Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Tapi Aku Percaya


__ADS_3

“Hai princess,” sapa Arga yang baru saja tiba di rumah. Menciumi pipi Alea yang sedang digendong oleh Bunda Marisa.


“Arga, kamu dari luar. Bebersih dulu baru pegang Alea,” sergah Bunda.


“Kangen Bun, lucu banget dia.” Arga kemudian mencium pipi Marisa. “Bunda kapan datang?”


“Tadi siang, besok Bunda ikut Ayah lagi. Biar nggak kangen jadi kecini dulu main cama cucu oma nih,” tutur Marisa sambil menggoda Alea yang kemudian tergelak.


Arga pun menuju kamarnya, ada Karin yang baru keluar dari toilet.


“Sudah makan belum?” tanya Karin. Arga memilih memeluk istrinya dan menempelkan dahinya pada bahu Karin yang disambut dengan usapan di punggung Arga. “Mandi dulu deh, aku buatkan kopi.”


“Hm, aku sudah makan tadi bareng Edo. Kalau Alea sudah tidur, ada yang ingin aku bicarakan,” tutur Arga.


“Oke.” Karin memandang punggung Arga. Dalam benaknya memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh Arga, tampak seperti hal yang cukup serius.


Setelah menidurkan Alea dan Ibu mertuanya sudah pulang, Karin menemui Arga di ruang kerjanya. Kopi yang tadi dia buatkan sepertinya sudah habis.


“Sayang, kemarilah!” titah Arga saat Karin membuka pintu.


Karin pun menghampiri Arga dan berdiri di sampingnya. Melihat apa yang sedang dikerjakan, tanpa diduga Arga malah menarik tangan Karin membuatnya duduk miring di atas pangkuan. Karin reflek mengalungkan tangannya di leher Arga.


“Ada apa, aku jadi penasaran?” tanya Karin.


Arga menutup laptopnya lalu membelai rambut Karin. “Kamu tahu ‘kan Ayah sedang sibuk di luar kota dengan perusahaannya?”


“Ya, aku tahu.”


“Aku akan banyak terlibat dengannya, bagaimana menurutmu?”


“Mau bagaimana lagi, kamu adalah putra satu-satunya Ayah dan Bunda. Tentu saja mereka ingin kamu meneruskan apa yang sudah mereka bangun,” jawab Karin dan ternyata sesuai dengan pendapat Arga.

__ADS_1


“Tentunya hal ini akan menyita waktuku, aku akan sering bepergian. Meninggalkanmu dan Alea,” ungkap Arga. “Aku khawatir sayang, ujian cinta kita akan hadir saat kita sedang berjauhan.”


Tangan Karin berpindah mengusap dada bidang suminya. Tanpa menatap Arga, Karin tahu kalau dia sedang berada di bawah tatapan pria itu. Bahkan hembusan nafas Arga sangat terasa di wajah Karin.


“Aku percaya kamu akan setia, bukan hanya untuk aku tapi juga Alea. Perlu kamu tahu, selama ini aku sudah menyerah. Menyerah hanya untuk mencintaimu,” ungkap Karin.


Arga memandang Karin dengan raut wajah datar, bukan karena tidak suka tapi karena bingung harus bagaimana menyikapi wanita yang saat ini benar-benar merajai hatinya ternyata sangat mencintainya juga.


Bibir Karin yang tepat berada di hadapannya terlihat begitu menggoda membuat Arga meraih tengkuk Karin dan menyambarnya. Awalnya hanya pagutan lembut tapi berubah menjadi panas. Bahkan tangan Arga mulai bergerilya menyentuh area yang sangat dia sukai dari tubuh Karin.


Karin terengah saat Arga mengurai pagutannya lalu mengangkat tubuh Karin membuat wanita itu memekik pelan. Ternyata Arga menuju sofa dan merebahkan Karin di sana.


“Sayang, ini ….”


“Sekali-kali main di sini, cari suasana baru.”


Kini tubuh keduanya sudah polos, Arga yang begitu semangat dengan penyatuan tubuh mereka sedangkan Karin hanya bisa pasrah menikmatinya. Decapan dan dessahan terdengar mengalun membuat Arga semakin semangat memacu tubuhnya, hingga keduanya melayang dan akhirnya mencapai pelepasan dari kenikmatan dunia.


“Sayang, kamu masih nikmat seperti biasanya.”


Arga pun mengalah dan melepaskan tubuhnya, membiarkan Karin kembali berpakaian sedangkan dia masih menikmati sisa-sisa kenikmatannya.


“Sudah cukup kerjanya, ayo ke kamar,” ajak Karin dan dijawab Arga dengan anggukkan kepala.


“Jangan tidur dulu aku belum selesai,” ujar Arga.


“Hahh, tapi aku sudah lelah dan ngantuk banget loh,” keluh Karin.


“Maksud aku jangan tidur dulu karena masih ada hal yang ingin aku bicarakan.”


“Owh,” jawab Karin sambil tersenyum. Karin menduga kalau Arga akan kembali mengajaknya bermain hal yang menyenangkan seperti tadi.

__ADS_1


Karin memastikan kalau Alea tidur dengan nyaman. Tidak lama Arga sudah berada di kamar, Karin pun mendorong box ranjang Alea ke kamarnya yang hanya terhubung dengan connecting door.


“Duduk sini,” pinta Arga yang sudah bersandar pada headboard. Setelah memeriksa kelambu ranjang Alea sudah tertutup rapi Karin menaiki ranjang dan duduk di samping Arga.


“Ini tentang perusahaan, Dio akan banyak handle urusanku dan kami akan rekrut sekretaris baru. Kamu nggak masalah ‘kan kalau yang direkrut perempuan?”


“Hm, nggak apa-apa. Asal kamu nggak aneh-aneh,” jawab Karin. “Maksud aku jangan berikan celah untuk perempuan lain berpikir kamu menyukainya atau memberi harapan.”


“Tidak akan sayang, Dio yang akan berinteraksi langsung dengannya. Terkadang dibutuhkan sentuhan wanita untuk pekerjaan tertentu,” ungkap Arga.


“Hm.”


...***...


“Sudah siap semua?” tanya Arga.


“Sudah.”


Arga memastikan kembali koper dan bawaan miliknya, Karin juga Alea. Alea sedang digendong oleh pengasuhnya. Mereka akan bertolak ke Jogja untuk menghadiri perayaan perusahaan Ayah Arga. Dio pun ikut serta dan sudah lebih dulu berangkat.


Keluarga Arga diantar oleh supir menuju bandara. Tiba di jogja sudah dijemput oleh bawahan Ayahnya, langsung menuju hotel di mana mereka akan menginap. Bunda Marisa menyambut kedatangan cucunya di lobby hotel.


“Kalian istirahat di Kamar ya, aku langsung temui Ayah.” Karin menerima kunci kamarnya termasuk kamar pengasuhnya. Sedangkan Arga sudah meninggalkan hotel bersama Dio.


“Nanti malam cucu Oma sama suster aja, besok baru kita main keliling kota ya,” tutur Oma seakan Alea bisa mengerti dengan apa yang disampaikan.


“Acaranya nggak lama ‘kan Bun?”


“Hm, standar acara perayaan perusahaan. Kenapa?”


“Nggak apa, hanya khawatir Alea rewel di kamar barunya.”

__ADS_1


“Nanti kalau rewel, Oma yang akan temani. Pokoknya malam ini kamu dampingi Arga. Laki-laki semakin dewasa semakin matang, apalagi sukses sudah pasti sangat menarik di mata perempuan.”


“Iya Bun, tapi aku percaya Papinya Alea.”


__ADS_2