Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Aku Rindu Kamu


__ADS_3

Mobil yang menjemput Karin dan Arga sudah tiba di rumah. Karin membantu Arga turun dan mendorong kursi roda yang diduduki Arga. Kedua orang tua Arga menyambut kedatangan Arga dan mengantarkan ke salah satu kamar tamu yang ada di lantai bawah.


Tidak mungkin Arga harus menaiki anak tangga dengan kondisinya sekarang. Karin pun tidak masalah dengan hal itu, beberapa barang dan pakaian sudah diturunkan ke kamar tersebut. Arga sudah kembali berbaring di ranjang, meluruskan tubuhnya. Duduk di mobil selama perjalanan cukup membuatnya lelah.


“Kalian istirahatlah,” titah Ayah Arga.


Karin sedang berada di toilet mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Kembali dilanda rasa mual dan akhirnya harus mengeluarkan isi perutnya. Arga yang mendengar suara seperti orang yang muntah-muntah pun memanggil Karin tanpa beranjak dari posisinya.


“Karin, kamu baik-baik saja?”


Karin segera berkumur dan mencuci wajahnya.


“Aku baik-baik saja,” jawab Karin sambil berjalan mendekat ke ranjang dan ikut merebah di samping Arga. “Aku boleh berbaring di sini, aku janji tidak akan memeluk.” Arga hanya mengangguk pelan. Mengerti maksud Karin karena tidak ingin menyakiti Arga yang tubuhnya masih belum bisa mendapatkan sentuhan berlebihan.


“Kamu muntah-muntah dan di mobil kamu terlihat menahan mual. Are you okay?” tanya Arga. Tangannya bergerak meraih jemari tangan Karin. Sebenarnya Arga sangat merindukan Karin, dia ingin sekali memeluk dan memangku Karin seperti yang biasa dia lakukan.


Saat dia tidak sadarkan diri, Karin pasti sangat khawatir. Apalagi saat Arga membuka matanya di sambut dengan pekikan antara Bunda dan Renata yang memojokkan Karin.


“I’m okay,” jawab Karin dengan suara parau.


“Karin, aku tahu ada sesuatu. Tolong jangan buat aku khawatir,” ujar Arga semakin mengeratkan genggaman tangannya. Posisi keduanya masih berbaring bersisian hanya tangan yang saling menggenggam.


“Aku nggak tahu saat ini waktu yang tepat atau tidak untuk menyampaikan sebuah kabar.” Karin pun beranjak duduk menghadap Arga yang masih berbaring menatapnya.


“Kabar apa, sayang? Katakan, jangan buat aku khawatir.”


“A-aku hamil,” ujar Karin dengan terbata dan lirih.

__ADS_1


Arga meyakinan kembali apa yang barusan dia dengar. “Hamil, kamu hamil?” tanya Arga meyakinkan diri. Karin menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.


Di luar dugaan Karin, Arga berucap syukur mendengar kehamilannya.


“Terima kasih, sayang. Kemarilah,” pinta Arga.


Karin bergeming dia menolak titah Arga yang ingin memeluknya, khawatir akan membuat Arga kesakitan.


“Sayang, kemarilah. Aku ingin memelukmu,” pinta Arga lagi.


“Tapi ....”


“Ayolah.”


Karin pun mendekat dan memeluk Arga tanpa menekan tubuhnya di atas tubuh Arga.


“Sayang, maafkan aku karena kamu melewatinya sendiri. Terima kasih ya, kamu harus jaga kesehatanmu. Dia bukti kalau kita benar-benar saling mencintai dan apa yang dikatakan Renata bukan sebuah kebenaran,” ungkap Arga.


“Kamu ingin makan sesuatu? Mintalah pada Bibi, barusan kamu muntah pasti perutmu kosong lagi.”


“Aku ngantuk bukan lapar,” sahut Karin lalu kembali merebah dengan posisi berbaring miring menghadap Arga.


...***...


Keluarga Arga sudah mengetahui kondisi Karin yang sedang hamil dan tentu saja ikut gembira. Mama Karin pun beberapa kali mengunjungi rumah Arga karena mendengar Arga masih dalam perawatan dan Karin yang mengalami mual muntah parah.


Bunda yang selalu mendampingi Arga kontrol karena kondisi Karin tidak memungkinkan untuk menemani ke Rumah Sakit. Beberapa kali kontrol dan terapi tentu saja kondisi Arga sudah lebih baik. Dia tidak memerlukan lagi kursi roda dan sudah bisa berjalan sendiri tanpa di papah.

__ADS_1


Seperti saat ini dia baru saja pulang dari Rumah sakit memastikan kondisi rusuk dan tulang lengannya dan hasilnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


“Makan dulu Ga baru istirahat,” titah Bunda saat mereka menginjakan kaki di rumah.


“Hm, aku mau lihat Karin dulu.”


Arga membuka pintu kamar dengan pelan. Karin sepertinya sedang tertidur karena tidak menyadari kedatangan Arga yang sudah duduk di samping Karin. Menatap wajah dan bibir pucat Karin lalu mengusap perut Karin yang masih rata. Usia kandungannya baru memasuki dua belas minggu dan belum terlihat membuncit. Berat badannya sendiri belum ada kenaikan yang berarti hanya kedua dadanya yang terlihat lebih berisi.


Arga sedikit menunduk tepat di depan perut Karin lalu kembali mengusapnya pelan.


“Baby, jangan menyusahkan Mami-mu ya. Bagaimana dia bisa sehat kalau terus menerus muntah, bahkan Papi tidak bisa menyentuhnya.”


Karin bergumam mendengar Arga bicara dengan perutnya. Tidak lama kemudian Karin pun terjaga.


“Pak Arga sudah pulang?” tanya Karin sambil berusaha untuk duduk.


“Hey, berbaringlah.”


“Bagaimana hasilnya?” tanya Karin yang sudah duduk berhadapan dengan Arga.


“Bagus, bahkan aku sudah boleh berolahraga.”


“Olahraga? Apa nggak beresiko?”


“Tentu saja tidak, kalau olahraganya bersama kamu.”


Karin hanya mencebik mendengar candaan Arga dan maksud arah pembicaraan mereka. Arga meraih tubuh Karin dan memeluknya erat.

__ADS_1


“Aku rindu kamu Karin, rindu sekali.”


 


__ADS_2