Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Piano


__ADS_3

Setibanya di JK, Lediya segera dibawa ke kediaman keluarga Lee, Almira ibu Tjhin, dan bibi Kim menyambut mereka berdua dengan hangat.


" Ma, bibi Kim kami sudah kembali ", ucap Tjhin sembari memeluk dan mengecup pipi Almira ibunya.


"Selamat datang ke dalam keluarga Lee Diya, mulai sekarang kau tinggal disini bersama Tjhin", ucap Almira lalu memeluk menantunya dengan hangat.


" Tapi ma, aku belum mengepak dan membawa barang-barang ku ", ucap Lediya.


" Tak perlu khawatir sayang, ayahmu sudah mengepak nya untukmu kemarin, semua ada dikamar Tjhin dan sudah dirapikan oleh bibi Kim ", ucap Almira.


" Oh, terima kasih ma ".


" O ya Tjhin sebaiknya kamu bawa istrimu ke kamarmu, untuk berganti baju, setelah itu kita makan siang bersama ", ucap Almira.


" Baik ma, aku kekamar dulu ya, ayo sayang ", ucap Tjhin sembari merangkul pundak istrinya.


" Tu... tunggu, bibi Kim ", panggil Lediya.


" Iya nyonya, ada yang bisa dibantu".


Bibi Kim segera menghampiri nyonya mudanya.


" Di tas besar ini ada oleh-oleh untuk bibi Kim, juga semua pelayan dirumah ini, tolong dibagikan ya bi ", ucap Lediya.


" Oh terimakasih nyonya, saya akan membagikan nya nanti ke semua pelayan dirumah ini, terima kasih ", jawab bibi Kim.


" Lihat Kim, anakku memang pandai memilih seorang istri bukan, sudah cantik, pintar, juga memiliki hati yang baik, dan perhatian ", ucap Almira bangga.


" Iya nyonya, anda sungguh beruntung, memiliki seorang putra dan juga menantu yang hebat dan baik hati ", ucap bibi Kim tersenyum.


Lediya tersipu malu, mendengar pujian dari ibu mertuanya dan bibi Kim pengasuh Tjhin dari kecil, hatinya begitu bahagia karena semua orang yang terdekat dengan suami nya itu menyukai dirinya, namun saat mengingat sandiwara yang sedang mereka mainkan selama ini, seketika hatinya pun berubah sedih.


-Kalau seandainya pernikahan ini sungguhan betapa bahagianya diriku, inilah yang kuharap selama ini, menikah dengan pria yang kucintai dan diterima dengan hangat oleh keluarga suamiku, namun hanya 1 yang kurang, saat ini Tjhin tidak pernah mencintaiku, dan aku harus bersiap apabila suatu saat nanti dia ingin menceraikan ku. (batin Lediya).


Wajah Lediya pun berubah sedih, hal itu terlihat oleh Almira mertua nya.


" Loh Diya sayang ada apa, kok tiba-tiba diam?", tanya Almira.


" Ah ti... tidak ada apa-apa kok ma hehehe, mungkin karena sedikit lelah saja", ucap Lediya.


" Oo, kalau gitu kamu istirahat dulu saja Diya, nanti kalau makan siang sudah siap, kami akan memanggil kalian, Tjhin cepat bawa istrimu kekamar ", ucap Almira.


" Baik ma, ayo sayang ", ucap Tjhin


Dua pasangan pengantin baru itupun, melangkah pergi menaiki lift ke lantai 2.


- Konglomerat emang beda, dirumah aja ada lift, kira-kira rumah ini ada berapa lantai ya, aku udah gak sabar ingin mengelilingi rumah mewah ini. (batin Lediya).


" Kau sudah pernah kubawa kekamarku kan, ada di lantai 2, jadi kau bisa menaiki lift kalau lelah atau sedang membawa barang, dan juga bisa naik turun menggunakan tangga kalau kekamar, rumah ini ada 3 lantai", Tjhin menjelaskan.


Ting...


Sampai lah mereka di lantai 2, Di lantai ini ada 2 kamar, dan ruang santai dan nonton TV, disitu juga terdapat sebuah piano.



" Wah ada sebuah piano, Tjhin apa kau suka memainkan piano? ", tanya Lediya.


" Yah terkadang aku memainkan nya, saat pikiran ku sedang suntuk, atau bosan ", jawab Tjhin.


" Oh ya, aku juga suka bermain piano disaat ingin menenangkan diri, ataupun mengisi kebosanan saat dirumah, tadinya kalau tidak ada piano disini, aku ingin membawa piano ku yang dirumah ", ucap Lediya tersenyum.

__ADS_1


Lediya pun mendekati piano tersebut, mengamati dan membuka satu persatuan partitur lagu, lalu berhenti di partitur lagu Canon in D major - Johann Pachelbel.


Wanita itu memainkan piano dengan penuh penghayatan, terlihat begitu cantik, dan percaya diri, jari-jari lentiknya bergerilya menekan tuts-tuts piano dengan sangat lincah.


Permainan piano Lediya membuat Tjhin terpesona, matanya tak lepas menatap kagum wanita itu.


Seolah terhipnotis dengan permainan piano wanita itu, perlahan pria itu pun mendekati lalu duduk disamping wanita itu dan ikut memainkan piano bersama, terjadilah duet piano antara Tjhin juga Lediya, menambah indah dan keromantisan alunan lagu Canon in D major.


Setelah beberapa menit memainkan piano bersama, mereka pun mengakhiri permainan mereka.


Plok... plok... plok


Terdengar tepukan tangan dari arah belakang punggung mereka, Tjhin dan Lediya pun segera memalingkan wajah mereka, melihat kearah suara tepuk tangan tersebut, dibelakang mereka ternyata telah berdiri Almira, Suk Ho, Hardian, juga bibi Kim, mereka berempat berdecak kagum dengan permainan keduanya.


Kedua pasang pengantin baru itupun, segera bangkit berdiri, Lediya menghampiri Hardian ayahnya.


" Pa, ayah, kalian sudah datang ", sapa Tjhin.


" Ayah, kau sudah datang ", Lediya menghampiri Hardian dan memeluknya dengan erat.


" Papa juga sudah datang ", Lediya menyapa Suk Ho dan menyalaminya.


" Hmm ", Suk Ho sedikit mengangguk.


" Wow Diya, ternyata kamu juga sangat pandai memainkan piano sayang ", ucap Almira.


" Dari kecil Diya memang menyukai musik nyonya Almira, terutama piano dan gitar ", ucap Hardian.


" Oh ya, Diya bisa gitar juga, putrimu memang luar biasa Hardian ", puji Almira sembari membelai lembut pucak rambut Lediya.


" Sebaiknya, kalian segera ganti baju, lalu turun untuk makan siang, kami tunggu dibawah ", ucap Suk Ho.


Tjhin dan Lediya pun mengangguk kan kepalanya, lalu masuk kedalam kamar Tjhin.


Tak lama kedua pasangan pengantin baru itupun turun, lalu duduk berdampingan, di meja makan, terlihat Su Mi dan juga Jun turut makan siang disitu.


" Diya kau sudah kembali? ", sapa Jun bibir nya melengkung membentuk senyuman.


" Iya Jun, gimana kabarmu? ", tanya Lediya.


" Tentu saja baik, apalagi kamu sudah kembali dan akan tinggal disini, aku pasti tidak akan mati kebosanan dirumah ini ", ucap Jun terkekeh.


" Ehem ", Almira berdehem tanda tak menyukai perkataan Jun barusan.


Su Mi pun menyadari hal itu, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan.


" Iya tante juga jadi punya teman ngobrol deh, soalnya besok kak Suk Ho dan kak Almira, akan segera kembali ke Korea ", ucap Su Mi.


" Benarkah pa ma, kalian akan kembali ke Korea, bukannya kalian akan tinggal selama 1 minggu lagi disini? ", tanya Tjhin.


" Papamu di telepon asisten nya kemarin, ada sedikit masalah disana, dan juga pertemuan penting yang harusnya dilakukan 1 Minggu lagi, dipercepat, padahal mama masih ingin bersama putra dan mantu mama, tapi mau gimana lagi, papamu membutuhkan mama disana", ucap Almira raut wajahnya berubah sedih.


" Oh, tidak perlu bersedih ma, nanti pas aku dan Diya ada waktu, kami akan mengunjungi papa dan mama, mungkin pas musim dingin disana, karena istriku ini ingin sekali melihat salju, ya kan sayang ", ucap Tjhin, tangannya menggenggam erat telapak tangan istrinya itu.


" Oh, i...iya ma nanti pas musim dingin kami akan liburan disana ", ucap Lediya gelagapan.


-Kapan aku pernah bilang mau lihat salju, aku tidak menyukai tempat yang terlalu dingin, pandai sekali kau berbohong. (batin Lediya).


Tak lama chef dan para pelayan pun berjalan berjejer, membawakan satu persatu menu yang dibuat oleh chef, dan menaruhnya di atas meja total ada 9 menu dari berbagai daerah.


Almira mengambil kan nasi dan lauk untuk Suk Ho, begitu juga Lediya mengambilkan nasi dan lauk untuk ayah juga suaminya, lalu dirinya, sedangkan Jun mengambil kan nasi untuk ibunya juga dirinya.

__ADS_1


-Astaga banyak sekali menunya, udah kayak pesta makan prasmanan, apakah kita bisa menghabiskan semuanya, kalau dirumah sih aku pasti cicipin satu persatu, tapi ini di keluarga Lee, aku tidak ingin mempermalukan ayah dan diriku sendiri, tapi....aduh menunya enak-enak, rugi kalau aku tidak cobain semuanya, hah mau makan aja dilema. (batin Lediya).


Lediya pun meneguk salivanya dengan kasar, mereka semua sudah memulai makan, namun tidak dengan Lediya, matanya masih merajalela ke sekeliling lauk pauk yang memenuhi meja makan, dia bingung ingin memilih lauk yang mana, sedangkan semuanya dia suka.


" Diya kenapa kamu belum makan, apa menu dimeja ini tidak sesuai dengan seleramu? ", tanya Almira.


" Bukan karena itu ma, aku bingung mau pilih yang mana, soalnya semua menu aku sukai, hehehe ", Lediya menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


" Oh, ya udah kamu cobain aja semuanya sayang, ibu menyuruh chef memasak ini semua, memang untuk kalian berdua, biar punya banyak tenaga, untuk bikin cucu mama nanti ", ucap Almira.


" Uhuk... uhuk... uhuk ", Tjhin tersedak.


Tjhin segera mengambil dan meminum habis air putih yang berada disamping nya.


" Mama ngomong apa sih, kita lagi makan ma, kan kurang tepat membicarakan hal itu, disaat kita sedang makan, lagian ini masih siang ", ucap Tjhin.


" Loh memangnya kenapa, mau pagi kek, siang kek, atau malam sama aja, yang penting sekarang kalian harus makan yang banyak ya, supaya cucu mama cepet jadi, kamu itu punya turunan bibit unggul papamu loh Tjhin, dulu sekali aja papamu udah bisa bikin mama langsung bunting loh, hahaha", canda Almira.


Wajah Lediya merona merah, sungguh mertuanya ini kalau ngomong gak pernah di sortir, padahal keturunan bangsawan tapi, kalau udah ngomong soal cucu, ke eleganan dan tata krama nya terhempas begitu saja.


" Ehem, sudah-sudah bahasnya nanti saja Mira, lagian mereka masih muda, mungkin ingin bersenang-senang terlebih dahulu ", ucap Suk Ho menengahi perdebatan antara istri dan putranya.


" Benar sekali kak, mereka kan masih muda, wajar kalau ingin menunda kehamilan ", Su Mi menimpali.


Mendengar perkataan menunda kehamilan, raut wajah Almira berubah muram,


" TIDAK BOLEH!!!, kalian tidak sedang menunda kehamilan kan? ".


Mata Almira menatap putra dan mantunya dengan tajam, suasana makan yang harusnya begitu hangat, dan nikmat, berubah menjadi mencekam bagi ke dua pasangan pengantin itu.


Lediya tertegun, dia bingung harus menjawab apa, pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan, dan tidak mungkin dirinya akan hamil, terlebih Tjhin dan dirinya tidak akan pernah melakukan hubungan intim itu, karena mereka bukan suami istri sesungguhnya.


Dilirik nya Tjhin, namun pria itu juga hanya terdiam, mungkin dia juga sedang memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan Almira ibunya.


" Loh kok malah pada diam, jadi benar yang dikatakan Su Mi, kalau kalian memang sedang menunda kehamilan? ", tanya Almira lagi.


Lediya melirik dan menendang kaki Tjhin.


" Mama tidak perlu khawatir, kami hanya menunda nya sementara, karena aku dan Diya sama-sama sedang sibuk saat ini ", jawab Tjhin.


" Sudahlah Mira, jangan merusak makan siang kita saat ini, percaya saja pada Tjhin dan Diya, secepatnya pasti kita akan mendengar kabar baik dari mereka, aku yakin mereka juga akan berusaha mewujudkan keinginanmu, untuk memberikan kita cucu secepatnya", Suk Ho menimpali.


-Kamu tenang saja Mira, saya akan merencanakan sesuatu untuk 2 anak kurang ajar ini, kalian berdua memang harus diberi hukuman, kebohongan kalian ini akan saya buat menjadi sebuah kenyataan, saya pengen lihat, apa yang akan kalian lakukan nanti saat hal itu terjadi. (batin Suk Ho).


" Tapi itu.... ",


Suk Ho mengedipkan kedua matanya, memberi kode kepada sang istri, untuk diam.


Alamira menarik nafas panjang, lalu segera melanjutkan makannya, begitu juga dengan yang lainnya.


Melihat suasana makan yang sedikit canggung, Su Mi pun mengalihkan pembicaraan.


" Diya, setelah makan siang, tante dan Jun akan menemani kamu untuk berkeliling rumah ini ya ", ucap Su Mi.


" Rumah ini milik putraku, tentu saja Tjhin yang harus menemani Diya, ingat disini kalian cuma menumpang, jadi jangan sok mengetahui seluk beluk rumah ini, ka....", ucap Almira dengan nada ketus, namun terpotong.


" Mira hentikan, jangan berbicara seperti itu pada Su Mi dan juga Jun ", Suk Ho menasihati.


" Hah, kau selalu saja membela adik dan ponakan tersayangmu itu ", ucap Almira masih dengan nada ketus.


Bersambung....

__ADS_1


Like, Vote, dan komentnya ditunggu ya readers, biar LidZ semangat selesai kan novel ini sampai tamat. thx🥰


__ADS_2