
Wanita itu melambaikan tangan sambil tersenyum.
Ekspresi wajah Tjhin mengeras, lalu memalingkan wajahnya ke arah Jhon asistennya.
"Apa maksudmu, membelikan dress seperti itu Jhon?", Tjhin mengangkat satu alisnya, tatapan tajam ia berikan ke arah asistennya itu.
"Hahaha, maaf aku bingung harus memilih outfit pantai yang disukai wanita, jadi aku menyuruh penjualnya yang memilih dan segera membungkus nya", Jhon menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Apa kau sengaja, karena ingin melihat tubuh istriku,hah?", Tjhin memicing kan matanya curiga.
"Mana berani aku berpikir seperti itu terhadap istri sahabatku ini, aku masih sayang nyawaku bro!, sungguh aku tidak tahu, karena setelah penjual itu memilih, dia langsung membungkus nya, tanpa kulihat dan cek lagi, tapi menurut ku seleranya bagus, dress itu sangat cantik dan pas ditubuh Diya".
"Kau memang mau cari mati Jhon!!", sahut Tjhin kesal.
Jhon pun tergelak menyaksikan wajah sahabat kecilnya itu merengut kesal.
Tjhin bangkit dari kursinya, ia tidak rela bila ada laki-laki yang menikmati kecantikan istrinya, pria itu buru-buru menghampiri wanita itu yang hanya tinggal beberapa langkah.
"Kenapa kau memakai baju seperti ini, naikan ini, dan juga ini, kau sengaja ya ingin menggoda para pria disini".
Tjhin menaikan tali sampai ke atas pundak dan kemben depan dada ditarik ke atas olehnya.
"Astaga Tjhin, outfit pantai inikan model sabrina, ya cara pemakaian nya harus begini, kalau dinaikkan jadi aneh".
Lediya hendak menurunkan dan merapikan kembali modelnya, namun Tjhin menahan tangannya.
"Awas kalau kamu turunkan kembali, jangan ngebantah".
"Ish, ganteng-ganteng tapi pikirannya kolot", ucap Lediya pelan.
"Aku mendengar nya".
"Hey, kau memang pria aneh, bukannya kau sendiri yang menyuruhku untuk memakai baju yang dibeli oleh Jhon, kenapa saat aku memakainya malah kamu terlihat tidak senang?", tanya Lediya heran.
"Aku tidak suka, istriku memakai pakaian yang terlalu terbuka", sahut Tjhin.
Tjhin tidak rela istrinya mendapat tatapan mata lapar dari pria manapun, ia segera menggandeng tangan Lediya, lalu pergi meninggalkan tatapan para pria dan wanita yang nampak kecewa, karena ternyata mereka berdua pasangan.
"Dari semua pakaian yang dibeli Jhon, hanya ini yang lumayan tertutup daripada yang lainnya, aku biasanya tidak menyukai dress, tapi kulihat beberapa outfit pantai yang dibeli Jhon cukup bagus dan modern, aku jadi sedikit suka memakainya", ucap Lediya melirik Jhon dan tersenyum.
"Seleramu emang top Jhon".
Lediya memberikan 2 jempol ke arah Jhon, dan pria itupun tersenyum bangga.
"Cih, selera top, dicek atau dilihat saja tidak sama dia", gumam Tjhin.
"Tjhin, kenapa kau terus menggandeng tanganku, kita mau kemana emangnya?, aku bisa berjalan sendiri", ucap Lediya.
Saat tersadar kalau dari tadi ia menggandeng tangan wanita itu, segera ia melepaskannya.
"Ehem, Aku takut kau tertinggal, jalanmu kan lelet seperti siput".
"Huh, bukan akunya yang lelet, tapi berjalan mu yang terlalu cepat", gumam Lediya.
__ADS_1
Tjhin, Lediya, dan Jhon pun segera menuju lobby, didepan sudah menunggu mobil porsche merah, untuk membawa mereka mengelilingi pulau Dewata itu.
"Ini kuncinya!".
Jhon memberikan kunci mobil porsche merah itu, ia membukakan pintu mobil untuk Tjhin juga Lediya, Tjhin duduk dikursi pengemudi, sedangkan wanita itu duduk di samping kursi pengemudi.
"Loh Jhon, kau tidak ikut pergi bersama kami?", tanya Lediya.
"Aku tidak bisa ikut, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesai kan".
"Oo baiklah, apa kau mau titip sesuatu Jhon?", tanya Lediya lagi.
"Tidak, terimakasih", sahut Jhon.
"Kalau be...... ".
"Kau ini cerewet sekali, jadi pergi atau tidak?", tanya Tjhin ketus.
"Tentu saja jadi, aku kan mau beli oleh-oleh buat karyawan dan temanku", Lediya mencebikkan bibirnya.
"Kalau begitu diamlah, jangan kebanyakan tanya, Jhon kita pergi dulu".
Tjhin pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka berdua saling terdiam, Tjhin fokus kedepan melihat jalan, sedangkan Lediya menatap pemandangan disamping nya.
Wajah wanita itu terlihat berseri-seri, terpampang senyum diwajahnya, ia menatap pemandangan sepanjang jalan pulau Dewata itu, matanya berbinar melihat hamparan pantai juga batu karang, dan pepohonan yang indah.
Tjhin sekilas menatap wanita yang berada disampingnya itu, tanpa sadar ia pun ikut tersenyum, dan kembali fokus mengemudi.
Pria itu memarkirkan mobilnya, lalu turun dan membukakan pintu untuk Lediya, wanita itupun segera turun, setelah menutup dan mengunci mobilnya, perlahan tangan pria itu melingkari pinggang wanita itu, mereka melangkah masuk ke restoran.
Deg
-Apa gak salah nih cowo, sejak kapan jadi romantis begini, O iya aku lupa, pasti orang suruhan ibu mengikuti kita, makanya dia berakting biar kita kelihatan mesra, kenapa gak jadi aktor aja sekalian, pasti kamu akan mendapatkan penghargaan aktor terbaik. (batin Lediya).
"Eh tunggu, kenapa kita malah ke restoran, bukannya kita mau membeli oleh-oleh?", tanya Lediya.
"Iya nanti aku bawa kamu ke toko Krisna, tapi sebelumnya kita makan dulu, sekarang sudah jam makan siang, memang kau tidak lapar!", ucap Tjhin sembari duduk di salah satu meja.
Pelayan restopun segera menghampiri mereka, dan memberikan buku menu.
"Selamat siang tuan dan nyonya, silakan memesan, saya akan mencatat nya", ucap pelayan itu.
Tjhin maupun Lediya membuka dan membaca menu yang tersedia.
"Kau ingin makan apa?", tanya Tjhin.
Lediya mengerutkan keningnya, menatap dengan penuh kebingungan.
"Aku pesan nasi goreng seafood dan vegetables smoothie", ucap Lediya
__ADS_1
"Saya Pesan daging domba, dan mocktail", ucap Tjhin.
"Baik, tuan dan nyonya mohon menunggu sebentar", ucap pelayan itu dan berlalu pergi.
"Tjhin karena besok kita sudah kembali ke JK, bolehkah aku meminta rekaman CCTV yang terpasang di cottage tempatku merias?", tanya Lediya.
"CCTV untuk apa?", ucap Tjhin datar.
"Jhon pasti sudah memberitahukan mu soal insiden obat bius itu kan, aku ingin mencari pelakunya", Lediya menjelaskan.
"Kau tidak perlu ikut menyelidiki nya, biar aku dan Jhon yang mengurus nya, lebih baik kau berdiam diri saja".
Seketika wajah Tjhin berubah dingin.
"Tidak bisa!, orang itu jelas-jelas ingin mencelakai ku, bagaimana aku bisa berdiam diri saja, pokoknya aku minta copy rekaman CCTV itu", ucap Lediya penuh dengan keseriusan.
"Aku bilang itu urusanku dengan Jhon, lagipula saat terjadi CCTV depan cottagemu itu sedang dalam perbaikan", jawab Tjhin
Lediya menatap lurus ke arah mata pria itu, namun Tjhin segera memalingkan wajahnya ke arah laut lepas, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan olehnya.
"lalu bagaimana dengan CCTV sepanjang jalan ke arah cottage ku itu?", tanya Lediya penasaran.
"Kata stafnya, sebagian CCTV di cottage itu sedang dalam perbaikan, termasuk jalan menuju cottagemu", ucap Tjhin berusaha setenang mungkin.
"Benarkah, aneh bisa tepat di hari itu, tiba-tiba CCTV tidak berfungsi, apa kau tidak curiga sama sekali?", Lediya memicingkan matanya.
"Sudah tidak perlu dibahas lagi, serahkan itu padaku, dan Jhon, paling itu hanya ulah salah satu fans fanatikku, aku mengajakmu kesini untuk makan siang, jangan merusak selera makanku, oke", jawab Tjhin.
Tak lama pesanan mereka pun datang, Tjhin menyantap hidangan diatas meja dengan santai, namun tidak dengan Lediya, tangannya menggerakkan garpu dan sendok kemulutnya, namun matanya terus menatap curiga pada pria dihadapnya.
Karena terus ditatap dengan wanita itu, Tjhin pun merasa terganggu, lalu menghentikan acara makannya, dan membalas tatapan wanita itu.
"Kenapa kau terus menatap ku, apa ada yang salah dengan wajahku?", tanya Tjhin.
"Tidak apa-apa, silakan lanjutkan makanmu".
Tjhin pun kembali menyantap makanannya.
Lediya memalingkan wajahnya ke luar jendela resto, menikmati pemandangan laut lepas, pikirannya pun melanglang buana, merangkum satu persatu peristiwa, yang membuat nya curiga.
-Tjhin pasti menyembunyikan sesuatu, apa mungkin dia yang menyuruh seseorang untuk memberikan obat bius itu, supaya pernikahan ku dengannya gagal, ah itu tidak mungkin, karena dari awal dialah yang memaksa untuk menikahiku, dengan memanfaatkan perusahaan ayahku yang butuh kucuran dana darinya. Lalu siapa kira-kira orang itu?, Tjhin maupun Jhon, seperti ingin menutupinya. Sepulang berbelanja aku akan coba mencari tahu dari para staf yang bertugas di cottage itu. (batin Lediya).
"Diya".
"Diya".
Tjhin terus memanggil, namun wanita itu seperti nya masih terlarut dalam pikirannya, sehingga tidak mendengar dirinya dipanggil.
Pria itupun bangkit dari kursinya dan...
Cup
Bersambung.....
__ADS_1
Biar LidZ semangat nulis sama up nya,
jangan lupa Like, Vote, dan komennya dong readers.