Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Lanjut Kerjasama


__ADS_3

“Belum siap juga?” tanya Karin yang melihat suaminya masih asyik bermain bersama putri mereka di ranjang.


“Nanti dulu sayang, princess masih ajak bermain,” jawab Arga sambil menciumi perut Alea. Saat ini Alea sudah berumur lima bulan, terlihat sangat menggemaskan dengan kedua pipi yang sangat gembil dan mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Arga kembali menggoda Alea dengan menciumi pipinya, membuat bocah itu tergelak.


“Kamu makin lucu princess, lihat Mami iri karena nggak diajak bermain.”


Karin keluar dari walk in closet membawa setelan yang tadi sudah dia siapkan untuk suaminya. “Papi, ini pakaiannya. Nanti terlambat, ayo cepat ganti.”


Arga masih asyik dengan Alea dan mengabaikan Karin yang berada di toilet, saat wanita itu keluar dari toilet dan melihat Arga masih dengan pakaian rumahan tentu saja membuat emosinya muncul.


“Papiiii,” teriak Karin.


“Hah, iya sayang. Sebentar lagi, princess aku masih ajak main.”


“Cepat ganti, nanti telat. Aku nggak mau ya dihubungi lagi oleh asisten kamu karena kamu lupa atau telat dengan janji temu klien.”


Arga pun beranjak dari ranjangnya, meninggalkan Alea yang asyik menggerakan kaki dan tangannya. Dia sudah mandi pagi sekali setelah bangun. Mengganti pakaian dengan setelan kerja, termasuk menyemprotkan minyak wangi dan cream rambut membuat penampilan semakin sempurna. 


Menghampiri Karin yang sedang melipat selimut lalu memeluknya dari belakang. “Kenapa sih, istriku ini marah-marah terus?” tanya Arga sambil menciumi pipi Karin.


“Aku bukan marah tapi mengamankan semuanya. Di kantor kamu aman, di rumah juga nyaman,” sahut Karin.


“Tenang saja sayang, aku bisa membagi waktu kok. Kalian sudah menjadi bagian dari hidupku, jadi wajar kalau aku ingin berlama dengan kalian. Ah, sepertinya istriku ini butuh waktu lebih untuk berduaan denganku. Bagaimana kalau kita rencanakan honeymoon yang sempat tertunda?”


“Sudah ada Alea, masa mau ditinggal.”


“Bisa kita titip Bunda atau Mama, mereka akan senang menerimanya. Atau bisa kita ajak sekalian,” usul Arga lagi.


“Nanti deh kita bicarakan lagi.” Karin melepaskan tangan Arga yang memeluknya. “Sekarang. Kamu fokus cari rezeki demi anak dan istrimu ini.”


“Siap, cinta.”


Karin menggendong Alea mengantarkan Arga sampai ke beranda rumah. Arga sempat mencium kedua pipi Aela juga kening Karin.


“Kamu jangan rewel dan buat Mami capek ya, nanti malam Papi mau begadang dengan Mamimu.”

__ADS_1


“Jangan bicara yang aneh-aneh sama anak kecil.” Karin melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai Arga sudah melaju.


Arga sudah berada di ruang kerjanya, Dio asisten yang ikut bekerja sejak Arga mengalami kecelakaan mengingatkan jadwal untuk hari ini. Arga sendiri hanya menganggukkan kepalanya, sambil fokus pada berkas yang ada di atas meja.


“Dio, sepertinya kita harus cari sekretaris yang bisa mengurai pekerjaanmu. Aku akan sering ke luar kota mengurus usaha Ayah dan selama aku di luar kamu yang bertanggung jawab di sini.”


“Oke, aku akan hubungi HRD untuk bicarakan masalah ini. Kita akan rekrut perempuan atau ….”


“Baiknya bagaimana? Toh nanti akan banyak berinteraksi dengan kamu.”


“Hm, kalau perempuan apa Ibu setuju?”


“Ibu?”


“Iya, istri Pak Arga. Beliau pernah menyampaikan kalau merekrut tim untuk Pak Arga baiknya laki-laki.”


Arga terkekeh mendengar informasi bahwa Karin mensyaratkan hal seperti itu. Tidak marah karena Arga tahu Karin menyampaikan itu karena ingin melindungi Arga dari para ulat bulu.


“Tidak masalah, rekrutlah perempuan jika memang kualifikasinya baik. Nanti aku yang akan bicara dengan istriku.”


“Oke. Aku akan langsung kroscek.”


...***...


Arga dan Dio sudah berada di tempat pertemuan dengan perwakilan PT. Maxton. Dimana perusahaan tersebut akan menjadi rekanan untuk bidang usaha baru yang akan dijalankan.


Arga ditemani Dio dan ternyata pihak dari rekanannya adalah wanita. Dua orang wanita, yang bisa ditebak kalau salah satunya adalah asisten sama seperti Arga yang didampingi oleh Dio.


“Selamat siang, Pak Arga saya Nania.”


Arga menyambut jabat tangan Nania. Setelah saling mengenalkan diri, Arga dan pihak rekanan yang diwakili oleh Nania fokus membahas rencana kerja sama mereka. Hanya terhenti sekilas karena pelayan membawakan pesanan mereka.


“Saya rasa pengajuan dari kami sangat jelas dan menguntungkan kedua belah pihak. Sudah kami perhitungkan dengan kondisi keuangan dan perhitungan bunga bank. Apa ada hal lain yang membuat Pak Arga masih meragukan kerja sama ini?”


“Hm, bukan begitu Bu Nania ….”

__ADS_1


“Nania saja,” sela wanita itu.


Arga sempat terdiam mendengar rekanannya ingin dipanggil dengan sebutan namanya langsung. Baginya agak kurang etis dan tidak profesional kalau dalam urusan pekerjaan menyebut nama.


“Agar lebih akrab, panggil saja Nania.”


“Ha ha, sepertinya saya kurang terbiasa memanggil nama.”


“Harus dibiasakan dong. Kita akan jadi rekanan, jadi sebaiknya tidak perlu sungkan.”


“Oke. Sebenarnya kami bukan menolak, saya sudah mendengar penjelasan langsung dari draft yang kalian ajukan. Tapi keputusan tidak bisa saya sampaikan sekarang. Saya akan hubungi segera, karena ada hal mendasar yang perlu saya pertimbangkan bersama dengan bagian lain,” jelas Arga.


Nania mengangguk tanda mengerti, lalu mengulas senyum. Dio mempersilahkan Arga dan Nania untuk menikmati pesanan mereka, pertemuan yang diadakan sekaligus makan siang. Nania benar-benar mengakrabkan dirinya yang membuat Arga dan Dio tidak nyaman.


Posisinya di PT Maxton adalah direktur operasional dan terlihat seumuran dengan Arga. Tapi dari sikap wanita itu, Arga bisa menilai kalau Nania adalah wanita single.


“Pak Arga, kita bisa bicarakan kembali hal ini di tempat yang lebih privat atau terserah Pak Arga yang pilih tempat.”


Dio terdiam mendengar tawaran Nania, karena terdengar ambigu antara mengakrabkan diri dan menawarkan diri. Sepertinya wanita itu memang terbiasa melobi kerjasama dengan kegiatan entertain dan Dio tahu atasannya bukan laki-laki yang mudah terpikat dan tergoda dengan penawaran Nania.


“Hm, nanti kami sampaikan kalau memang butuh tempat atau waktu khusus untuk membicarakan kembali hal ini.”


“Kami tunggu ya.”


Saat pertemuan berakhir, Arga dan rekanannya berpisah di depan resto. Nania kembali menjabat tangan Arga, bahkan saat ini cukup lama dia menggenggamnya. Arga tidak enak menarik paksa tangannya dan saat ini Nania mendekatkan wajahnya ke wajah Arga.


“Saya tunggu kabar baiknya ya,” bisik Nania. Bahkan sengaja menghembuskan nafasnya di telinga Arga.


Arga hanya tersenyum dan bergegas menuju mobilnya.


“Gila, agresif banget sih," keluh Arga.


“Kayaknya dia memang dimanfaatkan oleh perusahaan untuk melobi deh Pak. Cara merayunya profesional.”


Arga berdecak mendengar pendapat Dio.

__ADS_1


“Kira-kira kita akan lanjut kerjasama atau tidak?”


__ADS_2