
“Kau dengar itu, pergilah!” titah Karin.
Renata malah semakin mendekati brankar, dengan tangan ditahan oleh Karin yang tidak ingin wanita itu kembali mengusik Arga yang baru saja siuman. Sudah cukup dirinya menjadi korban hasutan wanita itu. Apa yang Renata sampaikan pada Bunda Marisa benar-benar membuat Karin kesulitan sebelumnya.
“Aku bilang keluar!” pekik Karin. “Ingatan Arga sadar sepenuhnya kalau dia tidak menginginkan kehadiran kamu, jadi jangan berharap Arga terbangun dengan keadaan amnesia dan dia tidak ingat kalau sudah menikah bahkan hanya mengingat kamu sebagai wanitanya."
“Sa-yang,” panggil Arga dengan terbata. Karin bergegas menghampiri brankar.
“Pak Arga, aku di sini,” jawab Karin.
“Kamu keluar atau aku panggil security,” ancam Marisa pada Renata dan cukup berhasil. Renata menghentakkan kedua kakinya karena kesal lalu beranjak pergi.
Karin sudah duduk di kursi samping brankar dengan tangan menggenggam tangan Arga dan mengusap punggung tangan itu. Marisa pun ikut mendekat ke arah brankar.
“Jangan dipaksa Nak, istirahatlah. Wanita itu sudah pergi,” tutur Bunda Marisa.
Arga kembali memejamkan matanya, dia hanya berkata pelan seperlunya. Apa yang dokter sampaikan mengenai tidak memaksa pasien untuk berkomunikasi atau bergerak tentu saja diikuti oleh Marisa dan Karin karena tidak ingin Arga akan mengalami sesuatu yang berakibat fatal.
Karin masih setia menggenggam jemari tangan Arga sedangkan Marisa sudah duduk di sofa dan menghubungi suaminya menyampaikan kabar mengenai Arga.
“Sa-yang,” panggil Arga lagi.
“Iya, aku di sini.”
Arga menolehkan kepalanya lalu berusaha tersenyum. “Jangan khawatir ... aku baik-baik saja,” ujar Arga lirih. Karin hanya menganggukkan kepalanya, bagaimana bisa Arga mengatakan dirinya baik-baik saja kalau baru saja siuman setelah operasi.
“Jangan ... menangis,” titah Arga.
Karin kembali mengangguk sambil menggigit bibirnya menahan tangis. Kamu harus cepat membaik, aku akan berikan kabar baik untukmu, batin Karin.
Arga menghela nafasnya kemudian memejamkan kembali kedua matanya. Sepertinya berbicara membuatnya lelah, Karin pun tidak bereaksi agar tidak membuat Arga kembali bicara.
Karin tertidur dengan wajah menempel pada ranjang dimana Arga berbaring dan tangan masih menggenggam tangan Arga. Bunda sendiri memilih ke kantin untuk makan siang.
Karin terjaga saat perawat masuk untuk mengecek kondisi Arga. Sempat terhuyung karena pening yang kembali dia rasakan, lalu berpegangan pada brankar agar tubuhnya tidak tersungkur.
“Bagaimana sus?” tanya Karin.
“Semuanya normal, tapi sesuai arahan dokter jangan dipaksa banyak gerak dan bicara dulu ya. Sebelumnya Pak Arga operasi karena ada pendarahan dalam juga tulus rusuk yang cedera, jadi wajar kalau saat ini masih sakit ketika bicara atau menggerakan tubuhnya. Termasuk yang ini,” tunjuk suster pada lengan Arga yang satunya dimana masih terbalut perban.
__ADS_1
Karin mengerti karena Dokter sebelumnya sudah menyampaikan kalau tulang lengan Arga retak dan perban tersebut karena luka sobek di kulitnya.
“Mbaknya juga harus jaga kesehatan, wajahnya pucat atau mau saya antar ke UGD untuk pemeriksaan,” ajak suster.
“Owh, saya tidak apa-apa Sus.”
Rupanya apa yang disampaikan oleh perawat didengar dengan baik oleh Arga, termasuk ajakan ke UGD. Saat Karin kembali duduk di samping brankar, Arga membuka matanya dan menoleh.
“Pak Arga butuh sesuatu?” tanya Karin.
Arga memperhatikan wajah Karin dan mengernyitkan dahinya. “Kamu sakit?”
Karin menggelengkan kepalanya, dia ingin mengatakan aku sedang hamil tapi urung. Belum waktunya dia menyampaikan informasi tersebut.
“Aku baik-baik saja, Cuma akhir-akhir ini mudah mengantuk,” tutur Karin.
“Sudah makan?”
“Pak Arga tidak usah khawatir, aku akan makan. Sekarang belum berselera.”
“Makan atau kamu tunggu di rumah,” ancam Arga.
“Ih baru juga siuman udah nyebelin,” gumam Karin. Sepertinya Arga tidak bercanda, dia menatap Karin datar seakan mengatakan kalau ancamannya serius.
...***...
Kondisi Arga sudah semakin baik, dia sudah bisa bergerak dan turun untuk ke toilet. Sudah mulai bisa mengkonsumsi makanan yang agar berat. Bunda dan Karin bergantian menemani Arga di rumah sakit sesuai dengan perintah pasien karena tidak ingin semuanya jatuh sakit.
Menyadari kalau kembali normal beraktivitas seperti sebelumnya membutuhkan waktu yang agak lama dan panjang, Arga meminta Ayahnya menunjuk asisten untuk mengurus perusahaan dan Arga hanya memantau juga menerima laporan.
Sudah hampir dua minggu Arga berada di rumah sakit dan sudah mengajukan rawat jalan pada dokter. Keputusan itu menunggu dokter ortopedi sore ini.
Bruk.
Arga menoleh ke arah pintu, ternyata Karin yang baru saja datang. Bergantian dengan Marisa yang belum lama pulang. Karin langsung mendekat ke brankar dan berdecak melihat Arga dengan posisi agak duduk dengan mengatur bed-nya, tapi yang membuat Karin kesal adalah tablet di tangan Arga.
“Udah enakan nggak berhenti ngurusin urusan kantor,” ejek Karin yang meletakkan tasnya sembarang lalu berdiri di samping bedside cabinet dimana ada buah-buahan untuk Arga. Arga sendiri hanya tersenyum mendengar ejekan Karin sambil fokus pada tabletnya.
Tidak lama Arga menoleh ke arah Karin dengan dahi berkerut. Melihat Karin yang terlihat sangat menikmati melahap jeruk yang dikupas. Arga pikir Karin akan memberikan kepadanya tapi ternyata dia makan sendiri. Bahkan sudah buah kedua yang Karin lahap.
__ADS_1
“Aku pikir itu untukku?”
“Tadinya begitu, aku juga pengen. Bentar ya,” ujar Karin sambil menghabiskan bagiannya lalu kembali mengupas yang baru dan menyuapkan untuk Arga. Arga bergidik saat merasakan potongan jeruk di dalam mulutnya.
“Sayang, ini rasanya asam ... sudah cukup,” ujar Arga.
“Masa sih, enak kok. Aku aja habis dua,” sahut Karin lalu mencoba milik Arga dan terlihat biasa saja. Arga sempat heran karena karena memakan jeruk yang rasanya masam dengan biasa saja.
“Pak Arga ingin makan sesuatu?” tanya Karin.
“Tidak, sebentar lagi jadwal aku minum obat. Biasanya setelah itu aku mengantuk, kamu juga tidur ya kalau aku tertidur,” pinta Arga.
“Aku kesini bukan untuk tidur tapi menemani Pak Arga.”
Arga kembali fokus dengan tabletnya, merasa suasana hening Arga pun menoleh dan mencari keberadaan Karin. Benar saja, istrinya sudah berbaring di sofa padahal jelas-jelas tadi mengatakan tidak akan tidur tapi malah tidur lebih dulu.
Sore hari, ada visit dokter ortopedi dan diputuskan Arga sudah boleh pulang. Dengan jadwal kontrol dan banyak penjelasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Arga untuk sementara waktu.
Karin sempat menghubungi orangtua Arga bahwa mereka akan pulang sore ini. Merapikan barang Arga yang akan dibawa pulang, tidak banyak karena untuk pakaian Arga mengenakan piyama rumah sakit.
Saat ini Arga dan Karin sudah berada di mobil, dijemput oleh supir keluarga Arga.
“Pelan-pelan aja Pak,” ujar Karin.
Dalam perjalanan Arga bersandar dan memejamkan matanya. Guncangan mobil membuatnya tidak nyaman. Namun, Arga kemudian membuka matanya karena mencium aroma minyak angin. Karin terlihat mengoleskan minyak tersebut pada dahi dan lehernya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa, hanya mual,” jawab Karin. Lalu ... Karin menutup mulut dengan tangan karena merasa perutnya bergejolak.
“Karin, kamu sakit?”
Karin tidak menjawab, lebih memilih konsentrasi agar rasa mualnya mereda. Semakin kesini gejala kehamilannya semakin terasa hebat termasuk kehilangan selera makan.
“Karin ....”
“Aku baik-baik saja, ini bukan sakit tapi ... kabar baik.”
Arga mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Karin.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=