Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Debaran Cinta Lediya


__ADS_3

"Ma... af, aku hanya memastikan kau sudah tidur atau belum", Lediya mengangkat kepalanya merasa kaget dan gugup, mata mereka berdua bertatapan.


"Kau terus menatapku, adakah yang ingin kau bicarakan padaku?", tanya Tjhin sembari menangkup pipi Lediya dengan kedua telapak tangan nya.


-ada apa denganku, jantungku terus berdetak kencang, bagaimana kalau Tjhin mendengar nya. (batin Lediya).


"Maaf...maaf, karena telah mengganggu, kembali lah tidur", Lediya segera bangkit dan mengambil bantal lalu berlari ke sofa.


"Kau tidak perlu tidur disana, ranjang mu cukup besar untuk kau dan aku tidur diatasnya", Tjhin menarik selimut sampai ke pinggang nya.


"Tidak apa-apa, bagiku sofa ini cukup nyaman", sahut Lediya.


" Tidak akan ada yang terjadi antara kau dan aku, meski kita tidur diranjang yang sama, kemarilah", Tjhin menepuk kasur di sampingnya.


Lediya menarik nafas dalam, dengan berat hati dia mengikuti perkataan Tjhin, Diya tau kalau Tjhin tidak akan pernah menyentuhnya, hanya saja ia merasa tidak nyaman tidur dengan orang lain, apalagi seorang pria.


-Yang aku takutkan ialah diriku sendiri Tjhin, bagaimana jika aku tiba-tiba menerkammu, seperti serigala yang sedang lapar.


(batin Lediya).


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara ke duanya, Tjhin dan Lediya sama-sama terlelap karena ke duanya memang sudah sangat lelah seharian ini.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Keesokan harinya, benar-benar tidak terjadi apapun diantara Tjhin dan Lediya, mereka hanya tidur diatas ranjang, tanpa sentuhan fisik.


Tjhin terbangun saat merasakan sesuatu yang hangat di wajahnya dan menyilaukan, saat membuka matanya, terlihat sosok cantik didepan nya sudah berpakaian rapi.


"Kreeeek",


Lediya telah membuka gorden di kamarnya.


"Pagi Tjhin", Lediya tersenyum wajahnya tampak cerah, secerah mentari.


Tjhin tidak membalas ucapan Lediya.


"Kau sudah rapi, sekarang sudah jam berapa memangnya?", Tjhin melirik ke jam dinding kamar, takut kalau Lediya telat membangunkannya.


Hari ini Tjhin ada meeting penting di pagi hari, terlebih lagi Tjhin harus mengantarkan Lediya kerumahnya dahulu untuk menemani Almira ibunya.

__ADS_1


"Tenang ini masih pagi, meeting mu jam 10 kan, cepatlah mandi, lalu kita sarapan bersama ayahku, aku menunggu di bawah ya", Lediya hendak melangkah keluar kamar.


"Tunggu aku disini, kita turun bersama-sama nanti",Tjhin segera berjalan menuju kamar mandinya.


Lediya menarik nafas.


"huuh, ngapain dia menyuruh ku menunggunya, masa turun saja harus ditemenin, bagaimana kalau aku meli....ah sungguh memalukan",


Lediya tersipu malu, lalu menangkup pipinya sendiri dengan ke dua tangan, karena mengingat kejadian kemarin saat Tjhin keluar dari kamar mandinya hanya terbelit handuk dipinggang nya, terlihat dadanya yang bidang, perut sixpacknya, rambut hitamnya nya yang basah menetes mengikuti alur tulang pipinya, ditambah bibir tebalnya yang merah muda terdapat belahan dibibir bawah Tjhin, sangatlah seksi, ingin rasanya Lediya berlari kedalam pelukan Tjhin, dan menggigit bibir seksinya itu, Lediya sempat mengecup nya sedikit saat tersandung, rasa bibir Tjhin begitu kenyal dan manis, membuatnya sempat ingin memberikan kecupan yang lebih tapi Lediya mengurung kan nya.


"Ehem, kau sedang memikirkan apa",Tjhin keluar dari walk in closet Lediya.


"Haaa, kapan kau keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet Tjhin, kok aku tidak melihatnya?", Lediya bingung karena Tjhin sudah rapi memakai kemeja dan jasnya.


"Gimana kau melihatnya, sedari tadi aku melihatmu melamun dan tersenyum-senyum sendiri, seperti orang gila", ledek Tjhin,


"Ayooo apa yang sedang kau pikirkan Diya, atau kau sedang memikirkan....?", Tjhin mendekati dengan menatap mata Lediya dan mengangkat alisnya.


"Aku tidak memikirkan mu kok Tjhin, aku hanya.... ", Lediya segera menutup mulutnya.


"Oo berarti tadi kamu sedang memikirkan diriku ya, benarkah.... ", Tjhin terus menggoda Lediya.


" Sudah ku bilang aku tidak memikirkan mu, aku sedang memikirkan..., ah sudahlah aku mau turun, aku malas meladeni mu".


"Pakaikanku dasi".


"Kenapa aku harus memakai kan mu dasi?".


"Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, memakai kan dasi suami adalah kewajiban seorang istri, jadi biasakan dari sekarang".


Lediya mengambil dasi dari tangan Tjhin, dengan wajah datar dan pura-pura cuek,ia menaikan kerah kemeja Tjhin, melingkar kan dasi ke leher, lalu menyimpulnya dengan sangat rapi, Lediya memang pandai menyembunyikan perasaan nya, padahal jatungnya sedang berdebar seolah mau meledak saat ini, karena berhadapan dekat dengan pria yang telah membuat nya jatuh cinta.


Tjhin menuju kaca untuk memastikan dasi yang dipakai kan Lediya sudah tersimpul rapi atau belum di lehernya, Tjhin tersenyum puas.


"hmm, kau pintar juga memakaikan dasi Diya",


"Tentu saja,aku sering memakai kan Dasi ayahku, karena ibuku sudah tiada".


"Hmm pantas ikatan simpul dasimu sungguh sempurna", Tjhin memuji.

__ADS_1


" Kau sudah siap turun untuk sarapan belum? aku sudah lapar, kau laki-laki tapi lamanya berpakaian dan dandan mu hampir menyamai perempuan", ucap Diya dengan nada kesal.


"Cih, ambil dan pakaikan sepatu ku ",Tjhin duduk di sofa


Mata Lediya seketika melebar.


" Apa aku juga harus memakai kan mu sepatu, kau kira aku pelayanmu haaa", teriak Lediya kesal.


"Selama ini yang menyiapkan air mandi, memakai kan ku jas, sepatu, dll adalah nyonya Kim dan asisten pelayannya, nanti setelah kita menikah, semua tugas itu akan menjadi tugasmu sebagai istriku, jadi kau harus berlatih dari sekarang, cepat pakaikan sepatuku", Tjhin memerintah.


-S**l, kalau bukan karena demi perusahaan ayahku, aku sungguh tak sudi menikah dengan pria dingin, b******k, dan manja seperti mu. aaah mungkin dikehidupan ku sebelumnya aku ini seorang pengkhianat. (batin Lediya).


"Hey kenapa melamun, cepat kemari pakaikanku sepatu".


Lediya berjalan sembari menghentakan kaki dengan wajah cemberut, menuju walk in closet, tanda ia sangat kesal.


Tak lama Lediya keluar dengan membawa sepasang sepatu Tjhin lalu melangkah menuju pria yang dari tadi sudah menunggunya di sofa, ia berjongkok dan memakai kan sepatu yang ia bawa tadi.


"Sudah selesai tuan muda, sekarang bisakah kita segera turun dan makan?",Lediya segera berjalan dengan kesal lalu membuka pintu kamar meninggal kan Tjhin.


Ia tidak ingin menunggu lagi karena bisa-bisa Tjhin menyuruhnya untuk melakukan ini dan itu lagi kepada nya.


Tjhin menyeringai melihat Lediya yang sedang kesal setengah mati padanya, Tjhin sangat suka melihat wajah cemberut Lediya, baginya itu sangat lucu, namun tidak bagi Lediya.


Tjhin pun segera beranjak pergi menyusul dibelakang Lediya.


"Pagi Diya, pagi nak Tjhin", pak Hardian menyapa anak dan calon mantunya dengan senyuman hangatnya.


"Pagi juga ayah", Lediya memeluk ayahnya, dan disambut dengan belaian lembut tangan ayahnya di pucuk kepala nya.


"Pagi ", Tjhin hanya menjawab sekilas.


-kau begitu mengasihi dan lembut kepada putrimu, tapi terhadap Jeje kekasihku, kau sungguh kejam Hardian, apakah putri mu mengetahui kalau ayahnya hanyalah seorang pembunuh yang melarikan diri, lihat saja aku akan membuat kebahagiaan mu dan putrimu, menjadi tangisan. (batin Tjhin).


Diya merasa senang melihat ayahnya berbicara sangat akrab dengan Tjhin sembari menikmati sarapan pagi, seperti nya ayahnya sangat menyukai calon menantunya itu.


Terlihat kebahagiaan terpancar di wajah ayahnya, kini ayahnya tidak perlu khawatir lagi akan kondisi finansial perusahaan, dan yang terpenting bagi Hardian, Lediya sudah menemukan jodohnya, Hardian yakin Tjhin pasti bisa memberikan kebahagiaan dan menjaga putri tercintanya itu.


Bersambung....

__ADS_1


Author : Hai pembaca setia maaf yaπŸ™, kemarin LidZ belum sempet Updet Episode, menjelang ulangan dan ujian anak school, untuk sementara ini LidZ hanya mengupdate episode 1 Minggu 3x ya, di hari Senin, Rabu, dan Jumat/Sabtu.


dukung terus LidZ dengan Like, Vote, dan masukan ke Favorit kalian ya. thanksπŸ₯°


__ADS_2