
Hardian turun untuk berpindah duduk ke kursi belakang dengan ditopang oleh Lediya.
"Ayah minumlah sedikit ", Lediya mengambil botol yang selalu tersedia di samping pengemudi.
"Terima Kasih nak", hardian meneguk air yang diberikan putrinya.
"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi, mengapa ayah mendadak menginjak rem, dan gemetaran seperti ini?", ucap Lediya dengan wajah penasaran.
Hardian hanya terdiam dan larut dalam pikirannya.
-Pantas saja aku merasa tidak asing dengan jalan ini, disinilah tempat dimana aku menabrak gadis itu, aku sudah hampir melupakannya, namun aku di ingat kan kembali, bagaimana nasib gadis itu, saat ku tinggal pergi apakah ada yang menolong nya atau...., maaf maafkan aku, saat itu aku benar-benar telah dibutakan dengan ketakutan ku. (batin Hardian).
"Ayah.... ", wajah Lediya penuh dengan kecemasan.
"Tidak apa-apa nak, ayah baik-baik saja, kita segera ke taman hiburan, acara pasti sudah dimulai", jawab Hardian.
Hardian mencoba menenangkan dirinya menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Tapi ayah, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi ayah saat ini?", masih terpancar ke khawatiran diwajah Lediya.
"Ayah sudah baik-baik saja nak, kita harus segera menghadiri acara peresmian taman hiburan keluarga Lee, nanti mereka kecewa, cepatlah nak".
"Baiklah kalau itu mau ayah, tapi kalau pas acara, dan kondisi ayah drop lagi seperti tadi, kita harus segera pergi ke rumah sakit ya".
Hardian Menganggukan kepalanya, lalu Lediya segera masuk kedalam dan mengemudikan mobil menuju Taman Hiburan.
Selang 5 menit sampailah Lediya dan Hardian, dan segera memarkirkan mobil di parkiran VIP, Lediya turun lalu segera membukakan pintu dan memapah ayahnya turun.
"Diya sayang, ayah bisa berjalan sendiri ", ucap Hardian.
Lediya pun melepaskan rangkulannya dan ke dua telapak tangannya berpindah memegang lengan kanan ayahnya.
Sambutan meriah dari MC, dan sorak sorai dari penonton terdengar riuh, mata Hardian dan Lediya berkeliling mencari letak khusus VIP sesuai dengan yang tertera diundangan.
Taman hiburan itu cukup ramai banyak terdapat badut-badut, juga stand-stand penjual popcorn, penjual minuman, balon, dan masih banyak lagi, terdapat dekorasi Gazebo yang cukup cantik menjadi gerbang masuk menuju ke panggung utama.
Terlihat ada seorang anak kecil berusia 3 tahun yang berlari dan memanjat gazebo itu tanpa ada seorangpun yang mendampinginya.
Disana banyak tamu-tamu undangan dari kalangan atas, ada yang mengobrol dan saling pamer barang branded yang dipakainya, ada yang berbicara bisnis, banyak juga yang sedang mencari-cari perhatian lawan jenis, tanpa memperdulikan anak kecil itu yang memanjat gazebo semakin tinggi.
Anak kecil itu pun kehilangan keseimbang, tangan kirinya terlepas, tangan kanannya mencengkram kuat di tiang gazebo, tubuhnya bergelayutan, anak itu mulai menangis ketakutan, semua yang berada di sekeliling gazebo tidak ada yang mendengar tangisan anak kecil itu.
Suara tangisnya tenggelam dalam keriuhan para penonton dan speaker panggung utama.
Tinggi gazebo itu mencapai 7 meter,
Lediya tak sengaja melihat anak itu dan hampir melepaskan pegangan tangan kanannya, Lediya segera melepaskan dan melempar sepatu hak tinggi nya.
"Diya ada apa,kamu mau kema....", Hardian kaget perkataan nya terpotong karena Lediya sudah berlari sekuat tenaga.
Jarak Lediya berdiri menuju ke gazebo itu sekitar 30m, Lediya mempercepat larinya dan dengan gesitnya melompati segala sesuatu yang menghalanginya.
Orang-orang disekitarnya terheran-heran, dan mengikuti arah lari Lediya, dan salah satu pengunjung melihat ke arah gazebo, ada seorang anak bergelayutan di gazebo itu dan menangis.
__ADS_1
"Astaga, lihat anak itu, sedang dalam bahaya".
Teriak beberapa dari mereka, semua melihat ke arah gazebo dan menjadi heboh.
Satu persatu jari anak itu mulai terlepas, cengkramannya mulai melemah.
"syuuut, bruuuk".
Secepat kilat Lediya memerosotkan badannya ke aspal dan menangkap anak itu, tubuh kecil anak itu pun jatuh tepat di dada Lediya.
"Kamu tidak apa-apa dik,coba kakak liat ada yang terluka tidak".
Lediya mengecek keseluruhan tubuh anak itu, dan menghembuskan nafas lega saat dia lihat anak itu baik-baik saja.
Karena masih dalam keadaan takut anak kecil itu terus menangis dan segera memeluk Lediya, tubuhnya gemetar.
"anak itu selamat, gadis itu sungguh luar biasa",
Salah satu pengunjung berteriak senang, semua orang yang tadinya berwajah pucat pasi, begitu melihat anak itu telah berhasil ditangkap oleh Lediya, semua menunjukkan ke legaan, lalu bersorak bertepuk tangan.
"Siapa gadis itu berani sekali", seorang berbisik.
"untung gadis itu menyelamatkan anak itu", orang satunya berucap.
"siapa sih orang tuanya, ceroboh sekali, masa anak sekecil itu dibiarkan bermain sendiri", ucap seorang yang lain.
Semua saling berbisik, dan berbicara satu dengan yang lainnya.
Tak lama ayah dan ibu dari anak itu datang, dan segera menghampiri putranya, sang ibu berteriak, wajahnya pucat pasi.
Sang anak segera berpindah ke dalam dekapan ibunya.
" Nona anda tidak apa-apa?, anda telah menyelamatkan putra kami, kalau tidak ada anda, kami pasti akan kehilangan Bryan, imbalan apa yang kauinginkan nona aku pasti akan memberikannya apapun itu", ucap ayah sang anak.
Tak lama ayah sang anak berjongkok mengelus pucak rambut putranya dan pandangannya tertuju pada luka memar dikaki Lediya, menunjukkan wajah khawatirnya.
"Saya baik-baik saja dan tidak memerlukan apapun pak, sebaiknya anak ini segera di bawa ke rumah sakit untuk diperiksa, pasti dia sangat ketakutan".
Lediya mengusap pangkal kepala anak kecil itu yang masih menangis didalam pelukan ibunya.
"Baiklah nona, bagaiamana kalau anda ikut kami ke rumah sakit juga, sepertinya anda terluka", ayah sang anak menunjuk ke arah memar di kaki Lediya.
"Tidak perlu pak, ini hanya memar sedikit saja, sebaiknya anda segera pergi memeriksakan keadaan putra anda", ucap Lediya.
"Sekali lagi terimakasih banyak nak, kau sungguh gadis yang baik dan pemberani, mungkin suatu saat nanti kami bisa membalas kebaikan nona, ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa segera hubungi saya, anak kami berhutang nyawa padamu, kami permisi dulu nona", sang ayah memberikan sebuah kartu nama.
"Terima kasih banyak nona", sang ibu dari anak kecil itu menimpali dan menggenggam erat jemari Lediya, setelah itu mereka beranjak pergi.
Saat itu terjadi, Park Jun Min sedang berada di area itu, dan melihat semua kejadiannya, Jun Min berdecak kagum.
"Gadis itu sungguh luar biasa, cantik luar dalam, akhirnya aku bertemu dengan gadis impianku, cantik, baik, dan pemberani".
Setelah suami istri itu pergi Lediya berusaha bangkit, namun terjatuh lagi dan lagi, kakinya bukan saja memar tapi keseleo juga.
__ADS_1
"Ouch!", Lediya meringis.
Saat beberapa orang ingin membantu Lediya berdiri, Jun Min segera berjalan mendekati Lediya dan segera menggendong Lediya ala bridal style.
"Eh siapa pria itu, apakah pacarnya, tampan sekali", ucap salah satu gadis yang turut menonton.
"Ah coba aku yang digendong seperti itu, apa aku pura-pura pingsan saja, siapa tau ada cowo tampan sepertinya yang menggendong ku seperti itu", gadis lainnya menimpali.
"Romantis sekali, aku iri...",kata gadis lainnya.
Para gadis dari kalangan atas yang menyaksikan itu memandang iri.
"Eeee... eh, apa yang sedang anda lakukan turunkan saya, sangat tidak sopan", mata Lediya melotot.
Raut wajah Lediya terlihat tidak senang, ditambah ia melihat dan mendengar para gadis berbisik-bisik tentangnya dan laki-laki asing yang tiba-tiba mengendongnya, Lediya sungguh merasa tidak nyaman sekaligus malu.
"Tenang nona, saya tau anda tidak bisa berdiri apalagi berjalan, makanya saya mengendong anda untuk saya bawa ke ruang kesehatan, memar anda harus cepat di obati ".
Jun Min segera melangkahkan kakinya, untuk membawa ke bagian kesehatan yang berada di dalam taman hiburan itu.
Tiba-tiba Hardian mencegat Jun Min.
"Tunggu kamu siapa?kenapa kamu menggendong anak saya seperti itu, turunkan putriku", teriak Hardian.
Hardian menunjukkan ketidak senangan, Jun segera menurunkan Lediya namun saat kaki kirinya menapak Lediya kesakitan, dan hampir jatuh, Jun segera memapah Lediya.
"Diya, kakimu kenapa nak, apa yang terjadi sebenarnya?", terlihat kecemasan di wajah Hardian.
Hardian memang tidak melihat kejadian dari awal, saat tiba-tiba anaknya berlari, Lediya menghilang di kerumunan orang yang berlalu lalang.
Hardian berkeliling mencari-cari putrinya lalu melihat ada kerumunan, Hardian penasaran dan ikut melihat ternyata putri nya yang dicari sedang di gendong seorang pria tak dikenal, sontak matanya melotot dan marah.
"Kaki putri anda harus segera diobati, kalau tidak akan semakin sakit, aku hanya ingin membantu putri anda, biarkan aku menggendong nya, karena ruang kesahatan cukup jauh dari sini", ucap Jun Min.
"baiklah", ucap Hardian pasrah.
Kaki putrinya memang kelihatan sangat kesakitan, Jun segera membungkuk kan badannya, dan menaruh tubuh Lediya di belakang punggung nya dan berlari, wajah Lediya merah bak kepiting rebus, Lediya ingin menolaknya dan jalan sendiri, namun kakinya terlalu sakit saat berpijak.
Sampailah mereka di ruang kesehatan, disitu sudah standbay beberapa dokter dan perawat yang memang di sediakan, apabila ada keadaan darurat, dan Lediya segera diobati.
Sementara itu di tempat duduk VIP, Lee Su Mi menghampiri Lee Suk Ho kakaknya.
"kak, lihat Jun gak, tadi ia minta izin untuk pergi ke toilet tapi sampai sekarang belum kembali", Su Mi menunjukkan ke khawatiran.
"Sudah gak perlu khawatir, Jun sudah besar, nanti juga kembali, mungkin dia mendapatkan teman, dan mengobrol, biarkan saja.", jawab Suk Ho santai.
Su Mi berkeliling berusaha mencari putranya, tak lama terdengar Jun memanggil ibunya.
"Ibu kenapa ada disini, ibu mencariku ya, maaf tadi ada urusan mendesak bu", Jun menghampiri Su Mi.
"Kamu kemana aja Jun, bikin jantung ibu copot saja, bentar lagi pemotongan pita akan dimulai, ini penting Jun jangan berbuat kesalahan,dan kamu harus bisa ambil hati pamanmu, sudah 10 tahun, waktunya untuk kita bertindak", ucap Su Mi.
Jun hanya terdiam mendengar perkataan ibunya.
__ADS_1
Bersambung....