
“Wow, kalau boleh milih. Aku ingin di kamar aja dari pada ajak kamu keluar, “ ujar Arga saat menatap penampilan Karin.
“Aku nggak banget ya,” sahut Karin merasa tidak percaya diri dengan penampilannya. Lalu beranjak menuju cermin dan memastikan kembali kalau penampilannya sudah sempurna.
Arga memeluk Karin dari belakang dan menciumi bahu wanita yang sudah memberikannya keturunan. “Bukan nggak banget, tapi wow banget. Aku takut nanti kamu banyak dilirik oleh para pria.”
“Hm, gombal.”
“Aku serius, sayang.”
“Terus kita jadi pergi, nggak?”
Arga mengusap kasar wajahnya karena Karin berhasil menggodanya dengan mengalungkan tangan ke lehernya bahkan berhasil membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.
“Malam ini … setelah acara aku akan pastikan kamu akan mengeraang keenakan.”
Karin terkekeh lalu menurunkan tangannya dan memeluk lengan Arga. “Kita turun sekarang ya, nanti Ayah dan Bunda nunggu.”
“Ayo.”
Setelah memastikan Alea sudah aman bersama pengasuhnya, Arga dan Karin bergegas menuju ballroom tempat acara berlangsung. Keduanya tampak sangat memukau.
Arga yang rapi dengan setelan pestanya sedangkan Karin dengan dress one shoulders yang menjuntai sampai bawah lutut. Tidak terlalu seksi tapi tetap membuat penampilannya menjadi sempurna dengan polesan make up dan tatanan rambut yang diatur sendiri.
Dio menghampiri saat Arga memasuki ruangan dan mengarahkan menemui siapa saja yang harus disapa. Karin selalu mengulas senyum dan menjawab seperlunya ketika dikenalkan dengan para rekan bisnis Arga dan Ayahnya.
Karin saat ini bersama Marisa dengan para istri pebisnis yang hadir, sedangkan Arga dengan Ayahnya intens berkomunikasi dengan para undangan.
“PT. Maxton diundang juga, bahkan Ibu Naina ada disini,” ujar Dio lirih.
“Rekanan Ayah juga?”
“Betul.”
Arga menyadari betul, Ibu Naina sedang berjalan ke arahnya. Namun, Arga masih concern dengan percakapannya dengan rekan lainnya.
“Malam, Bapak-bapak,” sapa Nania.
“Malam Ibu Nania, wah ternyata anda hadir juga di sini,” seru Arga menyapa sewajarnya. Nania tersenyum sambil menjabat tangan Arga juga rekannya.
Untung saja Dio segera menyampaikan kalau acara akan segera dimulai, membuat Arga lega karena tidak perlu mencari alasan untuk menghindar dari wanita yang berada di dekatnya kini.
“Boleh saya temani?” usul Naina.
“Eh ….”
“Sayang.” Arga dan Naina menoleh. Karin menghampiri sambil tersenyum. “Ayo, sudah ditunggu Ayah.” Karin memeluk lengan Arga dan mengangguk pada Naina.
“Ah, Ibu Naina kenalkan ini Karin istri saya.”
Raut wajah Naina sempat berubah, sepertinya terkejut dengan yang dikatakan Arga. Tidak menyangka Arga sudah beristri dan terlihat begitu muda.
“Kami permisi.”
“Keong racun dari mana lagi,” bisik Karin setelah meninggalkan Naina.
“Keong racunnya udah kalah sama burung merak aku.”
__ADS_1
“Halah, gombal terus.”
“Ini asli bukan gombal.”
Karin dan Marisa tampak bangga menatap kedua pria yang sedang berada di depan, memberikan sambutan serta secara resmi menyampaikan sudah eksisnya perusahaan cabang. Dalam momen itu Ayah Arga juga menyampaikan dengan bangga bahwa Arga yang akan meneruskan perusahaan miliknya.
“Arga Sadewa,” ujar Ayah Arga sambil menepuk bahu Arga.
Para undangan riuh bertepuk tangan, begitu pula dengan Karin dan Marisa. Acara pun selesai, dilanjut dengan ramah tamah. Karin sedang berada di toilet sedangkan Arga sedang menerima ucapan selamat dari para undangan.
Hampir sebagian tamu undangan sudah pulang, Arga dan Dio berdiri di buffet. Arga yang terlihat haus sudah menghabiskan dua gelas orange juice.
“Istriku belum kembali?”
“Sepertinya antri, Pak.”
“Arga, ternyata anda luar biasa. Aku tidak menduga kalau kamu adalah putra Pak Sadewa,” puji Naina. “Perusahaan kami juga ada kerjasama dengan Pak Sadewa, jadi sudah tidak ada masalah dong kalau Maxton kembali kerjasama dengan Pak Arga.”
“Kita akan sampaikan di pertemuan lain ya, nanti Dio yang menghubungi Bu Naina.”
“Naina, panggil saja Naina.”
“Sayang, sudah selesai. Ayo, kasihan Alea.”
Arga merangkul pinggang Karin yang ternyata sudah berada di sampingnya. “Saya permisi, Bu Naina.”
Arga dan Karin sudah berada di lift. Arga menggenggam tangan Karin dan melihat raut wajah Karin dari pantulan dinding lift. Memastikan kalau istrinya tidak marah, cemburu buta atau berprasangka lain.
“Sayang ….”
“Aku nggak ada tertarik sedikitpun dengannya.”
“Masa, aku lihat dia ….”
“Lebih cantik kamu.”
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai dimana Arga dan Karin tuju, keduanya melangkah tidak mengulas lagi masalah ulat bulu yang terlihat atraktif.
“Sudah tidur ya?” tanya Karin pada pengasuh Alea.
“Sudah Bu.”
Karin ppun mempersilahkan pengasuh Alea kembali ke kamarnya. Arga langsung memeluk Karin dan membisikan kalimat cintanya.
“Aku sudah bilang, malam ini aku akan buat kamu mengeraang.”
“Ada Alea, nanti dia terbangun,” ujar Karin.
“Masih ada area lain,” sahut Arga sambil menaik turunkan kedua alisnya.
...***...
“Cucu oma, kita jalan-jalan yuk,” ujar Bunda Marisa yang sedang menggendong Alea.
Keluarga Sadewa sedang menikmati sarapannya, termasuk pengasuh Alea. Arga yang mendengar ide Bundanya langsung memiliki ide cerdas lainnya.
__ADS_1
“Serius Bun?”
“Apanya yang serius?” tanya Marisa.
Arga mengambil gelas dan meneguk isinya, setelah menelan apa yang sedang dia kunyah. “Alea mau diajak Bunda, kalau iya kebetulan sekali. Aku dan Karin perlu waktu berdua, jadi Alea aku titip ke Bunda dan suster.”
“Sayang,” pekik Karin setelah mendengar usulan Arga.
“Kalian mau nambah anak ya, boleh deh. biar Alea Bunda bawa, iya nggak Yah?” tanya Marisa pada suaminya.
“Hm, biarkan dia buat cucu yang banyak untuk kita,” seru Ayah Arga mendukung permintaan Marisa dan Arga.
“Sus, setelah ini bereskan perlengkapan Alea. Kita pindah hotel,” titah Bunda.
“Eh, jangan. Kami aja yang pindah, Alea tetap di sini," seru Arga.
Karin tidak percaya jika Arga bisa seserius itu, terang-terangan ingin mengajak Karin untuk menikmati honeymoon mereka yang tertunda.
Beberapa hari kemudian, bertempat di Jakarta. Arga dan keluarga sudah kembali dari Jogja. Karin kembali disibukkan dengan si kecil Alea. Arga semakin semangat beraktivitas setelah berhasil di charge khusus oleh Karin.
Saat ini Arga sudah berada di ruangannya bersama Dio, menyampaikan kalau sudah ada kandidat sekretaris dan sudah diputuskan oleh HRD yang mana yang akan diterima.
“Hm, kamu atur saja tugas dan yang lainnya,” ujar Arga sambil membubuhkan tanda tangan di beberapa berkas yang Dio sodorkan.
“Sore ini, saya jadwalkan dengan PT. Maxton. Kita akan sampaikan keputusan mengenai kerjasama,” ujar Dio.
“Dimana kamu putuskan pertemuannya?”
“Saya mengusulkan di tempat sebelumnya, tapi Bu Naina menolak. Dia menawarkan lokasi pilihannya.”
“Aku ragu, usulkan saja di sini.”
“Maksudnya di kantor kita, Pak?” tanya Dio memastikan keputusan Arga.
“Iya. Dari pada lokasi yang dia siapkan. Bagaimana kalau ternyata hotel, private room atau … saya nggak bisa membayangkan. Setelah ini, urusan akan banyak dengan kamu dan bagian operasional. Sebisa mungkin jangan ditemukan dengan aku,” titah Arga.
“Siap, Pak.”
Awalnya Naina menolak undangan Dio yang lokasinya di perusahaan Arga, tapi akhirnya dia setuju. Di sinilah mereka berada, perusahaan Arga tepatnya di salah satu ruang meeting. Dio sudah menyiapkan berkas kerja sama mereka. Bukan hanya Naina yang hadir, tapi jabatan yang berwenang menandatangani kerjasama tersebut.
Dio mengabadikan saat Arga dan pihak maxton saling membubuhkan tanda di nota kesepakatan. Saling berjabat tangan. Setelah berbasa-basa akhirnya acara pun berakhir, Naina dan timnya pamit undur diri.
Arga pun berniat pulang dan sudah berada di lobby.
“Arga,” panggil seseorang.
Arga pun menoleh, ternyata Naina yang memanggilnya.
“Terima kasih, kerjasama kita akhirnya terjalin. Aku harap kamu jangan sungkan lagi.”
Arga belum menjawab, Naina dengan gerak cepat memeluk Arga. Ternyata momen tersebut disaksikan oleh beberapa karyawan Arga yang berada di lobby termasuk Karin yang berdiri terpaku memandang adegan tersebut.
\=\=\=\=\=\=
Tenang saudara-saudara,, keong racun kalah sama burung merak 🤣🤣🤣
__ADS_1