
Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka, Lediya mengangkat kepalanya, matanya membulat sempurna ketika melihat pria itu keluar hanya dengan handuk yang melilit setengah di pinggangnya, rambutnya dibiarkan basah.
-Astaga ganteng banget sih nih cowo, ingin rasanya menubrukan diriku di dadanya itu, oh no apa yang sedang aku pikirkan, aku ini cewe masa otaknya mesum, eh tapi gak apa-apalah mesum sama suami sendiri, apa aku goda aja ya, astaga sepertinya aku harus memeriksa hormonku sekembalinya ke JK, apa aku ada kelainan ya, di novel yang kubaca dan drama yang kutonton itu cowonya yang agresif, kenapa kalau aku kebalikannya. (batin Lediya).
Karena begitu fokusnya memperhatikan Tjhin, tanpa sadar ponsel ditangannya terlepas, sehingga menimbulkan bunyi keras, Lediya pun segera tersadar dari lamunannya.
"Cih, sudah kubilang tidak akan ada wanita yang luput dari pesonaku, aku tahu dari tadi kau menatapku tidak berkedip, sampai ponselmu terjatuh", ledek Tjhin.
"Si... siapa bilang aku melihatmu, menurutku badanmu biasa saja, aku sering melihat badan yang lebih wow darimu, setiap para pengantin pria fitting jasnya di tempat ku", sahut Lediya, segera berlari masuk ke kamar mandi, wajahnya sudah merona merah.
Begitu melihat Lediya masuk kamar mandi, Tjhinpun segera membuka lemari untuk memakai kaos santainya dan celana pendek, namun terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, buru-buru Tjhin menyelesaikan berpakaian nya.
"Cepat sekali, kau mandi apa cuma cuci muka haa", Tjhin melirik ke arah kamar mandi, namun Lediya masih memakai gaunnya.
"Hehehe, maaf bisakah kau membantuku membuka resleting belakang gaunku ini, tanganku tidak bisa menggapainya", ucap Lediya.
"Ckckck, ya udah cepetan sini".
Lediya menghampiri Tjhin lalu berbalik, Tjhin pun berdiri di posisi belakang punggung Lediya,
lalu membukanya perlahan, Tjhin menelan l***h nya kasar, ia menatap punggung putih nan mulus Lediya tak berkedip.
"Udah belum", tanya Lediya namun tak ada jawaban.
"Woi Tjhin udah selesai belum, cepetan", teriak Lediya.
Tjhin pun tersadar dan segera menurunkan resleting sampai ke pinggang.
"Udah sono cepetan mandi, bau", Tjhin mendorong punggung Lediya menjauh.
__ADS_1
"Aw..., kagak usah pake dorong kali, makasih", ucap Lediya.
Lediya menuju ke lemari mencari-cari baju tidurnya untuk dibawa ke dalam kamar mandi dan dipakai setelah ia selesai mandi, sedangkan Tjhin segera mengambil ponsel dan duduk diatas kasur, sembari melihat layar ponselnya, lalu mencuri-curi pandang punggung putih mulus Lediya.
-Aduh pake baju apa ya, o iya kata si Sari pake lingerie yang kubeli kemarin bersamanya, aku jadi punya ide, akan ku uji imanmu Tjhin, benarkah kau tidak akan pernah menyentuh wanita yang tidak kau cintai ini, hahahaha. (batin Lediya).
Lediya masuk kedalam kamar mandi, ia menaruh beberapa aroma terapi sembari berendam di whirlpool bathtub,
"Aaah nyamannya, setelah seharian diriku kelelahan".
1 jam kemudian selesailah Lediya memanjakan tubuhnya di whirlpool bathtub, setelah membilas tubuhnya Lediya pun mencoba memakai lingerie berwarna biru,
"Iih kok aku jadi geli sendiri, ini mah sama saja kagak pake baju, masa bra dan cd ku masih kelihatan, ngapain juga ya kemarin aku nurut aja sama si Sari, beli lingerie kayak gini, ini mah ketauan banget aku mau ngegodain si Tjhin, ya iya kalau Tjhin kuat imannya, kalau kagak abislah aku, aduuuh ini mah namanya senjata makan tuan, mau nguji malah diuji balik, apa pura-pura aja salah ambil baju gitu, aaaaah gimana ini", ucap Lediya panik.
"Tok... tok... tok, Diya kamu tuh mandi apa tidur didalam, cepetan keluar", Tjhin terus mengetok pintu.
"Aduh gimana ini, mau keluar malu pake ginian, bodo amatlah pura-pura bego ajalah".
Mata Tjhin melebar, seketika wajah tampannya itu merona merah, matanya memandang Lediya dari ujung kepala sampai ujung kaki, belum lagi ditambah keharuman sabun mandi yang digunakan Lediya, membuat si otong dibawah nya bangun perlahan.
-Sial nih cewe, sengaja menggodaku dengan berpakaian seperti itu, aku tidak boleh menyentuh wanita yang tidak aku cintai, terlebih lagi, gadis ini putri dari Hardian pembunuh Jeje, Tjhin kau harus kuat. (batin Tjhin).
"Hehehe, maaf lama abis keenakan berendam di whirlpool, sampai lupa waktu", ucap Lediya berusaha santai, biarpun jantungnya berdetak cepat, lalu segera berjalan menghindari Tjhin yang masih berdiri terpaku.
Tiba-tiba lengan Lediya ditarik mendekat, sehingga badannya menubruk dada bidang Tjhin, merekapun saling bertatapan, wajah Lediya berubah merah, jantungnya berdetak semakin tak karuan.
Tjhin memiringkan sedikit kepalanya lalu m*****t bibir manis dan kenyal wanita dihadapannya penuh hasrat, Lediya segera mendorong dada Tjhin karena nyaris kehabisan nafas, tapi Tjhin belum puas, lalu melanjutkan aksinya dengan m*****t bibir Lediya, akhirnya terjadilah ciuman panas diantara ke duanya, namun tiba-tiba Tjhin pun tersadar, lalu melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Lediya menjauh, sehingga tubuh Lediya terbentur tembok di belakangnya.
"Ouch... aw, dasar pria s*****g, sakit tau", Lediya meringis kesakitan.
__ADS_1
Tjhin membuang mukanya kesembarang arah, wajahnya benar-benar memerah, ada sedikit perasaan malu atas perbuatannya tadi.
Sedetik kemudian, terdengar gelak tawa Lediya.
"Hahaha, Tjhin kau bilang tidak akan melakukannya dengan wanita yang tidak kau cintai, lihat tidak ada seorang priapun yang bisa menolak pesona seorang Lediya", ledeknya.
Tjhin hanya mendengus kesal, hampir saja dia kehilangan akal sehatnya, karena hasratnya yang hampir tak terkendali.
"Cih, tapi tetap saja tubuhmu itu belum cukup untuk membuatku tergoda, biarpun kau memakai pakaian seperti itu, karena memang tubuhmu tergolong biasa saja, bahkan bisa dibilang kurang menarik", balas Tjhin tak mau kalah.
Bohong kalau dia bilang tidak tergoda, Tjhin juga pria normal, hanya saja ia tidak mungkin mengakuinya, ia akan kalah sekaligus malu, jika Lediya tahu kalau dia tergoda dengan tubuh wanita itu.
Tjhinpun kembali duduk di atas kasur, dan mengalihkan pandangan nya ke layar ponsel.
-Kurang menarik katanya, perasaan tadi kulihat di cermin tubuhku ini cukup seksi, wajahkupun terbilang cantik, cuma badan aja mungil, tidak setinggi para model wanita, hmm salut aku sama iman nih laki, berarti tidak masalah aku pakai baju ini, lagian enak dan nyaman dipake, adem. (batin Lediya).
Lediya pun berdiri di samping ranjang hendak membaringkan tubuhnya, namun sebuah bantal, guling, dan selimut menghantam wajahnya.
"Yaaa, kau mau cari ribut ya, apa maksudmu melemparkan wajahku dengan bantal guling?", teriak Lediya dengan nada kesal.
"Siapa yang memperbolehkanmu tidur satu ranjang denganku, bawa semuanya itu, dan tidurlah disitu", Tjhin menunjuk tempat tidur gantung luar yang berada di samping kolam renang.
"Apa kau sudah gila menyuruhku tidur disitu, nanti aku bisa mati kedinginan, atau aku tidur di sofa itu ya please", Lediya memohon.
"Aku tidak mau tidur 1 ruangan denganmu, kau tidur disitu, atau tidak sama sekali", ucap Tjhin tegas, lalu segera berbaring dan menyelimuti tubuhnya, tanpa menghiraukan Lediya yang sedari tadi menahan diri untuk tidak menghajar suaminya.
Lediya mengambil batal, guling, dan selimut yang dilempar Tjhin tadi dengan terpaksa dan wajah cemberut, ia menghentakkan kakinya, lalu pergi ke tempat tidur gantung disamping kolam renang yang masih berada didalam cottage itu.
"Yah setidaknya malam pertamaku disini, ditemani taburan bintang di langit nan indah", ucapnya pasrah.
__ADS_1
Bersambung....