Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Sandiwara Tiada Henti


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, pak Hardian, Lediya, Jhon, Tjhin sudah berkumpul di ruang tamu.


"Nak Tjhin dan nak Jhon terimakasih sudah menyempatkan waktu datang kerumah ini, sebenarnya saya sungguh tak menyangka kalau nak Tjhin dan putri saya memutuskan untuk bersama",ucap pak Hardian.


"Nak Tjhin saya merestui kalian bukan karena ingin memenuhi persyaratan yang anda ajukan, supaya mendapatkan kontrak kerja sama dan Investasi dari perusahaan anda, untuk masalah itu saya bisa mencari cara lain, hanya saja putriku mengatakan kalau dia mencintai nak Tjhin dan ingin menikah dengan anda, dan jujur saya masih meragukan hal ini", ucap Hardian.


Tjhin hanya terdiam, lalu Lediya segera melingkar kan tanganya ke lengan Tjhin, dan meremas nya kuat-kuat.


"bilang kau mencintai ku cepetan",bisik Lediya.


"Ouch, kau mau mati ya!", bisik Tjhin kesakitan namun menahannya.


Tjhin pun berbalik meraih telapak tangan Lediya sembari berkata.


"Aku menyukai Diya juga ayah, aku mengajukan persyaratan itu karena belum bertemu dengan Diya, begitu aku melihat Diya pertama kali, sedikit demi sedikit aku mulai menyukai nya", jawab Tjhin sembari menguatkan remasannya di telapak tangan Diya.


"Aw.. aw...lepaskan, ouch", bisik Diya meringis dan sembari berusaha melepaskan telapak tangan Tjhin yang menggenggam nya.


"Ada apa dengan kalian berdua, kok wajah kalian seperti sedang kesa.... ", tanya Hardian namun terpotong.


Tjhin segera melepaskan genggaman nya.


"Rasakan", gumam Tjhin menyeringai.


"*H*ahaha, tidak apa-apa ayah, O ya ayah Diya ambil buah dulu ya", ucap Diya mengalihkan pembicaraan, lalu segera berdiri sembari sengaja menginjak jari kaki Tjhin,


"Ouch! Aw... aw".


Tjhin mengerang sakit sembari memegang jari kakinya yang terinjak, lalu menatap tajam Lediya.


"Ups, maaf sayang aku tak sengaja", ucap Diya.

__ADS_1


Lediya melangkah ke dapur meninggal kan Tjhin yang masih meringis kesakitan.


"Kamu gak kenapa-kenapa nak Tjhin?ceroboh sekali anak itu, maaf ya nak, coba saya lihat ", ucap pak Hardian cemas sembari beranjak dari sofanya menghampiri Tjhin.


"Gak apa-apa yah, cuma sedikit merah aja, nanti juga hilang", ucap Tjhin sembari memaksakan senyuman, karena kakinya masih terasa sakit.


Jhon yang melihat hal itu terkekeh-kekeh, dia tak menyangka seorang Tjhin bisa dikerjai abis-abisan dengan seorang wanita seperti Diya.


Melihat Asisten sekaligus temannya menertawainya, mata Tjhin melotot kearah Jhon sembari memperlihatkan kepalan tangan nya, Jhon pun segera berhenti tertawa, namun masih terpampang senyum diwajahnya.


"Nak Tjhin, saya dengar dari Diya, kemarin kamu sudah mempertemukan Diya dengan ke dua orang tua mu ya, bukankah itu terlalu cepat?", tanya Hardian sedikit curiga.


Tjhin melihat kecurigaan dimata pak Hardian, lalu Tjhin memutar otaknya, tentang apa yang harus dia katakan supaya pak Hardian tidak mencurigainya, lalu dia mengingat sesuatu, dan mulai berakting.


"Iya, aku tau ayah pasti mencurigaiku, maka dari itu maksud kedatanganku hari ini, ingin menjelaskan semuanya kepada anda, sebenarnya ayah dan ibu ku sudah lama menantikan aku untuk menikah, namun gadis yang aku pacari selama 5 tahun dan hendak ku lamar telah meninggal sebelum aku sempat melamar nya, dan aku tidak bisa mengatakan hal itu, karena ibuku memiliki sakit jantung, lalu....", ucap Tjhin memasang muka sedih.


"Lanjutkan lah nak ", ucap Hardian


"Bisakah ayah membantu ku, aku sangat ingin membahagiakan ayah dan ibuku, dan tidak ingin membuat mereka syok, terutama ibuku yang memiliki sakit jantung, saat mereka bertemu dengan Diya, mereka sangat menyukai nya, hanya saja mereka menyangka Diya itu gadis yang telah kupacari selama 5 tahun, maaf ayah aku belum bisa jujur dengan ke dua orang tuaku".


Yang dikatakan Tjhin tidak sepenuhnya kebohongan, salah satu alasan dia bukan hanya untuk balas dendam karena kematian Jeje, tapi juga untuk mewujudkan keinginan ayah ibunya, untuk melihat anak nya segera menikah.


-Tak kusangka ternyata Tjhin ini anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, aku tidak punya alasan lagi untuk meragukannya, apalagi Diya juga mencintainya. (batin pak Hardian).


"Baiklah nak Tjhin, saya percaya padamu, dan yakin kamu pasti bisa membahagiakan Diya putriku, bangunlah nak".ucap Hardian sembari mengangkat tubuh Tjhin untuk segera berdiri.


Tjhin memberi seringai miring, aktingnya benar-benar berhasil membodohi pak Hardian ayah Diya.


Diya melihat dan mendengar kan semua perkataan Tjhin dari kejauhan, Diya tercengang tak percaya.


"Daebak!!!, Pantas wajahmu seperti seorang aktor, aktingmupun tidak kalah dengan aktor utama drama-drama yang ku tonton", Gumam Diya,

__ADS_1


Ia segera melangkah ke ruang tamu tempat ayahnya dan Tjhin berada.


"Buahnya sudah siap, silakan dimakan ya, mau aku suapin gak sayang", ucap Diya.


Lediya menancapkan garpu ke potongan buah yang cukup besar, dan menatap Tjhin, dengan senyuman licik, Tjhin sadar pasti Diya ingin mengerjainya lagi.


"Biar saya sendiri saja sayang, terimakasih", ucap Tjhin sembari mendorong tangan Lediya yang ingin menyodorkan buah ke mulutnya.


Jadilah adegan dorong mendorong antara Diya dan Tjhin.


Tjhin melirik ke arah Jhon matanya memberi isyarat untuk segera merebut garpu yang berada ditangan Lediya, Jhon cuma bisa menggeleng dan segera mengambil garpu ditangan Lediya, tau garpunya diambil, Lediya segera melotot kesal ke arah Jhon, yang menggagalkan rencana nya untuk mengerjai Tjhin lagi.


Cukup lama Tjhin, dan pak Hardian berbincang, mereka sudah terlihat akrab.


Tak lama Tjhin dan Jhon pun berpamitan, pak Hardian dan Lediya mengantarkan mereka sampai ke luar pintu, namun kaki Tjhin terhenti, lalu membalikkan badannya.


"O ya Ayah, besok ayah dan ibuku akan datang kesini untuk resmi meminang Diya dan membahas tanggal pernikahan aku dan Diya",ucap Tjhin.


"hmmm, baiklah nak Tjhin,Hati-hati dijalan ya", jawab pak Hardian sembari menepuk pundak Tjhin.


Jhon dan Tjhin pun memasuki mobil, dan melaju pulang.


Diya dan pak Hardian pun masuk kedalam dan beristirahat di kamar nya masing-masing.


didalam mobil, Tjhin dan Jhon berbicara dalam perjalanan.


"Tjhin haruskah kau berbuat sejauh ini, tidak bisa kah kau melupakan dendammu itu, apa kau yakin ini yang di inginkan alm Jeje, demi balas dendam mu, kau bukan hanya membohongi Diya dan ayahnya, tapi juga orang tuamu, kalau kebohongan kalian ketahuan, akan melukai banyak orang, coba pikirkanlah lagi Tjhin", Jhon menasihati.


"Aku sudah berjanji bukan hanya pada diriku saja, tapi pada Jeje dan juga Leo adiknya,kalau aku akan membalas perbuatan ayah Diya, sudahlah Jhon aku lelah, jangan berbicara lagi", jawab Tjhin sembari menatap ke arah jendela luar, dan hanyut dalam pikiran nya.


-Sebenarnya, yang dikatakan Jhon ada benarnya juga, namun aku sudah terlanjur terjerat dengan sandiwara ini, dan tak bisa ku hentikan,kalau ibu sampai mengetahui kebohongan ini, sakit jantung nya pasti akan kumat, cukup aku kehilangan Jeje saja, jangan sampai aku kehilangan orang yang kucintai lagi, yaitu ibuku. (batin Tjhin).

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2