
Karin menyimpan semua alat tes kehamilan yang membuktikan dirinya hamil ke dalam laci rak di dalam toilet. Bahagia juga sedih yang dia rasakan karena kenyataan di depan mata.
Akhirnya Karin memutuskan untuk ke Rumah sakit. Merasa sebagai seorang istri dia berhak menunggu dan menemani Arga.
Tentu saja Kehadiran Karin membuat Marisa marah, padahal saat ini hanya ada dia yang menemani Arga. Ayah Arga memilih mengurus perusahaan dan memantau perusahaan Arga. Sepertinya kedua orang itu berbagi tugas tanpa memperdulikan Karin.
"Aku bilang tidak usah kemari, tunggu saja di rumah."
"Tapi Pak Arga ...."
Karin dan Marisa berhenti berdebat karena dokter menghampiri mereka dan mengatakan Arga akan dipindah ke kamar rawat karena kondisi Arga sudah lebih baik, hanya menunggu Arga benar-benar sadar.
Karin mengucap syukur dengan mengusap pelan wajahnya. Berharap saat Arga sadar dan mengetahui kalau dirinya hamil akan menjadi obat yang cukup baik untuk proses penyembuhan Arga.
Brankar yang membawa Arga menuju kamar rawat inap didorong oleh dua orang perawat, Marisa mendampingi di samping brankar Arga, sedangkan Karin berjalan agak jauh di belakang karena memang perintah Marisa.
“Kami tinggal ya Bu, kalau butuh sesuatu tinggal tekan tombol ini,” jelas seorang perawat sebelum meninggalkan kamar perawatan Arga.
“Terima kasih suster.”
Kamar rawat inap yang dipilih untuk perawatan Arga adalah kamar terbaik di rumah sakit, ada sofa dan bed khusus keluarga penunggu pasien bahkan pantry dan meja makan di sudut ruangan. Karin menghela nafas lega, paling tidak dia bisa sedikit lebih nyaman saat menemani Arga.
Baik Marisa ataupun Karin, keduanya saling diam ketika menerima Arga. Karin menatap Arga dari jauh karena ada Marisa di samping Arga. Meskipun Karin merasakan tidak nyaman dengan tubuhnya efek dari kehamilan, tapi Karin tetap ingin mendampingi Arga.
“Kenapa? Tidak nyaman ada di sini, sana pulang. Aku tidak pernah minta kamu ada di sini,” teriak Bunda.
“Aku hanya ingin menemani suamiku,” sahut Karin.
“Halah, pura-pura. Kalian sudah banyak sandiwara selama ini.”
__ADS_1
Karin hanya menggelengkan kepalanya pelan, tidak mengerti apa yang dimaksud Marisa.
...***...
Sudah dua hari Arga berada di kamar rawat inap tapi belum ada tanda-tanda dia sudah sadar. Karin semalam pulang ke rumah, perintah Ayah Arga dan kembali lagi esok pagi karena terlihat kurang sehat.
Pagi harinya, Karin kembali ke rumah sakit dan terkejut saat tiba di kamar Arga ada Renata di sana.
“Nah, cocok,” pekik Marisa. “Yang satu sudah buat masa lalu Arga berantakan dan yang ini sama saja buruknya. Baiknya kalian pergi, jangan lagi memperlihatkan wajah kalian di depan Arga.”
“Aku tetap di sini Bun, aku istrinya Pak Arga,” sahut Karin lalu duduk di salah satu sofa mengabaikan tatapan sinis Renata ataupun ucapan kasar ibu mertuanya.
“Bunda masih menerima dia setelah tahu apa yang terjadi?”
“Tidak usah memprovokasi aku, walaupun informasi kamu benar adanya aku tidak akan bisa memaafkan kamu. Kalian sama saja,” tutur Marisa dengan lantang.
“Informasi? Informasi apa?” Karin berjalan menghampiri Marisa dan Renata.
“Jadi akhir-akhir ini sikap Bunda ke aku berubah karena kabar dari perempuan ini,” tunjuk Karin pada Renata, Marisa hanya diam dengan tuduhan Karin. “Aku dan Pak Arga benar-benar menjalani rumah tangga ini dengan baik, kami berusaha saling menerima termasuk menghindari pengganggu macam dia,” tunjuk Karin lagi pada Renata.
“Baiknya bunda jangan percaya dengan mulut perempuan ini, karena Pak Arga sendiri benci bukan masih ada rasa dengannya," ungkap Karin.
“Kamu ....”
“Hentikan!”
Karin, Renata dan Marisa menoleh ke arah suara.
“Pak Arga,” panggil Karin sambil menghampiri brankar dimana Arga terbaring, begitupun dengan Marisa.
__ADS_1
“Arga, apa yang kamu rasakan?” tanya Marisa.
Karin merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan respon Arga. Pria itu terlihat menahan sakit tapi tidak bisa menggerakkan tubuhnya, Karin pun menekan tombol darurat. Tidak lama perawat pun masuk ke dalam kamar Arga.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Sus, suami saya sudah sadar tapi ... tolong dicek kondisinya,” titah Karin
Perawat itu memanggil dokter kemudian meminta keluarga agar menjauh dari brankar karena pasien akan diperiksa dokter.
"Pasien sudah sadar, motoriknya sudah merespon. Mungkin hanya perlu penyesuaian karena beberapa hari ini berbaring, tapi jangan dipaksa untuk komunikasi atau bergerak," jelas dokter lalu meninggalkan kamar pasien.
"Re-na-ta," ucap Arga dengan terbata. Namanya disebut tentu saja membuat wanita itu merasa menang, bergegas dia mendekati Arga.
"Iya Arga, aku disini."
Wajah Karin mendadak muram mendengar Arga memanggil Renata, bahkan Marisa seakan tidak percaya jika Arga malah mengucapkan nama wanita yang sudah membuatnya menderita saat siuman.
"Per-gi," ujar Arga lagi.
"Apa, aku tidak dengar?"
"Pergi ... jangan ganggu istri dan Ibuku," ucap Arga lirih tapi masih bisa didengar.
"Kau dengar itu, pergilah!" titah Karin.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1