Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Ada Apa Ini?


__ADS_3

"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Arga dengan wajahnya terlihat khawatir. 


Dokter tersebut sedang menuliskan sesuatu pada lembaran status pasien yang kemudian diserahkan pada perawat di sampingnya. Sang dokter sempat melirik sekilas pada Arga. 


"Pak ...." 


"Arga." 


"Pak Arga, bapak tahu istrinya sedang hamil?" 


Arga menghela nafasnya. "Tahu, Dok." 


Arga kemudian menceritakan sekilas mengenai dirinya dalam pengaruh obat lalu melampiaskan pada Karin. 


"Jadi, bagaimana kondisi istri saya dok?" 


"Beruntung pendarahannya tidak banyak dan sudah berhenti, tapi belum boleh pulang. Akan kami pantau terus dan sementara tidak boleh turun dari bed. Semoga usaha kita bisa mempertahankan kehamilan istri Bapak. Pasien akan di USG lagi, besok.” 


Arga belum bisa bernafas lega dengan kondisi Karin. Setelah mengurus kamar rawat inap untuk Karin, dia menghubungi Bunda dan Mama Karin. 


Ayah Arga yang memang masih berada di Jogja menemui Arga di Rumah Sakit untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai kejadian sebenarnya. 


"Kamu benar tidak ada hubungan dengan Naina?" 


"Tidak ada Yah, aku pun heran mengapa dia ikut hadir di sini. Seharusnya masalah di lapangan bukan urusannya lagi." 


"Maxton sudah tidak profesional, jadi kita harus ultimatum mereka, kalau perlu kita hentikan kerjasama. Biar ini Ayah urus dengan pengacara. Kamu fokus pada kondisi Karin." 


Setelah kepergian Ayah Arga, Dio pun menemui Arga, menyampaikan permohonan maaf Maxton dan siap memberhentikan Naina. 


"Pihak hotel sudah memberikan bukti rekam CCTV, pihak Ibu Naina ingin bertemu. sepertinya mengusulkan kekeluargaan." 


"Jangan temukan aku dengan mereka. Aku hanya ingin fokus pada Karin." 


"Baik, Pak." 


"Kamu temui Ayah, terkait urusan Maxton," titah Arga sebelum Dio undur diri. 


Saat ini Karin sudah berada di kamar rawat, wanita itu masih belum membuka matanya. Informasi dari perawat sudah ada tindakan untuk menguatkan kandungan Karin. Beberapa kali mendapatkan suntikan penguat dan vitamin. 


"Kenapa istri saya belum bangun, Sus?" 


"Tadi sudah sadar, Pak. Kalau sekarang sepertinya tertidur. Kadang wanita yang hamil muda memang mudah mengantuk, apalagi Ibu Karin sedang dalam keadaan lelah,” jelas suster membuat Arga semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Arga melipir menjauh dari bed Karin untuk menghubungi Bunda Marisa, menanyakan kabar Alea. Bahkan sempat melakukan video call, Bunda Marisa menanyakan kondisi Karin yang dijawab Arga sejujurnya kalau kondisi kehamilannya masih dalam observasi.


Terlihat ada pergerakan dari ranjang, Arga segera mengakhiri panggilannya dan menghampiri Karin.


“Sayang, ini aku. Apa yang kamu rasakan?”


Karin yang baru saja terjaga memandang sekitar tempatnya berada. Dengan nuasa putih dan aroma obat-obatan tercium oleh hidungnya dia yakin saat ini berada di rumah sakit.


“Aku kenapa ada di sini?” tanya Karin lalu menoleh ke arah Arga.


“Maafkan aku, Karin. ini semua salahku, kalau saja aku mengizinkan kamu ikut mungkin tidak begini ceritanya. Aku bersyukur kamu datang tepat pada waktunya,” jelas Arga.


Karin berusaha mengingat apa yang terjadi dan ….


“Kemana si perempuan jal*ng itu?” tanya Karin berusaha untuk beranjak duduk.


“Sayang, jangan begini. Kamu tidak boleh bangun atau turun dari ranjang.”


“Kenapa? Aku kenapa?” tanya Karin.


Arga merebahkan kembali tubuh Karin lalu memeluknya, “Maafkan aku, sayang. Kalau ada sesuatu pada calon bayi kita itu karena ulahku.”


Karin mengingat kejadian setelah menyeret Naina, Arga terlihat berantakan dan bergair*h. Setelah itu, Arga menyentuh dan menyatukan diri bahkan cenderung kasar. Suaminya dalam pengaruh obat dan memang hanya Karin selaku istrinya yang memungkinkan arga menetralisir pengaruh obat tersebut. Tidak mungkin dia minta wanita lain membantu Arga memenuhi hasratnya.


“Jangan pikirkan hal itu dulu, sekarang apa yang kamu rasakan? Aku panggil dokter dulu.” Arga beranjak berdiri dan menekan tombol darurat.


Tidak lama kemudian perawat dan dokter pun datang, memeriksa kondisi Karin dan menanyakan keluhan yang dirasakan.


“Jangan turun dari ranjang, benar-benar harus bedrest sampai kita USG besok pagi,” ujar dokter.


...***...


Karin berada di ruang pemeriksaan untuk melakukan USG. Perawat sudah mengoleskan gel di bawah perut lalu dokter menggerakan alat untuk mengetahui kondisi di dalam kandungan Karin. Baik dokter, Karin dan Arga terlihat memandang layar dimana menampakkan kandungan Karin yang sebenarnya tidak dipahami kecuali oleh dokter.


“Sudah tidak terlihat ada pendarahan, detak jantungnya sudah terdengar ya,” ujar dokter ketika memutar volume untuk mendengarkan detak jantung calon bayi Arga dan Karin.


Tangan Karin menggenggam erat tangan Arga, keduanya berharap dan mengucap doa yang sama untuk kondisi kehamilan Karin. Dokter menghentikan proses pemeriksaaan dengan alat USG dan memberikan arahan kalau Karin masih harus di rawat dua hari ini. Kalaupun sudah diperbolehkan pulang, untuk sementara masih harus bedrest sampai waktu kontrol pasca perawatan.


“Vitamin dan penguat kandungannya dipastikan diminum ya Pak!”


“Baik, Dok.”


Karin dibawa kembali ke kamar perawatan. Arga benar-benar mendampingi dan mengurus Karin. Bahkan saat perawat ingin melap tubuh Karin, Arga mengambil alih dan melakukannya sendiri.

__ADS_1


“Sudah cukup, kebanyakan rasanya malah mual,” keluh Karin saat Arga menyuapinya makan.


“Sepuluh menit lagi kita minum obat dan vitamin,” ucap Arga sambil memberhatikan tetesan cairan infus. Khawatir jika terhenti dan akan mempengaruhi keadaan Karin.


“Sayang, kamu sendiri belum makan. Makan dulu dong.”


“Aku nggak mungkin tinggalkan kamu sendiri, nanti sajalah,” sahut Arga. Setelah perdebatan antara Arga dan Karin yang mana Arga tidak ingin meninggalkan Karin sedangkan Karin mengatakan tidak masalah hanya ditinggal beberapa menit.


Arga akhirnya mengalah dia pun meninggalkan kamar untuk ke kantin, memastikan tombol darurat dekat dengan Karin ketika dia membutuhkan sesuatu.


Setelah kepergian Arga, terdengar pintu diketuk dan dibuka. Karin menoleh dan masuklah seseorang yang menyapa Karin.


“Perkenalkan saya Alex,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan. Karin mengangkat tangan kanannya yang masih tertanam jarum infus.


“Owh iya, Maaf.”


“Anda siapa?” tanya Karin.


“Saya pengacara dan kehadiran saya di sini mewakili klien saya Ibu Naina. Jadi, saya pengacara keluarganya dan ….”


“Maaf, saya tidak ingin bertemu anda atau keluarga perempuan itu. Pergi dan jangan ganggu saya,” pekik Karin.


“Ibu Karin, bukannya saya tidak paham dengan kondisi Ibu tapi ada yang perlu diluruskan di sini,” jelas pria itu membuat Karin semakin geram karena ucapannya tidak di gubris.


“Memang ada yang harus diluruskan, yaitu anda yang tidak dengar perintah saya untuk keluar.” Karin menekan tombol darurat berkali-kali, karena tidak mungkin dia beranjak dari ranjang dan terjadi sesuatu dengan kandungannya.


“Tidak, Ibu tenang dan dengarkan dulu penjelasan saya.”


“Ibu Karin ada yang bisa dibantu?” tanya Suster yang baru saja tiba.


“Suster, usir orang ini. Dia mengganggu saya, sementara saya tidak ingin terima tamu selain suami saya.”


“Mari Pak, pasien tidak ingin ditemui.”


“Tunggu, Ibu Karin hanya sepuluh menit.”


“Pergi!”


“Bapak, anda harus keluar atau saya panggil keamanan.”


“Ada apa ini?” tanya Arga.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2