Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Ternyata ....


__ADS_3

“Pak Arga hentikan,” pekik Karin karena tangan Arga mulai tidak dapat dikondisikan, sedangkan mereka berada di kantor.


“Lepaskan aku, Pak.”


Arga malah mendekap erat Karin yang berada di atas pangkuannya. Entah kenapa terbersit ide akan melakukan sesuatu dengan Karin di ruangan itu. Arga pun melepaskan Karin dan berjalan menuju pintu.


Klik.


Karin merasa curiga dengan ulah Arga yang mengunci pintu, bahkan Arga menghubungi sekretarisnya dan mengatakan agar tidak mengganggu satu jam ke depan.


“Pak Arga mau apa?” tanya Karin yang berdiri di depan meja Arga.


Arga hanya tersenyum smirk, fokus pada layar komputernya membuka kontrol CCTV. Sebagai pimpinan dia bisa mengakses kontrol CCTV lalu menonaktifkan kamera yang berada di ruangannya. Karin mengernyitkan dahinya saat Arga berdiri sambil menatap ke arahnya dengan tatapan sendu. Bahkan mulai melepaskan dasi dan kancing kemejanya satu per satu.


Glek.


Karin menelan salivanya, sadar dia berada dalam bahaya karena Arga terlihat akan mengajaknya berpeluh. Tunggu, ini di kantor. Mana mungkin Pak Arga akan melakukan itu di sini.


“Pak Arga,” ujar Karin sambil melangkah mundur karena melangkah mendekatinya. “Pak Arga kita di ….”


“Sttt, sepertinya akan sangat menarik kalau kita melakukannya di sini. Akan sangat memacu adrenalin karena dikhawatirkan ada orang yang datang,” ungkap Arga.


“Maka dari itu, kita jangan … mmphhh.” Arga membungkam mulut Karin, dengan pagutan bibirnya. Karin merasa sudah biasa dengan bibir Arga pun menyambut pertemuan bibir mereka. Tanpa di sadari Karin, saat ini dia sudah direbahkan di atas sofa.


Arga sendiri mulai melepaskan tautan ikat pinggang dan menurunkan pakaian bawahnya lalu melepaskan pakaian Karin.

__ADS_1


“Pak Arga, jangan di sini.”


“Sttt, tenang saja sayang.”


Karin yang tadinya khawatir, akhirnya mendessah pelan saat Arga sudah mulai beraksi. Tidak ingin bersuara lebih keras apalagi ruangan itu jelas tidak kedap suara, Karin pun menggigit bibir bawahnya.


Arga yang melihat hal tersenyum karena Karin terlihat semakin menggoda dan seksih, lebih semangat untuk terus bergerak memaju mundurkan pinggulnya.


Sesekali Arga berbisik untuk Karin bergerak atau melakukan sesuatu yang membuat penyatuan tubuh mereka lebih panas.


“Ahh, kamu mulai nakal Karin,” cetus Arga sambil memejamkan mata. Akhirnya keduanya pun memekik bergantian saat sudah berhasil mencapai pelepasannya. Nafas keduanya masih menderu bahkan Arga belum melepaskan tubuhnya, ketika terdengar dering ponsel miliknya.


“Pak Arga, awas,” pintu Karin agar Arga menyingkir dari atas tubuhnya.


Karin memunguti pakaiannya lalu menuju toilet yang ada di ruangan Arga, sedangkan suaminya memakai kembali pakaian yang tidak seluruhnya dia tanggalkan sambil membuka ponsel. Ternyata panggilan dari Renata, Arga pun memilih mengabaikannya termasuk tidak membalas pesan yang mengatakan Renata akan menemuinya.


Arga menoleh, “Tunggulah dulu di sini, kita akan pulang bersama.”


“Aku nggak nyaman, mau mandi lagi pula kelamaan di sini yang ada Pak Arga malah messum terus.”


Arga terkekeh mendengar ucapan Karin, berjalan menghampiri istrinya. “Ayo, aku antar kamu sampai taksi.” Arga merapikan rambut Karin yang tergerai agar menutupi kissmark yang dibuatnya dan sepertinya Karin tidak menyadari akan hal itu.


Saat berjalan keluar dari ruangan, Arga merangkul bahu Karin. Mereka melewati meja sekretaris Arga yang melirik sinis karena sudah bisa menduga apa yang Arga dan istrinya lakukan di dalam ruangan.


Setelah Arga dan Karin sudah tidak terlihat, seorang wanita baru saja keluar dari lift berjalan menuju ruangan Arga.

__ADS_1


“Pak Arga ada di dalam?”


“Barusan saja keluar dengan istrinya.”


Renata berdecak mendengar nama Karin. Bahkan merasa lebih emosi saat sekretaris Arga menceritakan kemungkinan yang dilakukan Arga dengan Karin tadi.


“Untuk apa coba kalau bukan karena mereka akan melakukan anu, katanya tidak mau diganggu. Aku juga mendengar pintu dikunci,” tutur sekretaris Arga.


“Diam kamu,” pekik Renata merasa cemburu dengan apa yang diceritakan oleh sekretaris Arga.


“Owh iya, aku ada informasi baru. Tapi yang satu ini kamu harus bayar aku mahal.”


Renata berdecak, karena perempuan di depannya selalu berhasil membuatnya mengeluarkan uang untuk informasi-informasi mengenai Arga. Tapi informasi tersebut berulang kali menguntungkannya dan berhasil membuat Renata selalu berada diantara Arga dan Karin.


“Bicaralah,” titah Renata.


“Tidak, untuk yang satu ini sepertinya bisa menjadi senjata dan modal untuk kamu memisahkan mereka. Jadi kita sepakati dulu jumlah yang bisa aku terima.”


Setelah bernegosiasi jumlah rupiah barter dengan informasi, Renata mendengarkan apa saja yang disampaikan oleh sekretaris Arga.


Renata terkekeh setelah mendengar informasi tersebut. “Arga, Arga … ternyata kamu menikah hanya menghindariku. Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan untukku,” seru Renata.


\=\=\=\=\=\=


Hai, hai Hai .... Sambil tunggu karin dan arga update, yuk mampir ke karya teman aku, ceritanya menarik lohhhh

__ADS_1



__ADS_2