Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Pengaruh Obat


__ADS_3

Arga undur diri dan mengucapkan terima kasih dengan undangan makan malamnya. Bergegas untuk kembali ke kamar dengan efek obat yang benar-benar mengganggu. Saat menunggu lift dia mengibaskan tangannya karena merasa gerah dan berkali-kali menghembuskan nafasnya.


Shitt, bagaimana aku harus meredakannya, batin Arga.


Akhirnya pintu lift terbuka Arga bergegas masuk, saat pintu dan tertutup. Ada tangan menghalangi.


“Tunggu." ternyata Naina menghentikan pintu lift yang akan menutup lalu ikut masuk ke dalam lift.


Naina dengan senyum yang sangat Arga tidak suka karen mempengaruhi rasa di tubuhnya semakin bereaksi.


“Aku juga balik ke kamar.”


Melihat lantai yang dituju Arga, membuat Naina berkomentar.


“Ternyata kamar kita di lantai yang sama ya?" Naina berdiri di samping Arga kulit tangan mereka menempel membuat Arga mengeerang pelan.


“Bagaimana setelah ini kamu ikut ke klub, pasti seru loh. Aku jamin kamu akan lupa dengan masalahmu,” seru Naina bahkan saat ini memeluk lengan Arga.


“Tidak bisa, aku harus menghubungi istriku.”


“Yah sayang sekali. Loh, Arga kamu kenapa?” Naina mengusap dahi Arga yang berkeringat.


“Shittt, Naina menjauhlah.”


Arga mendorong pundak Naina agar tubuhnya menjauh.


“Kami kurang sehat? Wajahmu terlihat ....”


“It’s okay. Aku baik-baik saja,” ujar Arga.


Ting


Akhirnya pintu lift terbuka. Arga bergegas keluar bahkan berjalan sambil terhuyung, mengeluarkan acces card kantung celananya dengan tergesa bahkan mendadak tremor. Naina yang masih mengekor Arga merebut kartu tersebut.


“Naina, ini tidak lucu.”


“Kamu sakit, aku pastikan kamu aman,” ujar Naina sambil mengerlingkan matanya. Menempelkan kartu pada sensor lalu mendorong pintu dan membiarkan Arga lewat. “Sepertinya kamu mulai bergair*ah,” ujar Naina saat pintu sudah tertutup, kartu tadi sudah dia selipkan pada kontak lampu dan otomatis membuat lampu hidup termasuk pendingin udara.


“Naina keluar dari kamarku,” usir Arga sambil melepaskan jas dan ikatan dasi bahkan enggan menatap Naina.

__ADS_1


Bukannya pergi Naina malah memeluk Arga dari belakang.


“Rileks sayang, aku akan bantu kamu.”


“Bantu,” ujar Arga lalu melepaskan tangan Naina dan tubuhnya kini berhadapan. “Apa ini ulahmu?”


Naina terkekeh, “Kamu terlalu polos Arga, kita bisa bersenang-senang tapi kamu malah naif dengan setia pada istrimu. Dia tidak perlu tahu apa yang terjadi dengan kita.” Naina mendorong tubuh Arga hingga merebah lalu mengungkungnya.


“Aku akan berikan kamu pelayanan maksimal malam ini, hingga tidak akan pernah lupakan bahkan mungkin mengharapkan lagi.”


“Shittt, keluar Naina.” Arga beranjak duduk mendorong tubuh Naina tapi reaksi obat begitu kuat membuatnya kembali berbaring. Naina melepaskan alas kaki yang masih dikenakan Arga juga ikat pinggang bahkah semua kancing kemeja Arga dan mulai mencum_bu leher Arga.


“Naina,” pekik Arga. Namun, tidak dapat menolak karena tubuhnya benar-benar tidak terkondisikan. “Karin,” teriaknya.


Terdengar sensor pintu, lalu ….


“Dasar jal*ng.”


“Auwww,” pekik Naina sambil memegang rambutnya.


Karin menjambak Naina dan menyeretnya ke pintu, “Kamu apakan suamiku?” teriak Karin bahkan tidak melepaskan tangannya dari rambut Naina.


Krek.


Karin membuka pintu kamar Arga lalu mendorong tubuh Naina hingga terjerembab. Sudah ada dua orang berdiri di depan kamar Arga bahkan salah satunya petugas hotel. “Bawa dia keluar dari hotel ini atau aku tuntut karena membiarkan pelac*r masuk ke kamar suamiku dan kamu,” tunjuk Karin pada seorang pria. “Sampaikan pada pihak Maxton tentang hal ini dan pastikan pertemuan besok pagi.”


“Siap Bu.”


“Hei, kamu salah. Arga yang mengajakku bukan aku sengaja masuk,” teriak Naina.


“Aku minta rekaman CCTV,” titah Karin pada petugas hotel.


“Akan kami siapkan. Kamu, ayo ikut,” titahnya pada Naina.


“Brengsekk kamu Karin,” teriak Naina.


Karin kembali masuk ke kamar dan Arga sudah berdiri menatapnya dengan penampilan berantakan. Berbeda dengan penampilan Arga yang selalu rapi dan sopan. Karin melihat ada yang aneh dengan sikap Arga saat di restoran, dimana Karin juga berada di sana tentu saja tidak memperlihatkan wajahnya dan berada di meja agak sudut.


“Bagaimana kalau aku tidak datang?”

__ADS_1


“Aku dijebak sayang,” jawab Arga sambil menyentuh kedua bahu Karin bahkan sentuhan tersebut berubah menjadi cengkraman. “Shittt,” teriak Arga lalu menuju kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan siraman shower dan melepaskan penutup tubuhnya.


“Sayang, aku harus bagaimana?” tanya Karin yang sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi.


“Jangan mendekat, kamu tetap di sana,” perintah Arga membuat Karin mundur tapi tidak menjauh dan masih menatap Arga.


Arga berkali-kali merutuk dengan kedua tangan mengepal memukul dinding kamar mandi.


“Jangan seperti itu, katakan aku harus bagaimana. Obat apa yang harus aku cari?” tanya Karin dengan cemas.


Arga berbalik menatap Karin, membuat wanita itu mengernyitkan dahinya menatap tongkat sakti Arga yang menegak sempurna.


“Ke-kenapa bisa begitu?”


“Ada yang menjahiliku, tubuh ini dalam pengaruh obat. Aku butuh pelampiasan dan ini rasanya … arg.”


Karin meraih handuk dan memberikan pada Arga lalu memutar keran agar menghentikan aliran air.


“Sepertinya ide ini tidak berhasil, kamu bisa kedinginan,” Karin menarik tangan Arga dan mengajaknya keluar dari kamar mandi. Karin mengeluarkan ponselnya  dan terlihat ingin menghubungi seseorang.


“Kamu ingin menghubungi siapa?”


“Ayah, aku akan sampaikan keadaan kamu … Loh kenapa?”


Arga merebut paksa ponsel Karin dan meletakkannya di atas meja. “Aku butuh kamu menteralkan ini,” ujar Arga sambil meraih tubuh Karin lalu melummat bibir Karin sambil membimbing tubuh istrinya agar merebah di ranjang.


Pagutan itu semakin liar bahkan Arga sudah melucuti pakaian Karin dan menjelajahi tubuh Karin dengan bibir dan lidahnya membuat Karin tidak kuasa untuk tidak mengerang dan mencengkram sprei yang berada di bawah tangannya.


“Aku sudah tidak tahan,” pekik Arga sambil membuka kedua kaki Karin agar semakin melebar, menatap pangkal dari kedua kaki indah Karin lalu merapatkan tubuhnya.


Karin awalnya tidak paham kalau Arga dalam pengaruh obat yang memicu tubuhnya untuk melakukan penyatuan diri, akhirnya hanya bisa pasrah membiarkan Arga meredakan obatnya.


“Sa-yang pelan-pelan,” ujar Karin berkali-kali menegur Arga.


Arga seperti tidak mendengar teguran Karin dan terus memacu tubuhnya. Berkali-kali mengulang adegan tersebut sampai akhirnya dia terkulai lemas di samping Karin yang sudah memejamkan mata.


“Hahhh, Karin ini sungguh luar biasa” ujarnya.


Arga akhirnya terlelap tanpa tahu kalau Karin bukan tertidur tapi tidak sadarkan diri karena lelah menghadapi gempuran tubuh Arga.

__ADS_1


 


__ADS_2