Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Sosok Tak Dikenal


__ADS_3

-US$ 75.000, Uwaaaah selera istri pengusaha terkaya sungguh fantastis, tidak bisa, kalau aku sampai menerima pemberian semahal ini, pasti Tjhin akan berpikiran kalau aku ini matre. (batin Lediya).


"Ibu, bisakah aku tidak mencobanya",Lediya segera menggantung dress kembali ketempatnya.


" Oh ada apa sayang, kau tidak menyukai nya ya, kalau gitu ibu akan memilihkan yang lainnya untukmu", Almira melihat-lihat dress lainnya yang tergantung.


"Tidak usah ibu, aku lebih suka memakai dress sederhana milikku sendiri, nanti yang jadi sorotan utamakan Thjin, Ibu, dan Ayah, jadi carilah yang cocok untuk ibu pakai sendiri bersama stylist, aku akan menunggu ibu di sofa itu", ucap Lediya.


"Kamu yakin sayang tidak mau ibu belikan?, kalau gitu pilihlah 1 dress yang paling kamu suka, anggap saja itu hadiah untuk calon mantu ibu tersayang", Almira masih berusaha membujuk Lediya.


" Tidak ibu, aku kesini untuk menemani ibu berbelanja, aku akan membantu ibu untuk memilihnya, yang warna hijau mint itu seperti nya bagus, atau dress taffeta dengan paduan Swarovski itu juga sangat bagus dan cocok ditubuh ibu", Lediya berusaha mengalihkan pembicaraan.


Almira masuk ke ruang ganti lalu keluar dengan mengenakan Dress pertama yang dipilih Lediya, gaun berwarna hijau mint lembut, dengan desain yang sederhana.


"Gimana Diya sayang, cocok kah?", Almira berjalan sembari memutar tubuhnya bak model profesional.


"Wow, ibu kau sungguh luar biasa, bak artis Hollywood", Lediya tercengang melihat gaun itu pas sekali ditubuh ibu mertuanya, Roro Almira memang memiliki tubuh yang proposional, dan wajah yang sangat Ayu.


Setelah itu Almira kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun lainnya dibantu seorang stylish, tak lama keluar lah Almira mengenakan gaun pilihan Lediya yang ke dua.


Berbeda dengan yang pertama, gaun ke dua yang dipakai Almira ialah yang paling mahal diantara gaun-gaun lainnya, terlihat sangat mewah, yang membuat model gaun tersebut semakin cantik, sang desainer juga mengkombinasikan kain taffeta, sutra, serta satin, dengan banyaknya batu mulia dan bahan gaun yang bervariasi.


"Wah, nyonya gaun itu amat sangat cocok, melekat di tubuh anda, menantu anda sungguh sangat pandai memilih gaun", Manager toko dan para pelayan toko yang melihatnya sampai dibuat terkagum-kagum.


"Tentu, Mantuku ini seorang desainer baju pengantin, kalian tau kan Harley Bridal n Fotografer, mantuku inilah yang mengelolanya sendiri, kalau toko ini juga ingin menjual dress pengantin, kalian bisa kok bekerja sama denganya, benar kan Diya sayang", ucap Almira membanggakan mantu kesayangan nya sembari membelai rambut Lediya.


"Iya ibu tentu saja, terima kasih", Lediya tersenyum.


"Baiklah, ini kartu nama saya, dan bolehkah saya minta kartu nama anda nona, siapa tau nanti kita bisa bekerja sama", ucap Manager Toko sembari memberikan kartu namanya.


"Oh tentu, sebentar ya", Lediya membuka tas tangannya untuk mengambil dan membuka kotak kartu namanya, lalu menyodorkannya ke manager toko, " ini kartu nama saya".


Almira kembali ke ruang ganti untuk menanggalkan gaun yang telah di coba nya tadi, dan memakai kembali pakaiannya.


"Tolong bungkus ke dua gaun ini ya", ucap Almira lalu ikut duduk disofa sebelah Lediya.


Tak lama para pelayan kembali memasuki ruangan VIP, mereka semua berdiri sejajar sembari memegang kotak-kotak sepatu dan tas-tas yang tentu saja buatan Desainer terkenal dan Limited Edition, harganya pun tidak kalah fantastis dengan gaun-gaun tadi.


"Diya, tadi kamu kan tidak mau ibu belikan dress, sekarang pilihlah tas dan sepatu yang kamu suka", Almira segera beranjak lalu menarik lengan Lediya untuk memilih.


"Tidak Ibu terimakasih, aku sudah punya banyak sepatu dan tas dirumah, aku bantu pilihkan saja ya untuk ibu".


" Tidak sayang, kamu juga harus pilih, atau ibu akan marah kalau kamu menolak terus pemberian ibu".


"Diya janji saat kita kesini lagi, aku akan menerima pemberian ibu, tapi untuk saat ini, kita fokus beli keperluan ibu untuk peresmian besok terlebih dahulu, supaya kita tidak pulang terlalu malam, lagipula sekarang sudah pukul 6 sore, ibu juga pasti sudah merasa lapar, ayah dan Tjhin pasti sudah menunggu", Lediya melihat jam di pergelangan tangannya.


"Hmm baiklah, tapi bener ya kamu tidak akan menolak lagi pemberian ibu, untuk selanjutnya".


"Iya ibu Diya janji".


Almira segera memilih satu persatu sepatu dan tas yang disukainya, lalu memberikan kartu black card kepada manager toko.


Setelah selesai membayar semuanya, Almira dan Lediya segera ke pintu utama mall bersama beberapa pelayan toko yang membantu membawa kantung belanja dari beberapa brand mewah.


Tak lama petugas Valet pun datang membawa mobil mereka, lalu membuka kan pintu mobil, para pelayan toko segera memasukkan kantung belanja di jok belakang mobil, Almira dan Lediya juga segera masuk kedalam mobil.


"Aaah, sepertinya tadi kita perginya terlalu siang Diya, padahal ibu masih ingin berkeliling", ucap Almira dengan wajah sedikit kecewa.


"Kita bisa pergi lagi nanti bu, lagipula sejak adanya covid, mall-mall kan buka hanya sampai pukul 7 malam", ucap Diya tersenyum.


"Iya sayang, aduh macet lagi, sebaiknya kita lewat ke arah mana ya biar tidak terkena macet dan cepat sampai rumah, soalnya Suk Ho maupun Tjhin suka khawatir kalau ibu tidak pulang sebelum makan malam", Almira berpikir lalu teringat sesuatu.


" O ya kita potong jalan saja, ibu tau harus lewat mana", Almira segera membelokkan mobilnya melintasi jalan sepi.

__ADS_1


"Ibu, jangan lewat sini, jalan ini cukup berbahaya dan terkenal banyak preman, makanya jarang ada mobil yang mau lewat sini", ucap Lediya dengan wajah khawatir.


"Oh ya, setau ibu dulu jalan ini sangat aman dan cukup ramai, aduh gimana nih ibu udh terlanjur lewat sini, apa kita putar balik saja ya", Almira mulai khawatir.


Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil telah mengikuti di belakang mereka, dari saat keluar mall.


"Gak apa-apa bu, kita jalan terus saja, jangan berhenti, jarak jalan ini ke jalan besar tidak terlalu jauh", Lediya menenangkan Almira.


Tiba-tiba ada 3 preman menghadang mobil yang dikendarai Almira,


Ciiiiiiit....


Almira mendadak menginjak rem, sehingga membuat tubuh Almira dan Lediya terdorong kedepan, untung mereka memakai seatbelt, kalau tidak mungkin sudah menghantam dashboard.


"Keluar kalian, keluaaaaar!", teriak salah satu pria yang menghadang mobil Almira.


"Keluar cepat, atau kami pecahkan kaca mobil ini", pria lainnya mengancam sembari menggedor-gedor pintu mobil.


"Di...ya, gimana ini ", Almira ketakutan.


"Ibu tenang, percaya sama Diya, tidak akan terjadi apapun dengan kita", Lediya menggenggam tangan Almira yang gemetar, supaya lebih tenang.


"Ibu tatap Diya, dan dengarkan".


Almira menatap Lediya sambil mengatur nafasnya.


"Aku akan keluar berbicara dengan mereka, ingat bu saat aku keluar, ibu harus segera mengunci kembali pintu mobil, lalu hubungi polisi, aku akan mengulur waktu, apapun yang terjadi jangan pernah membuka pintu sebelum polisi datang".


"Tidak, kamu tidak boleh keluar Diya, mereka itu preman, ibu tidak mau terjadi sesuatu padamu nak", Almira mengeratkan genggaman nya supaya Lediya tidak keluar dari mobil.


" Ibu please percaya lah, kalau aku tidak keluar, justru nyawa kita berdua bisa terancam, aku tidak ingin terjadi apapun pada ibu, aku akan melindungi ibu, ingat kunci pintu dan segera hubungi polisi", Lediya memberi tatapan memohon.


Akhirnya Almira pun mengangguk kan kepalanya tanda setuju.


"Tentu bu, aku ini sudah menguasai bela diri dari usiaku 5 tahun", Lediya melepaskan genggaman Almira lalu segera membuka pintu mobil.


Sesuai permintaan Lediya, Almira segera mengunci pintu mobilnya, lalu segera mengambil ponselnya yang berada didalam tas menghubungi polisi, dan juga segera menghubungi suami dan putranya.


"Hey, kalian bertiga sebaiknya segera pergi sebelum aku menghajar kalian sampai babak belur".


" Haaa, wanita mungil sepertimu, ingin menghajar kami bertiga sendirian, hahahaha, wanita ini seperti nya sudah kehilangan akal sehatnya cuy", ke tiga pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Cih, kenapa preman kampungan seperti kalian selalu meremehkan wanita, baiklah aku ingin sekali menguji kemampuan kalian!", Lediya menyeringai.


Ia melangkah perlahan mendekati ke 3 preman itu, sembari membuka ikat pinggang yang melingkar di celana panjangnya, lalu melilit kan ujung ikat pinggang di telapak tangan kanannya.


"Cuih, nantang kite nih cewe, ayo kita beri dia pelajaran", ucap salah satu preman, lalu mereka bertiga bersamaan menyerang Lediya.


" syut,..syut".


Lediya mengayunkan ikat pinggang nya lalu, menyabetkan kepala ikat pinggang ke wajah salah satu preman.


"plak, .. plak, gedebug !", preman ke 1 terperosok ke aspal.


Lalu Lediya melilitkan tali pinggang ke leher preman ke 2, hingga kesulitan bernafas.


"akh..akh...".


Lediya segera meloncat dan memberikan tendangan berputar, lengannya bertumpu pada pundak preman yang ke 2.


"Bruaaak, Ouch!".


Preman ke 3 terpental menabrak tembok dan jatuh tersungkur, hanya dengan beberapa jurus saja Lediya berhasil menumbangkan ke 3 preman itu tanpa dirinya terluka.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara sirene.


"wiu... wiu...".


Mobil polisi pun datang, petugas kepolisian segera turun dan meringkus ke 3 preman itu, Almira segera turun dari mobil menghampiri Lediya.


"Diya, kamu baik-baik saja kan sayang, coba ibu lihat ada luka tidak?", Almira memeriksa tubuh Lediya.


"Diya tidak apa-apa bu".


"Permisi nona, bisakah anda menjelaskan kepada kami kronologi nya", salah satu polisi menghampiri Lediya


"Oo baik Pak, ibu tunggulah di dalam mobil, nanti aku menyusul", ucap Lediya.


"Baiklah", jawab Almira lalu melangkah menuju mobil.


"Mira, kalian tidak apa-apa kan", Suk Ho berlari menghampiri Almira dan di susul dengan Tjhin.


"Ibu tidak apa-apa kan, adakah yang terluka bu?", wajah Tjhin terlihat pucat karena terlalu mencemaskan ibunya.


"Tidak apa-apa sayang, ibu baik-baik saja, untung ada Diya", jawab Almira.


"Sayang kamu ikut mobilku saja ya, biarlah Tjhin yang membawa mobilmu", ucap Suk Ho disambut dengan anggukan Almira.


"Tjhin, nanti kamu pulang dengan Diya ya, ibu ikut mobil ayah", ucap Almira dan segera pulang bersama Suk Ho.


"Diya ibu pulang dulu ya, nanti biar Tjhin yang mengantarmu pulang, bye sayang", teriak Almira, sembari melambaikan tangannya, Diya mengangguk dan balas melambaikan tangan.


Petugas polisi telah selesai mencatat semua keterangan dari Lediya, mereka berpamitan lalu kembali ke markas.


Seperginya petugas polisi, Lediya merasakan sesuatu, matanya berkeliling melihat sekitar.


"Sepertinya ada yang sedang memperhatikan dari tadi, apa cuma perasaan ku saja ya".


Tepat sekali tebakan Lediya, dari jauh memang ada satu sosok yang sedang memperhatikan dari kejadian awal.


"Preman bodoh!!!, masa menangani seorang wanita saja tidak becus, percuma ku bayar mahal kalian, Cih", sosok itu pun segera pergi meninggalkan tempat kejadian.


Tjhin menghampiri dan menatap Lediya tajam.


"Apa yang kau lakukan pada ibuku haa, kenapa kau membawa ibuku ke daerah ini, kalau sampai terjadi sesuatu dengan ibuku, kau akan mati ditanganku", Tjhin mencengkram dan menghempas kan pundak Lediya.


"Rasanya aku ingin sekali mengunci mulutmu itu sekarang, kau sungguh pandai menyakiti perasaan orang lain Tjhin, dasar manusia dingin tidak berperasaan", mata Lediya berkaca-kaca, lalu melangkah pergi.


"Mau kemana kau, masuklah aku akan mengantarmu?",Tjhin mencengkram lengan Lediya.


"Tidak perlu, lebih baik aku naik Taxi, daripada harus 1 mobil dengan pria b******k seperti mu", Lediya menghempaskan tangan Tjhin.


"Dengar kalau bukan karena ibu yang meminta ku, aku pun tidak sudi mengantar gadis g**a seperti mu, cepat masuk kedalam", Tjhin menarik paksa lengan Lediya.


"Lepaskan, sudah ku bilang aku bisa pulang sendiri ".


Lediya memelintir lengan Tjhin ke belakang, dan mendorong nya ke badan mobil, "Bruuk", lalu Lediya segera berlari mencegat taxi yang lewat, dan pergi meninggalkan Tjhin.


"Ouch, aw... aw, kau benar-benar wanita s*****g!", teriak Tjhin


Tjhin segera masuk kedalam mobilnya dengan perasaan kesal lalu memukul dashboard.


Sejak kejadian tragis yang di alami kekasih nya, Tjhin memiliki trauma yang membekas, dia sangat takut kehilangan seseorang lagi, yang berharga baginya yaitu ibunya, Tjhin berpikir Diya yang menyebabkan ibunya celaka seperti yang dilakukan pak Hardian ayah Lediya terhadap Jeje kekasih nya.


Bersambung....


Author : Hey pembaca setia NT, dukung Author dengan Like, Vote, juga komen ya, jangan lupa masukan ke favorit kalian. thx

__ADS_1


__ADS_2