
Tanpa disadari wanita itu, ada sesosok pria menghampiri nya dan menepuk pundaknya.
"Hey Diya, mengapa kau melamun sendirian disini?".
"Eh Jun, kau belum berangkat ke JK hari ini?".
"Belum, sebentar lagi aku berangkat, ingin berpamitan terlebih dahulu denganmu dan Tjhin", ucap Jun sembari duduk disebelah Lediya.
"Diya boleh aku minta nomer ponselmu?".
"Oh tentu saja, kau kan sudah menjadi sepupu iparku, sinikan ponselmu".
Jun segera memberikan ponsel nya untuk Lediya memasukkan nomernya, dan tak sengaja matanya teralih ke leher wanita itu, terlihat ada memar disitu.
"Diya, ada apa dengan lehermu?", tanya Jun dengan khawatir.
Deg
Lediya bingung ingin menjawab apa, ia harus berpikir bagaimana agar Jun tidak mengetahui hal yang sudah dilakukan Tjhin terhadapnya.
"Hahaha, tidak apa-apa ini karena aku ceroboh saja, ini sudah kumasukan nomerku, aku kembali dulu ya ke cottage Tjhin pasti sudah menunggu ku".
Wanita itu bangkit berdiri, namun Jun segera menahan tangannya.
"Apa terjadi sesuatu denganmu dan Tjhin?", tanya Jun curiga.
"Tidak kami baik-baik saja, Jun sebaiknya kau segera berangkat, nanti kau ketinggalan penerbangan mu".
Jun menaruh curiga dan ingin bertanya lebih lagi, namun ia ingat kalau dirinya bukanlah siapa-siapa, dan tidak berhak mengurusi rumah tangga sepupunya itu.
"Diya, kalau kau ingin sekedar bercerita dan memerlukan seseorang untuk mendengar kan curhatanmu, hubungi saja aku, aku bisa menjadi pendengar yang baik, sekarang kaukan sepupu iparku", Jun tersenyum lalu menepuk pundak wanita itu.
Lediya mengangguk kan kepalanya, dan ikut tersenyum.
"Terimakasih Jun".
"Sampaikan kepada Tjhin aku kembali ke JK duluan, bye".
Jun melangkah kan kakinya menjauh, sembari berbalik melambaikan tangan nya.
"Bye Jun, hati-hati ya".
Lediya membalas lambaian tangan Jun, wanita itu terus menatap punggung Jun yang makin lama makin jauh dan menghilang.
"Kau memang pria baik Jun", ucapnya lirih.
Skip
Lediya saat ini berada di depan cottage tempat ia dan Tjhin menginap, namun ia tidak berani masuk kedalam, ada perasaan malu dan canggung, karena tadi sempat mengucapkan hal yang menyakitkan suaminya itu, karena kesalah pahaman, juga karena ada rasa sedikit cemburu.
Sebenarnya sudah dari semalam hingga pagi dirinya merasa kesal juga badmood, sepanjang tidurnya Tjhin terus menyebutkan nama kekasih nya itu, ditambah ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena pria itu terus memeluknya dengan erat, dan tidak mau melepaskan nya.
__ADS_1
"Haaaaah, masuk apa tidak ya, haruskah aku meminta maaf padanya atau mencuekinya, lagipula aku tidak salah 100%, pria itu membuat ku kesal, sudah capek-capek aku mengurus nya, eh dengan entengnya ia menyebut dan menyangka diriku Jenifer kekasih nya berkali-kali, aku juga kan wanita, punya rasa, punya hati".
Lediya masih terus bergumul dengan dirinya sendiri, haruskah ia masuk dan meminta maaf atau sebaliknya.
Tanpa disadari wanita itu, Tjhin yang berada didalam sedang memperhatikan Lediya, yang sedari tadi tidak masuk kedalam, namun hanya mondar mandir diteras luar dan berbicara sendiri.
"Apa yang sedang dilakukan wanita itu diluar, bolak balik kayak komedi puter saja", alisnya berkerut heran.
Tjhin melangkahkan kakinya dan berhenti di depan kulkas, lalu mengambil botol air dingin dan meneguknya, setelah itu kembali ke sofa untuk menonton televisi, lalu melirik sekilas ke luar jendela, ternyata wanita itu masih juga tidak masuk kedalam, malahan duduk di kursi teras depan.
"Astaga, wanita ini benar-benar membuatku pusing, ck".
Pria itupun akhirnya mematikan televisi, lalu beranjak pergi menuju pintu, dan membukanya.
"Apa yang sedang kau lakukan diluar dari tadi, kenapa tidak masuk, kau mau membuat diriku dimarahi ibu lagi, karena membiarkan kau berlama-lama diluar, hah!", bentak Tjhin.
"A... apa maksudmu?", tanya Lediya heran.
"Masuklah kedalam sekarang, jangan sampai orang suruhan ibu nanti melaporkan yang tidak-tidak".
Tjhin segera masuk kedalam dan disusul Lediya, mereka berdua akhirnya duduk di sofa.
" Tjhin, tadi kau bilang orang suruhan ibu?, apa kita sedang dimata-matai orang tua mu?".
"Hmm".
"Hah kenapa begitu, berarti mereka tahu dan melaporkan ke ibu, saat kita berkelahi kemarin dan tadi pagi?",
"Tenang saja, mereka hanya mengikuti kita saat diluar saja, mereka tidak di izinkan ibu mengikuti kita sampai di cottage, karena pikirnya bisa mengganggu privasi kita".
"Oh baguslah".
-Syukurlah, akan sangat mengkhawatirkan kalau ibu sampai mengetahui tiap hari yang kita lakukan hanya, bertengkar dan berkelahi. (batin Lediya).
Setelah itu mereka berdua pun saling diam, karena merasa canggung Tjhin segera mengambil remot televisi, tanpa sengaja menekan tombolnya terlalu keras, sehingga tangan nya kembali sakit, karena tidak diobati dengan benar.
Ouch!
Lediya melihat balutan ditangan Tjhin, darahnya sudah tembus kepermukaan kain yang terlilit ditangan nya.
"Ada apa dengan tanganmu Tjhin?, biar aku lihat".
Lediya segera menghampiri dan duduk di sebelah pria itu, ia segera menarik dan mengamati telapak tangan Tjhin, saat ingin membuka balutan lukanya, pria itu menghempas kan tangannya.
"Jauhkan tanganmu dariku, aku bisa mengurus diriku sendiri, jangan sok perhatian denganku, bagiku kau hanya wanita asing, hanya saat kita diluar dan didepan orang tua kita boleh saling menyentuh, karena harus pura-pura memperlihatkan kemesraan kita didepan mereka, kau paham?!".
"Aku mengerti, hanya saja saat ini biarkan aku mengobati lukamu, kalau tidak diobati dengan benar, lukamu bisa infeksi, bagaimanapun dihadapan orang tua, agama dan negara, aku ini istri sah mu, aku tidak mau dibilang istri durhaka nantinya, kau masih ingatkan perjanjian yang kau buat no. 2, Pihak B harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan mengerjakan segala keperluan dan permintaan pihak A, dan saat ini kau perlu segera di obati, itu kewajiban istri".
Tjhin hanya terdiam.
"Kalau kau diam seperti itu, kuanggap kau setuju, sebentar aku akan ambilkan kotak P3K nya".
__ADS_1
Lediya pun segera mengambilnya, lalu kembali duduk di sebelah suaminya.
"Kemarikan tanganmu, biar ku obati".
Tjhin pun memberikan tangannya yang terluka, sembari memalingkan wajahnya, lalu fokus menonton televisi.
Wanita itu segera membuka lilitan kain perlahan, setelah terbuka semuanya, ia menguyurkan alkohol diluka tersebut, sehingga menimbulkan perih.
"Aw ouch!, kau ini niat mengobati atau ingin menambah sakit lukaku hah, kau sengaja ya?", bentak Tjhin.
Tjhin kembali menghempas kan tangan Lediya.
"Tuan muda Tjhin, kira-kira berapa usiamu sekarang?, hanya begini saja kau sudah kesakitan dan marah-marah gak jelas, aku sedang membersihkan luka menggunakan cairan alkohol, untuk mencegah pertumbuhan bakteri di luka, sudah pasti ada rasa perih dan sakit".
Lediya menggelengkan kepalanya, lalu meraih kembali tangan pria itu.
"Aku juga tahu itu, tapi bisakah pelan sedikit mengobati nya".
"Baiklah, aku akan lebih berhati-hati lagi".
Lediyapun kembali fokus mengobati luka pria itu, setelah selesai membubuhkan betadine, ia mengambil perban dan menutup lukanya perlahan.
"Maaf", ucap Lediya singkat.
Tjhin yang tadinya fokus melihat televisi, segera memalingkan wajahnya, alis sebelah nya terangkat.
"Tadi kau mengatakan apa?".
Wanita itu telah selesai merekatkan perban, netranya menatap pria dihadapannya, mereka berdua pun saling bertatapan, saat menatap netra wanita itu, desiran aneh dihati Tjhin datang kembali, buru-buru ia mengalihkan netranya kembali menatap televisi di depan nya, ia takut kembali lepas kendali dengan mencium wanita disamping nya itu.
"Maaf atas perkataan ku, aku tahu perkataan ku pasti telah menyakiti mu tadi!", ucap Lediya penuh dengan penyesalan.
"Lupakan tak perlu diungkit lagi, lehermu apa masih sakit?", tanya Tjhin tanpa menengok, matanya tetap fokus ke televisi.
"Leherku sudah tidak apa-apa, tadi Jhon sudah mengobatinya, terima kasih sudah menanyakan nya, aku mandi dulu badanku sudah lengket".
Lediya segera beranjak pergi, mengambil baju ganti, lalu masuk ke kamar mandi.
Tjhin memantikan televisi nya, lalu memalingkan wajahnya memandang pintu kamar mandi, lalu ia menarik nafas panjang dan merebahkan diri di sofa.
"Apakah tindakan ku ini sudah benar, ingin membalas dendam kematian Jeje, dengan memanfaatkannya?, namun makin kesini hatiku semakin lemah, setiap menyakiti wanita itu, entah kenapa ada sedikit rasa sesal", gumam Tjhin.
Karena kepalanya masih sedikit pusing, Tjhin pun memejamkan sejenak matanya, dan akhirnya terlelap.
20 menit kemudian Lediya keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian santai, memakai kaos biru muda dan celana pendek jeans, rencana ia ingin keluar membeli oleh-oleh untuk para karyawan nya, karena besok ia dan Tjhin akan kembali ke JK.
Lediyapun berdandan dengan riasan tipis, wajah cantik alaminya, sungguh bisa memanjakan mata para kaum adam, selesai berdandan Lediya mengambil tas dan menyelempangkan ke tubuhnya, namun ia mendengar suara rintihan, segera ia menajamkan pendengarannya dan mencari sumber suara itu.
Dan ternyata suara itu berasal dari sofa, dilihatnya Tjhin berkeringat, matanya terpejam namun terlihat cemas.
"Tjhin... Tjhin bangunlah apa yang terjadi!".
__ADS_1
Bersambung....