
Sang Mentari mulai muncul dari ufuk Timur, Lediya sedang sibuk didepan cermin kamarnya, mencobai baju satu persatu, karena hari ini Lediya akan bertemu dengan General Manager hotel, setidaknya dia harus berusaha tampil cantik, supaya tidak membuat ayahnya malu.
"Haaah, pake baju yang mana ya, bajuku setelan celana semua ternyata, hmm inikan bukan kencan ngapain aku ribet-ribet yak", ucapnya.
Lediya pun mengambil setelan kemeja pink dan celana panjang hitam, lalu Lediya menguncir rambutnya ke atas, sehingga memperlihatkan garis lehernya yang cantik.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, Lediya segera turun untuk sarapan bersama ayahnya.
"Pagi ayah", sapa Lediya sambil mengecup pipi ayahnya.
" Pagi juga sayang, kamu terlihat cantik sekali hari ini, mau kemana?", tanya pak Hardian.
"Mau kekantor ayah, tapi sebelum ke kantor Lediya ada janji ketemu dulu diluar", jawab Lediya
"Oo kamu ada janji dengan calon pengantin lagi di luar ya?", tanya pak Hardian.
"Iya ayah", Lediya berbohong.
Dia tidak mau ayahnya mengetahui kalau yang akan dia temui adalah General Manager hotel.
Selesai menghabiskan sarapannya Lediya segera beranjak untuk pergi.
"Diya, pergi duluan ya ayah, bye", Lediya melambaikan tangan ke arah ayahnya, dan segera keluar pintu rumah.
"Hati... hati ya nak, ingat jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya", teriak pak Hardian.
Namun Lediya sudah keburu hilang dari pandangannya, pak Hardian mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya itu.
Sementara itu, Tjhin sudah berada di kantor nya, Tjhin sedang kedatangan tamu yaitu adik dari Jeje mantan kekasih nya bernama Leo, mereka sedang berbincang-bincang serius.
"Leo, setelah pembukaan dan peresmian taman hiburan itu, mungkin aku akan segera menikah", Tjhin memberitahu Leo.
"Bukankah itu terlalu cepat kak, baru 10 hari kak Jeje pergi, segitu cepat kah kakak melupakan nya, katanya kakak akan mencari pelaku tabrak lari itu, dan membuatnya membayar atas kematian kak Jeje, tapi kenapa malah menikah! ", jawab Leo dengan nada kesal.
"Siapa bilang aku melupakannya, itu tidak akan pernah terjadi, justru kakak menikah untuk memulai awal pembalasan dendam kita Leo", jawab Tjhin
"Maksud kakak?", tanya Leo menatap Tjhin dengan bingung.
"Yang akan aku nikahi nanti, adalah putri dari si pembunuh itu Leo", Tjhin menjelaskan.
"What, what happened?",tanya Leo kaget dan tak mempercayai apa yang telah didengar nya.
"Ya, itu jalan untuk aku membalaskan dendam kematian Jeje, aku akan membuat putrinya menderita dan menyesal telah menikah denganku", bibir Tjhin menyeringai.
Leo menganggukan kepala nya tanda dia mengerti, dan tak lama bibirnya ikut menyeringai.
Tak lama Jhon masuk ke dalam kantor Tjhin, dan kaget melihat Leo ada disitu.
"Leo gimana keadaan mu, maafkan aku belum sempat datang menjenguk mu lagi, setelah pemakaman Jeje", Jhon menyapa sambil merangkul Leo adik dari Jeje.
"Aku baik-baik saja kok kak", jawab Leo.
"O ya Tjhin, 5 menit lagi putri dari tuan Hardian akan segera tiba", Jhon memberitahu Tjhin.
"Kamu duluan aja stand bay di restoran itu, aku akan segera menyusul, setelah diriku menyelesaikan pembicaraan dengan Leo, biarkan saja dia menunggu, bilang saja aku ada meeting", jawab Tjhin dengan ketus.
"Baiklah kalau itu memang mau mu, aku turun dan menunggu di restoran terlebih dahulu, Leo aku duluan ya",ucap Jhon, dan segera pergi meninggalkan Tjhin dan Leo.
Lediya telah sampai di hotel keluarga Lee, dan menghampiri resepsionis hotel,
"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu", sapa resepsionis hotel dengan ramah.
__ADS_1
"Maaf saya mau tanya, untuk ke restoran hotel ini, saya harus jalan ke arah mana ya?", tanya Lediya.
Resepsionis segera menjelaskan arahnya, kemudian Lediya pun segera mencari letak restoran itu dengan mengikuti petunjuk arah dari resepsionis tadi, dan sempat tersesat, karena hotel itu sangat besar.
Setelah berputar-putar, pada akhirnya ia menemukan restorannya, saat masuk kedalam, Lediya melayangkan pandangannya ke sekeliling resto, untuk mencari seseorang, lalu ia melihat sesosok pria tampan dan cukup berwibawa, melambaikan tangan ke arah nya.
"Oh, itu pasti General Manager nya", Gumam Lediya.
Ia segera menghampiri pria yang melambaikan tangan kepada nya, yap pria itu Jhon.
Jhon sangat terpesona melihat sosok Lediya yang sedang berjalan menghampiri nya, kulitnya yang putih, hidung kecilnya yang mancung, garis leher yang sangat cantik, bibir dan bodynya yang kecil namun seksi, mata Jhon dibuatnya tidak berkedip sedikit pun, ditambah lagi saat melihat Lediya tersenyum, kaki Jhon hampir lemas dibuatnya, jantung Jhon benar-benar tak beraturan, tak lama Jhon pun tersadar dan segera menepis pikirannya.
-Gila kau Jhon, gadis itu calon istri teman dan bosmu ingat itu. (Jhon berbicara dalam hati).
"Maaf, anda pasti sudah menunggu lama, aku tadi sempat tersesat, perkenalkan namaku Lediya Aurora Jap", Lediya memperkenalkan dirinya.
"Silakan duduk", ucap Jhon,
Jhon menjetikan jarinya, memberi aba-aba kepada pelayan resto untuk datang.
"Anda ingin memesan minuman apa nona?", tanya pelayan yang sudah berada di samping mereka.
"Saya pesan Flavored soda saja", jawab Lediya.
Jhon mengambil Latte di samping nya, yang sudah dipesannya sebelum Lediya datang dan menyeruput nya tanpa berbicara, karena Jhon memang agak sedikit gugup untuk berbicara dengan gadis cantik didepan nya.
"Begini, Aku to the point aja ya, untuk masalah pernikahan kita, saya ingin...", Lediya memulai pembicaraan namun terpotong.
Tiba-tiba Jhon tersedak.
"Uhuk... u.. huk.. huk..", Jhon tersedak Latte yang sedang dia minum.
Lediya segera mengambil tissue, dan memberikan nya kepada Jhon.
Tak lama Tjhin pun datang, dan segera berjalan mendekati mereka berdua.
"Jhon kamu tidak apa-apa".
Lediya Segera berbalik badan untuk mencari sumber suara itu, yang ternyata sudah berdiri tepat di belakang nya, wajah mereka berdua bertemu, dan mata mereka saling bertatapan, Lediya menelan salivanya dan jantungnya berdetak tidak karuan, dan wajahnyapun memerah.
-Oh my God, pria ini tampan sekali, seperti aktor dalam drama Korea kesukaanku, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, bibir seksinya, wow perfecto. (batin Lediya).
"Ada apa, kenapa kau terus menatapku, apa yang sedang kau pikirkan haaa", telunjuk Tjhin mendorong kening Lediya menjauh.
Sebenarnya Tjhin pun sedikit gugup saat mereka berdua bertatapan.
Lediya segera tersadar,
"Ah maaf, aku cuma kaget".
lalu segera menyingkir dan kembali ketempat duduknya.
"Tapi anda ini siapa ya?", tanya Lediya.
Ia penasaran dengan pria tampan namun sangat sombong dan dingin didepan nya ini.
Jhon segera berdiri, dan mempersilakan Tjhin duduk ditempatnya tadi.
"Ini Lee Tjhin Won, General Manager sekaligus putra satu-satunya keluarga Lee", Jhon memperkenalkan.
"Oh, jadi bukan anda General Manager nya?", tanya Lediya tak percaya.
__ADS_1
"Aku Jhon asisten sekaligus teman dari Tjhin", Jhon menjelaskan.
" Oh, panggil Aku Diya saja asisten Jhon, dan maafkan Aku telah salah mengira kalau anda ini GM di hotel ini", jawab Lediya dengan wajah memerah, karena malu.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua, silakan kalian berbicara", Jhon pergi meninggalkan mereka berdua.
Cukup lama Tjhin dan Lediya terdiam dan tidak berkata apa-apa.
Tak lama datanglah pelayan mengantarkan minuman yang Lediya pesan tadi, sekaligus minuman Ocean Blue untuk Tjhin, karena tadi Jhon sudah memesankannya untuk Tjhin.
Lediya segera meneguk minumannya, jantungnya dari tadi terus berdetak tak beraturan.
"Kenapa hanya diam saja?, apa yang kauingikan, meminta bertemu denganku?", Tanya Tjhin dengan nada yang ketus dan tatapan dingin.
" uhuk... uhuk... uhuk", Lediya kaget dan tersedak saat Tjhin tiba-tiba berbicara dengannya.
"Hmm, begini aku ingin membicarakan persyaratan yang kau ajukan ke ayahku, apa sebenarnya tujuanmu meminta aku untuk menikah denganmu?", tanya Lediya.
Lediya sungguh curiga dengan persyaratan tidak masuk di akal yang diajukan Tjhin, namun disisi lain, hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, yaaap Lediya jatuh cinta dengan Tjhin pada pandangan pertama.
"Aku sudah jelaskan dengan ayahmu, pernikahan ini dilakukan hanya untuk bisnis, bukankah pernikahan ini akan sangat menguntungkan perusahaan mu, dan ini juga kulakukan demi kebahagiaan orang tuaku", jawab Tjhin tetap dengan nada ketus dan dingin.
"Lalu kenapa harus menikah denganku, bukankah harusnya kau mencari dan menikahi gadis yang kau cintai dan mencintai mu?", tanya Lediya dengan penasaran.
"Ada alasan lain mengapa aku tidak bisa menikahi wanita yang ku cintai, sudahlah kamu jangan banyak bertanya", Ucap Tjhin kesal.
"Tenang saja, setelah menikah kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing, dan kita akan tidur di kamar terpisah, aku tidak akan menyentuhmu, namun saat orang tuaku di Indonesia, kita akan tidur dalam 1 kamar, aku dikasur dan kamu di sofa, No Touching, Oke", ucap Tjhin.
-kenapa aku sedikit merasa kecewa ya sama perkataan nya barusan, dasar kau Lediya kenapa harus jatuh cinta dengan laki-laki seperti ini, aku kira jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal yang konyol, dan cuma ada di drama-drama, kenapa aku harus mengalami nya sekarang. (batin Lediya).
"Huuuuh, menyebalkan", Lediya bergumam.
"Apa! barusan kau mengataiku ya?", tanya Tjhin kesal.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun", jawab Lediya pura-pura tidak tahu.
Matanya melirik ke arah lain sambil meneguk minumannya, dan bikin Tjhin tambah kesal
"Jelas-jelas aku mendengar nya barusan, kau mengataiku menyebalkan", sahut Tjhin kesal
" Tidak aku tidak mengataimu, mungkin telinga anda salah dengar, atau mungkin suara kodok didepan situ yang anda dengar", ucap Lediya sambil menunjuk ke arah luar jendela restoran.
-cih dasar wanita aneh, berani sekali kau mengataiku. (batin Tjhin).
"Baiklah kalau begitu, aku akan setuju menikah denganmu, namun ada 1 syarat", ucap Lediya.
"Cih, aku sudah memberikan kontrak kerja sama dan akan berinvestasi di perusahaan mu, masih kurang kah, kau memang gadis serakah", ucap Tjhin menyeringai.
"Aku hanya minta kamu datang kerumah ku, dan berpura-pura jatuh cinta padaku itu saja, dan akupun akan berakting jatuh cinta padamu juga, anggap saja kita jatuh cinta pada pandangan pertama", Lediya menjelaskan.
"hahaha, kau benar-benar sudah gila, mana ada hal seperti itu, itu hanya ada di cerita drama, berhenti lah menonton drama romantis", Tjhin tergelak.
"Kau tidak tau sifat ayahku, biarpun perusahaan nya kesulitan, dia akan tetap berjuang untuk mencari cara lain, dan tidak akan pernah menyetujui aku menikahimu hanya karena bisnis",jawab Lediya dengan nada jengkel.
Tjhin tiba-tiba terdiam mendengar ucapan Lediya,
-kalau yang dikatakan nya benar, kemungkinan aku bisa gagal melakukan rencana balas dendamku, ku tak menyangka cintanya pada anaknya bukanlah main-main, namun kenapa kau seperti itu dengan Jeje, Jeje juga seorang gadis dan usianya sama seperti usia putrinya, cih. (Tjhin berkata dalam hati)
"All right..., namun aku juga punya permintaan untuk mu, kalau kau lulus, baru aku akan kerumah mu dan mengatakan seperti yang kau inginkan", ucap Tjhin.
"Apa itu, katakanlah!", jawab Lediya dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
Bersambung....
Author : Hello pembaca setia, dukung LidZ ya dengan, Vote, Like, dan juga komenkomen, biar tambah semangat bikin episode-episode selanjutnya.thx🥰