Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Sedetik Ciuman Pertama


__ADS_3

Tjhin telah selesai mandi, Tjhin keluar dengan hanya mengenakan handuk mandi yang menutupi pinggang, mata Lediya terbelalak kaget, dan segera menutup matanya.


"Yaaaa, kau kira ini di kamar mu, cepat pakai baju sana di walk in closet, kau telah menodai mata perawanku tau", Teriak Lediya, sembari mengibas-ngibas kan tangannya menyuruh Tjhin segera pergi dari hadapannya.


Melihat tingkah laku Lediya yang gugup, dan terlihat lucu, timbulah di pikiran Tjhin untuk mengerjai Lediya, Tjhin menghampiri Lediya dengan senyum menyeringai dan sengaja duduk tepat disamping Lediya yang masih terus menutup matanya, Tjhin meraih tangan Lediya.


"Kenapa kau harus gugup bentar lagikan kita resmi menikah, tanganmu ini juga boleh kok menyentuh dadaku ini", sembari menempel kan tangan Lediya ke dadanya,


"Kyaaa, hentikan kau sungguh pria tak berakhlak, lepaskan tanganku", teriak Lediya sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Tjhin.


"Lepaskan!jangan sampai aku memukuli mu", ucap Lediya lagi,


"Oh ya, perlihatkan semua jurus mu padaku aku ingin tahu apa kah gadis mungil seperti dirimu ini bisa mengalahkan ku", ucap Tjhin menantang,


"Kamar ayahku berada persis di sebelah kamarku, sudahlah aku tidak mau bertengkar denganmu lagi, lebih baik aku pergi mandi",ucap Lediya kesal sembari beranjak dari kasurnya.


Tjhin pun segera meluruskan kakinya sengaja membuat Lediya tersandung, Lediya pun terjerembab jatuh ke lantai.


"Ouch, Aw...pria s*****g",ucap Lediya geram sembari mengepal kan tangannya, lalu segera bangkit untuk memberikan tinju kepada Tjhin, namun tak sengaja kakinya tersandung kembali dan jatuh meniban tubuh Tjhin, sehingga bibir keduanya tak sengaja bersentuhan.


"Cup".


Tjhin terbelalak, saat itu juga mbok Inah membuka pintu kamar.


"Non Ini Cem....,maaf maaf", mbok inah segera menutup pintu kamar kembali, Diya segera melepas kecupannya, mereka berdua saling bertatap, Diya masih belum beranjak dari posisinya.


"Hey, mau sampai kapan kau meniban tubuhku seperti ini, atau kau ingin melakukan lebih dari ini sayang ",goda Tjhin sembari tangannya mengeratkan pelukan di tubuh Diya.


"Kyaaa tidak, dasar otak m***m",teriak Diya tangannya memukul pangkal kepala Tjhin, dan segera bangkit lalu berlari masuk ke kamar mandi.


"Ouch, sakit...keras juga pukulan nya aw...",Tjhin meringis,sembari mengelus-ngelus pangkal kepalanya yang tadi di pukul Lediya, dan segera memakai bajunya.


Sementara itu mbok Inah masih berada di depan pintu kamar Lediya, mengelus dadanya, karena kaget.


"Astaga, saya lupa non Diya kan saat ini sedang bersama dengan calon suaminya, tapi mbok gak sangka non Diya agresif juga", gumam mbok Inah terkekeh.


Mbok Inah melangkahkan kakinya untuk turun kebawah, namun terhenti.


"Wualah sampai lupa, mau kasih cemilan malam buat non Diya dan tuan Tjhin".


Akhirnya mbok Inah kembali kedepan pintu kamar Diya, kali ini dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


" Non Diya, mbok mau anterin cemilan malam buat Non, dan tuan Tjhin, mbok udah boleh masuk belum?", Tanya mbok Inah.


Terdengar suara Tjhin dari dalam kamar.


"Masuk aja mbok, Diya lagi dikamar mandi".


Mbok Inah pun segera membuka pintu.


"Mbok masuk ya tuan, ini ada kue kering dan buah, silakan di makan tuan", Mbok Inah menaruh nampan di atas meja kamar.


"Terima Kasih Mbok", ucap Tjhin tersenyum.


"Mbok permisi dulu tuan, selamat malam",ucap mbok Inah dan segera keluar dari kamar.


Diya mandi dan berendam dalam bathtub, dan merilekskan diri, lalu teringat dengan ciuman tak sengajanya tadi.


"Pada akhirnya, Tjhin lah yang mengambil ciuman pertamaku, dasar ceroboh, kenapa harus tersandung sih",gumam Lediya sedikit kesal.


Jauh dilubuk hatinya ada perasaan bahagia juga, karena dari awal pertemuan, Diya memang sudah jatuh cinta dengan sosok Tjhin, hanya saja Tjhin tidak merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan nya, maka dari itu Diya pun mencoba bersikap seolah-olah membenci Tjhin, untuk menutupi perasaannya yang tak terbalas, karena harga diri seorang Lediya sangatlah tinggi setinggi langit biru.


Selesai membersihkan diri, Lediya menjulurkan kepalanya terlebih dahulu, matanya berkeliling memeriksa, disaat yakin kalau Tjhin tidak ada didalam kamar, Lediya segera berlari hanya dengan berbalut handuk menuju walk in closet, membuka dan menutup pintu lalu menguncinya.


"hehehe, aman",ucap Lediya.


"kyaaa, Tjhin ngapain kamu disini, bukannya kamu ada diluar kamar", ucap Lediya gugup.


Buru -buru, tangannya menutup badannya yang hanya berbalut handuk.


Tjhin meneguk l***h nya susah payah, saat melihat, tubuh Lediya yang hanya berbalut handuk itu, terlihat sangat cantik dan seksi, lekukan leher yang cantik, kulitnya yang putih mulus, bibir merah mudanya yang seksi, baru kali ini Tjhin menyadari betapa cantik dan Seksi nya seorang Lediya, ditambah mereka berada di walk in closet yang cukup kecil.


"Kau seperti nya tidak memahami situasi, apa kau sengaja menggoda ku Diya",ucap Tjhin sembari berjalan mendekati Lediya.


"Berhenti, atau kau kuhajar, menjauhlah", ucap Lediya gugup sembari mengeluarkan kuda-kuda nya.


-tapi aku cuma berbalut handuk, kalau aku mencoba mengeluarkan jurusku, bisa-bisa handuk di tubuhku ini terlepas, itu bisa jadi lebih berbahaya. (batin Lediya).


-s**l, aku pria normal tidak mungkin bisa aku menahan nya, kalau terus seperti ini tubuhku bisa mengkhianatiku, aku harus segera keluar dari tempat ini. (batin Tjhin)


Tjhin terus berjalan maju, Lediya berjalan mundur sehingga menyentuh daun pintu walk in closet, tangan dan kakinya masih memasang kuda-kuda, mata Tjhin dan Lediya pun bertatapan.


"Minggirlah", ucap Tjhin menatap tajam.

__ADS_1


Lediya mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud perkataan Tjhin.


"Ku bilang minggir! kau menghalangi pintu tau", teriak Tjhin kesal.


Lediya segera menggeser tubuhnya kesamping menjauhi pintu, Tjhin segera membuka lalu membanting pintu dengan cukup keras, sehingga membuat Lediya kaget.


" Yaaaa, kau kira ini pintu milikmu, kalau rusak kau mau menggantinya haa, dasar pria s*****g", ucap Lediya dengan nada kesal.


Lalu segera mengunci pintu, karena takut Tjhin tiba-tiba masuk lagi, namun ada rasa kagum dalam diri Lediya kepada Tjhin.


"Syukurlah Tjhin benar-benar pria sejati, kalau pria lain berada di posisi nya tadi, aku pasti sudah habis dilahap mereka",ucap Lediya sembari tersenyum.


"Haa untung hanya semalam, kalau tidak aku bisa gila dibuatnya, ini bukan niatku sama sekali, setelah menikah nanti, kamar kami harus terpisah", gumam Tjhin sembari membaringkan dirinya di kasur.


Tjhin menatap langit-langit, sejenak masih terbayang wajah cantik, dan tubuh seksi Lediya yang hanya berbalut handuk, buru-buru Tjhin menepisnya.


"Cih, sebaiknya aku segera tidur", ucap Tjhin membaringkan diri di kasur, lalu mengambil guling dan menutupi dirinya dengan selimut.


Setelah memakai Piyama, Lediya pun segera keluar dari walk in closet.


"Kau sudah tidur Tjhin, kau tidak ingin menonton televisi sambil menyantap cemilan dan buah ini?", ucap Lediya.


Lediya membawa nampan berisi cemilan lalu duduk di sofa dan menyala kan televisi, untuk menonton drama Korea kesukaan nya.


"Kecilkan suaranya, aku mau tidur", teriak Tjhin.


"Cih, iya boss besar bawel", ucap Lediya lalu mengecilkan suara televisi.


30 menit kemudian Diya mulai merasakan kantuk,


"Hoaaam, sebaiknya aku segera tidur, karena besok aku harus menemani ibunya Tjhin berbelanja",gumam Diya dan mematikan televisi.


Diya melihat ke arah kasur,


"Apakah dia sudah tidur", ucap Lediya.


Kakinya mengendap-ngendap mendekati Tjhin untuk memastikan apakah Tjhin sudah tertidur pulas, Lediya berdiri di samping Tjhin, ia menatap lekat-lekat wajah tampan Tjhin yang sedang tertidur.


"Melihat wajahnya yang tertidur seperti ini, sungguh seperti bayi yang tidak berdosa, begitu lembut, dan sangat tampan, kenapa kalau kau terbangun, kau begitu dingin dan tak pernah kulihat senyuman hangat di wajahmu, tapi kau memang pria yang sangat malang, pasti kau belum bisa melupakan kekasih mu yang telah tiada", gumam Lediya.


" Sudah puas melihat wajah tampanku ini", Tiba-tiba Tjhin berbicara lalu membuka matanya, dan menarik tangan Lediya , sehingga tubuh Lediya terjerembab meniban dadanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2