Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Medan Perang


__ADS_3

Setelah di obati Lediya dan Hardian segera menuju panggung utama, disitu mereka bertemu dengan Micko kepala Chef di hotel Tjhin, teman akrab ayahnya, dulu bisa dibilang mereka adalah teman seperjuangan dari sebelum Lediya lahir.


"Hardi Diya, sudah lama kita tak berjumpa", panggil Micko


"Hey Mic, gimana kabarmu?", hardian dan Micko saling menyapa.


"Wah, Om Micko makin ganteng aja nih", ledek Lediya


"Iya, ganteng kayak sekuteng belum mateng ya Diya", ucap Micko mereka bertiga tergelak.


"Tapi Diya, ada apa dengan kakimu itu, kenapa diperban?", tanya Micko lagi.


"Diya habis menolong seorang anak kecil tadi Mic, anak itu memanjat gazebo setinggi 7m, dan bisa saja kehilangan nyawanya, klu Diya tidak keburu menangkap nya, yah seperti biasa memar itulah bonusnya", cerita Hardian.


"Diya...Diya, kamu dari kecil om liat selalu seperti itu, tak peduli diri sendiri terluka, demi menolong orang lain, keinginanmu untuk jadi tokoh pahlawan super seperti wonder women kesukaanmu masih terukir di hati dan benakmu ya ternyata", Micko tertawa sembari mengacak-acak rambut Lediya karena gemas.


Tak lama terdengar bunyi dering ponsel Lediya dari Almira ibu Tjhin,


"Diya sayang kamu dimana, kok belum muncul juga, apakah ada terjadi sesuatu?", tanya Almira di sebrang sana.


"Ini Diya udah mau kesana bu, sebentar lagi sampai".


"Oo ok ibu tunggu ya", sambungan pun terputus.


tut tut tut...


"Ayah barusan ibu Tjhin menelepon, aku sudah ditunggu, ayah sm om berbincang saja, Diya bisa jalan sendiri".


"Baiklah nak, ayah ingin berbincang sebentar dengan Chef nomer 1 ini yang susah sekali ditemui, bak presiden", ucap Hardian sembari merangkul Micko.


Mereka memang sudah lama tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing.


"Tapi, kamu yakin bisa jalan sendiri, atau ayah antar kamu dulu". ucap Hardian lagi.


"Gak usah yah Diya bisa sendiri, kakiku udah gak begitu sakit, Diya pamit pergi duluan ya om".


"Bye cantik, Hati-hati jalannya ya, ayahmu om culik dulu bentar", ucap Micko tertawa.


"Diya, nanti sampaikan ke orang tua Tjhin ya ayah menyusul, setelah selesai berbicara dengan Micko".


Diya menggangukkan kepalanya, dan segera beranjak pergi, dengan kaki masih sedikit pincang.


Setelah sampai ke tempat khusus VIP, Lediya melayangkan matanya ke sekeliling, mencari ke beradaan Tjhin dan Ibunya.


Tanpa disadarinya, ada sekelompok wanita berbondong-bondong mendekatinya, dan 3 diantara nya sangat Lediya kenal.


Nesya, Lily, dan Miska teman satu kampusnya dulu, mereka menyebut diri Three Angels, karena memang mereka memiliki tubuh tinggi, ramping, dan juga berwajah cantik, hanya saja tingkah laku mereka seperti Iblis, apalagi disaat mereka melihat ada adik junior yang lebih cantik, atau ada pesaing dalam memperebutkan laki-laki yang mereka suka, mereka bertiga tidak akan segan-segan membully dan mempermalukan didepan umum.


Tidak ada yang berani mengusik kelakuan mereka, hanya Lediya yang bisa menghentikan kelakuan jahat three angels.

__ADS_1


Di kampus semua menyebut Lediya Pretty Hero, maka dari itu mereka bertiga sangat membenci Lediya, karena selalu menggagalkan rencana maupun bullying mereka kepada teman-teman atau adik-adik junior yang mereka tidak sukai.


Saat itu posisi kekayaan orang tua Nesya setara dengan ayah Lediya, Orang tua Lily dan Miska bekerja di salah satu perusahaan orang tua Nesya, mereka berdua adalah kaki tangan sekaligus penjilat Nesya.


"Wah...wah siapa ini, hahaha si Pretty Hero nya kampus dulu, coba lihat penampilannya sungguh menyedihkan", Lily menyeringai, sembari melipat tangannya di dada.


Penampilan Lediya memang berantakan, karena menyelamatkan anak kecil tadi, dressnya sedikit sobek, dan kotor dibagian bawahnya, sedangkan Lediya tidak membawa baju cadangan, jadi terpaksa tetap memakainya.


Karena kakinya memar Lediya juga tidak diperbolehkan memakai sepatu hak tinggi, jadi salah satu perawat yang mengobatinya tadi, meminjamkan pantofel putihnya.


"Sepertinya kamu salah masuk, disini tempat khusus tamu VIP yang Elegan dan berkelas, sedangkan kamu... hahaha", Miska menunjuk tubuh Lediya dari ujung kepala sampai kaki.


Mereka pun tergelak diikuti gelak tawa gadis-gadis lainnya.


"Kalian jangan begitu ah, kan kasihan Diya,


saat ini perusahaan ayahnya sedang diambang kebangkrutan, wajar kalau dia ingin berhemat, dan tampil sederhana seperti ini".


Nesya memulai sandiwara nya agar terlihat baik dan lembut didepan semuanya.


"Nesya kamu ngapain membelanya, apa dulu kamu tidak ingat bagaimana dia memperlakukanmu dan mengancammu, bahkan pernah memukulmu, sampai kau pingsan".


Lily mulai menyebar fitnah, Didepan orang-orang yang mengelilingi mereka untuk mempermalukan Lediya.


"Memang benar, tapi itu semua masa lalu, jadi jangan bicarakan itu lagi, kami sudah baik-baik saja sekarang, ya kan Diya".


"Nesya benar-benar sopan dan beretika", ucap salah satu gadis.


"Orang macam apa yang membuat orang lain pingsan", kata gadis yang lain.


"Kasar sekali dia, aku tak habis pikir", yang lainnya menyahut.


"Nesya hatinya baik, tapi kau menjahatinya", yang lain menimpali.


"Sudahlah, lagipula kejadian itu sudah lama berlalu, saya yakin Diya telah menyadari kesalahannya, jadi saya tidak menyalahkannya ", ucap Nesya sembari berpura-pura memeluk Lediya.


Semua memandang Nesya kagum, dan memandang Lediya dengan tatapan sinis.


"Lihat Diya, hari ini aku dan temanku, akan mempermalukan mu disini", Nesya berbisik dan memberi seringai miring.


Sudut mulut Lediya terangkat, Lediya tahu ke 3 gadis itu hanya ingin memancing emosinya, supaya ia menampar atau menghajar mereka, sehingga membenarkan fitnah mereka tentang Lediya didepan orang banyak.


-Cih, hanya segitukah akting kalian, baiklah lihat akting luar biasa ku ini. (batin Lediya).


Lediya memulai aksinya.


"Hiks.... hiks, kak segitu bencikah kalian padaku, dulu aku tidak tau kalau kakak menyukai ke 3 pria yang sedang mengejarku dulu, tidak cukupkah kalian mengurungku dikamar mandi, lalu menyiramku dengan air bekas pel, lalu menamparku berkali-kali, saat itu aku hanya membela diriku, lagipula mana mungkin aku bisa melawan kalian bertiga, dan membuat kak Nesya pingsan dengan tubuh kecil dan lemah seperti ini, kalian kejam sekali telah memfitnah ku, hiks...hiks... hiks", Lediya mengeluarkan akting dahsyatnya.


Membuat three angels itu saling bertatapan dan melongo dengan sandiwara Lediya.

__ADS_1


Miska sangat kesal dan tak sabaran sehingga dia masuk ke dalam perangkap Lediya.


"Plaaak ".


Miska melayangkan tamparan nya.


"Tutup mulutmu, beraninya kau....", Miska menatap tajam Lediya.


Lediya sengaja membiarkannya, karena memang itu rencananya.


"Eh Lihatlah salah satu dari ke 3 wanita itu menamparnya, berarti yang dikatakan gadis itu benar, mereka bertigalah yang jahat, dan berusaha memfitnah gadis lemah itu", salah satu dari gadis yang berkerumun itu berteriak.


"Kalian bertiga sungguh kakak senior yang jahat ", sahut lainnya.


"sudah memfitnah dan menamparnya pula, kami sebagai sesama adik junior tidak terima", gadis lain menimpali.


Seketika itu pula terjadi kehebohan.


"Lihatlah, ini salah satu contoh, apabila kalian berani bermain-main dengan seorang Lediya Aurora Jap", Lediya berbisik tepat di telinga Nesya.


Setelah itu Lediya pergi meninggalkan mereka bertiga, wajah Nesya, Lily, dan Miska saat ini benar-benar pucat pasi, mendengar kritikan dan cacian orang-orang disekitarnya, rencana mereka untuk mempermalukan Lediya gagal total, malah sebaliknya mereka yang dipermalukan.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Rahang Tjhin mengejang, mlihat Lediya yang sedang berjalan terseok-seok, dengan penampilan berantakan, Tjhin segera menghampiri Lediya, dan buru-buru menariknya ke tempat sepi sebelum ayah dan ibunya melihat.


"Ouch... aw... aw, Tjhin pelan-pelan kakiku masih sakit", Lediya berusaha melepaskan cengkeraman Tjhin.


"Kau sengaja ingin mempermalukan keluarga ku haaa ".


Tjhin menghempaskan lengan Lediya dan menatap tajam.


"Apa maksudmu?", ucap Lediya kesal.


"Lihat gaunmu, apa ini patas disebut gaun, sobek kotor, kalau kau tidak punya gaun yang layak seharusnya kau tidak perlu datang kesini", ucap Tjhin ketus.


"Tidak bisakah kau bertanya baik-baik dan membiarkan diriku menjelaskannya, kau memang sangat tau bagaimana cara untuk menyakiti perasaan orang lain dan bagaimana membuat mereka merasa tidak berharga Tjhin",


Lediya menahan air matanya untuk tidak keluar dihadapan Tjhin,lalu segera melangkah pergi.


-Aku benar-benar lelah sekali menghadapi orang-orang seperti Nesya, Miska, Lily, dan sekarang Tjhin, taman hiburan ini sudah seperti medan perang bagiku. (batin Lediya).


Namun tiba-tiba Tjhin menggapai lengan Lediya.


"Ada apa dengan kakimu Diya?", ucap Tjhin mulai lembut karena melihat Lediya berjalan terseok dan ada perban dikakinya.


Bersambung....


Author : Please buat yang mampir, kasih LidZ Like, Vote, Komen, dan jangan lupa masukan ke Favorit kalian ya, biar makin semangat LidZ bikin episode-episode berikutnya. ThanksπŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2