
Saat ini mereka berdua sudah berganti pakaian, lalu segera keluar room, untuk menyusul orang tua, saudara, dan teman mereka, untuk bersama menikmati sarapan pagi.
"Diya, ingat kau kalah tadi, berarti kau harus memberitahukan pria yang pertama kali mencium dan memeluk mu itu", ucap Tjhin.
"Nanti juga kau akan bertemu denganya".
"Maksudmu, kamu mengundang pria itu ke pernikahan kita?, ckckck, kau benar-benar wanita kejam, pria itu pasti merasakan sakit yang dalam melihat kekasihnya menikah dengan pria lain".
"Aku kan sudah bilang, belum pernah memiliki kekasih, dan berpacaran".
"Kau jangan membohongi ku, mana ada seorang wanita mau dipeluk dan dicium seorang pria yang bukan pacar atau kekasihnya, kecuali wanita itu murahan", ucap Tjhin ketus
"Plak",
"Aw... ",
Lediya memukul belakang kepala Tjhin
"Hey kurang ajar sekali, mana ada seorang istri memukul kepala suaminya seperti itu, nanti aku akan menyuruh bibi Kim mengajarimu tata krama sesampainya di JK", ucap Tjhin dengan nada kesal.
"Abisnya kau menyinggung ku, dasar bodoh", Lediya mencebikan bibirnya dan berlari.
"Apa!, kau sudah memukul kepalaku sekarang malah menghinaku, lihat saja aku pasti akan memberimu pelajaran", teriak Tjhin sembari berlari mengejar Lediya.
Jadilah adegan kejar mengejar dan memutari pohon, juga tiang seperti indiahe😂.
Tak lama sampailah Lediya di resto dengan nafas ngos-ngosannya, Indra, Nikko, juga Sari buru-buru menghampirinya.
"Gilingan ye Diya, bisikannya ye berlari kesini", ucap Indra heran.
"Gw gak abis pikir, u mungil-mungil tapi kuat juga Diya, abis beronde-ronde, udah gitu nambah lagi, masih bisanya u lari kesini, emang gak ada mati nya u". ledek Nikko.
Lediya menatap Indra dan Nikko heran, ia tidak mengerti maksud omongan mereka berdua, dan memilih tidak mengubrisnya, lalu duduk sejenak dikursi panjang yang berada di taman kecil depan resto itu, tak lama Tjhinpun terlihat berlari dengan nafas yang terengah-engah, lalu duduk disebelah Lediya, mereka berdua mengatur nafasnya masing-masing.
"Diya Kau ini....,", Tjhin tidak meneruskan ucapannya, karena melihat ada ke 3 teman Lediya disitu, mulailah ia berakting.
"Aku cape sekali sayang, larimu sudah seperti cheetah", Tjhin menaruh kepalanya di pundak Lediya.
"Ih apaan sih, berat tau", ucap Lediya ketus.
"Berakting lah layaknya pengantin baru, temenmu ada disini memperhatikan kita", bisik Tjhin.
"Hehehe, kamu cape ya sayang, kalau gitu kita masuk kedalam resto yuk, aku sudah lapar nih", akting Lediya.
"Tentu saja, tapi tunggu dulu", Tjhin menahan lengan Lediya yang hendak beranjak dari kursi.
"Cup".
Sebuah kecupan mendarat di bibir ranum milik Lediya, setelah itu Tjhin meninggalkan Lediya yang masih diam terpaku karena ulahnya, mata dan hati Lediya serasa mau copot.
"Woi Diya".
__ADS_1
Ucapan Sari membuat Lediya yang tadinya melayang ke langit, lalu jatuh kembali ke bumi.
"Eeeh iya, ada apa", ucap Lediya terbata-bata.
"Yaelah, yang pengantin baru, bisa-bisanya kalian berdua bermesraan didepan kita, jadi serasa kita bertiga ini jones, nyebelin deh", ucap Sari kesel.
"U aja kali Sar, kenapa bawa-bawa gw, kalau mau, gw tinggal jentikin jari, cewe-cewe pada berdatangan, gwnya aja yang belum mau terikat, saran gw u kudu permak tuh muka, biar laku, hahaha", ledek Nikko.
"Wah S****n u Nik, ngajakin ribut lagi aja, u jadi cowo emang kagak bisa dibaikin, rasanya sekali-sekali perlu dihajar", ucap Sari dengan nada jengkel.
"Udah... udah kok jadi berantem sih", ucap Lediya.
"Ini semua gara-gara u", ucap Nikko dan Sari bebarengan.
"Lah kok jadi aku sih", Lediya mengarahkan jari telunjuk ke wajahnya sendiri.
"Makanya jengong suka bermesraan didepan para jomblo seperti mereka berdua keles, bisikan jealous", ucap Indra.
"Kayak u bukan jomblo juga aja u Ndra, enak aja ngatain kita berdua", ucap Sari ketus.
"Iya iya maaf ya semua para jomblo ngenes, kita masuk yuk, hahaha", ledek Lediya, sembari berlari masuk ke dalam resto.
"DIYAAAA", teriak mereka serempak.
Lediya melayangkan matanya untuk mencari meja ayah dan mertuanya berada, disitu Tjhin sudah makan dengan lahapnya.
"Diya, kamu abis dari mana nak, masa kamu membiarkan suamimu mengambil makanannya sendiri", tegur ayahnya Hardian.
"Hehe, maaf yah tadi Diya ngobrol sebentar sama Nikko, Indra, dan Sari didepan".
"Uhuk... huk.. uhuk", Tjhin tersedak
"Aduh nak Tjhin, Hati-hati makannya ini diminum", Hardian menyodorkan gelas berisi air putih kepada Tjhin.
"Ibu kira, aku ini predator", gerutu Tjhin.
Wajah Lediya pun merona merah, dia paham apa yang dimaksud dengan ibunya, buru-buru dia pergi mengambil makanannya, setelah itu duduk disebelah suaminya.
"Diya kau memang hebat, dulu ibu abis malam pertama dibuat sampai susah berjalan loh sama ayahnya Tjhin, tapi kok ibu lihat kamu biasa-biasa saja ya", bisik Almira.
"Uhuk.... uhuk... huk", gantian Lediya yang tersedak.
Tjhin pun segera mengambil air minumnya, dan menyodorkan nya ke istrinya.
-Gimana mau sakit, di gol in aja belum. (batin Lediya).
"Ibu pasti berbisik yang tidak-tidak ya, sampai istriku tersedak begini", ucap Tjhin sembari mencubit kecil pipi Lediya.
-Pintar sekali dia berakting didepan orang tua dan lainnya, selalu suka mengambil kesempatan mencubit, merangkul, bahkan mencium ku, pantesan saja kesepakatan awal kita no touching dia hapus, coba kalau tidak dihapus pasti dia akan membayar denda cukup banyak kepadaku, dasar licik. (batin Lediya).
"Syukurlah Tjhin, ibu bahagia sekali akhirnya kau menikahi wanita yang kau cintai, sekarang ibu hanya tinggal menunggu lahirnya penerus keluarga Lee dari rahim Diya, semoga ibu masih memiliki umur yang panjang untuk melihat cucu ibu", ucap Almira penuh haru.
__ADS_1
Tjhin tersenyum yang dipaksakan, dan larut dalam pikirannya, ada perasaan bersalah yang amat sangat terhadap ibunya.
-Ibu maafkan aku, melihat ibu berkata seperti itu benar-benar membuatku frustasi, aku ingin sekali membahagiakan ibu, namun aku memiliki prinsip hidup sebagai pria, aku tidak akan melakukan hubungan intim terhadap wanita yang bukan istriku, dan tidak kucintai, Diya memang istriku tapi aku tidak mencintai nya, aku menikahinya hanya untuk membuat Hardian mengakui perbuatannya, dan memenjarakan nya, atas kematian Jeje. (batin Tjhin).
"Mira jangan berkata seperti itu sayang, saya yakin kita akan hidup lama dan melihat cucu-cucu kita lahir dan bertumbuh", Suk Ho menggenggam tangan Almira.
-Saya harus membuat sebuah rencana untuk menyatukan Tjhin dan juga Lediya, saya akan menjadikan pernikahan pura-pura mereka, menjadi sesungguhnya, apapun akan saya lakukan untukmu Almira, mereka berdua sudah berani mempermainkan para orang tua, akan saya buat 2 anak ini, terjebak dalam permainan mereka sendiri. (batin Suk Ho).
"Ayo kita segera habiskan sarapannya, jadwal keberangkatan kita 3 jam lagi", ucap Suk Ho.
"Pagi yang sangat menyenangkan, bisa makan bersama saat liburan seperti ini ya kak, apalagi semua keluarga berkumpul disini", ucap Su Mi yang baru datang bergabung.
"Loh kok cuma sendiri, dimana Jun Min, apa dia tidak ikut makan bersama kita?", tanya Suk Ho.
"Jun kurang enak badan tadi, jadi aku menyuruh room servis untuk membawakan makanan ke cottage nya, dan seperti nya dia juga tidak bisa kembali bersama kita hari ini, katanya dia ingin menikmati liburannya disini selama 2 hari ini", ucap Su Mi.
"O ya bagaimana keadaannya sekarang?", tanya Almira
"Tadi dia sudah minum obat, dan sekarang sedang beristirahat, O ya Diya, kau dan Tjhin kan masih berada disini juga selama 2 hari, boleh tante minta tolong untuk sesekali melihat keadaan Jun dan merawat nya?, hari ini tante harus kembali ke JK bersama yang lainnya, karena nanti malam ada pertemuan penting, bisa bantu tante?", tanya Su Mi.
"Mereka berdua disini untuk melanjutkan bulan madu Su Mi, bukan untuk jadi suster anakmu", sahut Almira ketus.
"Aku hanya ingin Diya atau Tjhin melihatnya sesekali saja kok kakak ipar, Jun kan baru tiba di Ind ini, belum punya kenalan apalagi teman".
"Itu masalahmu, mana ada seorang ibu lebih mementingkan pertemuan daripada putranya sendiri", jawab Almira masih dengan keketusannya.
Awal Su Mi tinggal bersama Suk Ho kakaknya, hubungan Almira dan Su Mi sangat akrab, bahkan Jun sudah dianggap seperti putra ke 2 nya, namun suatu hari tanpa sengaja Almira mendengar percakapan antara Jun dan Su Mi, yang berniat ingin mengambil alih haknya yang telah diberikan kepada Tjhin putranya, seketika Almira sangat kecewa dengan ibu dan anak itu, lalu mulai menjaga jarak.
Sebelum ke Ind, hubungan mereka memang sudah renggang, namun Su Mi maupun Suk Ho tidak pernah mengetahui hal itu, karena Almira tidak mau merusak hubungan kakak beradik itu, akhirnya dia sendiri turun tangan, memerintahkan seseorang untuk terus mengikuti dan mengamati gerak gerik Su Mi dan juga Jun.
"Kak..., ". ucapan Su Mi segera di potong oleh perkataan Lediya.
"Ibu tidak apa-apa", potong Lediya.
"Aku akan sesekali melihat keadaan Jun dan merawat nya tante, jangan khawatir, lagipula Jun kan sepupu Tjhin berarti sepupu iparku juga, lagipula Jun pernah menolongku, bolehkan sayang?", ucap Lediya, lalu menggenggam tangan Tjhin supaya diberi izin.
"Hmm", balas Tjhin datar.
"Diya yang harus kamu rawat itu putraku, dan menikmati bulan madu bersamanya, ibu tidak setuju!", ucap Almira, raut wajahnya berubah tidak senang, atas ucapan menantu nya ini.
"Sudahlah Mira, Jun itu keponakan ku, dan ia sedang sakit, benar yang dikatakan Su Mi, Jun tidak mengenal siapapun disini, biarkan Diya sesekali melihat keadaannya, Tjhinkan bisa menemani Diya", ucap Suk Ho.
"Haah baiklah, tapi Tjhin kamu harus pergi menemani istrimu, tidak baik seorang wanita yang sudah bersuami hanya berduaan didalam cottage dengan pria lain, takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan, ingat media sedang gencar-gencarnya menyorot kita", ucap Almira penuh penekanan.
Sejak kejadian di taman hiburan, saat Lediya tersedak, Almira terus memperhatikan Jun, sedangkan Jhon ia tidak begitu peduli, karena Almira tahu Jhon seperti ayahnya, kesetiaannya tidak perlu diragukan lagi, jangankan seorang wanita, nyawanya pun akan dia berikan untuk putra satu-satunya itu.
Namun berbeda dengan keponakan suaminya ini, Jun terlihat terus menatap Lediya dengan tatapan penuh arti, bahkan saat Nesya datang untuk melabrak Lediya, Jun lah paling depan menghadang Nesya hingga ia terluka.
Saat orang suruhannya mengatakan kalau Jun berada dalam cottage Lediya hanya berdua, Almira sempat khawatir takut pernikahan putranya digagalkan oleh Jun.
Kelegaan datang saat mendengar kalau Tjhin telah berhasil membawa Lediya ke cottage nya, dan pernikahan keduanya berjalan lancar, tapi tetap saja saat ini Almira masih mewaspadai, karena putra dan menantunya ini baru 2 hari berstatus sebagai suami istri, karena itu Mira ingin sekali Diya bisa hamil secepatnya, itu bisa mengikat Lediya dengan putranya selamanya.
__ADS_1
Bersambung....
Kasih jejak Like, Vote, juga komen ya readers gratis kok, jadi jangan pelit-pelit😉, biar LidZ makin semangat up nya nih😊.