bahkan sambil menepuk dadanya pelan.
“Hai, apa kabar ulat bulu dan keong racun,” ejek Karin mengejutkan Renata dan sekretaris Arga.
“Ck, ngapain juga ketemu kamu di sini,” ujar Renata.
“Hm, kalau ketemu aku begitu ya tapi kalau ketemu Arga pengenya nempel kaya perangko. Eh, masih nggak kapok juga, Pak Arga bisa saja mempermasalahkan hal ini. Kamu dianggap membocorkan rahasia perusahaan, termasuk tindak pidana. Mau dipenjara?” tanya Karin pada sekretaris Arga.
“Enggak, please jangan lakukan itu. Ini semua gara-gara lo,” tunjuknya pada Renta lalu beranjak pergi.
“Eh, kenapa nyalahin aku.”
Arga menghampiri Karin. Bahkan Renata terkejut ada Arga di sana dan langsung salah tingkah karena kepergok bahwa dia salah.
“Arga, ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan. Sekretaria kamu tuh yang selalu menyampaikan ingin bantu aku,” ucap Renata membela dirinya bahkan sambil mencengkram lengan Arga.
“Pake pegang-pegang, lepas. Nanti tangan Pak Arga gatal karena tangan kamu.” Karin menghempaskan tangan Renata, Arga tersenyum melihat hal itu.
“Ayo sayang, kita pulang. Jangan habiskan energi untuk urus masalah ini.”
“Arga, please kamu dengerin aku dulu,” ujar Renata.
Arga merangkul bahu Karin dan meninggalkan Renata serta tempat itu. Benar apa yang dikatakan Karin kedua perempuan itu benar-benar seperti ulat bulu dan keong racun, harus dihindari karena sama-sama berbahaya.
“Mau kemana lagi?”
“Hm, pulang aja. Kepalaku nggak enak lagi, agak pening,” sahut Karin. Arga mengeratkan rangkulannya lalu berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
Saat berada di dalam mobil, Karin langsung merendahkan sandaran jok. Memasang seatbelt dan memejamkan matanya. Arga menatap heran, apalagi wajah Karin terlihat pucat.
“Are you okay?”
“Hm. Cepat jalan aja, aku ingin segera sampai rumah,” sahut Karin memejamkan matanya. Arga tidak banyak tanya dan kembali melajukan mobilnya.
...***...
Karin sudah benar-benar terlelap. Wajahnya masih terlihat pucat dengan titik-titik keringat di dahinya. Arga masih duduk bersandar pada headboard menatap istrinya dengan raut wajah khawatir.
“Sayang, kamu sepertinya sakit. Tapi ngeyel juga kalau diajak ke dokter.” Menghapus keringat menggunakan tisu yang ada di wajah Karin, berusaha se pelan mungkin agar tidak membuatnya terjaga. Memastikan Karin tidak demam dengan meletakkan tangannya di kening Karin. Tidak lama, Arga pun ikut terlelap di samping Karin.
Esok hari.
Karin yang terbangun lebih dulu, memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Saat ini bukan hanya ingin menyiapkan keperluan Arga tapi dia juga harus menemani Arga sebagai sekretaris pengganti untuk sementara.
Setelah membersihkan diri dan memastikan setelan yang akan dikenakan Arga sudah siap, Karin pun mengenakan pakaian kerjanya lalu menghampiri Arga yang masih terlelap. Duduk di tepi ranjang tepat di sisi Arga dan mencium kening pria itu.
“Pak Arga, bangunlah. Sudah siang.”
Arga pun mengerjap kedua matanya pelan dan menoleh ke arah suara.
“Aku ‘kan mau jadi sekretaris pengganti Pak Arga.”
“Lebih baik tidak usah, biar aku minta bagian HRD untuk ada yang mem-back up sementara. Kamu semalam sakit, sayang.”
“Tapi sekarang sudah sehat, ayo bangun.” Karin berdiri lalu menarik tangan Arga agar beranjak bangun.
Karin akhirnya membantu Arga sebagai sekretaris pribadinya. Walaupun sesekali dilengkapi dengan drama karena Karin tiba-tiba mual, pusing bahkan menginginkan makan sesuatu. Sudah lebih dari seminggu Karin berperan di pekerjaan Arga. Sekretaris baru sedang dalam proses rekrutmen, bahkan kemarin sudah ada beberapa kandidat nama tinggal proses keputusan mana yang akan diterima.
Sedangkan di tempat berbeda. Renata merasa hidupnya benar-benar kacau. Proses perceraiannya hampir selesai bahkan tinggal menerima akta cerai. Perusahaan Ayahnya semakin goyang dan dia sudah tidak bisa dekat dengan Arga lagi.
Sempat menemui Devan agar membantu perusahaan Ayahnya tapi hanya mendapatkan caci dan maki dari mantan suaminya. Merasa terpojok dan satu-satunya jalan adalah Arga. Bahkan Renata berpendapat kalau dia tidak bisa mendapatkan Arga, maka Karin pun tidak boleh bahagia dengan pria itu.
Dengan tawa sinis, mengirimkan pesan berisi informasi mengenai perjanjian Arga dan Karin sebelum pernikahan kepada Bunda Marisa.
“Kita lihat apa yang akan terjadi,” ujar Renata sambil tertawa jahat.
Sedangkan Arga baru saja selesai pertemuan dengan rekan bisnisnya di luar kantor. Setelah saling berjabat tangan, kedua pihak tersebut undur diri. Saat ini Arga sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke kantor. Janji akan makan siang bersama Karin.
__ADS_1
Ponsel di sakunya bergetar, Arga pun mengurungkan niatnya untuk melaju dan memilih membuka ponselnya. Ternyata telepon dari Bundanya.
“Halo, Bun.”
“Arga, Bunda nggak percaya dengan keputusan kamu dan Karin. Bisa-bisanya kalian mempermainkan pernikahan,” bentak Marisa di ujung telepon.
Arga yang bingung dengan ocehan Marisa hanya bisa mengernyitkan dahinya.
“Bunda bicara apa sih? Aku nggak ngerti.”
“Pulang kamu, kita selesaikan di rumah,” pekik Marisa lalu mengakhiri panggilannya.
“Bunda kenapa ya?”
Arga pun melajukan mobilnya untuk pulang, dengan banyak pertanyaan di benaknya terkait sikap Bunda. Mengingat kalau dia belum mengabari Karin, Arga pun merogoh kembali sakunya untuk mengeluarkan ponsel. Karena sambil menyetir, ponsel malah terjatuh.
Melihat jalan yang tidak terlalu padat, Arga berusaha meraih ponsel dengan sedikit menunduk. Tapi sayang kemudinya malah sedikit berbelok dan mengejutkan Arga lalu membanting setir ke arah berlawanan.
Brak.
Mobil yang dikemudikan Arga menabrak bahu jalan. Bagian depan mobilnya terlihat ringsek, bahkan mengeluarkan asap. Arga sempat sadar, entah bagian mana yang terluka yang jelas dia merintih sakit.
“Ka-Karin,” ucapnya lalu tidak sadarkan diri.
Karin yang berada di kantor sejak tadi merasa tidak enak hati. Menghubungi Arga tapi tidak dijawab, memilih menuju pantry dan membuat teh hangat. Saat sedang mengaduk, sepertinya dia melamun dan tidak sadar kalau mug yang dia pegang sudah terlepas dari tangannya.
Prank.
“Ya ampun, panas,” ujar Karin sambil menghindar dari pecahan gelas. Air panasnya sempat tumpah mengenai kakinya.
“Minggir dulu Bu, biar saya yang urus ini,” pinta OB.
Karin pun memilih kembali ke meja kerjanya dan menghela nafas.
“Ada apa sih kok perasaan aku nggak enak, mana Pak Arga ngga bisa dihubungi.”
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1