
“Ini simpan dimana Bu?” tanya salah seorang asisten rumah tangga pada Karin.
“Hm, di atas meja itu aja dulu. Nanti aku yang bereskan ke lemari,” jawab Karin. Saat ini Karin dan Arga sudah pindah ke rumah mereka. Karin sedang memastikan kembali kelengkapan kamar bayinya. Sebelumnya Mama dan Bunda Marisa membantu Karin berbelanja lalu mendesain kamar bayi yang hanya terhubung sebuah pintu dengan kamar utama Karin dan Arga.
“Kayaknya udah cukup Bik,” ujar Karin pada bibi yang sejak tadi ikut sibuk di ruangan itu. Karin berjalan pelan mengambil beberapa box yang isinya produk bayi ke dalam lemari.
“Nanti setiap pagi atau sore tolong dibersihkan ya Bi. Kapan waktunya diatur aja yang penting dibersihkan,” titah Karin lagi.
“Bu Karin, makan siangnya sudah siap,” ujar Bu Ela asisten rumah tangga yang lebih muda dari si Bibi yang menemaninya saat ini. Arga memang mempekerjakan dua asisten rumah tangga untuk membantu Karin mengelola rumah, seorang tukang kebun dan beberapa penjaga rumah yang kerjanya bergantian.
“Iya, ayo Bik kita makan dulu.”
Walaupun baru satu bulan ini Karin dan Arga pindah, tapi para pekerja di rumah itu sangat menyukai majikan mereka. Selain masih muda Karin selalu bersikap sopan, biasa hidup sederhana dia tidak silau dan sombong saat Arga memanjakannya dengan hidup yang lebih mudah.
Sore harinya, Karin yang sedang berada di taman. Ikut menyirami tanaman bunga walaupun pengurus kebun melarangnya.
“Bu Karin, ada supir yang diutus Pak Arga,” ujar Bibi.
“Hah, supir. Ya ampun, aku lupa sore ini ada janji temani suamiku menghadiri undangan resepsi.”
“Pelan-pelan aja Bu,” ujar si Bibi karena Karin terlihat bergegas.
“Bilangin sama supirnya suruh tunggu, aku siap-siap dulu,” titah Karin.
Sebelum masuk ke toilet, Karin mengecek ponselnya ada panggilan tidak terjawab dari Arga juga beberapa pesan. Karin hanya menjawab kalau dia sedang bersiap, agak sedikit telat karena lupa kalau ada janjinya dengan Arga.
Mengenakan maternity dress selutut, memoles wajahnya dan membiarkan rambutnya tergerai dan hanya menyematkan penjepit dengan aksen mutiara di sebelah kanan. Mengenakan alas kaki yang membuatnya nyaman juga membawa tas pesta kecil yang hanya berisi ponsel juga beberapa kartu terselip di sana.
“Ayo, Pak.”
Karin sudah berada di mobil menuju lokasi acara, memang sudah sepakat dengan Arga langsung bertemu di hotel dimana acara berlangsung. Undangan pesta pernikahan dari salah satu rekan bisnis Arga, Karin menyanggupi untuk menemani Arga.
Mobil sudah berhenti di lobby dan Karin keluar dari mobil di sambut oleh Arga. Mereka berjalan menuju ballroom dimana tangan Arga tidak lepas dari tangan Karin. “Kamu cantik banget sih,” bisik Arga.
Karin hanya tersenyum sambil menoleh. “Kamu juga tampan, hubby.”
“Lagi hamil begini, kamu tuh terlihat makin ruarrr,” bisik Arga lagi. Karin hanya terkekeh pelan mendengar entah pujian atau ejekan dari Arga. Akhirnya mereka sampai di ballroom, setelah mengisi daftar tamu dan melangkah ke tengah acara. Karin memeluk lengan Arga lalu menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada mempelai.
Menaiki beberapa anak tangga dibantu oleh Arga, selain memberikan selamat Arga mengenalkan Karin sebagai nyonya Sadewa.
__ADS_1
Beberapa tamu yang mengenal Arga baru kali ini melihat Karin, karena memang Arga dan Karin belum menggelar resepsi yang rencananya akan diadakan setelah Karin selesai kuliah. Tapi karena Karin saat ini sedang hamil tua, keduanya seakan lupa untuk rencana resepsi mereka.
Saat sedang menemani Arga, Karin melihat seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka.
Hm, ulat bulu masih mau ugat-uget kayaknya, batin Karin yang menatap Renata berjalan mendekat.
“Hai Arga,” sapanya. Arga hanya mengangkat gelas yang sedang dia pegang tanpa menjawab. “Wah, kalian terlihat bahagia sekali,” ujar Renata pada Arga dan Karin.
“Tentu saja, iya ‘kan sayang?”
Karin mengangguk dan tersenyum.
“Tapi hati-hati Karin, laki-laki ketika istrinya hamil biasanya suka aneh-aneh di luar karena merasa yang di rumah tidak bisa memuaskann,” tutur Renata. Kedua teman bicara Arga, hanya diam mendengar penuturan Renata. Entah karena membenarkan atau memang tidak mau berdebat.
“Wah, sepertinya Ibu Renata hafal betul dengan masalah ini. Pernah mengalaminya sendiri ya?” Karin membalas Renata dengan santai. Sedangkan Arga tersenyum sinis pada Renata.
“Sayang, kamu sudah kelamaan berdiri. Ayo kita cari kursi untukmu,” usul Arga meninggalkan rekannya termasuk Renata.
“Mulut lo nggak bisa di rem apa gimana?” tanya rekan Arga tadi kepada Renata karena saling mengenal.
“Tapi memang kenyataannya begitu,” sahut Renata sambil melengos pergi.
“Iya.”
Tidak lama Arga kembali membawakan zuppa soup dan segelas air mineral. Dia sendiri mengambil lagi menu lain lalu menikmati di samping Karin.
“Well, lihat siapa ini,” ujar seseorang yang langsung duduk di kursi pada meja yang sama dengan Karin dan Arga.
“Kalian janjian atau gimana?” tanya Arga pada Devan.
Devan mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Arga. “Janjian?”
“Iya, janjian dengan Renata untuk bergantian menyapa kami,” seru Arga.
Devan terkekeh. “Apa dia masih berusaha mendekatimu?”
Arga mengedikkan bahunya. Karin hanya diam, tidak bicara apalagi tersenyum pada Devan. Membuat Devan tertarik untuk menggodanya lagi.
“Istrimu semakin wow saja,” ucap Devan.
__ADS_1
“Tentu saja. Kalian sudah resmi cerai?” tanya Arga pada Devan.
“Hm, walaupun sesekali Renata masih mendatangiku. Berharap bisa membantu perusahaan ayahnya dan kamu tahu ‘kan kalau dia datang apa yang dia tawarkan untukku?” tanya Devan sambil terbahak.
“Seharusnya kalian kembali rujuk, karena kalian benar-benar cocok. Pasangan yang serasi,” ungkap Arga.
“Aku mengharapkan wanita lain,” jawab Devan sambil tersenyum pada Karin.
Tanpa diduga, Renata menghampiri meja dan ikut duduk di samping Devan.
“Lihat, apa yang kubilang. Kalian memang cocok jadi wajar kalau sebaiknya rujuk lagi,” ejek Arga. Karin hanya diam, dia lebih berhati-hati saat bicara apalagi mengejek orang lain. Sedang hamil dan tidak ingin mengeluarkan aura negatif dengan bersikap atau mengatakan hal buruk walaupun Devan dan Renata memang mengesalkan.
Karin menarik lengan jas Arga membuat pria itu menoleh.
“Iya, sayang.”
“Kita pulang,” ajak Karin.
Arga pun berdiri membantu Karin untuk ikut berdiri. “Sepertinya kalian bisa lanjutkan reuninya, aku harus mengajak ratuku pulang. Dia lelah kemana-mana bawa kesayangan kami.” Arga mengusap perut Karin lalu menggandeng tangannya dan meninggalkan meja dimana masih ada Renata dan Devan.
Renata dan Devan menatap kepergian pasangan yang terlihat sangat posesif itu.
Arga sudah menghubungi supir yang tadi menunggu saat di depan lobby mobil sudah siap. Arga pun membantu istrinya naik ke mobil.
Karin bersandar dan memejamkan mata sambil berdesis pelan. “Sayang, kamu kenapa?”
“Entah, sepertinya kontraksi palsu.”
“Apa kita perlu ke rumah sakit?”
“Nggak usah, waktu perkiraan lahir masih dua minggu lagi.”
Arga menatap cemas pada istrinya, apalagi mereka berada di tengah kemacetan. Tidak lama Karin kembali menggigit bibir sambil mengusap perutnya.
“Kontraksi lagi?”
Karin hanya mengangguk, “Tapi ini rasanya sakit banget,” keluh Karin.
“Pak, kita ke rumah sakit,” titah Arga pada supirnya.
__ADS_1