Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Makin Mesra


__ADS_3

Arga segera mengurai pelukan Naina. Benar-benar tidak menyangka kalau wanita dihadapannya ini sangat agresif dan dia tidak menyukainya.


“Ibu Naina, sepertinya ….”


“Naina saja, buatlah dirimu nyaman.”


Untuk apa aku harus nyaman denganmu, batin Arga.


Arga tidak sempat menjawab pernyataan Naina, karena tatapan saat ini mengarah pada seorang wanita yang sedang berdiri terpaku tidak jauh dari tempatnya berada.


“Karin,” ucap Arga.


Naina pun menoleh ke arah tatapan Arga, melihat wanita yang pernah dikenalkan kepadanya tampak menatap tajam ke arah mereka. Entah mengapa Naina memiliki ide cemerlang untuk keadaannya saat ini.


Karin berjalan menghampiri Arga. “Sudah selesai, sayang?” tanyanya dengan wajah tersenyum.


Arga mengangguk pelan, Karin meraih lengan Arga lalu memeluknya kemudian menatap Naina.


“Selama sore Karin,” sapa Naina tanpa rasa bersalah.


“Sore,” jawab Karin. “Ayo kita pulang, Bunda kasih kita kesempatan untuk berkencan,” info Karin lalu kembali menatap Naina.


“Lain kali bersikaplah profesional untuk menahan diri, apalagi ini tempat umum,” tutur Karin pada Naina. Diluar dugaan wanita si keong racun malah terkekeh.


“Seharusnya yang bersikap profesional itu kamu, berani menegur rekan kerja suamimu. Aku rekanan bisnisnya loh,” seloroh Naina dengan Bangga.


“Ibu Naina,” tegur Arga.


“Justru karena anda rekan bisnis suami saya, seharusnya anda tidak peluk Arga sembarangan. Atau memang sudah biasa memberikan pelukan pada rekan bisnis anda?”


“Sayang, ayo kita pulang,” ajak Arga karena sudah berakhirnya jam kerja, tidak lama lagi para pegawai akan segera turun ke lobby untuk pulang.


Arga pun mengajak Karin pulang, keduanya berjalan masih dengan tangan saling menggenggam. Bahkan Karin menyabarkan hatinya untuk tidak emosi dan bicara kasar saat melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain.


“Sayang, aku ….”


“Langsung pulang dan fokuslah pada kemudi,” titah Karin.


Arga yang merasa cemas karena kemarahan Karin, berkali-kali menoleh ke arah wanita yang duduk disampingnya. Saat tiba di rumah, Arga segera mengejar Karin yang masih terlihat murung.


“Aku tahu kamu tidak ada perasaan pada wanita itu, tapi beri aku waktu untuk sendiri,” tutur Karin.


“Karin, nggak begitu … sayang.”


Karin bergegas ke kamarnya, kebetulan Alea sedang tidak ada di bawa oleh Bunda Marisa. Segera masuk ke kamar, diikuti oleh Arga.


“Sungguh sayang, aku tadi nggak bisa menghindar karena kejadiannya cepat sekali. Nggak mungkin aku langsung dorong Naina.”


“Oh sekarang manggilnya Naina. Sudah nggak sungkan lagi ya.”

__ADS_1


“Ck, Karin … aku nggak nyaman disudutkan begini.”


“Aku tidak menyudutkan kamu, justru aku yang nggak nyaman melihat kamu disentuh orang lain. Ah sudahlah, yang jelas aku percaya sama kamu.”


Karin memilih menuju walk in closet mengganti pakaiannya lalu menuju ranjang dan merebahkan diri. Meninggalkan Arga yang masih berdiri terpaku memandang Karin yang merajuk.


“Kalau percaya, seharusnya kamu nggak begini.”


Karin menarik selimutnya, enggan mendengar ocehan Arga yang akan membuatnya semakin kesal. Dia bukan marah tapi cemburu, wanita mana yang bisa terima kalau suaminya disentuh oleh wanita lain walaupun dalam konteks pertemanan, kedukaan dan segala macam pembenaran lainnya. Apalagi ini jelas si wanita sangat agresif.


Arga mengalah dan menuju toilet, membersihkan diri dan keluar hanya mengenakan handuk melilit di pinggangnya. Mendekati ranjang dan melihat posisi Karin masih bersembunyi dalam selimut dengan berbaring miring.


“Sayang,” panggil Arga, duduk di tepi ranjang di hadapan Karin. Mengusap kepala Karin dan merasa bersalah melihat wajah istrinya yang basah. Arga menghela pelan kemudian ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya.


“Maaf sayang.”


Karin menangis dalam pelukan Arga, dengan usapan di punggungnya. Entah berapa lama dalam posisi tersebut, Karin akhirnya menengadah.


“Kenapa?”


“Yang di bawah kok keras.”


“Hahhh.”


...***...


“Iya,” jawab Karin lalu melambaikan tangannya.


Kejadian saat Naina memeluknya membuat keduanya semakin menjaga diri dan hati masing-masing. Arga yang lebih hati-hati pada wanita di sekitarnya, Karin yang semakin percaya pada Arga.


Apa yang disampaikan oleh Bunda Marisa ada benarnya, tidak menutup kemungkinan akan ada wanita yang menyukai Arga entah itu karena fisiknya atau jabatannya. Karin hanya perlu lebih memantaskan diri dan membuat Arga merasa hanya Karin satu-satunya.


Sesekali Karin akan pergi ke kantor untuk membawakan makan siang atau menemui Arga di waktu pulang hanya untuk pergi ke tempat-tempat yang mungkin bisa makin mengakrabkan diri.


Seperti hari ini, Karin membawakan makan siang untuk Arga sedangkan Alea di rumah bersama pengasuhnya. Umur Alea sudah hampir satu tahun dan sudah mulai berjalan. Diantar oleh supir, Karin akhirnya tiba di kantor Arga.


“Selama siang Nyonya Arga,” sapa Dio yang berada di meja sekretaris.


Karin tersenyum, “Siang, Pak Arganya ada ‘kan?”


“Ada, anda sudah ditunggu. Mari.” Dio membuka pintu ruang kerja Arga dan mempersilahkan Karin masuk.


“Hai, sayang. Sudah sampai,” sapa Arga yang sedang fokus pada layar komputernya. Karin meletakan goodybag yang dia bawa lalu menghampiri Arga.


“Masih sibuk?”


“Hm, tanggung nih.”


Arga menarik tangan Karin agak duduk di pangkuannya. “Hubby, jangan begini. Nanti ada yang masuk,” ujar Karin.

__ADS_1


“Sebentar saja.” Arga membenamkan wajahnya di dada Karin. “Kamu tuh moodbooster aku, sayang.”


Karin mengajak Arga duduk di sofa, membuka kotak bekalnya dan menyodorkan ke hadapan Arga yang sudah menggulung lengan kemejanya.


“Hm, kayaknya enak nih,” seru Arga.


“Habiskan ya.”


“Sayang, ada Ibu Naina sedang rapat dengan Dio dan tim operasional,” ujar Arga.


“Loh, kamu kok nggak ikut rapat.”


“Ya nggak lah, ini kan sudah bahas teknis. Moga aja dia tidak kesini dan ganggu kesenangan kita,” ujar Arga yang mulai menikmati makan siangnya. “Kamu nggak makan juga?” tanya Arga yang melihat Karin tidak ikut makan seperti biasanya.


“Nggak ah, lagi nggak berselera. Aroma masakannya tuh kuat banget, tadi pagi juga aku makan sedikit. Bik Ela kayaknya pakai resep baru atau gimana kali,” keluh Karin.


Arga menatap Karin yang sedang asyik dengan ponselnya, menurut lidahnya masakan Bik Ela asisten rumah tangga mereka tidak ada yang berbeda selain memang nikmat.


“Aku suapin ya.”


“Nggak mau,” jawab Karin menjauhkan tubuhnya.


“Tapi kamu belum makan.”


“Nanti aja, kalau dipaksa nanti mual. Aku ke pantry ya, mau buat teh hangat,” ujar Karin.


“Biar aku minta OB saja.”


“Jangan, jam istirahat begini mereka pasti sibuk.” Karin pun beranjak menuju pantry.


Arga menatap Karin yang sudah menghilang di balik pintu. “Aneh,” ucapnya. Saat Arga kembali menikmati makanannya, pintu kembali dibuka. “Sudah ….”


“Selamat siang Arga, wah sedang makan siang ya. Padahal aku ingin ajak makan diluar,” ujar Naina langsung masuk dan duduk di samping Arga.


“Sekarang aku lebih banyak makan siang yang diantar oleh Karin,” jawab Arga. “Bukankah Dio menyiapkan makan siang untuk peserta rapat?”


“Hm, tapi aku mau ajak kamu,” jawab Naina.


Karin pun masuk membawa gelas berisi teh hangatnya. Sudah melihat Naina lewat saat dia berada di pantry bahkan mendengar apa yang wanita itu katakan sejak masuk ke dalam ruang kerja Arga.


“Sayang, kemarilah. Kamu belum makan, ayo aku suapi,” ajak Arga.


Naina mendengus melihat Arga dan Karin yang terlihat mesra.


“Oke, mungkin lain kali ya,” ujar Naina lalu meninggalkan ruang kerja Arga.


Setelah memastikan Naina keluar, Arga lalu menghubungi Dio. “Kenapa keong racun bisa lepas ke ruangan saya? Aku nggak mau ternak keong,” tutur Arga.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2