
Setelah selesai makan, para orang tua, saudara, dan juga teman-teman Tjhin dan Lediya telah kembali ke JK melalui penerbangan pagi.
Sedangkan Nesya begitu acara selesai langsung dibawa pulang ke JK oleh ke dua orang tuanya, supaya tidak berulah lagi.
Hanya tinggal Tjhin, dan Lediya yang diberi amanat oleh Almira untuk meneruskan honeymoon mereka di Bali, tentu saja Jhon asisten Tjhin juga masih setia menemani tuan sekaligus temannya itu, oh ya jangan lupakan Jun juga masih berada di pulau Dewata itu.
"Tjhin, ayo kita jalan-jalan kepantai, aku ingin bermain air, dan menikmati angin laut".
"Baiklah, lagipula kita sudah disini, aku akan menemani mu, kita harus berusaha bersikap romantis, supaya ibu percaya", Tjhin langsung merangkul pundak Lediya.
"Hey lepaskan, mereka semua sudah pulang ke JK, kita tidak perlu bersandiwara lagikan, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya", Lediya berusaha melepaskan rangkulan Tjhin.
Namun lengan Tjhin malah berpindah, memeluk pinggang Lediya dari belakang.
"Tjhin, bisa lepaskan tanganmu", wajah Lediya memerah, perlakuan Tjhin saat ini benar-benar bikin jantung nya berolahraga.
"Diamlah, kau cukup ikuti permainan ku, aku melakukan ini untuk mengelabui seseorang, o ya kau belum menjawab pertanyaanku tadi, siapa laki-laki itu, kau bilang dia diundang ke pernikahan kita?", tanya Tjhin dengan penasaran.
"Ya ampun Tjhin, kenapa kau terus membahas hal siapa yang memeluk dan menciumku pertama kali, hmm apa kau cemburu ya dengan pria itu, hayoo?", goda Lediya.
"Hah aku cemburu, bermimpilah Diya!, ingat pernikahan kita ini tidak ada dasar cinta, hanya sebuah kesepakatan yang sama-sama menguntungkan, kalau kau tidak mau bicara soal itu sudahlah, aku hanya penasaran saja soal pria itu!", ucap Tjhin datar.
"Dasar pria bodoh", ucap Lediya kesal.
-Pria menyebalkan, padahal aku berharap dia cemburu dan aku akan sangat senang kalau memang seperti itu, tak perlu kau ingatkan lagi kalau kita menikah memang hanya berdasarkan kesepakatan bukan cinta. (batin Lediya).
"Kenapa kau ini selalu menyebutku bodoh, kau memang harus diajarin tata krama dalam berbicara dengan suamimu", ucap Tjhin lagi.
"Ayahku... ".
"Apa, memang ayahmu kenapa?", tanya Tjhin heran.
"Ish, kau ini memang tuan muda yang bodoh".
"Cukup!!, sudah ku bilang jaga perkataan mu kepadaku, biarpun hanya pura-pura, tetap saja kau harus menghormatiku, sebagai suamimu!".
"Ye.. ye... suamiku, tadi kau kan penasaran dengan pria pertama yang memeluk dan menciumku, pria itu ya ayahku", Lediya segera pergi sembari menggeleng kan kepalanya.
Seakan kata itu memukau pendengaran, Tjhin menatap punggung Lediya yang berjalan menjahuinya, ia pun tersenyum tipis.
"Tjhin... ", Jhon datang menghampiri nya.
"Jhon kemana saja kau, dari tadi tidak terlihat?", tanya Tjhin.
"Ada beberapa masalah yang dilakukan staf kita Tjhin", sahut Jhon.
"Oh ya, ada masalah apa?", tanya Tjhin lagi.
Lalu Jhon membisikkan sesuatu ke telinga Tjhin, raut wajahnya berubah khawatir, lalu ia segera pergi bersama Jhon ke cottage nya, dan melupakan janjinya untuk menemani Lediya ke pantai.
"Wah indahnya kita kesitu ya, eh Tjhin...., loh bukannya tadi dia berada dibelakangku,apa dia tertinggal jauh, payah laki-laki tapi jalannya lelet, baiklah aku duduk disini saja menunggu nya?", Lediya duduk di atas pasir putih, menunggu Tjhin.
Namun yang ditunggu nya sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya, Lediya melirik jam tangan di pergelangan nya, udah 30 menit dia menunggu,
"Tjhin kemana sih, apa dia tersesat, ah tidak mungkin diakan sering berlibur disini, apa aku susul saja.....".
__ADS_1
Saat hendak beranjak menyusul Tjhin, manik matanya melihat sesosok pria yang dikenalnya, berjarak hanya 5 meter dengannya, pria itu sedang termenung menatap kosong deburan ombak.
"Bukannya itu Jun, astaga dia sedang sakit kenapa bisa berada disini", Lediya pun segera berjalan menghampiri Jun yang terus menatap ke arah ombak-ombak yang begelung.
"Jun, apa yang sedang kamu lakukan disini", tanya Lediya lalu duduk persis disebelah kanan Jun.
Jun pun tersadar dari lamunan nya, lalu melihat dalam diam dan menatap lekat kearah Lediya,
"Bagaimana keadaanmu, masih sakitkah?", tanya Lediya sembari meletakan punggung tangannya ke dahi Jun.
Jun menggengam dan menurunkan telapak tangan Lediya yang berada di dahinya.
"Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih", ucap Jun lalu kembali menatap ombak.
"Apa kau punya masalah Jun?, kenapa kau banyak diam belakangan ini, mana Jun yang bawel dan ceria saat kita pertama bertemu?", goda Lediya menyikut lengan Jun dan tersenyum sangat manis.
Jun kembali menatap lekat wanita cantik dihadapnya, yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di Ind.
"Kau terus menatapku, apa ada sesuatu yang menempel diwajahku ini".
Lediya mengerutkan keningnya, buru-buru ia mengambil cermin kecil yang ada didalam tasnya, fokus mencari sesuatu yang mungkin bisa bikin ia malu, kalau sampai ada kotoran diwajahnya, tingkah lakunya berhasil membuat bibir Jun melengkung membentuk senyuman.
"Cantik, kau sungguh cantik Diya", ucap Tjhin tersenyum sembari terus menatap wanita pujaan hatinya itu, membuat sang wanita merona merah dan salah tingkah.
"Kau bisa ngegombal juga ya ternyata", ucap Lediya.
"O ya Jun, apa kau sedang marah kepadaku, mengapa sejak pulang dari peresmian taman hiburan, kau terkesan menghindari ku, dan hanya berdiam diri dikamar, saat aku datang ke tempat Tjhin?", tanya Lediya cemas.
"Tidak, aku hanya marah pada diriku sendiri, pertama kalinya didalam hidupku, aku ingin memiliki seseorang, aku terus mencoba melupakannya, namun dirinya malah semakin dalam masuk menguasai hatiku", ucap Jun.
"Apa boleh aku memelukmu sebentar, saat ini aku butuh pelukan dari seorang teman, itu saja cukup bagiku", ucap Jun penuh harap.
Lediya berpikir sejenak,
"Baiklah, kau sepupu Tjhin berarti sepupu iparku juga, dan anggap saja pelukan ini untuk merayakan pertemanan kita", Lediya memeluk Jun sebentar dan hendak melepaskan nya, namun Jun malah mengeratkan pelukannya.
"Eh Jun lepas....",
"Hanya sebentar saja Diya, biarkan aku memelukmu", ucap Jun lirih.
-Apa Jun dikhianati pacarnya, atau mungkin wanita nya menyelingkuhi nya, sampai Jun serapuh ini, ah sudahlah mungkin pria ini memang membutuhkan pelukan dari seorang teman, ia baru datang ke ind ini dan belum memiliki teman, biarlah aku menjadi teman pertama nya. (batin Lediya).
Lediya pun menepuk-nepuk punggung Jun, tanpa menyadari orang suruhan ibu mertuanya sedang memperhatikan mereka dan melaporkannya kepada Almira.
Di sebuah rumah besar bak istana, berdiri seorang wanita paruh baya yang sedang gusar,
"Apa kau yakin?,lalu dimana putraku itu?, baiklah!".
"Dasar anak bodoh!", ucapnya sembari menekan ID yang tertera di ponselnya putraku.
tuuuut... tuuuut.. ceklek.
"Hallo ibu, ada apa menelepon, kok cepat sekali sudah sampai rumah?".
"Ayahmu tadi ditelepon ada urusan mendesak, makanya ayah dan ibu memakai jet pribadi, tidak ikut penerbangan bersama yang lainnya", Almira menjelaskan.
__ADS_1
"O ya dimana menantu ibu?", tanya Almira berpura-pura tenang.
"Diya, seperti nya sedang jalan-jalan di pantai bu".
"Lalu kamu tidak menemani nya, dimana kamu?", Almira mulai meninggikan suaranya.
"Aku di cottage bu, sedang ada masalah di hotel, jadi aku.... ".
"Tinggalkan pekerjaan mu, cepat cari istrimu, ibu menyuruh mu tinggal disana beberapa hari lagi, untuk berbulan madu dengan Diya, bukan untuk bekerja, PAHAM!!!". Almira memutuskan panggilannya dengan kesal.
Tut tut tut
"Benar-benar anak bodoh, kalau kau terus tidak peka seperti ini, Jun bisa mengambil semua milikmu, termasuk istrimu Tjhin, ibu tidak akan biarkan ini", gumam Almira.
Tak lama datanglah Su Mi yang sehabis berbelanja,
"Hey kakak iparku sayang, lihat aku beli sesuatu untukmu, kamu pasti suka", ucapnya dengan senyum sumringah, lalu memberikan sebuah papper bag kepada Almira.
"Su Mi, besok suruh putramu kembali ke sini, dia harus menggantikan Tjhin, mengurus pekerjaan nya, sementara Tjhin berbulan madu".
"Tapi kak, Jun bilang dia mau liburan sebentar, mumpung dia berada di Bali", ucap Su Mi.
"Jun bisa bergantian liburan ke Bali setelah Tjhin kembali, pokoknya tidak ada penolakan", ucap Almira dengan nada tegas.
"Dan terimakasih untuk ini", Almira mengambil papper bag yang berada di tangan Su Mi untuknya.
"Huh, ada apa dengan kakak ipar ku satu ini, sikapnya benar-benar berubah beberapa bulan ini terhadap ku dan juga Jun", gumam Su Mi lalu pergi menuju kamarnya.
Di cottage, Tjhin menarik nafas panjang, masalah di hotel nya belum bisa dia tangani, namun sang ibu tiba-tiba menelepon nya dan marah kepadanya,
"Jhon, besok saja kita lanjutkan lagi, kembalilah ke cottage mu dan beristirahat, aku harus mencari Diya, entah apa yang sedang di lakukannya, orang suruhan ibu pasti melaporkan sesuatu kepada ibuku, sehingga membuatnya begitu marah, wanita itu memang si pembuat masalah bagiku", ucap Tjhin sembari melangkah kan kakinya keluar cottage.
Di pantai Jun dan Lediya sedang duduk menikmati matahari terbenam,
"Panorama di pulau Dewata ini memang indah, apa kau tidak bosan hanya berjalan dan duduk di pinggir pantai seperti ini Jun?".
"Aku memang suka ketenangan seperti ini saat memiliki masalah, menikmati angin laut, deburan ombak, dan juga menyaksikan terbenamnya matahari", Jun menatap matahari yang mulai tenggelam dengan mata sendu.
"Diya, ibuku tadi menelepon, besok aku harus segera kembali ke JK, untuk mengurus beberapa pekerjaan Tjhin, sementara ia disini", ucap Jun lagi.
"Kalau begitu jangan buang waktu, kita kelilingi pantai ini, dan pergi berkuliner sebelum kamu kembali besok, bagaimana?", Lediya segera berdiri namun kakinya tiba-tiba keram dan terpeleset pasir putih,
" Bruk ".
Tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh terlungkup diatas tubuh Jun.
"Aw... maaf Jun, kaki ku sedikit keram, kau tidak apa-apa kan", ucap Lediya.
Lediya hendak bangkit dari posisi nya, namun terdengar suara bentakan seorang pria,
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?".
Bersambung....
Readers sayang, minta Vote dan Like nya dong, biar LidZ makin semangat nulis sama Update nya nih😉, dan jangan lupa masukan ke favorit kalian ya🥰.
__ADS_1