
Lediya hendak bangkit dari posisi nya, namun terdengar suara bentakan seorang pria,
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?".
Tanya Tjhin kaget melihat pemandangan yang tertangkap matanya.
Tjhin terus mencari-cari istrinya kesana kemari, tapi saat menemukannya, ia di sajikan oleh pemandangan yang membuatnya sangat marah.
Lediya dan Jun segera bangkit,
"Tjhin ini tidak seperti yang kau pikirkan, tadi kakiku keram, dan.... ".
"Diam!!!".
Tjhin memotong perkataan Lediya, dan segera menarik lengannya dengan mata yang berapi-api.
"Jun, apa kamu berpura-pura tidak tahu, kalau Diya itu istriku, bisa-bisanya kalian berduaan disini!", ucap Tjhin geram.
"Apa itu salah?, aku hanya menemani sepupu iparku, karena ia sendirian disini", sahut Jun tak mau kalah.
"Apa kau perlu memeluknya?,ingat dia istriku, jangan pernah menyentuhnya tanpa se izinku!!".
Tjhin pun menarik lengan Lediya dan segera pergi meninggalkan Jun, yang terdiam terpaku memandangi punggung Lediya, sampai menghilang dari pandangan nya.
Sesampainya di cottage, Tjhin melemparkan tubuh Lediya ke atas sofa,
"Bruuk".
"Kau adalah istri dari pewaris utama keluarga Lee, bersikaplah yang pantas, apa kau sudah melupakan surat perjanjian yang sudah kita tanda tangani bersama!", geram Tjhin.
"Jangan pernah bermain dengan pria manapun, meski dia sepupuku, apa kau paham?", ucapnya lagi.
"Apa, maksudmu?".
"Jika kamu ingin dipeluk oleh seorang pria, kenapa menolak nya saat aku memelukmu?", ucap Tjhin.
"Cih, Apa perlu aku menghangatkan mu setiap malam, supaya kamu tidak menjadi seperti perempuan murahan, yang melemparkan diri ke pria manapun", ucap Tjhin lagi dengan tatapan menghina.
"Aku tidak punya waktu untuk bercanda, kenapa kau tidak pernah mau mendengar kan penjelasan ku terlebih dahulu?", sahut Lediya kesal.
"Apalagi yang perlu dijelaskan, aku melihat dengan mata ku sendiri, kalian berdua berpelukan layaknya seorang kekasih!".
"Sudah kubilang kakiku tiba-tiba keram dan tak sengaja terpleset, Jun hanya menangkap ku karena aku jatuh menimpa tubuhnya".
"Kau memang sangat pandai berbohong dan mencari alasan", ucap Tjhin.
"Lalu apa kamu bisa memeluk ku seperti yang kau lakukan bersama Jun tadi?, cih, denganku kau marah saat aku menyentuh bibirmu, tapi dengan orang lain, kamu tidak marah", ucapnya lagi penuh dengan sindiran.
"Jika kita bercerai, apa kamu bermaksud lari bersama dia, hah!", sindirnya lagi.
__ADS_1
"Cih, sekarang aku tahu kenapa aku merasa jijik!, sebaiknya aku mencuci seluruh tubuhku yang pernah kau sentuh", ucap Lediya.
"Apa?", ucap Tjhin geram.
Wajahnya benar-benar merah padam, kedua tangan nya mengepal menahan amarah, mendengar hinaan yang keluar dari mulut istrinya kepada nya, amat sangat melukainya.
"Terserah apa yang ingin kau pikirkan, percuma juga ku menjelaskan ke pria kepala batu seperti mu, aku lelah sebaiknya aku tidur", ucap Lediya kesal.
Lediya hendak beranjak pergi, namun dengan cepat Tjhin menarik lengannya dan menjatuhkan nya ke atas kasur, mata Tjhin dibakar amarah, rahangnya menegang, Tjhin mengambil ikat pinggang dan kain, lalu mengikat ke dua tangan juga kaki Lediya,
"Tjhin apa yang kau lakukan, lepaskan", Lediya meronta.
"Dengan ku kau jual mahal, namun dengan sepupuku kau mengobralnya, dasar wanita murahan", ucap Tjhin geram.
"Sreeeeek".
Tjhin menarik kemeja yang menempel di tubuh Lediya dengan penuh amarah, kancingnya berhamburan, menyembulkan sesuatu untuk dimangsa, membuat hasrat laki-laki Tjhin bergelora.
"Aaaaah hentikan, kau benar-benar sudah gila", teriak Lediya sembari berusaha membuka tali yang mengikat tangannya, namun Tjhin menjerat dengan satu cengkraman.
"Bukankah ini yang kau inginkan, bukankah lebih baik aku suamimu yang jelas-jelas memiliki hak untuk menyentuhmu, daripada laki-laki lain".
"A... ku... tidak mau...!", rintih Lediya nampak gelisah.
Tjhin pun menindih tubuh kecil wanita itu, dan m*****t bibirnya dengan kasar, namun tidak ada sambutan dari sang istri, sehingga ia mengigit kecil bibir bawahnya,
"Hmphhh".
Lidah Tjhin segera bergerilya dan masuk lebih dalam lagi ke rongga mulut Lediya mengabsen deretan gigi-gigi putih dan lidahnya, lalu turun memberi kecupan di leher, berlanjut hingga ke d**a Lediya.
"Lepaskan, bukankah kau sendiri berkata, kalau tidak akan melakukan nya dengan wanita yang tidak kau cintai?", Lediya mengingatkan, seketika pecahlah tangisannya.
Mendengar perkataan dan tangisan Lediya, Tjhin pun segera sadar dan segera mengurung kan hasratnya, ia segera bangkit dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar mandi.
"B******k kau Tjhin".
Lediya segera membuka ikatan tangannya menggunakan giginya hingga terlepas lalu buru-buru membuka ikatan kakinya, setelah semua berhasil terlepas, ia segera bangkit menuju lemari, mengambil sembarang baju lalu memakai nya.
Sementara di kamar mandi, Tjhin mengguyur dirinya dibawah shower untuk mendinginkan kepala dan tubuhnya, sembari meruntuki dirinya yang sempat Khilaf dan hampir melanggar prinsipnya.
"Sial, ada apa denganku, mengapa aku bisa begitu marah, bahkan sangat menikmati kegilaan yang ku perbuat, maafkan aku Jeje hampir saja aku mengkhianati cinta kita", ucapnya lirih sembari meninju tembok.
Selang beberapa menit keluarlah Tjhin dari kamar mandi, saat dirinya melangkah keluar, Lediya menerjang dan menghajar pria yang berstatus suaminya itu, wanita itu terus menyerangnya membabi buta.
"B******n, aku tidak bisa tinggal diam, seenaknya kau memperlakukan ku seperti wanita j****g", mata Lediya berapi-api tanda bahwa ia sangatlah marah.
"Bug".
"Dug".
__ADS_1
"Bruak".
Tjhin yang tidak siap dengan serangan Lediya hampir kalah, pria itu segera membalikan keadaan, namun wanita itu tidak mudah menyerah, ia melakukan segala upaya untuk melawan Tjhin, beberapa teknik taekwondo ia keluarkan agar tidak kalah, sepasang anak manusia itu terus bergumul saling serang, mereka berdua tidak menghiraukan seisi cottage mereka sudah terlihat bak kapal pecah.
Terdengar ketukan pintu,
Tok... tok... tok
Namun mereka berdua tidak menghiraukan nya, karena terlarut dalam perkelahian.
Tak lama sosok yang mengetuk pintu itupun, mendengar keributan dari dalam, dan segera membuka pintu itu.
"Braaak".
" Apa yang telah terjadi?", tanya Jhon sembari melihat ke sekeliling cottage itu yang benar-benar sudah porak poranda.
"Hentikan... ", teriak Jhon.
Jhon melihat pergulatan antara Tjhin dan Lediya yang sama kuat, bahkan Tjhin terlihat lebih babak belur daripada Lediya, Jhon berusaha untuk memisahkan perkelahian antara Tjhin dan Lediya, tapi apalah daya, malah Jhon ikut terkena tonjokan dan tendangan.
Tak lama terdengar jelas, keduanya kehabisan tenaga, dari suara nafas mereka yang terputus-putus.
Rambut Tjhin yang biasa rapi, kini semerawut tidak jelas, belum lagi memar-memar ditubuhnya, terdapat darah dari hidung dan ujung mulutnya, sungguh mengenaskan.
Sedangkan Lediya tidaklah separah Tjhin, hanya rambut nya yang berantakan, dan beberapa memar di wajah, tangan, dan kaki saja, luka yang diterima wanita itu dari perkelahian mereka, karena memang sejak awal tujuan Tjhin bukan untuk melukai Lediya yang seorang wanita.
Lediya ternyata masih belum puas dan tidak terima, lalu ia menyerang dengan menendang pria itu hingga tersungkur, Tjhin segera bangkit mencengkram dan mengunakan bantingan judo,
"Bruk".
Tjhin langsung menindih tubuh Lediya dibawah tubuhnya, dan menahan kedua tangan wanita itu, agar tidak bisa bergerak lagi, sepasang anak manusia dengan jarak sangat dekat itu, saling menatap tajam, memang benar jantung mereka berdetak lebih cepat tapi bukan karena ada perasaan hangat yang menyelimuti mereka, melainkan perasaan marah yang memuncak sampai ke ubun-ubun.
Tjhin marah karena Lediya berani menghinanya, dan menolak sentuhan nya namun tidak dengan sepupu nya.
Sebenarnya Tjhin sedang dilandan kecemburuan yang terlalu kental, namun ia tidak menyadarinya.
Sedangkan Lediya marah karena merasa terhina dan sangat dilecehkan oleh pria yang ia cintai, pria itu telah menimbulkan luka yang amat sangat di hatinya.
"Sebaiknya kalian berhenti, lihatlah seisi cottage ini sudah tak berbentuk", ucap Jhon.
Akhirnya mereka berdua pun menghentikan perkelahian mereka, Lediya beranjak duduk di sofa, sedangkan Tjhin beranjak duduk dipinggiran ranjang, keduanya menahan sakit.
"Tunggulah disini, ingat jangan saling menyerang lagi, aku akan pergi mengambil es batu, dan meminta beberapa orang membersihkan tempat ini", Jhon memperingati.
-Saat ini aku sungguh mendapatkan pelajaran, jika wanita yang sedang marah itu, akan lebih kuat dibanding pria yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya nya, wanita memang makhluk yang unik. (batin Tjhin).
Bersambung....
Hey Readersku sayang maaf telat up lagi nih, yang mampir jangan pelit-pelit ya kasih Like, Vote, dan Koment buat LidZ, biar semangat nih nulis dan up nya, jangan lupa masukkan ke favorit kalian. thanks🥰
__ADS_1