Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Hanya Gejala


__ADS_3

Karin terkekeh mendengar Arga yang menegur Dio lewat panggilan telepon, apalagi mengistilahkan Naina dengan keong racun.


“Kirain mau buka usaha baru, ternak bekicot,” ejek Karin.


“Apa kamu bilang,” ujar Arga lalu menggelitik pinggang Karin membuat wanita ini kegelian dan berteriak bahkan sesekali terbahak.


“Papi, cukup.” Karin menghentikan ulah Arga dengan menahan tubuh pria itu dengan kedua tangannya.


“Kamu belum makan loh, aku pesankan sesuatu ya?”


“Nggak usah,” jawab Karin lalu kembali menyesap teh hangatnya. “Aku mau makan yang manis-manis, nanti mampir ke toko desert deh pulang dari sini.”


“Kenapa nggak sekarang aja,” usul Arga.


“Belum terlalu berselera baru sepintas ke pengen gitu. Kamu kalau masih ada yang mau dikerjakan lanjut aja, aku tunggu di sini,” ujar Karin lalu membuka ponselnya.


Sore hari, saat sudah berakhir jam kerja. Arga mengajak Karin pulang, sudah terlalu lama meninggalkan Alea membuatnya khawatir.


“Jadi mampir ke toko dessert?”


“Jadi dong.”


Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan, dengan senyum terulas di wajah. Sepertinya pertemuan antara Maxton dan perwakilan perusahaan Arga baru saja selesai, Naina yang baru keluar dari lift menyaksikan kemesraan Karin dan Arga.


Dio menghampiri Arga, menerima arahan dari atasannya. Menganggukkan kepala, lalu mempersilahkan Arga dan Karin undur diri. Karin sempat menoleh ke arah Naina yang berdiri menatap ke arahnya.


Sengaja ingin memprovokasi wanita itu dengan memamerkan kemesraannya, langsung memeluk pinggang Arga dan menjulurkan lidah mengejek Naina.


“Ada apa?” tanya Arga yang merasakan Karin semakin merapatkan tubuhnya. Khawatir jika istrinya berada dalam kondisi bahaya atau terancam.


“Nggak apa, ayo kita pulang. Sebelum bekicot mengeluarkan aksinya,” ajak Karin.


“Bekicot?”


“Hm.”


Sesuai dengan keinginan Karin, Arga mampir di salah satu toko dessert. Membeli beberapa jenis makanan yang terlihat manis dan tinggi lemak. Sampai di rumah, Arga mengajak Karin ke meja makan dan mengeluarkan dessert yang dipilih Karin.


“Ayo dimakan, kamu belum makan sejak tadi siang,” titah Arga yang sudah duduk di samping Karin.


Karin tampak bingung untuk memilih yang mana yang akan dia makan, kemudian memanggil asisten rumah tangga.


“Bik, tolong buatkan teh hangat ya,” titah Karin.


“Loh, kenapa malah minta teh. Ini nggak jadi dimakan?”


“Aku tiba-tiba mual, ini buat kamu aja ya.”

__ADS_1


“Hahh.”


Arga menatap aneh pada Karin dan meminta bibi menyimpan dessert ke dalam lemari es. Mungkin saja, nanti Karin akan menanyakannya lagi.


“Kenapa menatap aku begitu?”


“Kamu hari ini aneh,” jawab Arga.


“Aneh gimana?”


“Sudahlah, sekarang kamu mau makan apa?”


“Hm. Nasi goreng tapi buatan Papi ya,” rengek Karin.


Arga mengusap kasar wajahnya mendengar permintaan Karin. Membiarkan Arga di dapur hanya akan membuat berantakan, dia benar-benar tidak bisa masak. Rengekan Karin kali ini menambah keanehan sikap Karin.


Dengan sedikit drama, akhirnya Karin mau makan walaupun hanya sedikit. Arga meminta Karin segera membersihkan diri dan menemui Alea yang pastinya sudah rindu dengan Karin, karena ditinggal sejak tadi siang.


...***...


Pagi ini Arga terbangun karena Alea yang sudah terbangun, sejak semalam Alea tidur di antara Karin dan Arga. Menoleh ke arah Karin yang masih terlelap, Arga sengaja tidak membangunkan Karin. Sejak melahirkan Alea, istirahat Karin memang tidak teratur karena seringnya Alea terbangun di malam hari.


“Sttt, kamu jangan berisik. Nanti Mami bangun,” ucap Arga lalu menggendong Alea. Keluar dari kamarnya menuju kamar Alea dan menitipkan pada pengasuhnya.


Arga sudah rapi dengan setelan kerjanya, ketika Karin terjaga. Wanita itu menatap sekeliling kamar mencari keberadaan putrinya.


“Cari apa?”


“Ada, mungkin sedang dimandikan,” jawab Arga yang memakai jam tangannya.


“Aku sepertinya terlalu lelap sampai tidak sadar Alea sudah bangun, bahkan pakaian untuk kamu aku belum siapkan,” ringis Karin lalu kembali merebah sambil memegang dahinya.


Arga menghampiri melihat sesuatu yang tidak biasa dari Karin, “Kamu kenapa , sayang?”


“Kepalaku pening.”


Arga memperhatikan wajah Karin yang pucat, sudah bisa menjelaskan kalau saat ini Karin sedang sakit. Duduk di tepi ranjang menyentuh dahi istrinya memastikan tidak demam.


“Kita ke dokter ya?”


“Nggak usah, kayaknya aku masuk angin. Kamu sarapan sendiri ya, sepertinya aku nggak sanggup untuk turun.”


“Istirahatlah, aku akan minta Bibi antar sarapan dan jangan lupa minum obat.”


Sebelum berangkat, Arga memberi arahan untuk asisten rumah tangga agar mengurus Karin yang sedang sakit juga Alea pada pengasuhnya. Agak berat meninggalkan Karin, tapi tanggung jawab membuatnya harus bergegas tiba di kantor.


Tiba di kantor, Arga langsung berjibaku dengan tugasnya bersama Dio. Berkas yang harus mendapatkan approval, juga diskusi terkait project yang sudah berakhir. Sesaat Arga lupa tentang kondisi di rumah, sampai ponselnya berdering ternyata telepon dari pengasuh Alea.

__ADS_1


“Ya,” ujar Arga.


“Pak Arga, Ibu ….”


Dahi Arga berkerut mendengar ucapan pengasuh Alea yang terpotong.


“Ada apa dengan Ibu? Alea dimana?” tanya Arga. dio yang berada di hadapan Arga, ikut menyimak. Menduga ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga atasannya.


“Alea aman tapi Ibu … Ibu pingsan Pak.”


“Kok bisa, aku akan pulang dan hubungi dokter,” ujar Arga lalu mengakhiri panggilan.


“Dio aku harus pulang, Karin pingsan.”


“Perlu saya antar Pak?” tanya Dio.


“Tidak usah, tolong hubungi dokter keluargaku untuk segera datang!”


Dalam perjalanan Arga terjebak macet membuatnya lama diperjalanan. Saat tiba di rumah, dokter sudah selesai memeriksa Karin.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?”


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dari keluhan yang disampaikan mengarah pada gejala kehamilan,” jelas dokter.


Arga menghela lega ternyata tidak ada yang serius pada Karin dan keluhannya hanya menandakan awal kehamilan.


“Tunggu, hamil? Maksudnya istri saya sedang hamil?”


“Iya, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter kandungan untuk lebih jelas,” saran dokter. Setelah mendapatkan resep vitamin yang harus dikonsumsi Karin juga menjelaskan apa yang beresiko bagi ibu hamil, dokter pun meninggalkan kediaman Arga.


Arga menemui Karin yang sedang tergolek lemah, bibi yang menemani saat pemeriksaan undur diri ketika Arga datang.


“Sayang,” panggil Arga yang sudah duduk di tepi ranjang menggenggam kedua tangan Karin.


“Aku sakit apa sih? Tiba-tiba kepalaku sakit, untungnya baru keluar kamar.”


Arga mengusap punggung tangan Karin, “Kamu tidak sakit sayang, yang kamu rasakan hanya gejala saja.”


“Gejala apa?”


Tidak menjawab, Arga memilih memeluk Karin. Wanita yang akan memberikannya keturunan lagi. Anugerah dan pengikat untuk hubungan mereka agar semakin sayang satu sama lain. Karin yang bingung dengan sikap Arga mengurai pelukan dan menatap lekat wajah suaminya.


“Jangan buat aku bingung, sebenarnya ada apa denganku? Aku sakit apa kalau gejalanya saja membuat aku pingsan.”


“Kamu tidak sakit, kamu hamil sayang.”


“Benarkah?”

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Yuhuuuu,, beberapa bab menjelang tamat,, jangan lupa jejak yessss


__ADS_2