
"Ikut ke cottageku sekarang, ada yang ingin ku bicarakan!", Tjhin segera menarik tangan Lediya menuju cottagenya.
-Entah kenapa aku tidak menyukai Diya dekat dengan Jun, apalagi saat kudengar Jun terluka karena menghadang Nesya, demi melindungi Diya, sebenarnya aku tak peduli dengannya, tapi mengapa hatiku terbakar amarah saat Jhon memberitahukan, kalau Diya sedang mengobati luka Jun didalam cottage hanya berdua. (batin Tjhin).
đź’•Flashback Onđź’•
Tjhin sedang merapikan rambut dan juga jasnya, tak lama terdengar bunyi ketukan pintu,
"Tok...tok.. tok, ini aku Jhon".
"Masuk pintu tidak di kunci", jawab Tjhin.
"Aku baru mendengar tadi dari para pengawal, Nesya hampir saja merusak acara pernikahanmu dan Diya".
"Oh ya, memang apa yang dilakukan wanita itu,ceritakan", tanya Tjhin penasaran.
Jhonpun menceritakan dari awal kejadian sampai selesai tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan.
"Hmm, aku sudah tahu Diya itu memang bukan gadis biasa, pasti akan sangat sulit untukku menaklukkannya, lalu dimana Diya sekarang?".
Jhon terdiam sejenak, lalu berkata dengan hati-hati,
"Tadi kulihat Diya kembali ke cottage nya bersama Jun".
"Apa maksudmu bersama dengan Jun!, apakah mereka cuma berdua saja di dalam cottage itu", wajah Tjhin berubah muram.
"Tenang saja, Diya hanya mengobati luka Jun, lagipula ke dua teman Diya lainnya juga berada di cottage itu".
"Aku akan menemui Diya, ada sesuatu yang perlu ku bicarakan padanya, kau disini saja Jhon", Tjhin segera melangkah kan kakinya keluar pintu.
Langkah Tjhin terhenti di depan cottage Lediya, ia menatap heran,
"Kenapa sepi sekali, Jhon bilang mereka semua sudah kembali ke cottage".
Tak lama telinga Tjhin menangkap 2 suara didalam cottage yang dikenalnya,
"Itu suara Diya dan Jun, jangan bilang kalian....!".
Rahang Tjhin menegang dengan kedua tangan mengepal di sisinya, ia segera membuka pintu didepannya dengan kasar.
"Braaaak".
Flashback Off❣
"Aw...sakit Tjhin, bisakah kau lembut sedikit, lepaskan, aku bisa berjalan sendiri", Lediya menghempaskan tangan Tjhin, dan berjalan segera mendahului Tjhin.
"Hey Jhon kau ada disini?, biasanya kau selalu menempel dengan Tjhin", ucap Diya saat membuka pintu dan melihat sosok Jhon.
"Iya, Tjhin menyuruhku menunggu disini", sahut Jhon sembari matanya terus memandangi sosok cantik di depannya.
"Jhon keluarlah, aku perlu bicara berdua dengan Diya", ucap Tjhin sembari duduk diatas ranjang.
"Oke, kalau begitu aku tinggal dulu, untuk mengecek tempat acara dan segala persiapannya", Jhonpun berpamitan dan pergi.
"Tjhin cottagemu besar sekali, wah ada whirlpool bathtubnya, dan kolam renang didalam, kenapa cottagemu ini berbeda dan lebih besar dari lainnya, aku jadi iri", ucap Lediya berkeliling ke semua ruangan.
"Kenapa harus iri, malam ini pun kamu akan tidur disini".
"O ya, asyik aku bisa berendam dan berenang sesuka hatiku disini", mata Lediya berbinar bahagia.
__ADS_1
"Berarti kamu akan pindah ke cottage lainnya?", tanya Lediya.
Tjhin menggeleng kan kepalanya, "Tentu saja aku juga tidur di tempat ini bersamamu, nanti malam, adalah malam pertama kita sebagai suami istri", ucap tjhin dengan santai.
Mata Lediya terbelalak kaget, raut wajah bahagianya tadi pun memudar berubah menjadi kegugupan.
"Ma... malam per..tama, tapi bukankah perjanjian awal, kita tidak boleh saling menyentuh, dan tetap menjalani kehidupan masing-masing?", tanya Lediya terbata-bata.
-Mungkinkah Tjhin berniat melakukannya denganku, biarpun sah dimata hukum dan agama, tapi pernikahan kami ini cuma pura-pura. (batin Lediya).
"Cih, jangan terlalu berharap dengan apa yang ada dipikiranmu, itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan pernah melakukan hubungan intim dengan wanita yang tidak kucintai", ucap Tjhin seolah paham dengan apa yang Lediya pikirkan.
"O ya, aku membawamu kesini, untuk membahas dan menyepakati bersama perjanjian pernikahan, ini bacalah", Tjhin memberikan sebuah map kepada Lediya.
Perjanjian itu berisi :
Pihak A akan melakukan kewajiban nya sebagai seorang suami dengan memberi nafkah setiap bulannya kepada sang istri yaitu pihak B.
Pihak B harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan mengerjakan segala keperluan dan permintaan pihak A.
Selama masa pernikahan, kedua belah pihak, saling hormati privasi satu sama lain.
"Tunggu kenapa kesepakatan awal kita No Touching tidak ada di perjanjian ini?", tanya Lediya heran.
"Dihapuskan, kita ini harus berakting sebagai suami istri didepan orang tua kita, bagaimana bisa tidak saling menyentuh, lagipula aku menghapus kan itu untuk membantumu".
"haa membantuku, apa maksud mu?".
"Karena aku tahu, kau pasti akan khilaf bila berada dekat dengan pria tampan sepertiku, seperti kejadian waktu aku menginap dirumahmu, bukankah kau menciumku saat itu", ucap Tjhin santai.
"I.. itu karena aku tersandung, itu sebuah kecelakaan, lagipula itu hanya ciuman beberapa detik, kenapa kau mempermasalahkan nya", pipi Lediya memerah menahan malu.
"Mana ku tahu kalau saat itu apakah kau benar tersandung atau sengaja menyandungkan diri, yang ku tahu kau duluan yang melanggar kesepakatan, kalau begitu aku tulis kembali kesepakatan tidak saling menyentuh, dan berarti kau harus membayar denda untuk pelanggaranmu itu, bagaimana?", goda Tjhin.
"Yaaa, kau jahat sekali Tjhin, itu kan tak disengaja!", teriak Lediya.
"Apa kau tau, banyak yang perlu kukorbankan, terutama menikah denganmu", ucap Lediya lagi.
"Cih, diuntungkan mungkin maksudmu!, aku muda, berbakat, tampan, kaya, dan juga lajang, pasangan terbaik, dan menantu idaman, justru aku yang banyak berkorban karena menikahi gadis seperti mu", ucap Tjhin dengan raut wajah datar.
__ADS_1
"Kau...., aah memang susah berbicara dengan pria angkuh sepertimu, sudah pasti aku akan kalah", ucap Lediya kesal.
"Oke kalau kamu tidak mau membayar denda, bagaimana kalau aku...., mencium bibirmu beberapa detik saja, biar kita impas".
Tjhin menarik pinggang Lediya untuk lebih saling berdekatan, pelan tapi pasti, Tjhin mendekatkan bibirnya untuk menyentuh bibir ranum Lediya.
Lediya terbelalak kaget, sampai map yang berada ditangannya pun terjatuh.
-Astaga... astaga, gawat dadaku makin berdetak kencang, tidak boleh aku harus membentengi diri, kalau tidak aku yang akan berbalik menerkamnya. (batin Lediya).
Lediya segera menangkupkan telapak tangannya ke bibir Tjhin yang tinggal beberapa centi lagi mengenai bibirnya, rona merah dipipinya bagaikan kepiting rebus.
"Hahaha, oke...oke lebih baik kita hapuskan saja, jadi aku tidak perlu membayar denda bukan", ucap Lediya dengan terbata-bata.
Perlahan Lediya mendorong pundak Tjhin, dan segera mengambil map yang sempat terjatuh tadi, Tjhin pun menyeringai, dan menjauh lalu duduk di sofa.
"Aku juga ingin menambahkan 3 persyaratan lainnya, kalau kau setuju, baru aku juga akan menyetujui persyaratanmu", ucap Lediya dengan tegas, sembari duduk di sofa persis disebrang Tjhin
"Apa persyaratanmu itu?", tanya Tjhin.
Lediya menuliskan 3 persyaratannya dibawah persyaratan yang telah Tjhin buat,
Selama masa pernikahan, kedua pihak bisa melanjutkan kehidupan seperti biasa, tidak boleh saling mengganggu.
Kedua pihak harus berakting bagus pada perannya masing-masing.
Pihak A tidak boleh memaksa pihak B untuk melakukan hal yang tak diinginkan.
"Itu saja, gimana kau setuju?".
"Ok, kalau begitu kita saling bubuhkan tanda tangan". sahut Tjhin.
setelah selesai saling membubuhkan tanda tangan.
"Kalau begitu, aku harus segera kembali ke cottage, untuk memperbaiki riasanku, sebentar lagi acara akan dimulai", Lediya segera beranjak pergi dan berlari keluar cottage telapak tangan nya terus memegangi dadanya, lalu menangkup pipinya sendiri.
"Huwaah, kenapa panas sekali rasanya, lebih baik aku segera kembali ke cottage ku", Lediya mengibas-ngibaskan telapak tangan di depan wajahnya.
Lediya berjalan santai menuju cottage nya sembari menikmati tiupan angin yang menerpa dirinya, lalu tak sengaja melihat seorang berpakaian waiters keluar dari cottagenya dengan terburu-buru, mereka berpapasan namun waiters itu terus berjalan sambil menundukkan kepalanya.
"Tunggu.... ", Lediya memanggil waiters yang melewatinya.
Bersambung....
__ADS_1